Gio menganggukkan kepalanya dengan pelan, sebisa mungkin dia mendengar ucapan dari Enzy itu.
Untuk menahan kemarahannya.
"Dia juga sedang hamil, aku tak ingin dia merasakan hal yang sama dengan ku seperti tadi. " Enzy kembali bersuara.
Gio memberikan senyum kecil kepada Enzy dan pria itu pun mengelus pelan puncak kepala Enzy. "Kau memang wanita yang baik." Mungkin, inilah alasan mengapa Gio sangat mencintai Enzy, pria itu bisa membuat hatinya menjadi lebih tenang dengan pemikiran bijaksana nya.
"Putri juga begitu, jangan membedakan aku dengannya."
Gio mengangguk. Dia langsung keluar dari kamar itu. Matanya melirik ke arah pintu yang ada di sebelahnya, saat ini dia harus memberikan teguran dulu kepada Putri. Segera dia masuk ke dalam kamar itu dan melihat Putri yang tengah asik mendengarkan lagu dengan volume yang sangat tinggi, hingga membuat Putri tak mendengar ketika Gio memanggilnya.
Kepala pria itu menggeleng dengan pelan, padahal sudah sedari tadi dia berusaha untuk memanggil Putri, hanya saja wanita itu terlalu fokus bernyanyi.
"Putri!" panggil Gio seraya memukul bahu Putri, hingga isterinya itu terkejut dan langsung berbalik dan melihatnya.
"Ada apa?" tanya Putri. Bahkan, saat ini saja Putri tak ingat dan tak peduli akan kejadian yang menimpa Enzy tadi. Putri lebih memilih untuk membahagiakan dirinya sendiri, daripada memikirkan Enzy yang hanya menjadi penghancur rumah tangganya.
"Kau membuat Enzy terluka? Putri, aku sudah katakan padamu untuk bersikap baiklah kepada Enzy. Kenapa kau justru mendorong nya hingga membuat kakinya terluka seperti itu," ungkap Gio dengan kesalnya. Kemarahannya bertambah saat dia melihat bagaimana santai nya wajah Putri saat ini, seolah tak memiliki rasa bersalah sedikitpun karena telah menyakiti hati orang lain sebelumnya.
"Dia merusak guci ku dengan seenak mungkin---"
"Dia tak sengaja!"
Putri menghembuskan napasnya kala dia mendengar bentakan dari Gio itu, cukup menyakitkan telinga nya ternyata. "I don't care, mau itu sengaja atau tidak, aku tetap tak suka dengan apa yang dilakukan olehnya itu. Lagian cuman kaki yang terluka, kenapa kalian harus berlebihan seperti ini menghadapinya."
Putri menyunggingkan senyum nya kala dia melihat kemarahan suaminya. Sepertinya, dia harus membuat suaminya membenci nya dan berakhir dengan Gio mengusir dirinya dari rumah ini, dengan begitu dia bisa bebas dan menikmati hidupnya.
Sepertinya, rencana itu tak buruk juga.
Gio maju satu langkah, lalu dia menarik rahang Putri dan mencengkram dengan sangat kuat. Putri meringis pelan, rasanya cukup sakit juga saat ranjangnya itu dicengkram kuat oleh suaminya sendiri.
"Jangan pernah kau berani menyakiti Enzy lagi atau aku akan melakukan sesuatu yang tak kau perkirakan," ungkap Gio dengan suara pelannya. Terdapat banyak emosi saat dia berucap itu dan sampai saat ini, Gio masih berusaha menahan emosinya.
"Kau pikir aku akan menurutimu? Tidak sedikitpun." Putri berucap, saat itu dia bisa melihat dengan jelas api kemarahan di manik mata pria tersebut.
Dia sangat tahu sekali, kalau saat ini, Gio tengah berada di ujung emosinya dan pria itu, tak bisa lagi menahan semua emosi itu.
Gio langsung melepaskan cengkramannya. Tangannya terangkat dan segera melayangkan satu tamparan tepat di pipi Putri. Tamparan Gio sangat kuat sekali, hingga menciptakan sebuah lebam di pipi nya.
Putri meringis pelan, ternyata rasanya sangat sakit sekali. Dia menyentuh pipi nya yang baru saja terluka itu dan tertawa pelan. "Kau berani menyakiti aku? Pria pengecut." Kini matanya telah berkaca-kaca dan satu tetes air mata telah mengalir di pipi nya.
Gio menatap tangannya, tentu saja dia merasa tak percaya akan apa yang dilakukan olehnya itu. Dia menampar istrinya sendiri?
"Putri, maafkan aku----"
"Aku tak butuh!" Putri langsung membangunkan tubuhnya. Dia melangkah dengan cepatnya menuju ke walk in closet dan membuka sebuah lemari.
Dikeluarkannya tas koper yang memiliki bujuran besar, lalu dia menaruh tas koper itu ke atas meja. Saat itulah, Putri mulai mengeluarkan beberapa baju nya juga barang-barang nya yang lain.
Melihat apa yang Putri lakukan saat ini, langsung saja Gio melangkah dan menghampiri istrinya itu. Kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat kala dia melihat Putri terus memasukkan baju-baju nya ke dalam tas koper itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Gio.
Namun, Putri tak begitu mengurusi keberadaan Gio di sini. Dia memilih untuk terus melakukan pekerjaannya itu, hingga membuat Gio semakin geram. Langsung saja Gio menarik tangan Putri dan mendorong pelan tubuh wanita itu agar bersandar di tembok.
"Lepaskan aku!" teriak Putri. Kini di depannya sudah ada Gio yang mengurungnya dengan kedua tangan ditaruh ke atas bahu nya.
"Sepertinya kau memang tak bisa dinasehati dengan baik. Kau selalu bersikap kurang ajar kepada suami mu dan tak bisa menghargai aku di sini. Kau memang harus diberi pelajaran, Putri."
Putri menatap Gio. Napasnya kini sudah terengah-engah, lelah rasanya dia menghadapi Gio yang sangat keras kepala ini. "Aku lelah atas semua masalah yang kau ciptakan ini, Gio. Apakah kau ingin membunuhku secara perlahan dengan menyiksa ku dulu? Mental ku bisa rusak dan aku bisa gila menghadapi ini semua, jadi tolong, lepaskan aku." Putri berucap baik-baik, berusaha membuat Gio mengerti akan situasinya saat ini.
Gio menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tetap di sini, bersamaku dan jangan pergi ke manapun itu." Pria itu mulai memundurkan langkahnya, pergi meninggalkan tempat tersebut, menyisakan Putri yang mulai menangis dengan tersedu-sedu saat ini.
Tubuh Putri sudah luruh di atas lantai. Dia tak bisa lagi menahan semua emosinya saat ini. "Egois, sialan!" Tangannya memukul pelan pahanya, berusaha melampiaskan kemarahan yang tengah dirasakannya ini.
Dia menggeram kesal, merasa sangat membenci semua kejadian ini.
Dengan susah payah, dia mengambil koper nya. Dia akan tetap berada di keputusan awalnya, yaitu pergi dari sini. Tak akan sudi dirinya tinggal bersama dengan suaminya juga Enzy di sini.
Keluar dari kamarnya, dia melihat pintu kamar yang ada di sampingnya, itu adalah pintu kamar Enzy. Daru luar, dia bisa mendengar suara tawa mereka.
"Sangat bahagia sekali." Putri mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, disaat dirinya harus menderita atas tekanan yang mereka berikan, justru kini mereka tengah keasikan menghabiskan waktu bersama.
Sialan, Putri tak suka dengan takdirnya ini.
Putri memilih untuk meninggalkan tempat tersebut. Dia berjalan dengan sangat cepat, agar bisa keluar dari rumah ini secepatnya.
Sampai di depan rumahnya, langsung saja dia mengambil sebuah mobil yang sudah diyakininya tak memiliki GPS untuk mengecek keberadaan nya nanti.
"Selamat tinggal rumah, selamat tinggal suami ku."