"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Seseorang berucap dengannya, membuat Puri mengalihkan pandangannya dan melihat Gio dengan raut wajah datarnya. "Kau tak ingin sarapan?" tawar Gio.
"Ya." Hanya itulah jawaban yang diberikan oleh Putri. Rasanya sangat tak sudi sekali dirinya harus meminta bantuan dengan Gio, tetapi dia harus terpaksa.
Perutnya terasa sangat lapar dan saat ini, tak ada orang lain di ruang rawat inap kecuali dirinya.
Sangat menyebalkan sekali.
Gio tersenyum kecil. Dia menganggukkan kepalanya dan meminta asistennya untuk membelikan Salad yang tentu sangat berkualitas untuk Putri. Dia sangat tahu sekali kalau saat ini Putri masih marah dengannya dan dia ingin melakukan sesuatu untuk membujuk wanita itu.
Gio menghembuskan napasnya dengan kasar, sepertinya akan terasa sangat sulit untuk dia membujuk wanita itu. Dengan cara apa? Tentu dia tahu benar kalau Putri sudah sangat kecewa dengannya dan akan sangat sulit membuat hubungan mereka kembali seperti semula.
Hubungan layaknya suami istri pada umum nya dan di mana mereka akan tampak sangat romantis sekali.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu itu diketuk beberapa kali, Gio beranjak dan dia membuka pintu, matanya melihat ke arah seorang pria yang saat ini memegang sebuah plastik berisi makanan yang Gio pesan tadi. Dia mengambil plastik itu dah menutup pintunya.
Matanya menyorot pada seorang wanita yang saat ini tengah rebahan dengan ponsel yang menemaninya. Langsung saja Gio menghampiri Putri, dia menaruh plastik yang berisi barang pesanannya ke atas meja nakas, dekat dengan keberadaan Putri.
"Makanannya sudah sampai."
Putri mengangguk pelan. Dia menutup ponselnya dan menaruhnya. Pandangannya teralihkan, dia melihat sebuah bubur yang kini sudah tersaji di atas mangkuk dengan sendok yang menemani.
"Sini, aku suap---"
"Tak perlu, aku saja." Putri langsung berucap. Dia akan mengambil mangkuk itu, tapi dengan cepatnya, Gio menjauhkan mangkuk itu dari Putri.
Dia tak akan membiarkan Putri makan sendiri saat ini.
"Aku akan menyuap, kan mu dan tak ada penolakan yang harus aku terima."
Saat itu, Putri hanya bisa pasrah saja. Gio tak main-main dalam ucapannya dan saat ini, Putri sangat malas mencari masalah dengan Gio, pria itu akan membuat kepalanya terasa pusing.
"Maaf, jika selama ini aku tak memperhatikanmu. Aku salah." Gio berucap seraya memberikan suapan untuk Putri.
Tak ada jawaban dari Putri. Wanita itu memilih untuk diam dan membiarkan Gio menyerocos secara terus-menerus.
"Aku tahu, aku salah, aku telah menyelingkuhi mu dan juga menyakiti hatimu. Namun, untuk kali ini saja, aku sangat memohon kepadamu untuk memaafkan kesalahan ku kali ini," ungkap Gio dengan lirihnya.
Putri berdecak kesal. Kenapa Gio harus membahasnya saat ini? Bisa hilang mood makan nya jika Gio terus nyerocos. Wanita itu menghembuskan napasnya dengan kasar, dia mengambil segelas air putih dan meminumnya sampai habis.
Perutnya sudah penuh kenyang dulu saat ini, hingga ketika Gio akan memberikan suapan untuknya lagi, dia langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Kau baru makan sedikit," ucap Gio. Dia ingat bahwa saat ini, Putri hanya makan sekitar 5 suap saja, bahkan bubur yang ada di dalam mangkuk itu tak memiliki pengurangan sampai setengah mangkuk.
Membuktikan bahwa saat ini, Putri hanya makan sedikit saja.
"Aku sudah kenyang, lebih baik kau taruh saja mangkuk itu ke atas meja, jika nanti aku lapar, aku akan mengambilnya sendiri." Secara perlahan, Putri mulai merebahkan tubuhnya. Dia memilih tiduran dulu saat ini dan berusaha untuk melupakan masa lalu yang membuatnya merasa sangat sakit hati.
Gio hanya bisa membiarkan Putri tertidur saat ini. Dia sangat tahu sekali kalau saat ini, suasana hati Putri sedang buruk-buruk nya dan mungkin saja, wanita itu sedang tak ingin diganggu.
"Aku akan menjawab telepon dulu,"kata Gio saat dia merasakan ponsel yang ada di dalam kantongnya berdering.
Putri mengalihkan pandangannya, dia menatap dengan lekatnya Gio. Tentu saja dia sangat tahu bahwa seseorang yang sedang menghubungi Gio itu adalah Enzy dan Putri hanya bisa menganggukkan kepalanya saja, sebagai jawaban yang diberikan dari dirinya.
Dia membiarkan Gio keluar dari ruang rawat inap nya. Matanya menatap ke arah jam, Putri mulai menduga kalau Enzy meminta Gio untuk menginap di rumah wanita itu.
Mungkin, jika Enzy memohon dengan air mata, maka Gio menurut saja dan lebih memilih meninggalkan dirinya di rumah sakit ini.
Tanpa perlu Putri berkenalan dulu dengan Enzy, dia sudah tahu bagaimana bentuknya hubungan mereka.
Tangannya mengambil ponselnya. Dia tak mungkin tidur sendiri malam ini, apalagi suasana hatinya sedang buruk, dia membutuhkan sahabat-sahabat nya yang saat ini menemaninya.
Putri.
|Bisakah kalian ke rumah sakit dan menginap bersama dengan ku? Saat ini, Gio akan keluar dari ruanganku dan sepertinya, akan menginap di rumah sakit nantinya.
Pesan itu langsung Putri kirimkan. Dia hanya perlu menunggu beberapa menit saja, sampai psn itu diberikan jawaban oleh teman-temannya itu.
Mala.
|Aku akan kesana dengan Stella dan Bella, kau harus menunggu kami.
Senyum di wajah Putri mulai terbit, setidaknya saat ini dia merasa sangat bahagia sekali karena ada teman-teman yang akan menghibur dirinya.
Ya, setidaknya dia tak akan merasa kesepian di sini.
Terdengar suara pintu yang ditutup, langsung saja Putri mengalihkan pandangannya, dia melihat Gio yang menghampirinya dengan wajah yang terlihat sudah sangat khawatir.
"Maaf, Putri. Ada hal yang sangat mendesak untuk aku urus saat ini, aku janji akan pulang malam ini, jadi kau tak perlu khawatir, ya." Pria itu berucap dan Putri hanya memberikan balasan berupa anggukan kepalanya saja.
Dia akan membiarkan pria itu pergi dari sana. "Ya sudah, sana pergi." Wajah yang ditunjukkan terlihat sangat santai sekali, seolah tak ada masalah jika saat ini Gio pergi.
Namun, berbeda dengan hatinya yang sudah mengumpat dan mengabsen nama-nama hewan yang ada di dalam kebun binatangnya.
Gio telah meninggalkan ruangan ini. Sementara Putri memilih untuk tiduran saja, seraya menunggu teman-temannya datang.
Tok.
Tok.
Tok.
Putri berteriak dan menyuruh untuk seseorang yang mengetuk pintu itu masuk ke dalam ruangannya, dapat dilihatnya ada seorang suster yang membawa infus juga dengan alat untuk menyuntik.
"Infus Nyonya sudah habis, saya akan menggantikan."
Putri mengiyakan. Dia membiarkan tangannya disuntik lagi dah akhirnya infus itu diganti oleh infus yang lebih baru. Sampai pada suatu saat, akhirnya tugas suster itu selesai juga.
"Terimakasih," ungkap Putri kepada suster itu.
Dia menatap ke arah tangannya yang baru saja disuntik.
Berapa lama dia akan berada di dalam situasi ini?