Kenapa sih?

1015 Words
"Hei, Na? Kamu dengar gak?" Sosok gadis yang sedang menopang wajahnya dengan satu tangan tersentak ketika seseorang menjentikkan jari di depan wajahnya. Dia menggeleng kepala sejenak kemudian mengangkat wajah untuk menatap sosok yang bicara tadi di hadapannya. "Ya, kamu bilang apa tadi?" Laki-laki dengan kulit sawo matang dan wajahnya cukup tampan itu menepuk jidatnya. Padahal dia sudah bicara panjang lebar, tapi gadis di hadapannya Ini tidak mendengarnya. "Astaga Bu Sekum ... Gue capek nih, dari tadi berkicau di depan Lo, tapi gak dengar sama sekali. Bisa mati muda gue!" Omel Arya ketua angkatan di kelas mereka. Wajah laki-laki itu merah padam karena sebal. "Hehehe ... Maaf, tadi aku lagi mikirin sesuatu. Memang kamu ngomongin apa?" Cengir Nanna sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Lo lupa Minggu depan ada apa? Kita bakal adakan Dies Natalis Fikom ke-13 Nanna ... Dan Lo yang di pilih jadi sekretaris umum untuk kegiatan ini kan?" Tekan Arya pada kata sekretaris umum kegiatan. "Oh ..." Jawaban Nanna di sertai bulatan di bibirnya membuat laki-laki di hadapannya gemas dengan tingkatnya. Ingin tangan itu melayang ke pipi tersebut dan mencubitnya namun, dia menahannya karena tau diri dia bukan siapa-siapa selain ketua angkatan. Maksudnya mereka berdua tak ada hubungan seperti pacaran. Arya tidak bisa memungkiri jika Nanna sangat mempesona, tak hanya dia saja. Arya bisa lihat hampir semua mata laki-laki tertuju pada gadis itu karena tau pesona Nanna memang tak bisa di tolak. "Oh, ah, ow, eh ... Sudah ingat? Jadi tugas lo ingat juga, kan? Sekarang gue tanya, Lo di suruh apa sama Kahim?" Arya mengetes ingatan Nanna, apakah gadis itu ingat apa lupa dengan tugas yang di berikan Kahim (Ketua Himpunan) Fikom beberapa hari lalu. "Ingat, Kak Juna suruh aku buat undangan, kan?" Nanna memeletkan lidah ke arah Arya. Laki-laki itu pikir Nanna pikun apa? Arya memutar mata dan membuang pandangan, bukan karena kesal melainkan dia menghindar diri dari segala kemungkinan yang bisa terjadi jika dia tak segera berpaling. Dia bisa saja benar-benar mencubit pipi Nanna kemudian citranya sebagai laki-laki baik di kelas itu hancur seketika dengan sikap kurang ajarnya. "Baguslah Lo ingat. Sekarang lo bawa surat itu ke Kahim biar dia cek dulu suratnya udah betul atau belum. Kalau gitu bye, gue ada urusan lain. Jangan lupa!" "Iyya! Apaan sih, kamu kira aku budeg pake teriak-teriak segala!" Kesal Nanna melempar pena di tangannya ke arah Arya yang sudah berlari keluar kelas. "Huh, lama-lama bisa naik darah kalau berurusan sama Aryono itu!" Dumel Nanna sembari mendengus kasar. Hampir dua bulan berada di Indonesia dan berbaur dengan berbagai macam bahasa dari banyak orang di tempat kuliahnya membuat nada dan gaya bicara gadis itu tidak sama lagi waktu pertama kali datang ke Indonesia. Dia hampir menyelaraskan diri dengan bahasa dan kebiasaan di kota tempat tinggal nya itu. Ah, Nanna ingat pesan Arya kalau dia harus mengantarkan surat itu secepatnya ke ketua himpunan Fikom. Nanna bangkit dari kursinya dan mengambil sebuah contoh surat yang tadi malam telah dia buat kemudian berjalan meninggalkan kursinya menuju pintu kelas. Baru saja selangkah keluar kelas, seseorang memanggil namanya hingga membuat Nanna kembali menoleh kebelakang. "Ya Selena, kenapa?" Tanya Nanna setelah mendapati gadis berbandol hitam itu sedang memakan permen gula tusuk. "Katanya tadi gak mau keluar kelas, kok sekarang keluar mau ke kantin ya?" Tanya Selena seraya mendekat. "Bukan, aku mau ketemu sama ketua himpunan, mau antar contoh surat undangan untuk Dies Natalis Fikom." Mata Selena melebar mendengar nama ketua himpunan di sebut Nanna. Selena mengamit lengan Nanna dengan manja, "Aku boleh temani kamu, ya?" Nanna tak bisa menahan kekehan ringan keluar dari bibirnya, pasalnya berteman dengan gadis itu membuatnya sedikit banyak tau tentangnya. Di mana salah satu yang Nanna ketahui adalah, seorang Selena menyukai Ernan, yang notabene si ketua himpunan Fikom. "Yaudah ayok!" Kedua gadis itu pun memutuskan pergi bersama. Di tengah-tengah jalan, Nanna menghentikan langkah dan menepuk jidatnya hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. "Kenapa Nan?" Selena bertanya karena penasaran dengan apa yang terjadi dengan Nanna. "Aku lupa tanya ke Arya tadi tentang keberadaan Kak Ernan." Selena tertawa gemas, "Aku tau kok. Kak Ernan sekarang ada di ruang BEM, ada rapat sama ketua BEM dan teman-teman lain tentang kegiatan Minggu depan itu." Seketika mata Nanna berubah menjadi menyelidik. Menatap Selena seperti seorang polisi yang mengintrogasi tahanannya, "Jangan-jangan kamu ini memata-matai Kak Ernan ya? Mungkin setiap jam istirahat kamu bukannya ke kantin malah pergi bertemu dengan laki-laki itu, ngaku kamu Sel!" tuduh Nanna seperti bersiap untuk menerkamnya. "Eh, enak aja. Enggak lah! Aku kan berteman baik dengan kak Fera, senior kita. Tadi waktu kamu ke kantin dia pamit mau rapat sama anggota BEM karena di panggil ketua himpunan jadi aku taunya dari situ." Selena mencebik tidak suka membuat Nanna tersenyum lebar karena berhasil membuat si gadis kesal. Nanna hanya bermaksud untuk menggodanya saja, dan kalau Selena benar-benar sampai segitunya mencari tau keberadaan Ernan, tidak masalah juga baginya. Sebab orang yang Selena sukai bukanlah Derin, jadi aman. Karena prinsipnya, selama bulan miliknya yang di ganggu, Nanna takkan bertindak. "Hehehe bercanda, Sel. Ya sudah ayo ke sana!" Mengamit lengan Selena dan membawanya pergi. Kedua gadis itu kini berada di depan sebuah pintu ruangan yang tertutup. Nanna menoleh pada Selena untuk menyakinkan dirinya sendiri membuka pintu tersebut, dan anggukan dari Selena memantapkan niatnya. Ceklek .... Pintu terbuka meninggalkan bunyi khas pintu. Hal itu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan nampak di kedua gadis itu. Namun, keduanya nampak salah tingkah saat itu juga karena mereka tengah menjadi pusat perhatian orang-orang yang sementara mengadakan rapat. "Eh? Maaf-maaf, aku ke sini cuman anterin Nanna. Kalau begitu, aku pergi duluan ya, Nan. Assalamualaikum!" Selena menepuk pundak Nanna kemudian berlari secepatnya menghilang dari samping gadis yang sedang menatapnya horor saat ini. Dalam hati Selena meminta maaf karena meninggalkan Nanna sendirian, tapi memangnya apa yang akan Selena lakukan kalau tetap berada di sana? Dia tak punya urusan apapun bisa jadi nyamuk nanti. Saat pandangan Nanna ke depan, matanya bertatapan dengan Derin. Tatapan yang membuatnya panas dingin karena deg degan. Walaupun Nanna punya kepercayaan diri setinggi langit, tapi tetap saja berada di sana dan di tatap para senior membuatnya seperti seorang penjahat yang sudah di kepung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD