6 Komentar Miring Ayah Mertua

1029 Words
"Darian, aku ... aku mau kerja di luar. Boleh?" tanya Kalila penuh harap. "Ngapain sih?" sahut Darian dengan nada tidak setuju. "Kamu di rumah saja urus aku. Kalau kerja, kamu capek, terus bisa makin susah buat kamu hamil." Mendengar penolakan suaminya, Kalila terpaksa melupakan keinginannya untuk bekerja seperti Oliv. Sebenarnya sebagai istri dan ibu rumah tangga biasa, Kalila tidak merasa kekurangan karena Darian bisa mencukupi kebutuhannya dengan baik. Namun, komentar miring dan pedas dari ayah mertuanya yang sering kali membuat telinga ini panas luar biasa. "Kamu habis beli tas baru, Lil?" "Oh, ini belinya sudah beberapa bulan yang lalu kok, Yah." Kalila menjelaskan ketika Jordan melihat menantunya bersiap pergi ke minimarket dekat rumah. "Cuma aku jarang pakai." Jordan mengangguk dengan wajah datar. "Ya sudah kalau begitu. Kamu harus ingat kalau kamu menggantungkan hidup kamu sepenuhnya sama Darian, jadi tolong pengertiannya soal pengeluaran." Kalila hanya mengangguk dan cepat-cepat berlalu ke halaman rumah sambil membawa kunci motornya. "Bensin motor kamu juga diirit-irit, Lil!" Jordan masih sempat berseru ke punggung Kalila yang menjauh. Hampir saja Kalila melempar kunci motornya karena kesal. "Sebetulnya kamu beli motor itu buat siapa, sih?" tanya Kalila seraya menunjukkan surat kepemilikan kendaraan bermotor. "Buat kamulah, kan itu sudah atas nama kamu suratnya." Darian menyahut sambil memandang Kalila sekilas. "Tapi kenapa ayah mertua bersikap seolah aku ini peminjam?" keluh Kalila tidak habis pikir. "Maksudnya bagaimana?" tanya Darian tidak mengerti. Kalila lantas menceritakan soal pengeluaran yang disinggung Jordan akhir-akhir ini. "Maklumi sajalah, Lil. Maksud ayah kan baik, supaya kamu nggak boros." Darian menarik napas setelah Kalila selesai bercerita. "Tapi kan tas itu koleksi lama, terus soal motor ... Bukannya kamu membelinya sudah dari awal kita menikah?" tanya Kalila dengan ekspresi tidak nyaman terlihat di wajahnya. "Ya makanya itu," sambar Darian seraya menoleh ke arah Kalila. "Maksud ayah supaya kamu nggak boros ... Terlebih kamu kan cuma di rumah, semua kebutuhan sudah aku penuhi, jadi ... jangan boros." Kalila menghela napas. "Kalau begitu, biar aku ikut kerja." Dia memutuskan karena tidak tahan dengan tuduhan boros yang disematkan kepadanya. Darian tersenyum geli. "Mau kerja apa?" tanya Darian dengan kening berkerut. "Perusahaan mana yang mau menerima calon pegawai yang belum punya pengalaman seperti kamu?" Kali ini Kalila merasa kalau Darian terlalu meremehkannya. "Kalau nggak dicoba, mana aku tahu?" ucap Kalila seraya memasukkan kembali surat kendaraannya ke dalam laci. "Tapi aku serius, aku akan mulai cari kerja besok." "Jangan ngawur," tegur Darian. "Kalau kamu kerja, memangnya kamu masih bisa mengurus keperluan aku?" Kalila mengangguk. "Seharusnya bisa, itu bukan sesuatu yang sulit kan?" kata Kalila optimis. Darian menghela napas panjang. "Terserah kamu," sahutnya, enggan berdebat. "Yang penting, jangan sampai urusan rumah kamu tinggalkan cuma karena kamu kepingin kerja." Kalila mengangguk senang karena merasa mendapat lampu hijau dari sang suami. "Aku janji!" Darian mengusap kepala Kalila dan tersenyum singkat. Keesokan harinya, Kalila memulai pencarian lowongan pekerjaan di ponselnya setelah selesai membantu pekerjaan rumah. Dia membaca dengan teliti lowongan apa saja yang melintas di platform pencarian online. Beberapa saat berlalu dan Kalila mulai dilanda kebingungan karena saking banyaknya jenis pekerjaan yang ditawarkan jadi membuatnya tidak fokus memilih. Sebagai orang yang belum memiliki pengalaman kerja apa pun, Kalila merasa kurang percaya diri untuk mengirim lamaran pekerjaan. "Lila, kamu sedang apa?" Kalila terlonjak kaget ketika Ivana muncul bersama Jordan yang hendak bepergian. "Main ponsel terus, paket datanya pasti melonjak." Jordan berkomentar sebelum Kalila sempat menjawab. "Sedangkan kamu cuma berada di rumah sepanjang hari ...." "Lila tidak boleh capek-capek, ingat?" Ivana lantas melirik Jordan. "Lil, ibu tinggal dulu." "Hati-hati, Bu." Kalila menganggukkan kepalanya. Demi kesopanan, dia menunggu mobil mertuanya berlalu pergi meninggalkan rumah. Setelah itu Kalila masuk ke kamar dan melanjutkan pencarian lowongan kerja yang cocok untuknya. Setengah jam lebih berlalu hingga Kalila suntuk dan meraih tasnya untuk mengalihkan perhatiannya sejenak. Di saat itulah dia menemukan satu lembar kartu nama yang bertuliskan Kalandra Dewangga. "Ini kan ..." Kalila bergumam sambil membalik kartu nama itu dan menemukan keterangan lain tentang laki-laki itu. "Wedding Organizer, apa aku coba dulu ya?" Kalila teringat dengan hobinya saat sekolah di mana dia paling suka merias teman-temannya saat ada pentas atau kegiatan lainnya. Dan sebatas pengetahuannya yang terbatas, juru rias selalu ada dalam jasa WO seperti milik Kalandra itu. "Dia pasti bosnya!" gumam Kalila antusias, setelah itu dia meraih ponselnya lagi dan mencari informasi mengenai WO Kalandra. Dia sempat kepikiran untuk mengirim surat lamaran pekerjaannya melalui pos, tapi kemudian dia memilih untuk mengirimkannya lewat email. Satu minggu kemudian .... Kalila jadi sering memeriksa ponselnya kalau-kalau mendapatkan balasan dari WO Kalandra, tapi ternyata nihil. "Kamu kenapa sih, kelihatan gelisah begitu?" tegur Darian yang berbaring di samping Kalila. "Sebentar-sebentar lihat ponsel, nunggu telepon dari seseorang?" "Bukan kok!" sergah Kalila, kaget karena Darian berpikiran ke arah yang tidak-tidak. "Terus apa? Nggak biasanya kamu sering-sering cek ponsel," kata Darian seraya mengubah posisi tubuhnya menjadi berbaring miring menghadap Kalila. "Aku lihat ponsel kamu sini." Kalila langsung meletakkan ponselnya di atas meja dan tidak membiarkan Darian menyentuh ponselnya. "Lila?" pinta Darian tegas. "Aku mau lihat ponsel kamu." "Mau ngapain sih, aku nggak menunggu telepon seseorang!" kilah Kalila tidak mengizinkan. "Tetap saja aku mau lihat," kata Darian memaksa. "aku nggak mau ya ada sesuatu yang kamu sembunyikan begini dari aku?" Didesak sedemikian rupa, akhirnya mau tak mau Kalila menyerahkan ponselnya kepada sang suami. Darian segera memeriksa ponsel Kalila dengan teliti, dia buka beberapa aplikasi pesan instan untuk melihat siapa saja kontak yang mengisi room chat-nya, juga akun sosial media yang dimiliki sang istri. "Nggak ada yang aneh, kan?" tanya Kalila ketika Darian mengembalikan ponselnya tanpa berkata apa-apa. "Terus kenapa kamu jadi sering pegang ponsel?" Darian rupanya masih penasaran. "Setahu aku kamu nggak punya toko online atau ... Jangan-jangan kamu belanja online?" "Enggak, nanti ayah kamu bilang aku ini boros karena belanja terus." Kalila menyahut. "Aku sadar diri kok kalau aku cuma istri rumahan yang nggak punya penghasilan apa-apa selain dari kamu." "Lil ...." "Makanya aku harus hemat, iya kan?" potong Kalila. "Kalau begitu, apa sebaiknya aku ikut kerja supaya bisa beli rumah pribadi buat kita?" "Rumah pribadi?" ulang Darian dengan kening berkerut. "Buat apa, kita kan sudah dikasih tempat di sini." Kalila menggelengkan kepala, Darian ternyata sama sekali tidak mampu memahami perasaannya yang mulai tertekan selama menumpang di rumah mertua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD