"Oh, lo udah datang, Nan? Udah masuk aja, gue udah nunggu Lo dari tadi." Suasana tegang yang di rasakan Nanna seketika sedikit lega, ketika Ernan muncul dari sebuah pintu ruangan lain di ruangan itu. Ernan melihat Nanna yang tetep di luar ruangan kembali memanggil kedua kalinya. "Mau tetap di luar atau masuk?"
Dengan gelagapan Nanna masuk ke dalam kemudian menutup pintu ruang rapat. Dia mengitari meja panjang dan menuju ke sebuah kursi kosong di samping Ernan. Tetap saja semua pandangan masih saja mengikutinya hingga dia duduk tenang tanpa banyak gaya di kursinya.
"Woilah, kalian semua pada kenapa sih, ngeliatin Nanna sampe segitunya? Tau emang orangnya cantik, tapi dianya risih tuh!" Akhirnya Ernan yang menyadari perubahan suasana sejak kedatangan Nanna mencoba menjadi penengah.
Beberapa gadis di dalam sana mendesis bagai tak suka dengan perkataan Ernan saat kata cantik terucap untuk Nanna. Mungkin mereka iri. Tapi, yang lainnya langsung kembali ke semula, seperti tak terjadi apapun.
"Ngapain dia di sini?" Pernyataan dari Derin yang membuat Ernan paham kenapa Nanna bisa menjadi pusat perhatian di dalam sana.
"Oh, sorry-sorry, gue lupa lapor ke elu kalau sekretaris umum kegiatan Dies Natalis Fikom tahun ini adalah Nanna. Lo jangan lupa kalau waktu itu Lo serahin semua ke gue untuk cari panitia kegiatan di semester awal, kan? Dan Nanna salah satu orang yang mau, makanya sekarang dia ada di sini." Jelas Ernan dan beberapa orang pun mengangguk mengerti.
"Ck, ngapain harus dia? Kan banyak yang lain!" Tiba-tiba salah seorang gadis lainnya menceletuk memecah ketenangan.
"Eh, Fani! Mulut lu di jaga dong, masih untung Nanna mau jadi panitia sekretaris kegiatan. Gak banyak orang yang mau berpartisipasi kayak dia. Dan mana mau juga yang lain repot urus sana sini untuk kegiatan besar tahunan ini." Fira nama yang beda tipis dengan Fani. Sama-sama berawalan huruf F, tapi jangan salah sifat keduanya jauh berbeda. Jika Fani adalah sosok yang selalu emosian dan ketua tim julid, berbeda dengan Fira orang baik dan ramah. Dia adalah teman baik dari Selena yang teman sekelas Nanna.
"Tapi gue gak suka sama dia!"
"Ya, masalahnya hanya di elo kali! Yang lain fine-fine aja gak ada yang nolak, tuh."
"Udah berhenti.Fani Lo jangan mulai lagi, lebih baik diem aja." Menatap so bendahara BEM dengan sirat untuk menjaga kelakuannya yang bisa saja membuat masalah di tengah-tengah rapat hanya karena punya masalah pribadi dengan Nanna. Dia tak ingin kejadian sewaktu di kantin itu terulang lagi dan ketua BEM yang menjadi sorotan kampus karena kelakuan anggotanya.
"Lalu mengenai kegiatan ini sepenuhnya gue berikan tanggung jawab dan hak mencari panitia untuk mengurus kegiatan ini ke ketua himpunan, jadi dia yang berhak. Dan seharusnya kita harus hargai pilihan Ernan dan orang-orang yang mau berpartisipasi dalam kegiatan ini bukan begitu?" Imbuhnya dengan ekspresi tenang.
"Yah, betul! Gue setuju dengan Derin!"
"Hum, gue juga!"
Yang lain ikut menyahut bersamaan.
Nanna merasa kehadirannya di sana sudah cukup baik, di terima oleh beberapa senior. Meskipun dia yakin Fani tetap tak setuju. Yah, Nanna masa bodoh juga. Di sini dia hanya menjalankan tugas yang di berikan Ernan padanya. Meskipun ada beberapa alasan dia mau mencalonkan diri jadi panitia kegiatan kalian pasti paham dengan jalan pikirannya kan? Ini adalah bagian dari rencana yang sudah di pikir matang-matang sebelumnya. Jadi, tunggu saja dia bereaksi. Nanna menyiapkan banyak kejutan untuk kalian.
Memang Fikom adalah jurusan yang paling banyak menampung mahasiswa/i berprestasi, tampan, dan juga cantik. Bahkan jabatan Badan eksekutif mahasiswa (BEM) di pengang oleh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Di sana adalah surganya jurusan, kalian takkan bosan berhadapan dengan mahkluk-mahluk mempesona, kaya, dan juga pintar. Double pokoknya!
Akhirnya rapat selesai di laksanakan. Derin membubarkan peserta rapat semenit yang lalu, sementara dirinya sedang bersiap-siap untuk segera pergi meninggalkan ruangan. Namun, matanya terus saja melirik ke arah dua orang di ujung sana yang masih duduk bersampingan dan juga saling mengobrol. Mereka tak lain adalah Nanna dan juga Ernan yang belum juga meninggalkan ruangan.
"Kalian belum mau keluar?"
Atensi Nanna dan Ernan di ambil alih oleh Derin. Tatapan dua orang itu menatap Derin yang sedang tak melihat ke arah mereka, melainkan sedang memasukkan buku catatan agenda rapat ke dalam tasnya. Tapi, keduanya yakin jika Derin baru saja berbicara pada mereka berdua karena siapa lagi jika bukan, hantu? Kan, hanya ada mereka yang masih ada di sana
"Duluan aja, gue masih bahas kesalahan surat undangan Dies Natalis yang di buat nih anak. Penulisannya belum sepenuhnya tepat, entar di tegur lagi." Balas Ernan mengetuk pelan kening Nanna yang di balas ringisan kecil dari gadis itu.
Derin yang melihatnya mengeryit tipis namun, wajahnya masih datar. Tapi, hanya berlaku. Beberapa saat sebelum ekspresinya kembali normal. "Oh, oke kalau gitu gue duluan. Lo jangan kelamaan jam mata kuliah kedua bentar lagi."
"Sip bro, udah sana!" Usir Ernan dengan suara cengengesan.
Derin memakai tasnya kemudian dia mulai melangkah keluar tanpa melirik sedikitpun ke arah Nanna. Melihat hal itu, Nanna mengomel dalam hati. "Wah parah ... Apa laki-laki tidak cemburu? Bahkan Derin tidak melihatku sama sekali. Apa kedekatan ini masih belum ada apa-apanya di matanya? Oke, lihat saja nanti akan ku buat yang lebih dari ini!" Ini memang hanyalah akting. Nanna akan mencoba memanas-manasi Derin dengan cara seperti ini. Meski kenyataannya, dia tak menginginkannya tapi, ini satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatian dari Derin. Menguji seberapa jauh rasa peduli Derin padanya.
Dan lagi, rencananya tak hanya itu saja. Dia akan mencari tahu siapa kekasih Derin. Nanna tidak terima ada sekarang gadis lain yang bisa membuat sosok laki-laki yang dia sukai tak pernah melirik dirinya. Jika dia sampai mendapatkan gadis itu, dia akan membuat pertarungan antara mereka. Siapa yang menang yang akan mendapatkan Derin.
"Hoi, ngapain? Fokus ke surat Nanna, malah melamun lagi." Suara Ernan menyadarkan Nanna yang sedang berkutat dengan pikirannya.
"Hehe, aku gak melamun kok. Sampai di sini kan tadi, aku harus benerin baris salam pembuka jangan sampai sejajar dengan baris isi surat kan?" Sahut Nanna.
"Hm, bener. Baguslah lo udah ngerti jadi, perbaiki suratnya besok gue akan minta lagi untuk di periksa oke?"
Nanna mengangguk, "Aku antarnya ke kelas Kakak atau kemana?"
"Ke kelas gue besok jam 11 siang."
"Siap Kak!" Nanna memberi hormat di sertai senyum lebarnya yang memukau. Ernan sampai menggelengkan kepala antara gemas dan lucu namun, tangannya kembali menoel jidat Nanna karena kegemasan itu.
Tanpa dua orang itu sadari sesosok laki-laki sedang mengintip dari balik jendela ruangan yang terbuka. Mendengar pembicaraan itu dan memperhatikan segalanya termasuk tawa kedua orang itu. Entah apa yang merasuki Derin saat itu, hingga dia tetap tinggal di sana.
"Ck, buang-buang waktu saja!" Mengomentari dirinya sendiri yang bagai tak punya urusan saja malah mengintip Nanna dan Ernan. Laki-laki itu pun berlalu dari sana dengan langkah lebar. Dia menuju ke kelasnya saat itu.
-Bersambung....