4 Punya Istri Lagi?

1023 Words
Semuanya tampak normal-normal saja, tapi sang mertua tetap menganggapnya sebagai kekurangan besar karena di usia pernikahan yang memasuki satu setengah tahun ini Kalila belum bisa melahirkan cucu untuk kedua mertuanya. "Mana kesaktian ramuan kamu?" "Namanya juga ramuan tradisional, sabarlah sedikit ...." "Ivana, aku jengah setiap kali bertemu dengan rekan bisnisku yang cucunya bahkan sudah tiga!" Kalila tanpa sengaja mendengar percakapan mertuanya ketika dia turun untuk membuat kopi. "Itu beda, Jordan. Teman kamu itu kan putra sulungnya sudah menikah sejak sepuluh tahun yang lalu, wajar!" Kalila menarik napas dalam, tinggal seatap dengan mertua memang harus tahan banting. Mau bagaimana lagi, sejauh ini dia belum berhasil membujuk Darian untuk membeli rumah sendiri sekalipun yang sederhana. Masalahnya adalah, Darian di mata Kalila adalah putra kesayangan mertuanya. Di samping Darian adalah anak tunggal, suaminya itu juga merupakan calon pemilik rumah sakit Jordan kelak. "Lila, kamu bikin apa?" Kalila terlonjak ketika mendengar suara Ivanka yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. "Ah, Ibu! Ini ... aku baru bikin ...." "Kopi?" Ivanka melebarkan matanya ketika melihat satu cangkir kopi s**u instan yang baru saja Kalila buat. "Kamu sering minum kopi?" Kalila cepat-cepat menggeleng. "Enggak, Bu. Cuma kadang-kadang saja, kalau kepingin." Dia menjelaskan. "Memangnya ada apa, Bu?" Ivanka menarik napas panjang. "Pantas saja ramuan itu belum bekerja," katanya sambil geleng-geleng kepala. "Begini ya Lila, sebaiknya kamu kurangi konsumsi kafein seperti kopi ... Kamu kan sedang promil alami. Jangan kamu rusak hormon kamu dengan minuman seperti itu, lebih bagus kalau kamu minum s**u atau teh." Kalila diam saja, meskipun dalam hati dia merasa tidak sesering itu minum kopi. "Ada apa, Ivanka?" Jordan muncul dan Kalila tahu situasi setelahnya tidak akan menjadi jauh lebih baik daripada sekarang. "Tidak, aku cuma menyarankan Lila untuk tidak sering konsumsi kopi." Ivanka menjelaskan. "Bukan apa-apa, dia kan sedang program hamil alami." Lagi-lagi Kalila memilih diam dan tidak menanggapi, sementara Jordan mengintai secangkir kopi s**u yang masih panas mengepul di atas meja. "Aku setuju sama kamu," kata Jordan sambil melirik Ivanka sekilas. "paling tidak hal itu juga bisa sedikit mengurangi konsumsi kopi dalam sebulan." Ingin sekali rasanya Kalila membuang segera kopi itu ke wastafel dapur sekarang juga. "Tidak apa-apa, asal jangan sering-sering ya, Lila?" kata Ivanka, seakan membenarkan ucapan Jordan. Keesokan harinya di rumah. Langkah Darian sempat terhenti ketika dia mendengar namanya dipanggil. "Darian, ayah mau bicara!" Tanpa berpikir dua kali, Darian langsung membelokkan langkahnya ke ruang kerja sang ayah. "Kapan kamu sama Lila periksa ke dokter?" tanya Jordan tanpa basa-basi bahkan sebelum Darian duduk di kursinya. "Belum tahu, Yah ... Aku masih belum ada waktu," jawab Darian lambat-lambat. "Kenapa memangnya, Yah?" "Kenapa, kamu bilang?" tukas Jordan sambil mendelik. "Ayah mau kamu segera punya anak!" Darian terperanjat. "Yah, jangan seperti ini. Kasihan Lila, kasihan aku juga ..." katanya diselingi helaan napas berat. "Dia juga sedang berusaha, bukannya dia sedang rutin minum ramuan tradisional?" Jordan menarik napas panjang. "Kamu tahu seberapa berhasilnya ramuan seperti itu?" tanya Jordan ragu. "Ayah bisa tanya ibu yang lebih paham," elak Darian dengan wajah lelah. "Aku ke kamar dulu, Yah ...." "Tunggu, kamu bawa ini." Jordan meraih beberapa lembar brosur dan menyerahkannya kepada Darian. "Apa sih ini?" Darian menerimanya dengan kening berkerut. "Itu brosur promosi Oliv, ada nomor kontaknya juga." Jordan memberi tahu. "Lalu?" "Kenapa kamu jadi sepolos ini?" Jordan tampak kesal dengan reaksi Darian yang biasa-biasa saja. "Kamu akan tahu seperti apa Oliv itu, dan kamu bisa mempertimbangkannya untuk menikahi dia ...." "Astaga, Ayah!" Darian mengembalikan brosur itu. "Aku sudah punya istri, jangan bilang kalau Ayah menginginkan aku punya istri lagi?" "Kenapa tidak?" tanya Jordan biasa saja. "Itu kalau Lila masih mau jadi istri kamu, toh dia belum bisa hamil anak kamu." Darian menghela napas panjang. "Aku capek sekali, Yah. Tolong jangan bicara soal pernikahan lagi," katanya sambil berjalan pergi ke kamarnya. "Lila, kamu cinta sama aku kan?" tanya Darian, sesaat sebelum dia dan Kalila pergi tidur malam itu. "Menurut kamu?" tanya Kalila balik sambil tersenyum aneh. "Kenapa aku mau tinggal di rumah mertua demi kamu?" Darian memalingkan wajahnya. "Kalau kamu cinta sama aku, kasih aku anak!" pinta Darian tanpa memandang Kalila. "Menurut kamu apa yang selama ini sedang coba aku usahakan demi kamu?" sahut Kalila seraya menghadapkan wajah Darian supaya memandangnya. "Demi kita? Bahkan demi orangtua kamu yang sangat menginginkan cucu?" Darian terdiam. "Kalau begitu kita harus berusaha lebih keras lagi!" katanya kemudian. "Ayah selalu bicara tentang Oliv, kamu tahu dia kan?" Kalila menurunkan tangannya dan menarik napas, tentu saja dia tahu. "Oliv itu MUA yang ayah pilih untuk pernikahan kita," jawab Kalila dengan nada hambar. "Kenapa ayah mendesak kamu untuk mengenal Oliv?" Kalila sengaja bertanya begitu meskipun dia sudah tahu apa jawabannya. Dia hanya sebatas ingin menguji kejujuran Darian saja. "Kenapa ayah mendesak kamu untuk mengenal Oliv?" Darian terdiam ketika Kalila mengajukan pertanyaan itu kepadanya. "Sudahlah, kita nggak perlu membahasnya." Darian cenderung menghindar. "Kamu disuruh menikah lagi?" tebak Kalila dengan wajah biasa. Darian mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Kamu ini bicara apa sih?" katanya dengan nada tidak suka. Kalila berdiri dari duduknya dan memandang suaminya dengan tegas. "Nggak hanya Oliv, siapapun itu ... Aku nggak akan pernah mau diduakan," kata Kalila tajam. Darian balas memandang Kalila. "Kamu percaya kalau aku akan mendua?" komentarnya seraya berdiri. "Cuma kamu sama ayah mertua yang tahu," balas Kalila. "yang jelas aku nggak mau diduakan. Jadi kamu harus berpikir dua kali kalau mau menikah lagi." Darian meremas rambutnya sendiri dengan jemarinya. "Kalau begitu, berikan aku anak." Dia menuntut. "Kamu pikir selama ini aku nggak berusaha?" kata Kalila dengan hati teriris. "Berbulan-bulan aku minum ramuan sampai perutku kembung dan nggak lagi punya selera makan, itu semua demi apa? Demi mendapatkan anak!" Darian menurunkan tangannya dengan sedikit emosi. "Ibu merekomendasikan ramuan itu juga demi kamu," katanya seakan Kalila menyalahkan Ivana. "jadi berhenti mengeluh seperti ini." "Astaga, siapa sih yang mengeluh?" tanya Kalila nyaris meledak. "Aku cuma bercerita, sesuatu yang jarang sekali aku lakukan kecuali malam ini ... Tapi aku sadar kalau kamu memang bukan pendengar yang terlalu baik." Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari Darian, Kalila memanjat naik ke tempat tidur dan berbaring membelakanginya. Kenapa jadi begini sih, gerutu Darian dalam hati. Dia memandang ke arah Kalila, tapi sama sekali enggan untuk meminta maaf lebih dulu atas pertengkaran mereka malam itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD