Pergi

1219 Words
Semua pengamanan yang ada di rumah Gio itu sudah diatasi langsung oleh Rey, bahkan orang-orang yang diperintahkan untuk menjaga Putri saat keluar dari rumah, sudah ditangkap oleh Rey dan kini mereka terkurung dalam sebuah ruangan, hingga membuat Putri saat ini lebih bebas. Mobil yang dipakainya pun sengaja tanpa GPS agar Gio tak menemukan keberadaan nya saat ini. Senyum tersungging di wajahnya, dia mulai memakai kecepatan yang sangat tinggi untuk sampai ke rumah temannya, Mala. Untuk sejenak, dia akan tinggal di rumah Mala, karena dari yang dia tahu, tempat Mala adalah tempat yang paling aman daripada rumah teman-teman nya yang lain. Setelah itu, dia akan menceritakan semua hal yang tengah terjadi dalam hidupnya kepada teman-teman nya itu. Setelah sampai di depan pintu gerbang rumah Mala, dia membuka kaca mobilnya, agar penjaga di saja mengetahui, bahwa dirinya lah yang datang. Pintu gerbang terbuka dengan lebarnya, dia langsung menginjak gas dan menuju masuk ke dalam pekarangan rumah mewah itu. Di parkiran mobilnya, dia langsung menuju ke pintu utama dan menekan bel rumah itu beberapa kali. Tak berapa lama, pintu tersebut terbuka dengan lebarnya, menampakkan seorang wanita yang kini menatapnya dengan terkejut. Mala memperhatikan keadaan saat ini. "Astaga, apa yang terjadi dengan mu?" tanya Mala. Dia memegang lebam yang ada di pipi Putri dan menatapnya dengan miris. "Ayo, kita masuk sekarang." Tatapan Mala jatuh ke arah tas koper yang dibawa Putri. Sepertinya, dia sudah mengerti akan suatu hal saat ini. Tangannya menggenggam tangan sahabatnya itu dan dia langsung mengajak Putri ke salah satu kamar tamu yang ada di rumahnya ini. Jelas, dia tahu bahwa Putri tengah kelelahan. "Kau istirahat dulu, ya. Aku akan menghubungi Stella dan Bella dulu." Putri menganggukkan kepalanya. Dia lebih memilih untuk terduduk di atas ranjang dengan matanya yang melihat ke arah Mala, wanita itu kini tengah sibuk mengundang teman-teman nya untuk datang. *** Satu jam kemudian. Stella dan Bella sudah datang dan kini, mereka telah berada di dalam ruangan kamar tamu itu. Bella menatap Putri dengan serius nya, fokus utamanya hanya pada lebam di wajah wanita itu yang tercetak jelas di wajahnya. Kepalanya menggeleng pelan, merasa tak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini. "Pria itu memang sudah sangat keterlaluan sekali," ucap Bella dengan nada tak percaya nya. Putri tersenyum kecil. Dia menyentuh luka nya itu dan kembali berkata. "Ya, kau bisa melihatnya dan saat ini, aku ingin pergi dari dia." "Apakah Rey sudah berhasil mengatasi pengamanan mu?" Putri menganggukkan kepalanya. Semua pengamanan yang diberikan oleh Gio untuknya sudah berhasil lepas dan dia tak perlu cemas lagi saat ini, karena Gio tak akan menemuinya ke manapun itu. "Semuanya sudah diatasi oleh Rey. Kini, aku memilih untuk tinggal di mana setelahnya." "Pilihlah tempat tinggal yang menurutmu terbaik." "Aku sudah menemukan nya," ucap Putri. Dia mengambil secangkir teh dan meneguk nya dengan pelan. Setelah selesai untuk, dia kembali berkata, "Aku memilih untuk ke Lampung." Satu Bella menukik naik. "Kenapa harus Lampung?" Putri mengangkat bahunya. "Hanya ingin saja, lagian juga aku yakin kalau tempat itu sangat bagus untuk dikunjungi." Dia memberikan jawabannya. Bella menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Baiklah, jika itu maumu. Kapan kau akan berangkat?" Setelah pertanyaan itu dilayangkan, ponsel Putri langsung berdering dengan sangat kencang nya. Dia mengambil benda pipih itu, senyumnya tersungging kala dia melihat nama yang tertulis di layar ponselnya itu. Rey. Langsung saja dia menjawab telepon itu dan mendengar suara dari seberang sana. 'Malam ini, aku sudah mendapatkan tiketnya dan keamanan ku sudah ku jaga.' Setidaknya, hari Putri sudah terasa lebih tenang setelah dia mendengar apa yang Rey katakan itu. "Baiklah, terimakasih Rey." Langsung saja dia memutuskan sambungan telepon nya itu. Dilihat wajah teman-teman nya yang kini menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Aku akan langsung pergi malam ini, kebetulan Rey sudah menyusun semua rencananya." Putri berucap. Dia menaruh benda pipih nya itu ke dalam tas. Matanya sempat melirik ke arah jam dan kini sudah jam 16.00, dia harus cepat-cepat bertemu dengan Rey saat ini. "Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarkanmu untuk bertemu Rey." *** Bella dan Putri kini sudah berada dalam salah satu restoran di mana mereka harus menunggu Rey. Mereka tak berani langsung ke bandara dan bertemu di sana, mereka hanya takut jika nantinya akan ada anak buah Gio yang tengah mencarinya. Ya, Putri sangat yakin sekali kalau saat ini, Gio tengah gencar-gencarnya mencari keberadaannya. Beberapa kali ponsel Putri berdering kencang, demi keamanan Putri sendiri, wanita itu memilih untuk memutuskan sambungan teleponnya, dia tak ingin jika ada seseorang yang bisa mengetahui di mana dirinya berada saat ini. Pintu restoran itu terbuka, dilihatnya seorang pria dengan memakai jaket juga masker serta hitam, pria itu menuju ke tempat Putri berada. Pria itu memilih untuk duduk tepat di depan Putri dan menurunkan sedikit masker nya itu, hingga wajahnya dapat Putri dan Bella lihat. "Sekarang, kita harus berangkat dan Putri, kalian, kenakan ini." Rey memberikan dua paper bag yang berisi jaket, masker, kaca mata juga topi untuk penyamaran mereka saat ini. "Kini, anak buah Kak Gio sudah tersebar di beberapa tempat, terutama di bandara. Aku ingin, kalian bersikap sewajarnya, jangan sampai kegugupan kalun itu, akan memancing rasa ingin tahu dari anak buah Kak Gio. Aku juga sudah melakukan check in, sehingga kau bisa langsung masuk ke dalam pesawat, urusan yang lain juga sudah aku selesaikan, jadi saat ini kau tak perlu cemas." Putri menganggukkan kepalanya. Menurutnya ini adalah hal-hal yang sangat menegangkan dan Putri hanya bisa berharap, bahwa dia bisa bebas dari kehidupannya yang sangat sial ini. "Ayo, kita berangkat." Mereka keluar dari restoran itu dan langsung menuju ke mobil Rey. Putri memandangi keindahan Kota Jakarta ini, dia sangat berharap suatu hari nanti, dia bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dan mungkin, saat ini adalah hari terakhirnya di Jakarta dan dia tak bisa lagi melihat langit Jakarta. Karena, saat ini dia sudah bersumpah dalam hatinya tak akan mau lagi kembali ke kota ini. Kota yang membawa kenangan buruk dalam hidupnya. "Kita sudah sampai." Pandangan Putri teralihkan, dia melihat Rey yang tengah siap-siap untuk keluar saat ini dah dia pun ikut bersiap-siap juga. Keluar dari mobil itu dan mengurus segala hal untuk penerbangan, kini Putri tinggal menunggu waktunya disuruh masuk ke pesawat. Saat sudah ada suara pengumuman, Putri berbalik, dia menatap Rey dengan Bella. "Aku pergi dulu, ya. Maaf, aku tak bisa bertahan di kota ini selama nya." *** "Kalian melihat Putri?" tanya Gio pada beberapa pelayan yang ada di depannya saat ini, wajahnya terlihat sangat datar sekali, kemarahan yang tengah pria itu rasakan sangat diketahui oleh orang-orang yang ada di sekitaran sana. "Tidak. Sepertinya---" "BAGAIMANA KALIAN BISA SECEROBOH INI." Gio benar-benar sangat murka sekali saat ini. Kecerobohan yang dilakukan oleh para pelayan dan juga penjaga, sangat merugikannya. "Cepat, cari Putri saat ini juga, saya tak ingin jika sampai dia hilang." Para pelayan dan penjaga itu sudah pergi, meninggalkan Gio dan Enzy di sana. Enzy mengelus pelan tangan Gio, berusaha untuk membuat pria itu tenang. "Hey, jangan khawatir seperti itu." "Bagaimana aku tak khawatir kalau dia menghilang." "Mungkin saja dia kabur." Tangan Gio mengepal dengan sangat kuat kala mendengar apa yang dikatakan oleh Enzy tadi. "Gak mungkin." "Apa yang tak mungkin, dia kabur dan tak mencintaimu lagi. Lupakan dia Gio, anggap saja dia sebagai masa lalumu yang tak perlu kau ingat lagi." Tak mencintai? Apakah Putri benar-benar tak merasakan cinta lagi? 'Tidak, aku akan mendapatkannya. Tak akan ku biarkan hubungan kita putus, Putri!'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD