acara

1024 Words
Sekarang Selena paham apa yang membuat temannya itu bersedih sampai seperti ini. Dia menarik Nanna ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk pundak gadis itu. "Aku memang tidak tau kejadiannya seperti apa? Tapi, kamu jangan sedih begini dong. Besok kan kamu bisa berikan kue itu lagi ke Kak Derin dan katakan permintaan maaf." Saran Selena. Dia tak mau tau kronologi kejadiannya, dia hanya perlu menangkan temannya saja. "Ka- kamu benar, Sel. Huh, lagian ini juga salahku." "Hussst, itu gak penting. Yang terpenting itu adalah kamu minta maaf dan ganti kue itu. Sekarang kita ke kantin yuk, lapaaar ..." Selena bermaksud tak ini memperpanjang kerisauan hati Nanna. "Oke, makasih ya, Sel. Kamu memang teman baikku!" Memeluk Selena dengan gemas. "Kalau gitu, ayok ke kantin!" "Eh, Nan! Nanna, tunggu!" Tiba-tiba suara seseorang memanggil menghentikan niat kedua gadis itu yang hendak ke kantin. Nanna dan Selena berbalik untuk melihat orang yang memanggilnya siapa. Ternyata itu adalah Arya, si ketua angkatan mereka. "Kenapa, Arya? Perasaan tugas buat undangan sudah aku kasih ke Kahim tadi pagi, kamu ke sini bukan untuk nanya itu kan?" Tanya Nanna. "Bukan. Ini masalah penting, Ting, Ting, Ting!" Nanna menatap Selena sebentar lalu menatap Arya lagi, "Penting? Maksudnya?" "Elo di panggil sama Pak Dosen ke ruangannya sekarang!" "Hah!" Berita itu membuat Nanna membuka mulut, "Dosen siapa? Aku gak baut masalah sama dosen kok ..." Tiba-tiba ingatan tadi pagi langsung terekam kembali di otaknya. Mandadak Nanna jad ketakutan sendiri menduga-duga dalam pikirannya. "Ke- kecuali satu Dosen ... apa Dosen laki-laki itu?" "Maksud Lo Dosen muda yang namanya Pak Kevin, kan? Iya benar, dia yang nyari Lo!" Jawab Ayra dengan antusias. Semantara wajah Nanna menajdi pias, berbeda dengan Arya. Baginya itu bukanlah berita bagus, melainkan sesuatu yang buruk. Perasaannya menjadi tak karuan mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi. Dengan langkah tegang, Nanna berjalan menuju ke ruangan Kevin yang telah di tunjukan oleh Arya sebelum laki-laki itu melarikan diri. Kini dia ada di sini, di depan pintu masuk ruang dosen tersebut. Menarik napas yang paling panjang sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu. Tok ... Tok ... Tok ... Dan suara sambutan dari dalam langsung terdengar, "Silahkan masuk!" Kenop pintu di putar hingga daun pintu terbuka setengah, mungkin hanya sebesar kepalanya saja. Nanna belum beran melangkahkan kaki masuk. "Kenapa hanya diam di luar? Masuklah!" Dentuman jantung Nanna makin menjadi-jadi, gugup bukan main. Dia sampai menggigit bibir bawahnya kuat, lalu masuk ke dalam ruangan tersebut sekali melangkah. Kini dia bisa melihat sosok laki-laki yang tadi pagi di jumpainya sedang memasang senyum padanya. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu apapun. "Kenapa kamu kelihatan takut begitu? Apa wajah saja semenyebalkan itu?" Tanya Kevin tertawa dengan bibir tertutup. "Santai saja, duduklah saya tidak akan berbuat macam-macam pada kamu." Apa dengan kata-kata itu Nanna bisa tenang, oh tentu tidak. Nanna sama sekali tidak percaya. Dia lebih percaya pada hatinya, bahwa ini bukanlah sesuatu hal yang baik. Sama sekali bukan! Nanna akhirnya duduk, meski terlihat dari cara duduknya dia berusaha membuat dirinya nyaman. "Kamu tau tujuan saya mengundang kamu kemari untuk apa?" Karena tidak tau, Nanna pun menggelengkan kepalanya pertanda dia tak tau. "Memangnya untuk apa Pak?" "Bukannya kejadian tadi pagi, tidak seharusnya selesai begitu saja hanya dengan satu kotak bekal kue coklat? Saya menginginkan lebih." Nanna tidak paham maksud dari ucapan Kevin. Hingga kening gadis cantik itu berkerut karenanya. Tapi, satu hal yang dia tangkap dari ucapan tadi, itu artinya di antara mereka belum selesai. 'Apa aku akan mendapatkan hukuman berat karena berteriak pada Dosen? Atau .. aku kena skorsing? Ya Tuhan ... Kenapa ini bisa terjadi padaku.' Nanna merutuki nasibnya sendiri. "Jadi aku ingin kamu .... " *** Nanna baru turun dari mobil dan berpamitan pada supirnya, kemudian berlari masuk ke dalam kampus. Di sela-sela larinya, Nanna ikut memasang almamater kampus miliknya dengan langkah yang otomatis menuju ke ruang aula. Tak ada waktu untuk berhenti dan bernapas barang sejenak, dia hampir terlambat untuk menghadiri acara Dies Natalis fakultasnya hari itu karena sesuatu hal. Itu karena pagi-pagi buta sekali dia sudah sibuk membuat kue coklat seperti biasanya. Namun karena pagi ini dia membuat banyak makanya dia terlambat datang. Jika biasanya Nanna hanya membuat untuk satu porsi kali ini dia membuat dua. Bahkan di tasnya dia membawa dua kotak bekal. Bisa kalian tebak kenapa? Yap, betul sekali. Satu kotak itu paten untuk Derin, sementara satunya lagi untuk si dosen yang tak sengaja dia teriaki waktu itu. Pak Kevin, dialah orangnya. Laki-laki yang memberi Nanna hukuman dengan menginginkan nya membawa kue coklat setiap pagi ke ruangannya selama 1 bulan berturut-turut. Gila kan? Ini hukumaya tidak masuk akal. Tapi, kemarin Nanna tak punya pilihan lain selain menyanggupi nya. Jika tidak hukuman yang lebih berat akan dia dapatkan tak terkecuali di skorsing dari kampus dengan alasan ettitude minus. Maka dari itu Nanna memilih hukuman ini daripada yang lain, meski kenyataannya ini bukanlah sesuatu yang muda. Dia meninggalkan dapur sang Nenek seperti kapal yang terpecah belah. Sangat-sangat berantakan karena ulahnya. "Huh, akhirnya sampai..." Napas Nanna tidak teratur ketika sampai di depan pintu Aula kampus yang terbuka. Di dalam sana menampakkan banyak orang yang telah duduk rapi yang mayoritas aadalah mahasiswa jurusan ilmu komunikasi dan sebagainya lagi adalah perwakilan dari masing-masing fakultas dan lembaga-lembaga internal atau eksternal kampus yang turut di undang dalam perayaan Dies Natalis tersebut. "Astagaaa Lo baru datang, Nan? Ayo buruan masuk dan duduk paling depan ya, udah di siapin kursi tuh!" Arya yang menyambut para tamu dan mengangkap bayangan sosok Nanna di luar pintu segera menyuruh si gadis untuk masuk ke dalam Aula. "Oke oke!" Nanna sedikit lega napasnya tidak sesesak tadi setelah duduk di kursi paling depan. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama ketika suara seseorang menyapa gadis itu, "Ternyata kamu?" Nanna mengenal suara ini. Suara yang dulunya asing kini dia bisa mengenalnya baik meski hanya beberapa kali pertemuan. Dan pertemuan itu sangat tidak baik. Dia menoleh ke samping kiri dan ketika itu juga matanya melebar. "Ba- Bapak? Kok, bisa ada di sini?" Sosok yang di sampingnya adalah Kevin. Dosen idola kampus yang kini sedang mengulum senyum lebar padanya. "Karena undangan ini," mengangkat sebuah surat undangan yang dia keluarkan dari dalam saku jasnya. "Saya datang untuk memenuhi undangan. Apa kabar? Kamu tidak lupa dengan perjanjian kita kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD