Cinta Diandasari, itulah nama yang diberikan oleh Putri kepada anaknya. Putri sangat membutuhkan Cinta dalam hidupnya, anak itulah yang akan menemaninya dalam hidup ini.
Diciumnya wajah Cinta. Anaknya itu tengah tidur setelah diberikan asi. Untung saja tak ada ada masalah dalam asi nya. Asi yang keluar sangat lancar, membuat Putri merasa begitu lega karena dia telah memberikan anaknya asupan yang baik.
"Hari ini kau akan pulang dari rumah sakit, apakah kau sudah baik-baik saja?" tanya Mala.
Putri menganggukkan kepalanya. Dia memang merasa sudah sedikit lebih sehat saat ini, hanya saja mungkin dia sedikit kesulitan saat berjalan, karena masih terasa nyeri di daerah selangkangannya. "Ya dan sepertinya aku butuh kursi roda."
Tak berselang lama, pintu ruang rawat inap Putri itu terbuka dengan lebarnya, dia melihat ada Rey yang saat ini tengah mendorong kursi roda.
"Aku sudah mengurus semuanya, salah satunya adalah masalah administrasi. Sekarang, kita bisa langsung pulang saja." Rey membantu Putri untuk turun dan berjalan menuju keluar dari ruangan itu.
Sementara Cinta, bayi itu ada di dalam gendongan Mala.
Menuju ke basement, ketiga orang itu masuk ke dalam mobil Rey. Putri menyandarkan punggung nya. "Apakah mereka tak curiga jika kau pergi ke sini?" tanya Putri.
Rey menggelengkan wajahnya. Melihat wajah Rey yang santai saja saat ini, berhasil membuat Putri yakin kalau apa yang dilakukan oleh pria itu tak akan membuat masalah.
"Mereka tidak akan curiga kepada ku, karena mereka sibuk mempersiapkan pernikah---" Rey menyentuh mulutnya. Hampir saja dia tadi keceplosan mengatakan sesuatu kepada Putri.
"Kau tadi berkata apa?" tanya Putri yang masih tak mengerti akan maksud ucapan dari Rey itu.
Rey menutup bibirnya. Mencari alibi yang tepat agar nantinya, Putri tak curiga kepada dirinya saat ini.
"Maksudku, mereka sibuk mengurus beberapa hal seperti liburan, jadi mereka tak akan memperdulikan ke mana aku berada saat ini." Rey berucap. Dia menerbitkan senyum nya, agar Putri tak curiga kepadanya saat ini.
Putri membulatkan mulutnya. "Begitu." Sudah lama Putri tak mendengar kabar tentang mereka lagi dan sampai saat ini saja, Putri masih berusaha melupakan mereka semua.
Mereka yang telah menyakiti hatinya, membuatnya berada sampai di titik terendah nya.
***
Stella membuka pintu rumah yang ditempati oleh Putri itu, dia memberikan sambutan kepada sahabatnya itu dengan sebuah senyum yang sangat lebar.
"Akhirnya kalian pulang juga." Stella berucap. Dia membuka jalan, membiarkan mereka masuk ke dalam rumah itu.
Di sini, Bella dan Stella sudah menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan untuk Cinta. Mereka juga sudah menyiapkan makanan yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Tubuh ku rasanya sangat lelah sekali," keluh Putri. Dia langsung meluruskan kakinya dan mengambil sebuah bantal.
Mala memberikan Cinta ke dalam gendongan Putri, membiarkan wanita itu yang menggendongnya.
Putri memperhatikan wajah Cinta. Sangat cantik sekali baginya. 'Kau akan merasakan hidup mu yang sempurna, Cinta.'
Putri menghembuskan napasnya dengan kasar. Pandangannya teralihkan, dia melihat ke arah ponsel Rey di mana seseorang yang menghubunginya.
Saat itulah, Putri bisa melihat nama yang tertulis di sana.
Gio.
Putri menggelengkan kepalanya. Sebisa mungkin, dia menghempaskan kerinduan yang kini tengah dirasakannya, dia tak boleh berserah pada cinta, karena apa yang dilakukannya itu justru akan membuat dirinya tersakiti lagi.
"Rey, ada yang menghubungi mu." Putri memanggil Rey yang saat ini tengah asik makan dengan Bella.
Rey membangunkan tubuhnya. Pria itu berjalan dengan cepatnya, menuju ke tempat ponselnya berada. Dia menelan ludahnya dengan susah payah saat membaca nama seseorang yang kini menghubunginya.
Buru-buru dia melangkah pergi dari sana, dia harus menjauh dari tempat mereka berada dan tentu saja, dia tak akan membiarkan mereka mengetahui sesuatu tentang rahasianya.
"Ada apa, Kak?" tanya Rey dengan nada kesal nya.
'Kau di mana? Kau tak lupakan acara apa untuk hari esok.'
Rey berdecak kesal saat mendengar ucapan dari Gio itu. "Hanya pernikahan siri bukan? Kenapa aku jadi repot untuk mendatangi acara itu." Rey menyandarkan punggungnya di tembok, rasanya sangat malas sekali untuk dia berdebat dengan Gio saat ini.
'Kau harus datang, setidaknya untuk menjadi perwakilan kakak---'
"Kita masih punya orang tua, kenapa tidak suruh ayah atau ibu saja untuk mewakili pernikahan mu?"
'Tidak, intinya kau harus datang besok ke pesta pernikahan ku.'
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sambungan telepon langsung terputus begitu saja, membuat Rey berdecak kesal atas ulah kakaknya itu. Sungguh, dia sangat tak suka sekali dengan hubungan yang terjalin antara kakaknya dengan Enzy itu.
Mereka akan menikah. Dari apa yang Rey ketahui, Enzy memaksa Gio untuk menikahinya dan mengancam Gio dengan kandungan bayi nya, karena hal itulah Gio harus menikahi Enzy secara sembunyi-sembunyi.
Pernikahan siri.
Salah satu alasan Gio menikahi Enzy dengan siri karena Gio tahu bahwa orang tuanya tak akan memberikan restu ke pernikahan mereka dan hanya Rey sajalah yang tahu tentang pernikahan mereka.
"Siapa yang nikah siri?" tanya seseorang, yang membuat tubuh Rey menegang. Suara siapa itu? Sungguh, Rey sangat takut sekali jika seseorang yang memanggilnya adalah Putri.
Secara perlahan, dia membalikkan tubuhnya. Matanya melotot sempurna saat melihat ada Putri di sana, menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Rey jadi sangat gugup saat ini. Apakah dia harus mengatakan apa yang terjadi sebenarnya? Sungguh, hatinya merasa sangat ragu sekali saat ini.
"Hey, aku bertanya pada mu." Putri melangkah dengan pelan nya, dia menuju ke tempat Rey berada dan menepuk bahu pria itu beberapa kali.
"Hmm, tadi yang mau menikah siri itu sepupu----"
"Kakak mu?"
Napas Rey tercekat saat mendengar uvapak Putri. Kemungkinan besar, Putri mendengar apa yang dibicarakannya tadi.
"Jadi, Gio mau nikah sama Enzy? Baguslah kalau begitu, mereka akan memiliki ikatan di mata agama."
Putri membasahi bibirnya. Saat ini, dia benar-benar bersedih, tetapi sebisa mungkin dia menyembunyikan kesedihannya itu
Namun, Rey bisa melihat dengan jelas bahwa saat ini Putri benar-benar bersedih. "Ya, kakak akan menikah dengan Enzy."
Putri tersenyum miris, lalu dia tertawa pelan. Mentertawakan kehidupannya yang benar-benar sangat hancur. Putri yakin sekali kalau suaminya itu tak merasa sedikitpun cemas saat dirinya pergi.
Itulah yang Putri yakini.
"Kau jangan bersedih. Mereka akan mendapatkan balasannya suatu saat nanti, percaya padaku."
Putri menganggukkan kepalanya. Dia yakin sekali, mereka akan mendapatkan balasannya. Putri memang bukanlah orang yang baik dan lemah, akan tetap diam saja saat dirinya disakiti.
Dia hanya berharap pada Tuhan agar bisa membantunya untuk menghancurkan mereka.