Lima tahun kemudian.
Kehidupan Putri berjalan dengan lancar. Semua masalah rumit telah dia hadapi. Kini, wanita itu mulai merasakan bahagia dalam hidupnya. Dia bisa melihat tumbuh perkembangan anaknya saat ini, anak yang kini sudah berusia 5 tahun.
Cinta Diandasari. Senyum yang menonjolkan gigi ompong nya itu, berhasil membuat Putri ikut merasakan kebahagiaan. Dia sangat menyayangi putrinya itu lebih dati apapun itu, dia juga telah berjanji dalam hatinya untuk menjaga Cinta sampai kapanpun.
Itu adalah janji Putri sendiri.
Kini, Cinta dan Putri hidup sendiri. Mala telah pergi, kembali dengan suaminya setelah empat tahun berpisah. Setidaknya, Putri merasa sangat senang saat melihat hubungan pernikahan antara Mala dan Bian sudah membaik.
Cinta yang dulunya memiliki teman bertengkar yaitu Gabriel (anak Mala), kini justru sendirian. Beberapa kali, Putri akan melihat Cinta yang kebosanan, membuat Putri berusaha meluangkan waktunya untuk anaknya itu.
Seperti siang ini, Putri yang biasa hari-harinya dihabiskan dengan bekerja, kini harus meluangkan waktu sejenak untuk menemani Cinta di rumah. Dilihatnya, Cinta kini sedang asik bermain boneka Barbie.
"Cinta nanti mau ikut dengan Ibu? Kita mau membeli bahan-bahan makanan." Putri menyajikan dua piring nasi goreng, satu untuknya dan satu lagi untuk putrinya. Dia menaruh dua piring makanan itu tepat di depan Cinta, hingga membuat gadis manis itu menatap makanan yang dibuat olehnya dengan binar nya.
"Mau!!" Cinta berucap dengan heboh nya.
"Setelah ini, Cinta ganti baju dan siap-siap, ya."
Cinta mengangguk dengan antusiasnya. Dia langsung memakan nasi goreng itu dengan porsi yang besar, hingga mulutnya tampak penuh saat ini.
Aksi itu sangat menggemaskan di mata Putri. Cinta dengan rambut yang diikat dua ke belakang juga poni yang menutupi kening nya itu, terlihat telah selesai menghabiskan makanannya dan saat ini, Cinta tengah meminum s**u nya dalam gelas itu.
"Aku akan langsung ganti baju." Gadis manis itu turun dari kursi dengan sedikit meloncat karena memang kursi itu cukup tinggi baginya.
Putri geleng-geleng kepala kala dia mendengar suara Putri yang menyanyi sebuah lagu. Anaknya itu memang memiliki bakat di menyanyi dan sampai saat ini, Putri sudah berpikir untuk mengasah lagi bakat wanita itu.
Putri mengambil air putih dan menegukkan minuman nya hingga habis. Dia mengambil ponsel nya dan melihat beberapa pesan yang dikirim oleh teman-temannya, diantaranya adalah Bella.
Saat ini, Bella sudah bertunangan, dengan pria yang memiliki keturunan western.
Entah mengapa, ada yang aneh dari hubungan Bella dengan tunangannya itu.
Mereka terlihat sangat kaku sekali di matanya.
Bella.
|Aku akan pulang ke Indonesia dan semuanya harus berkumpul besok di Lampung.
Putri tersenyum kecil. Sahabat-sahabat nya itu sangat mengerti dirinya, mereka tahu bahwa dirinya akan merasa tak nyaman jika pergi keluar dari provinsi ini. Hingga tempat satu-satunya untuk mereka berkumpul yaitu di kota ini.
"Ibu, ayo!"
Putri terlonjak kaget saat dia mendengar teriakan itu. Langsung saja dia mengangkat kepalanya dan melihat Cinta yang sudah siap dengan memakai dres bunga-bunga nya.
Wajah Cinta terlihat sangat kesal sekali saat melihat bahwa saat ini, Putri belum siap juga. Cinta memonyongkan mulutnya, lalu dia berkata, "Ayo, Bu. Siap-siap, aku ingin ke mall sekarang."
Putri tertawa pelan. Lantas dia membangunkan tubuhnya, menuju ke kamarnya hanya untuk mengambil tas yang sudah berisi dompet nya juga sebuah cardigan.
Keluar dari rumahnya, Putri langsung mengeluarkan motor nya dari garasi. Cinta duduk di belakangnya dengan menggunakan sebuah helm yang akan melindunginya.
Jalanan di Tanjung Karang saat ini tak terlalu padat, hingga Putri bisa melesatkan motornya dengan kecepatan yang tinggi.
Mall Bumi Kedaton.
Mereka sudah sampai ditempat tujuan. Putri menggenggam tangan Cinta dan mereka mulai melangkah masuk ke dalam mall tersebut.
"Bu, aku ingin itu." Cinta menunjuk pada sebuah piano yang tampak terpampang dengan jelas di dalam sebuah toko.
Putri menggigit bibirnya dengan kuat. Dia yakin sekali, kalau harga piano itu pasti sangat mahal sekali dan tentu saja, dia tak memiliki uang saat ini untuk membeli piano itu.
"Nanti, saat Cinta sudah besar, Ibu akan memberikannya." Putri berucap. Saat ini, dia hanya bisa berharap membelikan piano itu untuk putrinya, dia akan berusaha menabung kan uang nya agar bisa cukup.
"Kenapa tidak sekarang?" tanya Cinta dengan tatapan polos nya.
Putri menggaruk kulit kepalanya, dia mulai bingung saat ini memberikan jawaban apa untuk Cinta. "Hmm, karena Cinta kan belum bisa belajar piano nya dan juga Cinta masih kecil."
Mengerti dengan ucapan Putri, Cinta membulatkan mulutnya dan mulai menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Baiklah, kalau begitu, aku ingin cepat besar agar bisa membelinya."
Putri tersenyum kecil. Dia menarik tangan Cinta dan membawanya menuju ke sebuah tempat penjualan bahan-bahan makanan.
Dia mengambil keranjang dan mulai menaruh beberapa bahan makanan yang sudah di daftar list nya.
"Bu, Itu Om Vano!" Cinta berucap dengan heboh nya seraya menunjuk ke arah seorang pria yang kini tengah asik mendorong keranjang makanan bersama dengan seorang wanita paruh baya.
Vano melambaikan tangan kepada dirinya dan langsung mengajak wanita paruh baya yang ada di sebelahnya untuk mendekat ke arahnya.
"Ibu, perkenalkan dia Putri, tetangga ku." Pria itu memperkenalkan nya pada sosok wanita paruh baya yang ada di depannya saat ini.
Putri tersenyum kecil kepada wanita paruh baya itu. Tampaknya, ibu dari Vano ini tampak sangat ramah kepadanya.
"Jadi ini wanita yang sering mengirimkan mu makanan itu? Hahaha, sangat cantik sekali." Wanita paruh baya itu memujinya, membuat Putri menjadi malu-malu saat ini.
"Ya, dia wanita yang sering aku ceritakan itu." Vano tersenyum kepada Putri dan setelah itu, terjadi obrolan di antara mereka.
Putri yang memang pada dasarnya sangat humble orangnya, begitu mudah menciptakan pembicaraan.
"Vano sudah tua, tapi dia menolak untuk menikah terus. Ibu sangat setuju jika kau menjadi menantu Ibu."
Kening Putri mengerut. Dia hanya bisa mendengar saja saat ini, bingung ingin memberikan jawaban seperti apa. Dia tak mungkin menikah, karena dia sendiri masih memiliki status istri dari Gio. Lagian juga, Putri hanya menganggap Vano sebagai teman saja. Beberapa kali Vano juga akan membantunya dalam masalah, makanya mereka bisa dekat.
"Ibu, jangan gitu, ah. Aku dengannya hanya teman, gak lebih." Vano memberikan teguran kepada ibunya itu dengan malu-malu.
Sementara Cinta yang sedari tadi memilih untuk diam, terus menatap ke arah Vano.
'Apakah jika Ibu menikah dengan Om Vano, aku bisa memiliki ayah?'