Putri langsung berbalik, dia membuka mulutnya tak percaya saat melihat guci kesayangannya itu pecah di atas lantai.
Ini gila.
Selama ini, dia menjaga guci itu dengan baik, tapi dengan mudahnya Enzy menjatuhkannya ke atas lantai hingga membuatnya pecah berkeping-keping.
Tentu saja Putri tak terima.
Langsung saja dia melangkahkan kaki nya, akan dia berikan teguran kepada wanita itu, agar tak bisa berbuat seenaknya.
"Apa yang kau lakukan." Kaki Putri yang panjang itu melangkah dengan cepatnya, menghampiri Enzy yang tampak ketakutan saat ini
Tercetak jelas sekali di wajahnya.
Sepertinya, Enzy memang tak sengaja.
Namun, apa peduli Putri? Dia tak bisa menerima maaf dari seseorang yang telah membuat kesalahan dalam hidupnya.
"Maaf Putri, sungguh aku tak sengaja menjatuhkannya tadi."
"Kau pikir aku peduli kau sengaja atau tidak? Kau tahu, guci itu harganya mahal! Kau tak akan mampu membelinya," bentak Putri dengan nada tingginya, hingga membuat Enzy yang mendengarnya langsung menundukkan kepalanya.
Tubuh Enzy mulai bergetar, tampaknya wanita itu juga sangat takut sekali saat mendapatkan amarah dari Putri.
Putri menghembuskan napasnya dengan kasar. "Sialan, dia tak akan tahu bagaimana susahnya aku mendapatkan guci ini," gumam Putri. Dia langsung melangkahkan kakinya dan mendorong kuat tubuh Enzy, hingga membuat wanita itu melangkah mundur hingga kakinya menyentuh beling dan menancap tepat di kulitnya.
Enzy berteriak pelan. Sungguh, rasanya sakit sekali kulitnya saat ini karena tertusuk oleh beling itu. Enzy menjatuhkan tubuhnya, dia mengelus pelan kakinya yang sudah mengeluarkan darah itu.
Namun, tampaknya saat ini Putri tak peduli dengan keadaan Enzy. Dia lebih memperdulikan guci nya yang hancur dibanding dengan membantu pelakor yang kesakitan itu.
Putri lebih memilih membereskan pecahan-pecahan guci yang sudah tersebar di atas lantai agar tak menancap di kaki orang lain lagi.
"Tolong aku," lirih Enzy. Dia melihat Putri dengan mata yang berkaca-kaca nya.
Putri menarik nafasnya dengan kasar. "Kau bisa berjalan bukan? Jangan lebay!" Putri berbalik, dia memilih untuk meninggalkan Enzy di situ.
Lagian juga, Putri sangat yakin sekali kalau luka yang Enzy dapatkan saat ini tak terlalu parah, hanya luka biasa yang tak perlu dikhawatirkan.
Putri membuang bekas pecahan kaca itu ke dalam kotak sampah. Dia mulai menepuk tangannya beberapa kali dan setelahnya dia berbalik, mengambil tiga potong sandwich lalu menuju ke kamarnya.
Saat dia akan naik tangga, telinganya mendengar sebuah suara lirih yang tentunya berasal dari Enzy yang memang tadi ada di bawah tangga itu.
"Gio, tolong aku. Kaki ku sakit." Wanita itu berucap disertai dengan tangisnya.
Mendengar itu, Putri hanya bisa berdecak kesal saja. "Wanita itu hanya bisanya menyusahkan orang saja," gumam Putri.
Sungguh, dia benci sekali dengan Enzy. Wajah polosnya itu, astaga membuatnya ingin mencabik-cabik wajah nya itu.
Kebencian itu muncul di dalam hatinya sejak awal pertama mereka bertemu.
"Wanita itu pasti akan membuat drama."
***
15.00
Sebuah mobil dengan warna hitam mengkilat tampak memasuki sebuah pekarangan rumah yang sangat lebar itu. Mobil tersebut langsung terparkir di dalam garasi dan sang empu membuka pintunya dengan sangat lebar.
Dia adalah seorang pria dengan jas hitam juga dasi hitam yang tampak selaras. Pria itu langsung masuk ke dalam rumahnya yang besar itu. Matanya menatap ke arah sekitar dan tak berapa lama kemudian, dia langsung berteriak dengan kuatnya, "Enzy!"
Teriakan itu berhasil membuat sesosok wanita yang menangis di atas lantai yang dingin itu, langsung menghentikan tangisnya.
Enzy tersenyum kecil. "Aku di sini!" Wanita itu berteriak dengan kuatnya, berharap Gio akan mendengar teriakannya itu.
Tak berapa lama kemudian, Gio muncul dengan wajah cemas nya yang terlihat jelas. Langsung saja Gio menghampiri Enzy dan memegang rahang wanita itu.
"Hey, ada apa denganmu sayang." Pria itu berucap.
Enzy yang masih menangis saat itu, berusaha untuk tenang. Dia menghapus air mata yang telah membasahi pipi nya itu, lalu dia berucap dengan pelannya, "Kaki ku terluka karena tertancap pecahan guci."
Enzy menunjukkan kakinya yang terluka dengan sebagian darah yang sudah membeku. Hanya dengan melihat darah itu saja, Gio berhasil merasakan cemas di dalam hatinya.
"Astaga, ayo kita obati." Lantas, Gio segera mengangkat Enzy dan membawa wanita itu ke dalam gendongannya. Kakinya melangkah dengan cepat, menaiki tangga lalu dia menuju ke kamar Enzy.
Dia masuk ke dalam kamar tersebut dan merebahkan tubuh Enzy yang sudah lemas itu. Gio bergerak cepat saat dia mengambil kotak obat dan duduk di bibir ranjang.
Luka yang ada di kaki Enzy itu diobati dengan pelan-pelan. Dia tak ingin jika luka itu sampai menyakiti lebih dalam lagi Enzy.
"Sakit, Gio." Enzy merengek layaknya anak kecil.
Lantas, Gio langsung meniup luka itu beberapa kali dan berharap kalau Enzy tak merasakan sakit lagi setelah ini. "Tenang, ya. Ini hanya sedikit sakit," ungkap Gio.
Dia mengambil perban dan mulai melapisi luka tersebut dengan kapas juga perban nya.
Setidaknya, dia bisa bernapas dengan leganya saat melihat luka di kaki Enzy sudah diobati saat ini.
Gio mengalihkan pandangannya, dia mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah Enzy yang saat ini sedang menatap kosong ke arah luka nya. Gio menghembuskan napasnya dengan kasar, dia menggeser tubuhnya sedikit, agar lebih mendekat ke arah Enzy.
Tangannya terangkat, memegang rahang Enzy dengan sangat pelan. "Hey, apa yang terjadi denganmu. Kenapa kau bisa seperti ini? Apakah ada yang menyakitimu? Siapa, hmm?" Pria itu bertanya dengan lembut, dia tak ingin Enzy merasa terintimidasi dengan pertanyaan nya tadi.
Dia ingin, Enzy merasa nyaman saat berada dekat dengannya.
Enzy masih tampak ragu sekali untuk menceritakan semua yang terjadi.
"Aku janji, aku tak akan marah kepadamu." Gio masih berusaha memberikan keyakinan untuk Enzy.
Secara perlahan, Enzy menganggukkan kepalanya. "Tadi, aku berniat untuk memotret guci-guci yang di atas meja dekat tangga. Namun, tanpa sengaja aku menjatuhkan salah satu guci yang ada di sana, hingga membuat Istri marah dan mendorongku. Tanpa sengaja, aku menginjak beling nya, jadi aku terluka."
Gio mengangguk pelan. Tentu saja ada rasa marah dalam dirinya. Dia takut ada sesuatu yang terjadi pada anak di kandungan Enzy nantinya karena tragedi ini.
Gio juga mengerti mengapa Istri bisa marah seperti itu, bagaimanapun juga Putri sangat menyukai guci yang sengaja di pajangnya dekat dengan tangga itu.
"Sepertinya, aku harus memberikan nasihat dulu untuk Putri." Saat Gio beranjak dan hendak pergi dari tempat itu, tangannya ditarik oleh Enzy.
"Tolong, jangan salahkan Putri. Dia tak salah, aku yang salah. Mungkin, tadi dia hanya tak sengaja mendorongku."