"Putri!" Pintu ruang inap Putri tiba-tiba saja terbuka dengan lebarnya. Putri yang tadinya sedang asyik menonton televisi, kini justru mengalihkan pandangannya. Dia menatap ke arah pintu dah melihat teman-teman nya yang ternyata mengagetkan saat ini.
Bahkan, mereka saja hanya menunjukkan cengiran yang sangatlah menyebalkan bagi dirinya.
Putri berdecak kesal, padahal tadi dia merasa sangat terkejut sekali, setelah mendengar teriakan dari teman-teman nya itu dan sekarang, mereka tampak tak bersalah sedikitpun.
Sungguh menyebalkan.
"Hey, bagaimana keadaanmu saat ini?" Mala langsung bertanya kepada dirinya.
Putri tersenyum kecil kepadanya. "Keadaanku sudah membaik." Setidaknya, saat ini Putri tak lagi merasakan pusing di kepala atau tubuhnya yang lemah.
"Baguslah kalau begitu, malam ini, kita akan menikmati waktu bersama." Stella berucap dengan penuh semangat.
Malam itu Putri berhasil tak memikirkan Gio lagi. Dia mulai tak peduli jika nantinya Gio akan bersama dengan Enzy atau mereka akan menikah siri.
Kehidupan pernikahan mereka memang telah hancur saat Putri tahu bahwa suaminya selingkuh.
Hatinya sudah membeku, meski sampai saat ini dia masih merasa sakit ketika Gio berhubungan dengan Enzy, tapi dia akan mulai membiasakan hal ini.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama. Tak peduli jika mereka berada di rumah sakit, mereka tetap merasa bahagia.
'Ya setidaknya aku masih memiliki sahabat ketika suamiku pergi meninggalkan ku.'
***
Hanya tiga hari saja Putri membutuhkan waktu untuk berada di rumah sakit. Setidaknya, tepat hari ini, dokter sudah menyatakan bahwa dirinya benar-benar sehat, begitu juga dengan kandungannya.
Jadi, dia bisa pulang hari ini juga.
Tentu saja Putri merasa sangat bahagia sekali saat tahu bahwa dia akan pulang. Setidaknya, dengan begitu, dia tak akan lagi merasa kebosanan yang menimpanya.
Kini, Putri dengan Gio masih berada di dalam ruang rawat inap Putri. Masih ada beberapa hal lainnya yang perlu Gio urus di rumah sakit ini, antara lain nya adalah hak yang berkaitan dengan administrasi juga obat-obatan untuk Putri nantinya.
Setelah semuanya selesai, Gio pun menghampiri Putri yang saat ini tengah bermain dengan ponselnya. "Ayo, kita pulang."
Putri mengangkat kepala. Dia langsung mengangguk dan menyimpan ponselnya itu ke dalam kantong celana nya, dipakainya sandal jepit dan dia mulai menjatuhkan kakinya.
Tubuh Putri dirangkul oleh Gio, pria itu bersikap seolah tak ingin Putri sampai merasakan sakit lagi, tapi tanpa pria itu sadari, Putri sudah merasakan hidup hancur karena ulah nya sendiri.
"Aku bisa jalan sendiri, kau tak perlu merangkul ku seperti itu," bisik Putri. Sebisa mungkin, dia melepaskan rangkulan dari Gio, tapi pria itu justru semakin mengeratkannya, membuatnya berdecak kesal.
Gio menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Jangan berontak."
Putri berdecak kesal. Kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat, saat ini dia hanya bisa menahan kemarahannya saja kepada pria itu.
Putri tak ingin lagi mencari masalah dengannya.
"Di rumah nanti ada seseorang yang datang, aku harap kau tak terkejut melihatnya."
Pandangan Putri teralihkan. Dia menatap dengan lekatnya Gio. Siapa orang yang datang itu? Ingin sekali Putri bertanya seperti tadi, tapi dia sangat yakin sekali kalau Gio tak akan menjawabnya.
Karena Putri tahu benar bagaimana sifat Gio selama ini.
Putri memasuki mobil. Dia menyandarkan punggungnya dan lebih memilih untuk menatap ke arah luar, di mana sudah ada pemandangan indah jalanan yang bisa mencuci matanya daripada memperhatikan Gio yang hanya akan mengotori matanya.
"Kenapa kau duduk berjauhan dengan ku?" tanya Gio, dia memperhatikan jarak yang terpaut sangat jauh antara durinya dengan Putri.
Istrinya itu benar-benar ingin menjauh dari dirinya saat ini.
"Bisakah kau tak menggangguku sehari saja? Kau tahu, aku sangat tersiksa berada dekat dengan mu," ungkap Putri secara blak-blakan, dia tak peduli jika nantinya Gio akan bersedih atau bahkan marah kepadanya hanya karena mendengar apa yang dikatakan olehnya.
"Tapi---"
"Cukup, aku hanya ingin tenang sebentar. Jangan membuat ku justru bertambah sakit hanya karena ulahmu itu." Putri berucap. Dia mengambil tas nya dan meraih sebuah headset untuk menyumpal telinganya.
Lebih baik, dia mendengar lagu-lagu pop yang akan membuat suasana hatinya lekas membaik, daripada mendengar apa yang Gio katakan nantinya.
Dua puluh menit mereka berada di perjalanan, akhirnya tak lama kemudian, mereka sampai juga di rumah.
Gio menengok, dia melihat Putri yang masih melamun saat ini. Hatinya merasa sedikit ragu untuk menyadarkan Putri dari lamunannya, tapi tak mungkin juga dia membiarkan Putri di sini terus.
Dia menarik nafasnya dengan kasar. Tangannya terangkat, menyentuh punggung Putri, membuat wanita itu secara refleks menengok.
"Kita sudah sampai, ayo keluar." Gio bersuara dengan sangat lembutnya. Dia tak ingin lagi memancing amarah istri nya itu. Sebisa mungkin, dia mengalah akan banyak hal yang dihadapinya saat ini.
Tentu saja, Gio tak ingin jika nantinya Putri akan stress menghadapi semua masalah hidupnya saat ini.
Putri menganggukkan kepalanya. Dia keluar dari mobil itu dan mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumahnya itu.
"Putri!" panggil Gio. Pria itu yang berada di belakang Putri langsung berlari dengan sangat cepat menghampiri Putri. "Kita masuk bersama, ya."
Terlihat sekali raut wajah takut dan juga cemas yang tercetak dengan jelas di wajahnya. Entah mengapa, Putri sangat yakin sekali kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya ini dan nanti, Putri akan mencari tahunya sendiri.
Putri menganggukkan kepalanya. Untuk kali ini, dia membiarkan Gio merangkul tubuhnya dan mereka berjalan bersama. Gio membuka pintu utama di rumahnya, setelah pintu terbuka, mereka kembali melangkah untuk masuk.
"Gio!" panggil seseorang dengan nada tingginya.
Teriakan itu berhasil membuat kening Putri mengerut. Dia yang semulanya menundukkan wajahnya, kini justru kembali mengangkat wajahnya. Matanya memandang ke satu arah, yaitu tangga.
Kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat saat dia melihat seorang wanita di saja. Wanita itu memiliki kulit putih bersih dengan kecantikan khas seperti orang Tiongkok.
Dadanya sudah kembang kempis, dia benar-benar merasakan sebuah emosi yang ada di dalam dirinya dan sepertinya, dia mulai menyadari satu hal.
Pandangan Putri teralihkan, dilihat ke arah Gio yang saat ini hanya bisa mematung tanpa membuka suara. Dapat Putri melihat sebuah senyum yang sangat kecil, pria itu tunjukkan.
Secara perlahan, mulut Putri bergerak, mengucapkan sebuah kalimat yang berbentuk tanya. "Apakah dia selingkuhanmu?" Itulah pertanyaan yang dilayangkan oleh Putri dan entah mengapa, dia yakin sekali kalau wanita itu adalah kekasih simpanan Gio selama ini?
Itulah pertanyaan yang ada dalam benak nya.
"Ya." Pria itu akhirnya membuka suara.
Sakit, mungkin itulah yang Putri rasakan saat ini. Sungguh, dia merasa sangat tak menyangka sekali kalau Gio akan secara terang-terangan menunjukkan selingkuhannya itu kepada dirinya sendiri, membuatnya merasa sangat geram sekali.
Saat Enzy berada tepat di depan wajahnya, Putri memberikan tatapan penuh kebencian kepada wanita itu. Wanita yang sangat dibencinya dan rasanya, Putri ingin menghancurkan wajah wanita itu secepatnya.
"Sayang, kau sudah pulang." Enzy bahkan langsung memeluk tubuh Gio, tanpa tahu keadaan yang tengah terjadi saat ini.
Apakah wanita yang menjadi kekasih simpanan dari suaminya ini benar-benar bodoh? Atau licik?
Putri menyunggingkan senyum nya. Sepertinya, dia harus menghadapi ujian yang lebih besar lagi, rasanya Putri ingin cepat-cepat pergi dari rumah ini.
Dia tak akan pernah sudi tinggal satu atap dengan selingkuhan suaminya.
Tak akan pernah.
Enzy hanyalah sebuah sampah saja yang akan mengotori rumah ini.
"Apakah kau baru saja menyewa babu untuk rumah ini?" tanya Putri dengan kalimat pedas nya. Dia tak peduli jika nantinya Enzy akan sakit hati.
Karena Putri sendiri merasakan lebih sakit hati daripada wanita itu.
Ditatapnya Enzy dari atas sampai bawah, pandangannya terbuang lalu dia berdecak pelan, sebuah seringai muncul di wajahnya, saat ini dia benar-benar telah meremehkan wanita itu.
"Putri, dia bukan---"
"I know, kau pasti sengaja menyewa babu agar bisa membantuku saat masa kehamilan ini, bukan? Kau memang suami yang perhatian," puji Putri dengan raut wajahnya yang datar.
Sarkasme yang Putri katakan itu mungkin akan membuat Gio geram padanya, itulah tujuan utama Putri. Menjadi bodoh ternyata tak semenyedihkan seperti apa yang ada di dalam pikiran Putri selama ini.
Dia justru senang sendiri karena melihat keduanya yang mulai kesal.
"Ayo, suamiku, kita pergi ke kamar. Biarkan babu ini membersihkan rumah." Dengan sedikit paksaan, Putri menarik tangan Gio dan membawanya langsung ke kamar.
Putri mendudukkan tubuhnya ke atas sofa. Dia sama sekali tak peduli dengan tatapan tajam yang ditujukan oleh Gio saat ini. Putri lebih memilih untuk memainkan ponselnya saja, membuka aplikasi untuk belanja dan memilih barang apa yang menurutnya sangat menarik perhatiannya dan dia langsung memesan barang itu.
"Kau tahu, nama dia adalah Enzy."
"Ya, terus?" tanya Putri tanpa mengalihkan pandangannya.
Gio menghembuskan napasnya dengan kasar. Ternyata cukup sulit juga membicarakan hal ini bersama dengan Putri. "Dia adalah kekasih baru ku. Wanita yang selama ini menjadi selingkuhan ku."
Senyum tersungging di wajah cantik wanita itu. "Oo, gitu." Hanya itulah tanggapan yang diberikan oleh Putri, terlihat tak peduli dengan ungkapan dari Gio.
Sungguh, Gio merasa tak percaya sekali. Dia pikir Putri akan mengamuk dan menghabiskan kekasihnya itu, tapi ternyata tidak, Putri terlihat sangat santai sekali.
"Kau tak marah?" tanya Gio, matanya menatap ke arah Putri dan bahkan, sampai saat ini saja Putri tak menunjukkan raut marahnya.
"Apakah aku harus mengamuk tak jelas? Membuang waktu saja."
Entah mengapa, ada rasa kecewa didalam hati Gio saat dia mendengar apa yang baru saja Putri katakan itu. Dikira, Putri akan menunjukkan kekecewaan nya dan marah-marah kepada dirinya, ternyata tidak.
Bukankah dengan sifat Putri yang seperti ini, menunjukkan bahwa Putri sudah tak cinta lagi dengan dirinya?
Astaga, fakta itu sungguh menyakiti hatinya.
"Kau tak akan menghabisinya, kan? Maksudku, dia akan tinggal di rumah ini---"
"Apakah dia terlalu miskin sampai rumah saja tak ada?"
"Bukan begitu maksudku, Putri. Aku hanya tak ingin, menipu mu terus. Aku akui bahwa selama ini aku selalu bertemu dengannya dan untuk kali ini, aku berusaha untuk adil."
Putri menggigit bibirnya dengan kuat. Adil? Apakah mereka sudah menikah sampai perlu keadilan ini? Sialan, rasanya Putri ingin mengamuk saat ini.
Namun, dia teringat akan ucapan dari Bella semalam yang mengatakan, 'Jangan gegabah apalagi menunjukkan kemarahan mu, kau akan tampak menyeramkan. Lebih baik, kau tunjukkan saja ketenangan, hingga kau terlihat elegan di depan Gio. Itu jauh lebih baik.'
Dan sepertinya dia harus menuruti ucapan dari Putri itu. Tentu saja dirinya tak ingin terlihat bar-bar yang justru akan mengurangi harga dirinya.
Tetap elegan dan tenang, pastinya Gio juga akan kesal kepadanya.
"Ya sudah kalau begitu, dia mau tinggal di kamar mana? Kamar ini? Tak masalah, aku juga akan merelakan nya, semua bekas ku juga akan aku berikan kepadanya." Putri menaruh ponselnya ke atas meja. Dia tersenyum kecil dan duduk dengan kaki yang terlipat.
"Dia akan tidur di kamar sebelah dan kau tak perlu khawatir, dia tak akan merebut apa yang kau miliki."
"Dia sudah merebutnya, jadi untuk apa saat ini aku takut? Lagian juga, aku sudah tak menyukai milikku yang direbut olehnya." Tak ingin ada pembicaraan lagi diantara mereka, Putri memilih untuk beranjak dan pergi, meninggalkan tempat itu.
Dia akan ganti baju, memakai pakaian dress putih yang cukup panjang dan langsung rebahan di atas ranjang nya.
Dilihatnya lagi ke arah sofa, dia tak menemukan keberadaan suaminya itu. Putri mengangkat bahunya, saat ini dia memilih untuk tak peduli dimana Gio berada.
Mungkin saja Gio sedang bersama dengan Enzy.
Biarkanlah dua sampah itu menghabiskan waktu bersama.
***
"Putri, bangun. Ini sudah malam dan kau belum makan." Gio menyentuh bahu Putri dan berusaha membangunkan istrinya itu.
Secara perlahan, Putri membuka matanya. Dia menatap sayu ke arah Gio yang saat ini berada tepat di depannya. "Ada apa?" tanya dia dengan lirihnya.
"Kita makan dulu, ya. Kau juga harus minum obat, aku tak mau jika kau sampai kenapa-napa."
Putri menganggukan kepalanya dengan pelan, lalu dia mulai membangunkan tubuhnya dan beranjak dari tidurnya.
"Ya." Dia menguap dengan lebarnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa kantuk ini benar-benar sangat membuatnya tersiksa, dia ingin lanjut untuk tidur, tapi dia ingat bahwa saat ini, dirinya tengah hamil dan harus memikirkan kondisi anaknya setelah ini.
Mereka mulai keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke lantai satu. Di sana, Putri bisa melihat ada Enzy yang tengah tersenyum kepadanya, tampak sangat manis dan sopan.
Menjijikan.
Putri hanya membalas dengan senyum dinginnya saja. Dia hendak akan mengambil tempat duduknya, tapi bangku nya justru sudah diambil oleh Enzy membuatnya geram sendiri.
"Enzy, itu tempat duduknya Putri." Gio memberikan teguran untuk Enzy. Sungguh, saat ini Gio tak ingin ada perdebatan antara istrinya dengan Enzy.
Enzy yang mengerti itu akan membangunkan tubuhnya, tetapi pergerakannya langsung terhenti saat dia mendengar ucapan Putri.
"Aku tak masalah jika dia mengambil tempat dudukku. Lagian juga masih ada kursi lainnya. Ayo Enzy duduk di kursi bekas ku."