2 Aku yang Menumpang

1034 Words
Kalila mundur dari kamar suaminya, kehadiran Jordan sudah cukup membuatnya mengerti bahwa dia sama sekali tidak memiliki privasi sedikitpun di dalam rumah tangganya sendiri. "Aku nggak ingat seperti apa rupa Oliv," kata Darian dengan suara yang jelas, hingga Kalila masih sempat mendengarnya. "Lagian dia merias Lila, bukan aku." "Ayah bisa pertemukan kalian berdua, bagaimana?" tanya Jordan menawari. Merasa bahwa tindakan ayah mertuanya ini sudah kelewatan, Kalila memutuskan langsung nyelonong masuk ke kamar suaminya. "Lho, Ayah sedang di sini ...?" ucap Kalila pura-pura terkejut ketika Darian dan Jordan menoleh ke arahnya. "Kamu tidak bisa ya ketuk pintu dulu?" tanya Jordan dengan nada tidak senang. "Maaf, Yah ... aku pikir karena ini kamar Darian, jadi ...." Kalila beralasan. Jordan mengembuskan napas panjang sambil berdiri. "Pikirkan apa yang ayah ucapkan sama kamu tadi," katanya sambil melempar pandang ke arah Darian, setelah itu dia berjalan melewati Kalila begitu saja. "Mau jalan-jalan?" tanya Darian ketika Kalila duduk di tepi tempat tidur mereka. "Tadi ayah bicara apa?" tanya Kalila tanpa menjawab pertanyaan Darian sebelumnya. Sunyi sebentar, karena Darian tidak segera menjawab. Kalila bersikap santai seraya menyalakan televisi untuk mengalihkan perhatiannya. Dia sekaligus ingin menguji seberapa jujur sang suami kepadanya. "Aku nggak yakin apa kamu mau mendengarkannya," jawab Darian hati-hati seraya menyusul Kalila dan duduk di sampingnya. "Soal apa sih?" tanya Kalila memancing. "Apa ini ada hubungannya sama aku yang belum bisa hamil juga?" Darian tampak kikuk, hingga kesulitan menjawab pertanyaan Kalila. "Salah satunya itu," ucap Darian seraya menggenggam tangan Kalila. "Kamu ingat Oliv?" Kalila mengerjabkan matanya, dia memang tidak begitu memperhatikan. Namun, setahun yang lalu dirinya memang sempat bertemu Oliv saat menjadi MUA untuk pernikahannya dengan Darian. Ketika itu Jordan yang mengerahkan orang-orang untuk mengurus pernikahan putra tunggalnya, termasuk memilihkan MUA untuk merias Kalila. Awal bertemu, tidak ada firasat apa pun dalam hati Kalila. Terlebih sebagai klien yang harus dirias sedemikan rupa, semuanya berjalan biasa saja dan tidak ada yang istimewa. "Kamu masih muda banget, kok sudah menikah?" Kalila tersenyum saja saat menerima pertanyaan basa-basi yang dilontarkan Oliv di tengah-tengah proses riasan. "Sudah bertemu jodohnya." "Keputusan yang sangat berani," komentar Oliv sambil tersenyum. Sekilas melihatnya, Kalila akui bahwa Oliv adalah perempuan yang menarik. Cara kerjanya juga sangat cekatan, dengan lihai dia memoles wajah ayu Kalila dengan perlengkapan make up-nya. Membuat hari bersejarah Kalila menjadi tidak terlupakan seumur hidupnya. "Tentu saja, dia yang dulu jadi MUA aku." Kalila tersadar dari lamunannya dan menjawab pertanyaan Darian. "Mertua yang memilihkannya buat aku, kenapa? Kamu mau menikah lagi?" Pertanyaan terakhir Kalila sukses membuat mata Darian mendelik ke arahnya. "Kok kamu bertanya begitu?" Kalila balas memandang Darian dan tersenyum tipis. "Karena Oliv kan MUA, kerjanya merias pengantin." Kalila beralasan. "Kalau bukan karena buat alasan menikah, untuk apa kamu tanya-tanya soal Oliv?" Darian menarik napas panjang dan semakin mengeratkan genggamannya kepada jemari Kalila. "Ayah yang tanya," bantah Darian pelan. Kalila menaikkan sebelah alisnya. "Begitu?" komentar Kalila sambil menarik jemarinya dari genggaman Darian. "Jangan buruk sangka dulu, aku kan belum bilang apa-apa." Darian melayangkan protes sambil menatap Kalila lekat-lekat. "Aku sepertinya sudah bisa menebak," ujar Kalila sambil tersenyum getir. "Ini rumah tangga kita, nggak bisakah kita mandiri dengan tinggal di rumah sendiri?" Darian terdiam. "Apa permintaan aku terlalu berlebihan?" tanya Kalila hati-hati. "Aku nggak minta kamu beli rumah mewah, bahkan rumah kontrakan pun aku rela. Asalkan kita bisa mandiri." Darian mengembuskan napas panjang, tinggal di rumah kontrakan? Mau ditaruh mana wajah dia nanti kalau orang-orang sampai tahu bahwa putra tunggal pemilik rumah sakit paling besar di kota itu justru tinggal di rumah kontrakan? "Bukannya aku nggak mau atau nggak mampu," kata Darian beralasan. "Tapi kamu tahu kan kalau aku ini anak satu-satunya orang tuaku?" Kalila memejamkan kedua matanya. "Jadi ... kita akan selamanya hidup menumpang begini padahal kamu mampu?" tanya Kalila menyimpulkan. Tinggal setahun penuh campur tangan mertua saja sudah sanggup mengukir jutaan nestapa dalam hatinya, bagaimana kalau hal itu berlangsung terus-menerus dan selamanya? "Lil, kita ini bukan menumpang!" bantah Darian lagi. "Ini rumah orang tuaku, yang berarti rumah aku juga." "Oke, aku yang menumpang." Kalila mengambil kesimpulan dan berlari pergi ke kamar mandi. Sebenarnya kesabaran yang dia miliki lebih cepat mencapai batas sejak Jordan selalu merasa berhak ikut campur dalam setiap urusan rumah tangganya. Darian sendiri kadang pusing bagaimana membuat supaya situasi ini tidak semakin memanas. Hari itu Kalila mengambil tas dan kunci motor setelah Darian mengizinkannya pergi. Dia berjalan santai melewati ruang kerja ayah mertuanya ketika mendengar suara-suara orang berbincang. "Mau beli rumah? Memangnya rumah ini tidak cukup luas untuk kalian berdua?" "Bukan begitu, Yah. Wajar kan kalau Lila mau tinggal di rumah terpisah ...?" "Kalau istri kamu yang minta, suruh dia beli sendiri!" Terdengar suara Jordan yang begitu berapi-api, hingga tanpa sadar Kalila menghentikan langkahnya. "Yah, aku suami Lila. Itu sudah kewajiban aku untuk membelikan dia rumah." "Kamu lihat apa dia bisa memberikan kamu anak?" singgung Jordan. "Kalau belum, jangan biarkan istri kamu bertingkah. Lagipula kalau dia mau rumah, suruh dia kerja. Bukan cuma menengadahkan tangannya sama kamu." "Ayah!" "Kenapa? Kan ayah bicara fakta, sudah belum bisa kasih anak, lantas minta rumah sedangkan dia tidak bekerja ...." Beberapa saat kemudian, Kalila mengendarai motor matic-nya dengan air mata berderai. Dia asal melaju dengan perasaan yang kacau, tidak memperhatikan arah jalan, rambu lalu lintas, hingga dia berbelok dan sadar ada mobil putih bersih yang muncul di hadapannya .... Tiba-tiba suara benturan keras terdengar. Kalila tidak sempat menghindari senggolan dengan bodi mobil dan dia terjatuh bersama motornya. Untungnya, mobil putih itu berhenti dan pengemudinya turun saat beberapa orang mulai datang untuk menolong Kalila. Sempat heboh sebentar sebelum akhirnya pengemudi mobil itu berjanji akan bertanggung jawab terhadap Kalila meski faktanya dia tidak sepenuhnya bersalah. "Kamu mau ke rumah sakit?" Kalila mendongak dan memandang pria yang mengemudi mobil tadi. "Tidak usah," geleng Kalila kepada pengemudi mobil itu. "Saya minta maaf, saya yang salah ...." Pria itu tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya ke arah motor Kalila yang terparkir di dekat mobilnya. Dia mendekati motor itu dan mengamatinya sebentar. Kalila yang wajahnya masih shock, hanya terduduk bisu sambil mengusap-usap lututnya yang terbentur saat jatuh tadi. Ketika dia menoleh, dilihatnya pria itu sedang mencoba menyalakan mesin motor matic-nya. "Kamu tidak menelepon orang rumah saja supaya jemput kamu?" Kalila menoleh ketika pria itu mendatanginya setelah mematikan mesin motor Kalila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD