Gadis itu tremor seketika, dia tersenyum gugup lalu menjawab, "Ingat kok, Pak. Tapi, saya akan antar setelah acara ini selesai, tidak apa kan?"
"Tidak masalah, saya akan menunggunya."
Nanna mengangguk lantas berdiri, "Permisi Pak, aku akan duduk di belakang bersama temanku." Kemudian Nanna melarikan diri sebelum berhasil di cegat oleh dosen itu.
Nanna duduk tapi, tak ada siapapun yang dia kenal. Dia bergabung dengan para tamu undangan yang hadir. Tapi, ini lebih baik daripada duduk berdampingan dengan Kevin. Dia bisa tremor sampai acara selesai. "Huh, ini hari paling terburuk dari hidupku." Keluhnya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Kini acara pembukaan telah berlangsung. Suara MC yang di kendalikan oleh seorang senior perempuan membuat ruangan hening dan menyisakan suaranya seorang.
Sementara itu, sosok Derin baru saja masuk ke dalam ruang Aula sendirian. Karena mengurus sesuatu terkait tugasnya sebagai ketua BEM, dia sedikit terlambat datang di acara fakultasnya sendiri. Dia juga berpisah dengan Cakra yang lebih dulu hadir di banding dirinya. Beruntung saja pintu masih terbuka jadi dia masih bisa menghadirinya. Dan karena terlambat, Derin kesulitan mencari bangku yang kosong. Hingga pandangannya menemukan satu bangku kosong yang ada di barisan kedua paling belakang. Derin menuju ke sana untuk duduk.
"Hufft," laki-laki menghembuskan napas saat dia duduk di bangku. Dia menoleh ke sampingnya kepada seorang mahasiswi yang duduk di sebelahnya. Derin tak bisa melihat wajah itu karena terhalang rambut si gadis itu. "Anak fakultas ilmu komunikasi juga ya?" Akhirnya Derin memutuskan untuk bertanya meski terdengar basa basi yang sudah biasa.
"Hm, Kakak bicara sama aku?"
Derin terlihat tercekat dengan ucapannya sendiri yang hendak keluar. Betapa terkejutnya saat melihat sosok gadis yang dia sering hindari itu sedang duduk di sampingnya.
"Elo?" Suara Derin yang cukup keras membuat beberapa mahasiswa menoleh padanya. Derin seketika sadar dan menutup mulutnya mengisyaratkan lewat tatapan mata jika dia meminta maaf pada orang-orang yang merasa terganggu. Ini karena salah mahluk yang dydyk di sampingnya ini. Siapa lagi jika bukan Nanna. Kenapa dia bisa tak sadar sih?
"De-Derin?" Nanna bertingkat seperti tidak percaya juga. Dia berkedip polos melihat betapa manisnya takdir mempertemukan dirinya dengan Derin di kursi yang sama dan berdampingan. Nanna tak bsia menahan senyumnya. "Ternyata jodoh memang takkan kemana ya. Aku tidak menyangka kamu bisa duduk di sampingku." Dengan tingkat kebucinan yang tinggi, Nanna menatap Derin dengan tatapan penuh puja.
"Jangan ge'er ya! Gue duduk di sini karena terpaksa, gak ada lagi kursi yang kosong." Jawab Derin dengan cuek.
"Ya tetap saja, takdir Allah begitu manis. Kapan lagi bisa duduk seperti ini?"
"Ckck, cewek kayak Lo gampang banget baper ternyata. Heh, gue kasih tau ya, mending Lo jangan terlalu berharap banyak. Gue gak bakal suka sama Lo!" Derin berucao dengan menekan setiap kata-katanya. Meski seperti itu, dia dengan suara rendah karena mengingat dirinya sedang berada di acara fakultas, namun tetap saja ucapan itu terasa sangat menusuk ke hari Nanna.
Gadis itu melunturkan setengah senyumannya, namun tidak hingga surut. "Gak masalah. Mungkin hari ini kamu belum suka sama aku, tapi aku berjanji suatu saat nanti kamu bakal jatuh cinta." Balasnya tanpa ada keraguan.
Dan Derin hanya membuang pandangan ke depan. Dia mengabaikan Nanna setelah gadis itu menjawab. Dan perbincangan itu selesai saat itu juga. Keduanya mulai sibuk pada kegiatan masing-masing. Derin yang berusaha memfokuskan perhatian pada acara, sementara Nanna tak bisa mengalihkan pandangan dari wajah Derin. Prinsip Nanna, kesempatan tidak datang dua kali jadi dia menghabiskan waktu acara hanya memandang Derin dari samping. Dia tahu Derin risih, tapi laki-laki itu sama sekali tidak menoleh untuk menegurnya.
Acara pun selesai sekitar dua jam lebih. Waktu Zhuhur pun menjadi pertanda untuk waktu istrahat. Acara di tutup dengan pemotongan nasi tumpeng di susul para tamu undangan yang di persilahkan untuk menikmati hidangan yang di sajikan.
Derin bangkit berdiri berniat untuk pergi dari ruang Aula di tengah keramaian mahasiswa yang mengantri untuk mengambil makanan. Namun, niat itu terhenti saat tangannya di tahan seseorang. Derin menoleh dan mendapati sosok Nanna ialah pelakunya. Tatapan Derin tertuju pada genggaman tangan Nanna.
"Ah, maaf, maaf," Nanna melepas cepat genggaman tangan mereka dengan meminta maaf. Gadis itu buru-buru mengeluarkan sebuah paper bag kecil dan mengulurkan pada Derin, "Aku ingin memberikan ini untukmu. Maaf, aku tidak bisa mengantarkannya hari ini ke kelasmu seperti biasa. Tapi, aku janji besok-besok aku tidak akan absen lagi kok." Memberi senyuman terbaiknya.
Namun, tidak ada respon dari Derin membuat gadis cantik itu dengan inisiatif menarik tangan Derin dan memberikan paper bag itu ke tangannya tersebut. "Oke sudah selesai. Kalau kamu mau pergi sekarang tidak apa-apa kok."
Tanpa ada ucap sepatah katapun, wajahnya pun datar tanpa ekspresi. Laki-laki itu berbalik lalu pergi dari hadapan Nanna begitu saja.
Nanna tidak peduli dengan respon datar Derin. Baginya melihat apa yang di berikan tadi di bawa pergi laki-laki itu, Nanna merasa sudah berhasil meski hanya sepersekian persen saja keberhasilannya.
Derin tidak menuju ke kelas melainkan ke atas gedung kampus atau tempat ternyaman nya selama ini. Dia sering menghabiskan waktu di rooftop sendiri atau dengan teman-temannya. Namun, akhir-akhir ini setelah dia menjabat menjadi presiden kampus dia sudah sangat jarang menikmati keindahan dari puncak bangunan.
Derin memilih duduk di salah satu kursi kayu yang melingkari sebuah meja persegi di tengah-tengah. Itu adalah tempat kumpul-kumpul mereka, biasanya teman-teman Derin sering membawa banyak makanan untuk di santap bersama. Tangan yang menggandeng paper bag kecil berwarna hitam itu di letakkan di meja. Derin tak tau apa yang akan dia lakukan pada benda itu, dia pun tak tau apa isinya.
Dengan rasa ingin tahu, laki-laki itu membuka paper bag itu untuk melihat isinya secara langsung. Ternyata itu kotak bekal dan setangkai bunga melati yang tertempel sebuah kertas putih polos. Pertama-tama Derin mengambil kotak bekal berwarna biru langit, warnanya memang sama seperti kotak bekal kemarin, tapi kali ini ukurannya lebih besar. Setelah membukanya ternyata itu adalah kue coklat dengan porsi yang banyak, full sekotak.
Kemudian Derin mengambil bunga melati itu dan membaca isi pesan di kertas itu. "Tolong maafkan aku untuk yang kemarin. Aku betul-betul tidak sadar memberikan kue itu pada Dosen itu. Maka, untuk menggantinya aku memberikan lebih banyak kue hari ini. Terima kasih kalau kamu mau memaafkanku. Cobalah kue ini ya ;)..."
Di situlah Derin tertawa geli usai membacanya. Dia sampai mengusap rambutnya ke belakang dan memikirkan bagaimana bisa seorang gadis menjadi paling bodoh karena sebegitunya membuatkan ini untuknya.
"Kapan Lo sadar, kalau gue itu gak mungkin suka balik sama Lo, hm?"
-Bersambung