Hari ini, sebuah kabar mengejutkan Putri dapatkan dari Mala, temannya itu akan ke Lampung, bukan untuk mampir saja dan bertamu, tapi ikut tinggal bersama dengannya. Tentu saja Putri senang, deangan adanya teman, dia jadi tak akan merasakan kesepian lagi seperti sebelumnya.
Mala memiliki jalan kehidupan pernikahan yang sama hancurnya dengan kehidupan Putri. Hanya saja, suami Mala tak begitu b******k seperti Gio, tetapi masalah utamanya adalah mertua Mala yang sangat membenci wanita itu, hingga membuat Mala memilih untuk pergi.
Dalam keadaan yang sama pula seperti Putri, yaitu dalam keadaan mengandung.
Putri membuka pintu rumahnya, dia tersenyum kecil melihat Mala yang kini tampak pucat wajahnya. Langsung saja dia memeluk tubuh wanita itu selama beberapa saat, tak berapa lama kemudian, pelukan itu terlepaskan.
"Ayo, kita masuk." Putri memberikan senyum kepada ayah dari Mala, yaitu Roy dan mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumahnya ini.
Roy dan Mala duduk di ruang tamu, sementara Putri memilih untuk menyiapkan minuman. Dia menyajikan dua cangkir teh untuk mereka di atas meja.
"Jadi, gak masalah, kan jika aku dan ayah ku tinggal bersama dengan mu?" tanya Mala dengan nada tak enaknya.
Putri tertawa pelan mendengar apa yang dikatakan oleh Mala itu. "Tentu saja tidak masalah, memangnya siapa yang mau marah? Lagian juga, aku butuh teman di sini dan aku senang jika kalian tinggal di sini."
Mala menghembuskan napasnya dengan lega. "Terimakasih, Putri."
"Jangan segan-segan pada ku, Mala. Kita adalah sahabat."
Mala menganggukkan kepalanya. Ya, mereka adalah sahabat yang sudah terjalin sejak masa sekolah menengah dan tentu saja Mala sudah tahu banyak tentang kehidupan Putri.
***
Satu bulan berlalu dengan sangat cepat dan seluruh persiapan persalinan Putri sudah selesai semuanya. Putri telah menyiapkan tempatnya melahirkan nanti juga barang-barang yang dibutuhkan untuk anaknya nanti.
Kini, Putri tengah berada di rumah sakit. Wanita itu sedang tidur dengan posisi meringkuk, tangannya memegang perutnya yang kini terasa sangat sakit sakit sekali.
Saat ini, dirinya tengah menunggu bukaan lahirannya dan ternyata sangat lama sekali menunggu bukaan itu.
Putri sudah berada di bukaan kelima dan wanita itu sudah lemas rasanya.
Mala yang berada di samping Putri hanya bisa mengelus pelan bahu Putri, berusaha untuk memberikan kekuatan untuk sahabatnya itu. Mala hanya bisa menatap dengan mirisnya keadaan Putri saat ini.
Apakah nanti dia juga akan merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Putri saat ini? Melahirkan tanpa adanya sosok suami di sampingnya, tentu saja rasanya sangat sulit sekali menghadapi semua itu.
"Putri, kau membutuhkan sesuatu?" tanya Mala.
Putri menggelengkan kepalanya dengan pelan. Keringat telah membanjiri kening nya saat ini, membuat Mala langsung mengambil tisu dan membersihkan tetesan cairan yang keluar dari pori-pori kulitnya itu.
Tak berapa lama kemudian, seorang dokter datang dan kembali memeriksa keadaan Putri.
"Sudah bukaan 7."
Setidaknya Mala bisa merasakan lega kala dia mendengar apa yang dokter itu katakan. Dia yakin, pasti Putri kuat melahirkan anaknya itu, meski rasa sakit yang akan didapatkannya.
"Aku ingin air." Putri berucap dengan lirihnya.
Mala bergerak dengan sangat cepat, dia mengambilkan segelas air putih untuk Putri dan membantunya untuk meminum cairan itu.
Rasa sakit yang Putri terima sedikit berkurang karena dia meminum air putih. Namun, tak bertahan lama, dia merasakan dorongan dari dalam perutnya, menandakan bahwa saat ini, dirinya sudah berada di bukaan ke-8.
Namun, dokter meminta Putri untuk menahannya sampai ke bukaan 10, barulah Putri diperbolehkan mengejan. Dengan mengikuti arahan dokter, dia terus berusaha mengeluarkan anaknya.
Beberapa kali, Putri berteriak kesakitan dan tangannya mencengkram dengan sangat kuat tangan Mala untuk melampiaskan kesakitan nya saat ini.
Dua puluh menit terasa sangat lama sekali bagi Putri, pada akhirnya, dia bisa mengeluarkan anaknya. Nafasnya terengah-engah, dia membutuhkan oksigen secepatnya.
Seorang perawat mendekatinya dan memasangkan masker oksigen untuk Putri. Secara perlahan, wanita itu mulai menutup matanya, dia tak bisa lagi menahan kesadarannya dan pada akhirnya dia jatuh pingsan karena sudah kelelahan.
Sementara itu, anak Putri kini tengah dimandikan dan dipasangkan sebuah kain bedong yang lembut.
Mala menggendongnya, dia tersenyum kecil menatap wajah imut menggemaskan bayi yang ada di depannya.
"Putri telah berhasil melahirkan mu."
****
Pintu ruangan itu terbuka dengan lebarnya, menunjukkan tiga orang yang baru datang. Dua wanita dan satu pria, mereka langsung melangkah dengan cepat, memasuki ruangan itu.
"Hey, bagaimana keadaan Putri saat ini?" tanya Bella dengan cemas nya. Dia melihat Putri yang sampai saat ini masih memakai masker oksigen dengan mata yang tertutup.
Sampai saat ini, Putri belum sadar juga dari pingsan nya.
"Dia pingsan karena kelelahan setelah melahirkan tadi." Mala memberikan jawabannya.
"Terus, dimana keponakan aku?" tanya Rey dengan cepatnya, saat ini dia sungguh ingin melihat wajah keponakannya itu.
"Tuh." Mala menunjuk ke arah baby box, di mana sesosok bayi kini tengah tidur dengan nyenyak nya.
Ketiga tamu itu langsung menuju ke baby box tersebut dan melihat sesosok bayi yang berada di ujung ruangan.
"Lihatlah, dia sangat cantik," puji Stella. Tangannya terangkat, menyentuh kulit wajah bayi tersebut yang terasa sangat lembut sekali di tangannya.
"Ya, aku tak menyangka saat ini aku sudah benar-benar memiliki keponakan." Rey menghapus cairan yang keluar di ujung matanya. Sungguh, dia merasa sangat terharu sekali saat ini, melihat sosok bayi yang ada di depannya, benar-benar membuatnya jatuh hati.
Tak dapat Rey bayangkan bagaimana reaksi kakaknya saat melihat anak nya kini telah lahir. Pasti bahagia, hanya saja kebahagiaan itu hancur karena kedatangan babu sialan tersebut.
"Untung saja wajahnya sangat mirip dengan Putri, bukan mirip dengan Gio." Bella berucap rasa syukurnya saat ini.
"Ya. Dengan begini, aku yakin Putri bisa melupakan Gio dengan mudahnya."
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara lirih yang berasal dari Putri, membuat ketiga orang itu langsung berbalik dan melihat Putri yang mulai sadar.
Langsung saja mereka datang dan menghampiri Putri, melihat keadaan wanita itu yang kini sedang berusaha memfokuskan pandangannya.
"Anakku," lirih Putri. Dia mengedarkan pandangannya, mencari kebenaran anak yang baru saja dilahirkan nya itu.
Pandangan Putri jatuh ke arah Mala yang saat ini tengah menggendong sesosok bayi. Senyum di wajah Putri muncul, dia yakin sekali kalau biyu adalah anaknya.
Dan dia bahagia kalau anaknya itu selamat saat dia melahirkannya.
"Ini anakmu, jenis kelaminnya adalah perempuan. Kau bisa memberikannya nama untuk saat ini."