5 MUA yang Merias Kamu

1026 Words
"Kamu belum juga bicara sama istri kamu?" tanya Jordan ketika Darian bersiap untuk pergi joging pagi itu. "Enggak, Yah." Darian menyahut dengan ogah-ogahan, membuat Jordan tampak tidak puas dan dahinya berkerut seakan sedang berpikir keras. Ketika itu Kalila muncul di halaman sambil membawa beberapa paperbag di tangannya. "Aku ke rumah orangtua aku sebentar, ya?" kata Kalila meminta izin pada Darian. "Naik apa kamu, Lila? Motor lagi?" tanya Jordan sementara Darian hanya mengangguk. "Nanti jatuh lagi?" Kalila tertegun, ucapan terakhir ayah mertuanya itu pastilah mengandung kekhawatiran terhadap motornya apabila sampai terjatuh lagi. "Aku naik taksi kok, Yah." Dia memberi tahu. "Aku pamit." "Hati-hati," sahut Darian pendek, dan Kalila hanya mengangguk. "Ayah heran kamu tidak juga berani melangkah," kata Jordan begitu Kalila sudah tak terlihat. "Punya istri, tapi belum juga bisa kasih kamu keturunan. Bisanya keluyuran keluar rumah, buang-buang waktu dan uang ...." "Jangan begitu, Yah. Lila kan pergi ke rumah orang tuanya," sela Darian yang lama-lama telinganya merasa panas juga mendengar ucapan Jordan. "Kalau aku nggak capek, seharusnya aku yang antar Lila ke sana." Jordan tampak tidak senang karena Darian berani menyela ucapannya. "Kamu harus segera bertemu sama Oliv," tegas Jordan mengalihkan pembicaraan. "Buat apa sih, Yah?" tukas Darian jengah. "Ayah nggak benar-benar mau aku menikah lagi kan? Aku itu cinta sama Lila, Yah." Jordan mendengus. "Laki-laki boleh saja punya istri dua," katanya terus terang. "tidak terkecuali kamu." Darian menghela napas, dia segera pergi meninggalkan ayahnya untuk joging. Dalam hati dia sempat berpikir apa istimewanya Oliv sampai sang ayah begitu gigih ingin Darian menikahinya. Memangnya apa yang bisa menjamin kalau Oliv bisa langsung memberikan seorang anak untuknya? Kalila sebisa mungkin menunjukkan wajah ceria ketika bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah berusia senja. "Suami kamu tidak ikut, Lil?" tanya Harlan, ayah Kalila yang sudah lama pensiun dari pekerjaannya di kantor pajak. "Enggak, Yah. Capek akhir-akhir ini lembur," jawab Kalila apa adanya. "Bu, ayo kita makan dulu." Kalila menghidangkan masakan yang tadi sempat dia buat di rumah mertuanya, sudah lama dia tidak makan bersama dengan ayah dan ibunya seperti ini. "Mertua kamu sehat-sehat saja kan, Lil?" tanya ibu Kalila yang bernama Risna. "Sudah lama ibu tidak berkunjung ke sana." "Sehat kok, Bu." Kalila menyahut, sedikit bersyukur karena kedua orangtuanya tidak berkunjung ke rumah mertua ketika situasi di sana sedang kurang menyenangkan. Menjelang sore hari, Kalila baru tiba di rumah dan terpaku saat melihat mobil asing yang terparkir tepat di samping motornya. Sambil bertanya-tanya dalam hati siapa tamu yang datang berkunjung, Kalila tetap memasuki rumah mertuanya dengan hati-hati. "Ayo diminum tehnya, Liv!" "Terima kasih, Om!" Mau tak mau Kalila harus melewati ruang tamu kalau dia mau pergi ke kamar suaminya. Di sana dia melihat Jordan dan Ivana sedang duduk menghadap seorang perempuan berpenampilan modis sedangkan Darian berada di satu sofa dengannya meskipun dengan jarak yang cukup jauh. Hati Kalila berdesir tidak nyaman menyaksikan pemandangan itu. "Lil, kamu sudah pulang?" Darian menoleh dan buru-buru menyambut Kalila. "Bagaimana kabar ayah sama ibu?" "Sehat," jawab Kalila sambil tersenyum tipis. "Ada tamu, rupanya?" "Iya, dia ...." "Hai, Lil!" Perempuan berambut bob itu melambai ke arah Kalila. "Ingat aku, nggak?" Kalila terdiam sebentar. "MUA yang dulu merias kamu di hari pernikahan kamu sama Darian," kata Oliv lagi dengan nada mengingatkan Kalila. Darian menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya duduk di dekat Oliv. "Iya, aku ingat. Gimana kabar kamu, Liv?" tanya Kalila basa-basi. Ivanka dan Jordan saling pandang, seakan takjub karena dua wanita di depan mereka ternyata bisa begitu akur ketika bertemu. "Begini-begini saja sih, merias dari acara ke acara ... nggak jauh-jauh dari pernikahan." Oliv menjelaskan. "Tidak apa-apa itu, Liv. Daripada cuma di rumah menganggur," sahut Jordan, bibirnya begitu luwes melontarkan komentar yang biasa diucapkan oleh kaum hawa. "Masih bagus begini, masih muda dan punya penghasilan sendiri, itu luar biasa!" Oliv tersenyum lebar sementara Ivana memilih tidak berkomentar. "Ada keperluan apa Oliv datang ke sini?" tanya Kalila ingin tahu ketika dia sedang menggunakan krim malam sebelum tidur. "Dia cuma mampir," jawab Darian dengan pandangan terarah lurus ke layar televisi yang menyala. "Kamu yakin dia cuma mampir?" tanya Kalila curiga. "Bukan ayah yang sengaja undang dia ke sini?" "Kamu ini bicara apa sih?" tukas Darian sambil mematikan televisi dan mengambil piyama yang telah Kalila siapkan. "Buat apa ayah sengaja undang Oliv ke rumah?" Kalila mengusap-usap wajahnya lembut seraya menyahut, "Mungkin buat jadi istri kedua kamu." Darian tidak menyahut karena tahu bahwa itu akan memercik api pertengkaran di antara mereka berdua. Namun, dia tahu bahwa situasi ini juga tidak bagus jika dibiarkan berlarut-larut. "Kamu kok percaya sih kalau aku mau menikah lagi?" tanya Darian seraya mengenakan piyamanya. "Sudah jelas kan?" jawab Kalila sambil berdiri. "Karena aku belum bisa kasih kamu anak." Darian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kita harus periksa, kalau begitu." Dia mengusulkan sambil memandang Kalila yang masih duduk di tempat tidurnya. "Karena kita kan hampir dua tahun menikah tapi belum punya momongan juga, bagaimana?" Kalila menarik napas panjang. "Asal kamu juga diperiksa," katanya datar. Terus terang Darian agak kurang nyaman juga karena dari ekspresi Kalila, istrinya itu seakan berpikiran bahwa dirinyalah yang bermasalah dengan kesuburan. Esok harinya, Kalila bangun di saat Darian masih terlelap tidur. Dia segera mencuci muka dan berganti pakaian dengan yang lebih sopan sebelum turun ke dapur untuk bantu-bantu menyiapkan sarapan. "Enak sekali ya, punya menantu Oliv. Sudah pintar kerja, punya penghasilan sendiri ...." "Belum tentu juga dia bisa hamil cepat, Jordan." "Karena itu sebaiknya kita coba dulu, kita nikahkan mereka ...." "Lila bagaimana? Aku tidak mau menyakiti hatinya ...." Kalila menghentikan langkah ketika mendengar ada suara-suara yang membicarakan dirinya. "Dia tidak perlu merasa sakit hati kalau dia sadar kekurangannya itu," tegas Jordan. "Jangan mengambil kesimpulan sendiri, tidak semua wanita bisa hamil dengan cepat." Kalila mendengar ibu mertuanya menyahut. "Mereka belum ada dua tahun menikah ...." "Tetap saja itu artinya Lila bukan wanita yang subur!" tukas Jordan. "Kalau dia subur, sebulan dua bulan pasti sudah hamil. Percaya sama aku, Oliv lebih baik. Dia mandiri, punya pekerjaan, setidaknya masih ada hal yang bisa dibanggakan dari Oliv." Cukup sudah, Kalila tidak mau mencuri dengar pembicaraan itu lebih lanjut dan memilih kembali ke kamar suaminya. "Lil, habis dari mana?" Darian yang mau mandi jadi mengurungkan niatnya saat Kalila menerobos masuk ke kamar. "Kok seperti buru-buru?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD