3 Ramuan Ibu Mertua

1021 Words
"Saya masih bisa naik motor," jawab Kalila sambil menggeleng. Pria itu mengangguk dan kembali ke mobilnya, tidak berapa lama kemudian dia muncul lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. "Bukannya saya tidak mau bertanggung jawab, tapi saya sedang ada urusan penting." Dia mengulurkan beberapa lembar uang kertas merah kepada Kalila. "Ini sekadar untuk jaga-jaga kalau kamu terluka atau motor kamu perlu diservis. Sekalian ini kartu nama saya kalau ada apa-apa." Kalila terpaku sejenak. Bukan dia menolak rejeki, tapi pengemudi mobil itu memang tidak sepenuhnya salah. Karena itu Kalila lebih memilih untuk mengambil kartu nama pria itu saja dan tidak menerima uangnya. "Terima kasih, tapi ... kamu tidak perlu memberi saya uang ... seharusnya malah saya yang memberi kamu ganti rugi karena mobil kamu jadi lecet ..." ucap Kalila terbata, dia melirik nama yang terpampang di kartu. Nama pria itu adalah Kalandra Dewangga. "Tidak usah dipikirkan, anggap saja musibah." Kalandra menyahut. "Kalau begitu saya pergi, saya ada urusan." Kalila mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi, baginya dia sudah sangat beruntung karena Kalandra tidak menuntut ganti rugi atas tabrakan tidak disengaja tadi. Kasih tahu Darian nggak ya, batin Kalila dalam hati. Kebetulan orang-orang sudah fokus kepada urusannya sendiri-sendiri setelah kejadian yang dialaminya tadi berhasil diselesaikan secara damai antara dua belah pihak. Nggak usah deh, batin Kalila lagi. Dia berdiri dan berjalan sedikit tertatih karena lututnya yang nyeri. Batal mencari udara segar, Kalila memutuskan untuk kembali ke rumah mertuanya. "Kamu kenapa?" tanya Darian ketika Kalila tiba di rumah dengan langkah kaki yang terlihat janggal. "Aku jatuh dari motor," jawab Kalila jujur. "Apa?" Darian langsung memegang bahunya. "Kamu serius jatuh dari motor?" Kalila mengangguk, dia sempat merasa tersanjung karena ternyata Darian begitu mengkhawatirkannya. "Apa ada yang lecet?" tanya Darian lagi dengan wajah serius. "Enggak," geleng Kalila. "cuma lutut aku ...." "Bukan itu, maksud aku motornya!" ralat Darian, dia mengangkat tangannya dari bahu Kalila dan bergegas lari ke halaman rumah. Tinggallah Kalila seorang diri yang masih tercengang dengan sikap Darian yang ternyata lebih mencemaskan keselamatan motor daripada istrinya sendiri. "Untung nggak kenapa-kenapa, bisa gawat kalau lecet ...." Kalila bisa mendengar gumaman Darian ketika dia menyusulnya ke halaman. "Aku kan sudah bilang kalau motornya nggak lecet," kata Kalila datar. Darian menegakkan tubuhnya dan memandang Kalila. "Lain kali hati-hati naiknya, nanti ayah bisa marah kalau tahu motor ini jatuh." Dia menegur Kalila. "Bukannya ini motor yang beli adalah kamu?" komentar Kalila. "Kenapa ayah dibawa-bawa?" Darian menarik napas panjang. "Bukan begitu, Lila. Aku memang beli motor itu buat kamu, tapi bukan berarti ayah aku nggak akan marah kalau kamu nggak hati-hati jaga motornya." Kalila mengembuskan napas panjang, dia tidak tahu akan sampai kapan Darian terus berada di bawah ketiak ayahnya. "Lila, minumlah." Ivana memberi isyarat kepada Kalila saat turun ke dapur untuk bantu menyiapkan sarapan. "Apa ini, Bu?" tanya Kalila sambil menatap beberapa minuman yang disajikan dengan gelas kecil-kecil di atas meja. "Ini adalah minuman tradisional untuk membantu mempercepat kehamilan," jawab Ivana dengan wajah cerah. "Ini aman kok, karena dibuat dari bahan-bahan alami. Kalau kamu sama Darian belum mau program hamil, kita coba saja dulu pakai ramuan ini. Bagaimana?" Kalila memaksakan diri tersenyum, mau tak mau dia mengangguk tanpa banyak tanya. "Ini kamu minum pahitnya dulu," suruh Ivana antusias sambil mengulurkan satu cangkir mungil kepada Kalila yang berdiri di sampingnya. "Setelah itu minum yang ini." Kalila terpaku, antara ragu dan tidak mau karena seumur hidup dia memang tidak pernah minum ramuan tradisional seperti ini. Namun, demi menjaga perasaan ibu mertuanya, Kalila meminum juga ramuan itu. Semoga aku bisa cepat hamil, harap Kalila dalam hatinya. Begitulah, hampir setiap hari Kalila memiliki ritual baru sebelum sarapan. Yaitu minum ramuan yang telah disiapkan ibu mertuanya. Beberapa bulan setelah itu .... Kalila memandang alat tes kehamilan yang baru saja dia gunakan, jantungnya berdebar ketika dia menyipitkan mata dan harus puas menyaksikan garis satu muncul dengan sangat jelas di alat itu. "Jangan lupa minum ramuan kamu dulu, Lila." Ivana mengingatkan ketika Kalila muncul di dapur sedikit terlambat. Sudah ada Darian dan Jordan di meja makan. "Iya, Bu." "Bagaimana, sudah ada hasilnya belum?" tanya Jordan seraya melirik Darian dan Kalila bergantian. "Hasil ...?" Darian mengernyit. "Tentu saja, hasil." Jordan menekankan, membuat Kalila dan Darian saling pandang sejenak. "Aku nggak tahu, Yah. Lila yang biasanya tes kalau pagi-pagi," jawab Darian sambil mengangkat bahu, sedikitpun tidak berusaha membantu Kalila. "Tidakkah ramuan itu seharusnya ada hasil?" tanya Jordan, kali ini dia memandang Ivana. "Tapi harus sabar," sahut Ivana realistis. "Fisik setiap wanita itu berbeda." Jordan menarik napas panjang ketika Kalila memutuskan untuk meminum ramuannya terlebih dahulu. "Itulah kenapa ayah sarankan untuk memilih wanita yang siap hamil," timpal Jordan dengan suara keras. "supaya kita tidak menunggu terlalu lama seperti ini." "Sudahlah, Yah. Jangan bahas itu dulu kenapa, sih?" tukas Darian, jengah juga dia kalau ditekan seperti ini terus. "Aku akan cek ke dokter kalau sampai pertengahan tahun Lila belum hamil juga." "Itu bagus," kata Jordan dengan nada puas. "Kalian berdua sudah satu tahun lebih menikah, memang sudah seharusnya kamu cek ke dokter." Darian mengangguk dan segera menyantap sarapannya. "Kamu serius kita mau cek ke dokter?" tanya Kalila memastikan ketika Darian siap-siap berangkat ke kantor. "Kamu yang cek, bukan aku." Darian meralat. "Kenapa cuma aku?" tanya Kalila sambil menyerahkan tas kerja Darian. "Seharusnya aku sama kamu yang diperiksa." Darian menerima tas kerjanya dengan ekspresi enggan. "Yang nantinya akan hamil kan kamu," kata Darian pelan. Kalila bertolak pinggang di hadapannya. "Tapi tanpa kamu, aku juga nggak akan bisa hamil." Dia menegaskan. "Justru kita berdua harus sama-sama diperiksa supaya jelas apa masalahnya." Darian menarik napas panjang. "Tapi yang lebih penting itu adalah kamu," katanya lagi. "Karena sudah kodrat wanita untuk melahirkan anak suaminya, jadi tanpa aku diperiksa pun itu bukan masalah besar." Kalila ternganga, tapi Darian berbalik dan pergi meninggalkannya sendirian di kamar. Dia kira aku nggak paham apa, keluh Kalila dalam hatinya sambil duduk di tepi tempat tidur. Pemeriksaan atas pasangan yang belum dikaruniai keturunan seharusnya memang dilakukan terhadap suami maupun istri, tidak bisa hanya salah satu. Kalila termenung sambil menatap ke arah balkon kamar suaminya, satu setengah tahun menikah dengan Darian tidak bisa dibilang kalau dirinya tidak bahagia. Darian mencukupi semua kebutuhan, baik itu nafkah bulanan maupun nafkah batin yang dia perlukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD