Kue coklat

1015 Words
Mata Nanna langsung tertuju pada seseorang yang menatapnya dengan tatapan seperti biasanya, datar dan dingin. Nyawanya seakan terbang entah kemana memikirkan jika Derin melihat kelakuannya tadi yang sangat kurang ajar pada dosen di hadapannya. "Ma- maaf. Maafkan aku Pak Dosen. Ini — ini kue untuk Bapak sebagai permintaan maaf aku. Mohon pamit ya, Pak ... Permisi!" Kotak kue itu berpindah tempat ke tangan laki-laki dosen yang masih nampak muda. Yah, memang muda. Namanya Kevin Tamano dan umurnya masih 29 tahun. Sosok Nanna telah lari terbirit-b***t meninggalkan kelas dan Kevin yang terpaku di tempat. Pandangannya tak lepas dari punggung Nanna yang mulai menjauh dan ketika menghilang dia tersenyum tipis, saking tipisnya senyum itu tak ada orang yang bisa melihatnya. Beberapa saat kemudian, dia masuk ke dalam kelas dan melihat semua mahasiswanya masih menatapnya dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Di mana arti tatapan itu berbeda-beda. "Selamat pagi semuanya!" Sapa Kevin memecah keheningan kelas. "Ah, maafkan atas kejadian tadi. Mari kita lupakan itu dan fokus pada kelas." "Pagi juga Pak. Baik Pak ..." Jawab hampir semua mahasiswa. Beberapa di antaranya hanya diam saja dan mulai sibuk mengeluarkan buku catatan. Kelas pertama berakhir setalah jamnya habis. Kevin pun menutup kelas dengan ucapan terima kasih lalu dia berlalu keluar kelas. "Terima kasih untuk hari ini, jangan lupa tugasnya di kumpulkan Minggu depan ya!" Ucap Kevin mengingatkan para mahasiswa. "Kalau begitu, Bapak pamit dulu." Kevin tlah siap-siap untuk keluar namun, suara seseorang menghentikan langkahnya. Kevin menoleh ke samping dan mendapati seorang gadis cantik bermata sedikit sipit tapi, memiliki senyum manis sedang mengulurkan sebuan kado ke hadapan Kevin. "Ini apa, Reina?" Tanya Kevin melirik kotak kado itu. "Hadiah untuk Pak Kevin. Mohon terimalah, Pak." Ucap gadis bernama Reina menambah senyuman nya semakin lebar. Kevin mengulum senyum simpul dan ragu-ragu mengambil kado itu. Dan dia bisa melihat binar wajah gadis itu semakin terpancar karenanya, "Terima kasih untuk kadonya, Rein. Tapi ... Lain kali yang seperti ini tidak perlu ya, fokuslah belajar dan lulus dengan cepat ok." Seketika senyum manis Reina pudar seiring dengan langkah lebar kevin yang telah berjalan keluar. Ini memang bukan kali pertama Reina memberikan kado untuk Kevin. Tapi, untuk kali ini dia bagai mendapatkan penolakan halus dari laki-laki yang dia kagumi itu. Dan faktanya dosen muda itu tak hanya di kagumi oleh dia saja. Ada banyak mahasiswi yang menyukai dosen itu karena tak bisa di pungkiri, Kevin mempunyai fisik sempurna, cerdas, dan pengertian. Sudah layaknya idola kampus, Wajar saja dia di cintai banyak mahasiswi. Lepas Kevin keluar dari kelas, Kevin tak henti-hentinya menatap ke arah pintu. Padahal sosok Kevin telah tak ada di sana. Tapi, yang menjadi pertanyaan bukanlah hal itu. Namun, apakah yang membuat Derin menatapnya seperti demikian? "Oi, Lo lihat ape sih, sampai segitunya?" Cakra menepuk bahu Derin dan ikut mengikuti arah tatapan Derin. "Cantik banget ya, pintu itu sampe lo natap kayak gitu?" Oceh sahabat Derin yang tertawa setelahnya. "Sok tau Lo!" Balas Derin memukul tangan Cakra yang di sampirkan di pundaknya. "Lah, emang kalau bukan terus apa coba? Oh, ah, lupa. Kue coklat buatan Nanna hari ini absen ya, apa itu yang bikin Lo galau kek gini?" Seketika Derin yang hendak membalas langsung menutup mulut. Bahkan dia memalingkan wajah ke depan. Senyum penuh arti dari Cakra terlukis indah melihat reaksi Derin. "Ralat, maksud gue kue itu sudah di kasih sama Pak Kevin. Ah, padahal itu jatah Lo, kenapa di kasih ya?" Derin membuang napas lantas berdiri dari duduknya. "Gak ada hubungannya sama apapun. Dan gue ingetin sama Lo, jangan pernah sangkut pautkan gue dan si cewek junior itu paham? Minggir Lo gue mau ke kantin!" Derin menggeser posisi Cakra yang menghalangi jalannya keluar. Laki-laki itu pun pergi dari kelas. Cakra yang di tinggal menggelengkan kepala sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba menjadi gatal. "Perasaan firasat gue gak pernah salah, deh." *** Kevin tiba di ruangannya saat itu. Setelah meletakkan buku, kado, dan juga kotak bekal di atas meja kerjanya. Kevin sedikit melonggarkan dasinya yang serasa mencekik lehernya sejak tadi, lepas itu dia duduk di kursinya dan menghembuskan napas panjang. Untuk sekejap, dia menikmati waktu istirahatnya dengan mata terpejam dan napas yang berhembus teratur. Hingga ketika sesuatu menghantam lantai hingga Kevin membuka mata. Ternyata pulpen miliknya jatuh. Kevin mengambil benda itu dan meletakkan kembali ke atas meja. Namun, di situlah pandangannya tertuju pada dua benda yang mencolok di hadapannya. Entah keinginan dari mana tangan itu terulur untuk mengambilnya, bukan si kado melainkan kotak bekal biru langit. Kevin membuka kotak bekal itu dan melihat kue coklat yang terlihat lezat. Tanpa pikir panjang dia mengambil sepotong kue itu dan langsung memakannya. Dia mengecap rasa manis coklat yang tak sengaja menyentuh bibirnya dengan lidah. Eskpresinya sedikit berubah, lantas kembali mengambil beberapa potong kue dan memakannya kembali. Hingga yang tersisa dalam kotak bekal itu hanyalah bekas coklatnya saja, kosong. Kevin menghabiskannya dalam beberapa menit saja. "Haha ... Apa napsu makanku bertambah? Kenapa kue ini rasanya sangat enak?" Dia merasa aneh pada dirinya sendiri. Tidak biasanya seorang Kevin memakan kue manis atau semacamnya, tapi kali ini dia benar-benar suka. Rasanya sangat pas hingga tanpa sadar menghabiskan kue itu. Dia tak berbohong mengatakan kalau kue itu memang enak. "Aku menginginkannya!" Nanna berjalan lesu keluar kelas, bagai tak punya nyawa. Selena yang berjalan di samping Nanna pun merasa bingung dengan temannya itu. Pasalnya ekspresi itu telah dia dapati sejak gadis itu masuk kelas hingga saat ini waktu istrahat. "Kamu kenapa sih, Nan? Apa surat undangan itu masih belum sekesa juga ya? Apa perlu bantuan ku?" Selena membuka suara. Dia mengira jika ini memang karena tuags sekretaris umum kegiatan Dies Natalis itu, makanya Nanna jadi seperti ini. Selena bisa memahaminya. "Ini bukan karena itu, Sel." Jawab Nanna dengan lemah. Kening Selena berkerut, "Loh, kalau bukan itu terus apa dong?" Langkah Nanna berhenti di ikuti Selena. "Ini tentang kue ku!" Nanna sedikit berteriak sembari memukul-mukul udara. "Kue yang setiap pagi kamu berikan ke ketua BEM itu ya? Kenapa, apa ada masalah?" Rasa kepo Selena bertambah. "Iya, tapi kue itu malah aku berikan malah ke Pak Dosen. Huaa ... Padahal itu untuk Derin .... " dan berakhir Nanna memasang wajah paling sedih bagai seorang anak kecil. -Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD