Anyelir

1336 Words
Ini sudah seminggu lebih rutinitas pagi Nanna kembali di laksanakan. Bangun di pagi-pagi buta lalu berkutat di dapur membuat kue coklat. Waktu yang berlalu membuatnya menjadi terbiasa bahkan menjadi kebiasaan. Kue coklat siap, Nanna naik ke lantai atas untuk bersiap-siap ke kampus. Setelah selesai, dia turun dan sarapan bersama sang Nenek seperti hari-hari sebelumnya. "Nanna mau pamit ke kampus sekarang ya, Nek." Gadis itu hanya menghabiskan satu roti selai kacang dan kemudian berpamitan. "Loh, loh, kok buru-buru banget sih Nan? Ini masih terlalu pagi ke kampus," kata Rosa. Wanita itu merasa cucunya terlalu rajin ke kampus, padahal jam masuknya masih satu jam lagi. "Nanna kan, biasanya berangkat kayak gini Nek. Soalnya Nanna punya juga banyak tugas, jadi harus cepat-cepat." Gadis itu memberikan cengiran lebarnya pada sang Nenek, sebelum menggamit tangan Rosa dan menciumnya. Kemudian Nanna melarikan diri dengan lambaian tangan. "Bye, sayang Nenek!" Dia pun menghilang di balik pintu rumah. Kini di luar rumah, spontan matanya tertuju pada rumah di samping kirinya. Yah, rumah tetangganya. Nanna tak menemukan sumber-sumber kehidupan di sana yang bertanda sosok laki-laki itu telah berangkat ke kampus sejak pagi-pagi sekali, seperti kebiasaannya akhir-akhir ini. "Huufft, sampai kapan dia akan terus menghindari ku?" Tanyanya dalam hati. Hatinya sedikit sedih karena orang itu menjauh darinya. "Nona mau berangkat sekarang?" Suara seorang supir menyadarkan sang gadis. "Iya dong, Pak. Ayok!" Si gadis mengganti ekspresi dengan senyum lebar. Kemudian berjalan menuju mobil dan masuk ke sana. Perjalanan menuju ke kampus tidak sehening yang kalian duga. Sosok Nanna mudah akrab dan sangat suka mengajak orang-orang disekitarnya mengobrol. Entah itu, membahas sesuatu yang sama sekali tidak penting sekalipun Nanna takkan membiarkan keadaan hening. Dan karena sikap ramah dan mudah bergaulnya gadis cantik itu membuatnya di sukai banyak orang, termasuk sang supir yang telah menganggap Nanna seperti anaknya sendiri. "Pak Anang, bisa kita singgah sebentar di toko buka di perempatan yang ada depan? Aku ingin membeli bunga." Pinta Nanna dengan suara ceria. "Baik Nona ...." Ucap Pak Anang dan menuruti keinginan sang Nona. Mobil di hentikan di tempat yang Nanna inginkan. Gadis itu pun turun dan langsung masuk ke toko bunga. Di dalam sana, dia melihat-lihat berbagai macam bunga-bunga warna warni yang cantik dan membuatnya tak hentinya melebarkan senyum di wajahnya. "Selamat pagi gadis cantik. Apa kamu sedang menikmati pemandangan indah ini?" Sebuah suara muncul dan sedikit mengagetkan Nanna yang terlalu fokus pada dunianya. Dia menoleh ke samping kiri dan mendapati sosok pria yang mungkin berumur 30 tahunan ke atas. Masih terlihat cukup muda. "Jangan bergerak, ada sesuatu di rambutmu." Seketika Nanna yang masih kaget kembali terkagetkan ketika pria itu tiba-tiba maju dan menyentuh rambut atas kepalanya. Gadis itu diam bak patung takut kalau-kalau pria itu maju malah akan membuat posisinya makin terancam. Namun, seekor kupu-kupu ungu bercampur hitam terbang di depan wajahnya dan menjauh darinya. Nanna berkedip ketika pria itu kembali berdiri sempurna di hadapannya. "Sepertinya kupu-kupu itu menyukaimu. Dia sedari tadi hinggap di rambutmu." "Ah, anda mengangetkan ku," Nanna tertawa kecil seiiring desahan lega yang ikut keluar dari bibirnya. Dia tadi hampir mengira pria itu akan bersikap kurang ajar padanya. Ternyata dia salah paham, beruntunglah dia belum membuat ulah atau melakukan sesuatu hal di luar dugaan. "Maafkan aku kalau sudah membuat terkejut. Aku rasa kita perlu berkenalan, namaku Kholis pemilik toko bunga ini." Ujar pria bernama Kholis semabari mengulurkan tangan pada Nanna. Tanpa pikir panjang Nanna ikut mengulurkan tangan menyambut uluran tersebut, "Aku Nanna, Pak Kholis bisa memanggilku begitu." "Oh, Nanna... nama yang secantik orangnya. Apa kamu kemari untuk menikmati bunga-bunga cantik ini?" Tanya Kholis membuang pandangan ke arah bunga-bunga. "Bukan-bukan. Aku ke sini untuk membeli bunga untuk seseorang. Boleh anda rekomendasikan bunga yang cocok untuk orang yang kita sukai?" Kata Nanna berterus terang. "Ah, apa dia kekasihmu?" Tanya Kholis dengan senyum kecil. "Belum, tapi akan. Doakan saja semoga kami cepat menjadi sepasang kekasih." Jawab Nanna. Selang beberapa waktu Nanna menunggu Kholis di sebuah kursi, akhirnya dia menyadari pria itu kini berjalan ke arahnya sembari membawa sebuket bunga di tangannya. Nanna bangkit dari duduknya dan menyambut dengan senyum cerah. "Bunga yang cantik." Puji gadis itu tak henti-hentinya menatap bunga berwarna putih. "Kamu tau ini bunga jenis apa?" Tanya Kholis. Dan gelengan kepala dari Nanna membuatnya terkekeh kecil, "kamu tidak tau? Padahal ini bunga yang sangat di minati banyak orang. Namanya bunga anyelir. Sebenarnya aku punya tiga warna berbeda, merah muda, merah tua dan putih. Tapi karena kamu menyuruh ku memilih maka, warna putih adalah pilihan ku." Nanna mengangguk-angguk, namun berbeda dengan mimik wajahnya yang terlihat tidak begitu mengerti. "Kenapa harus warna putih? Kan, warna merah muda lebih cantik?" "Aku tidak salah dalam memilih. Anyelir putih memiliki arti yang bagus dan ini sangat cocok dengan mu. Ambillah, bukankah kamu hendak ke kampus?" Kholis mengulurkan bunga itu kepada Nanna. Sementara gadis itu sedikit kaget ketika mendengar tujuannya kemari hanya untuk membeli bunga lalu segera ke kampus. Tapi, dia telah menghabiskan banyak waktu berada di dalam sana. Bunga itu langsung di sambar dari tangan Kholis lalu mengeluarkan uang seratus ribu dari saku celananya. "Apa uang ini cukup?" "Tidak-tidak, anggap saja ini hadiah untukmu. Cepatlah pergi, kamu bisa terlambat." Menolak uang itu dan mendorong bahu Nanna untuk segera pergi. Dengan terpaksa pula Nanna keluar dari toko bunga tersebut dan masuk ke dalam mobilnya. Dia hanya mengucapkan terima kasih lalu pergi. Tak banyak waktu yang dia miliki, sebab hampir terlambat. Namun, dia berjanji akan datang kembali ke toko tersebut dan membeli bunga kembali. Tentu saja beli, ini pertama dan terakhir kalinya dia di gratiskan dengan bunga. Di perjalanan menuju ke kampus, Nanna iseng mencari tahu arti dari bunga anyelir putih itu di google pencarian. Dan dia mendapatkannya. "Kemurnian dan keberuntungan? Apa maksud dari ini?" Gumam gadis itu dengan kepala yang di penuhi Arti dari bunga itu. Cukup lama dia larut dalam pikirannya, sampai suara rem mobil menyadarkan dirinya. Nanna menoleh ke samping dan sadar dia telah sampai di depan gerbang kampusnya. Dia turun dan berpamitan pada pak Anang kemudian masuk dengan membawa bunga itu ikut serta bersamanya. Nanna memutuskan untuk berhenti mencari tahu maksud dari arti bunga anyelir putih itu. Otaknya tak bisa di paksa untuk tahu dengan hal-hal yang sulit. Dia lebih baik ke kelas pujaan hatinya dan melaksanakan rutinitas sehari-harinya. Dia sampai di kelas Derin, ternyata keadaan kelas itu bisa di bilang sudha cukup ramai. Bahkan dia mengenal satu prang di antaranya. Yah, Cakra, Wakil ketua BEM dan juga merupakan teman dari Derin yang telah duduk manis di atas mejanya semabari bercanda gurau dengan teman belakangnya. Tatapannya beralih ke arah kursi Derin yang masih kosong tanpa laki-laki itu. Nanna melirik jam dinding di depan kelas yang telah menunjukan pukul setengah 9 pagi. "Kenapa jam segini dia belum ada di dalam kelas? Kemana dia?" Tanyan pada dirinya sendiri. Untuk beberapa waktu, Nanna masih memikirkan hal itu namun, mengingat tiap detiknya tetap berlalu dan dia ingat akan ada mata kuliah jam pertamanya, maka dia harus buru-buru menyelesaikan tugasnya. Nanna masuk ke dalam kelas dan menuju kursi Derin. Mengabaikan tatapan banyak orang yang tertuju padanya, terutama tatapan laki-laki yang duduk paling depan. Fikar, orang itu tak berhenti menatapnya semenjak dia datang ke kelas tersebut. Demi kelancaran tugas, Nanna pun mengabaikannya berusaha tetap fokus ke depan. Dia akhirnya sampai di meja Derin. Nanna tersenyum melihat Cakra yang kini menyadari kehadirannya. "Oh, antar kue lagi ya? Rajin banget sih?" Celetuk Cakra yang sok kenal dengan Nanna. "Lah, bunga itu biar siapa?" Tanyannya lagi ketika melihat Nanna tidak hanya meletakkan kota bekal di atas meja tapi, juga dengan sebuket bunga. "Buat Derin lah, Kak. Tolong jagain ya, sampai Derin nya datang. Terima kasih Kak Cakra, pamit yaaa..." Ucap Nanna seraya melambai ke arah Cakra. Langkah gadis itu membawanya menghela dari pintu kelas di akhiri dengan suara bisik-bisik tetangga yang terdengar seperti nyamuk dalam kelas. Sudah hal yang lumrah. Para gadis-gadis di kelas Derin menggosipkan Nanna ketika sosok itu telah menghilang. Bukan hal heran lagi jika Nanna tak menjadi bahan pembicaraan yang hangat di kampus kebanggaan itu, jika bukan karena sikap sok cari perhatian nya kepada presiden kampus, Derin. Tentu saja banyak perempuan yang panas melihatnya. -Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD