Sakit

2012 Words
Serentak Stella dengan Bella menengok ke sisi kanan Putri, tak jauh dari tempat mereka berada, ada seorang pria yang kini tengah terduduk dengan memakai pakaian serba hitam, tampaknya pria itu sedang sibuk membaca buku menu. Dari gerak-gerik yang ditunjukkannya saat ini, mereka sangat percaya sekali kalau apa yang Bella katakan itu ada benarnya juga. Putri sendiri sudah tahu bahwa selama ini dia sering diintai oleh suaminya. Tak sekalipun dia pernah merasa bebas, semua mata memandang ke arahnya dan mengawasi kehidupannya. Saat dia tertidur di atas ranjang, maka akan ada kamera cctv yang akan merekam nya. Oleh karena itu, Putri sangat kesulitan keluar dari lingkaran kehidupan Gio. Pria itu terlalu berpengaruh. Butuh waktu dan banyak hal lainnya agar dia bisa bebas. "Itu alasanmu mengapa kau tak kabur saja? Sepertinya, aku harus membuat rencana untuk mu." Bella menyandarkan punggungnya, dia akan memikirkan masalah yang rumit ini. Masalah sahabatnya adalah masalahnya sendiri dan dia akan membantu Putri sebisa dirinya mungkin. Ponsel Putri berdering, pandangan wanita itu teralihkan, dia mengambil benda pipih itu dan melihat sebuah pesan yang terkirim untuk dirinya saat ini. Rey. |Berikan nomor ponsel Bella. Kening Putri mengerut. Apa maksud pesan dari Rey itu? Apakah Rey tahu bahwa dirinya saat ini tengah bersama dengan Bella? Lalu, dia mengedarkan pandangannya, fokusnya kali ini hanya pada seorang pria yang tengah terduduk dengan secangkir kopi panas yang menemaninya. Bentuk tubuhnya seperti Rey, hanya saja wajahnya ada jenggot halus yang menghiasinya. Rey. |Ya, ini aku. Aku dan Bella akan bekerja sama untuk membantu mu. Putri membulatkan mulutnya, dia mulai mengerti dengan situasi yang tengah terjadi saat ini. Dia memberikan nomor telepon Bella kepada Rey. "Nanti, Rey akan menghubungimu." Putri berucap dengan suaranya yang kecil itu. Putri menatap penuh arti kepada Bella, semua gelagat yang Putri tunjukkan itu, berhasil membuat Bella sedikit mengerti akan maksudnya. Putri hanya bisa berharap saat ini kalau mereka bisa membantunya. Dia tak bisa berbuat banyak, suaminya memang sudah sangat keterlaluan dalam mengekangnya. "Kau tenang saja, aku pastikan hidupmu akan kembali bahagia lagi, seperti dulu." *** 15.00 Putri sudah sampai di rumahnya. Tubuhnya sangat lemas sekali saat ini, dia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dan mulai meluruskan kakinya. Dia mengedarkan pandangannya, tak sekalipun dia menemukan keberadaan Gio saat ini, membuatnya yakin kalau Gio masih bersama dengan Enzy. "Entah kegiatan apa saja yang mereka lakukan." Putri mengusap wajahnya dengan kasar, dia mulai merebahkan tubuhnya. Saat ini, dirinya benar-benar merasa lemas sekali. Kepalanya juga terasa sangat pusing. Matanya tertutup, berusaha untuk tidur. Tak peduli jika saat ini dirinya berada di ruang tengah, Putri benar-benar merasa sangat lelah sekali saat ini, tak sanggup lagi dirinya melangkah menuju ke kamarnya, dia benar-benar ingin beristirahat untuk sejenak waktu saat ini. Matanya mulai menutup secara perlahan, tertidur sampai matahari terbenam. Tidurnya terganggu saat dia mendengar ponselnya yang bersuara dengan sangat keras. Keningnya mengerut. Perlahan, dia mulai membuka matanya dan menatap ke arah ponselnya. Wanita itu meringis pelan, sungguh dia merasa sangat terganggu sekali dengan bunyi dering telepon itu. "Gio?" Matanya menatap ke arah layar ponsel nya. Dia sangat malas berbicara dengan Gio saat ini, tapi mau bagaimana lagi, pria itu sudah beberapa kali menghubunginya dan jika kali ini, dia tak menjawab telepon itu lagi, pastinya dia akan mendapatkan amarah dari suaminya itu dan tentu saja Putri tak ingin meladeni kemarahan Gio. Langsung saja dia menjawab telepon tersebut, mendengar suara dari seberang sana. "Halo, ada apa?" 'Malam ini aku ada rapat---' "Ya-ya-ya, kau pasti sedang rapat dengan selingkuhan mu itu dan membahas tentang pernikahan siri, ya kan? Ya sudah sana, urus selingkuhan mu itu." Putri berucap dengan nada dasarnya. 'Jaga kata-katamu, Putri.' Putri tertawa pelan saat mendengar teguran dari Gio itu. "Tak perlu membuat alasan, aku jauh lebih pintar daripada mu, Gio. Jadi jangan membuat alasan, karena aku sendiri tak akan peduli." Sambungan telepon itu langsung Putri putuskan. Dilemparnya ponsel itu ke sembarang arah. Sebisa mungkin, dia tak memikirkan masalah yang tengah dimilikinya saat ini. Memikirkan masalah nya sama saja membuat kepalanya menjadi lebih pusing. "Pria itu hanya tahu cara menyakiti ku saja." *** "Jadi, apa rencana kita saat ini? Aku yakin kau pasti sudah membuat kerangka nya." Bella berucap, dia mengambil segelas kopi yang sudah tersaji untuknya dan meneguk minuman itu. "Aku bisa mengatasi orang-orang yang menjadi penguntit Kak Gio itu dan untuk mengurus kepergian Putri, itu urusan mu. Kau bebas memilih kota atau negara mana yang akan menjadi tempat Putri menetap," ucap Rey. "Kau yakin, kau bisa mengatasi mereka?" tanya Bella dengan tak yakin. Pasalnya dia sangat tahu sekali kalau pasukan Gio itu bukanlah pasukan yang main-main hebatnya. "Tenang saja, aku adalah salah satu Anggota keluarga Adijaya dan tentu saja masalah ini akan sangat mudah aku atasi." Rey menyunggingkan senyum nya, dia memang benar-benar tampak sangat santai sekali dalam menghadapi masalah ini. "Tuan," panggil seseorang. Lantas, Rey menengok dan dia melihat seorang pria yang menjadi asistennya saat ini. Satu alisnya menukik ke atas dan pria itu mendekatinya, membisiki sebuah kalimat. 'Nyonya Putri saat ini tengah sakit di rumahnya sendiri.' Rey menghembuskan napasnya dengan kasar. "Ke mana suaminya?" "Sedang bersama dengan Enzy, Tuan." Tangan Rey mengepal dengan kuat. Sungguh, dia tak habis pikir sekali dengan ulah kakaknya itu, berani menyakiti istrinya sendiri dan bahkan, lebih memilih bersama dengan wanita lain, padahal Putri sedang kesakitan. Rey mengalihkan pandangannya. "Kau mau ikut aku?" tanya pria itu kepada Bella. "Ke mana?" "Rumah Putri, dia sedang sakit." Bella menganggukkan kepalanya dengan antusias yang tinggi. Dia ikut dengan Reyhan, naik mobil pria itu dan langsung menuju ke rumah Putri. Letaknya tak begitu jauh, mungkin jaraknya hanya sekitar 7 km saja. Saat sudah sampai di depan rumah itu, Rey dan Bella keluar dari mobil. Rey yang memang memiliki kunci rumah Gio itu, memudahkannya untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Mereka melangkah dengan cepatnya, niatnya ingin menuju ke kamar Putri langsung, tapi saat mereka akan naik tangga, pandangan mereka jatuh ke arah seorang wanita yang tengah meringkuk di atas sofa. Langsung saja Reyhan datang dan menghampiri. "Hey, apa yang terjadi dengan mu?!" "Rey, tolong aku. Kepala dan perut ku sakit." Suara lirih dari Putri itu sudah membuat Ret sangat yakin sekali akan keadaan wanita itu sedang tak baik-baik saja. Tubuhnya terasa sangat panas sekali, wajahnya juga sangat pucat, dengan tangan Putri yang memegang perutnya. "Rey, lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit saja." Bella berucap dengan heboh nya. Sungguh, dia merasa sangat tak tega sekali jika melihat keadaan Putri yang sudah pucat pasi saat ini. Rey mengangguk, dia benar-benar ikut cemas juga. Pria itu langsung menggendong tubuh mungil Putri dan melangkah dengan cepatnya, menuju ke mobilnya. Putri tidur di atas pangkuan Bella. Beberapa kali, Bella akan mendengar suara lirih Putri yang membisiki dirinya. Bella akan mengusap pelan wajah Putri, berusaha untuk memberikan kekuatan kepada Putri. "Kau baik-baik saja, tak perlu cemas," bisik Bella. Wanita itu hanya bisa berharap saja saat ini, bahwa sahabatnya itu akan selamat dalam masalah ini. Sungguh, rasanya Bella saat ini ingin cepat-cepat sampai ke tempat tujuannya. "Apakah masih lama?" tanya Bella dengan cemas nya. "Sebentar lagi." Rey harus membalap beberapa mobil yang berada tak jauh dari tempatnya berada. Tak peduli dengan beberapa u*****n yang dia dapatkan saat ini, Rey harus benar-benar menyelamatkan putri saat ini. Dia tak ingin jika nasib buruk menimpa kakak iparnya juga keponakannya saat ini. Setelah mobilnya sudah berada tepat di depan pintu rumah sakit, langsung saja Rey keluar dari mobilnya dan dia membawa tubuh Putri ke dalam gendongannya nya. Mereka langsung menuju ke UGD dan membiarkan Putri diperiksa terlebih dahulu. Napas Rey telah terengah-engah. Sampai saat ini, dia belum bisa merasakan hatinya yang lega, sungguh saat ini dia merasa sangat takut sekali, sama dengan Bella. Keduanya hanya bisa menunggu saat ini dan berharap kalau keadaan Putri baik-baik saja. *** Putri yang tadinya ada di ruang UGD, kini sudah berada di ruang rawat inap nya. Wanita itu tampak rebahan di atas brangkar dengan tatapan mata yang menyorot ke arah Bella. Putri tersenyum kepada Bella dan dia langsung berkata, "Terimakasih karena telah membantu mu." Sejenak, Putri mengalihkan pandangannya, melihat ke arah Rey yang sampai saat ini memilih untuk berdiam. "Jika keadaanmu sedang tak baik-baik saja sementara di rumah tak ada Gio untuk membantu mu, tolong langsung hubungi kami. Sungguh, aku sangat takut jika sampai terjadi sesuatu pada mu." Bella berucap dengan lirihnya. Dia sangatlah bersyukur sekali kalau keadaan Putri saat ini sudah baik-baik saja dah tak ada gangguan di dalam kandungannya. Setidaknya, fakta itu benar-benar membuat Bella merasa lebih lega. Putri menganggukkan kepalanya. "Ya." Dia sendiri merasa tak percaya kalau keadaannya akan memburuk seperti itu, dikira hanya sakit demam biasa, tetapi karena dia berada di dalam ruangan yang memiliki tingkat suhu rendah, membuat daya tahan tubuhnya terus menurun, dan akhirnya menjadi seperti ini. "Apakah Gio sudah tahu keadaan ku saat ini?" Putri bertanya. Rey menggelengkan kepalanya. Dia belum juga memberitahukan kabar ini, tapi dia yakin kalau mata-mata nya telah memberikan informasi nya lebih dulu, jadi dia tak perlu susah payah menghubungi Gio lagi untuk saat ini. "Kau tenang saja saat ini dan beristirahat lah, jangan pikirkan manusia laknat itu." Putri tertawa pelan mendengar apa yang Bella katakan itu. Ya, untuk apa dia memikirkan suaminya yang bahkan kini tengah rasakan dengan selingkuhannya. Untuk saat ini, Putri lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dulu. Dia memang merasa sangat lelah sekali saat ini dan ingin cepat-cepat untuk tidur. Saat Putri telah nyenyak dari tidurnya. Rey dan Bella memilih untuk duduk di atas sofa. Tatapan mereka teralihkan melihat ke arah pintu saat seseorang baru saja mendobraknya. Gio. Pria itu akhirnya datang juga. Rey menyunggingkan senyum nya. Jika saja saat ini dirinya tak berada di rumah sakit, tentu saja dia akan memberikan kakaknya itu sebuah pelajaran yang sangat pas karena telah menyakiti Putri. "Untuk apa kau kesini? Urus saja selingkuhan sialan mu itu." Rey berbicara dengan nada pedas nya, tapi Gio tak peduli, meski hatinya merasa sakit, dia memilih untuk memeriksa keadaan Putri. "Apa yang terjadi dengannya." Bella berdecak pelan. Sebisa mungkin dia menahan amarahnya untuk saat ini. Dia tak mau jika nantinya dia akan mengamuk kepada pria yang sangat menyebalkan itu. "Jika kau punya otak, maka pakailah untuk berpikir. Dia sedang hamil dan tentu keadaannya akan melemah jika melakukan aktivitas yang berat. Kau meninggalkannya di mall sendirian dan juga tak mengawasinya di rumah. Suami macam apa itu!" ungkap Bella. Dapat merasakannya sesuatu yang mengelus tangannya, Rey lah pelakunya. Rey tak mau jika Bella sampai kebablasan berbicara menyakitkan dengan Gio. "Aku ada urusan---" "Urusan dengan selingkuhan mu itu? Setidaknya, kau harus mengerti keadaan Putri saat ini bagaimana, kau melakukan hal seperti ini, itu sama saja kau mau membunuh Putri dengan anak yang berada dalam kandungannya itu secara perlahan," tutur Rey. Dia menghembuskan napasnya dengan kasar dan menarik tangan Bella. Dia lebih memilih keluar dari ruangan itu, semakin lama dia berada dalam satu ruangan dengan Gio, emosinya pun akan berpengaruh. Dibiarkannya Gio di sana dan berharap kalau pria itu mau menjaga istrinya dengan baik dan tak akan meninggalkannya. Setidaknya itu adalah keinginan Rey untuk saat ini. Di dalam ruangan itu, Gio masih tampak terdiam dengan mata yang menyorot Putri dengan rasa bersalah. Tangannya terangkat, mengelus pelan kening wanita itu, bahkan sampai saat ini dia masih saja merasakan suhu rendah dari tubuh wanita ini. Sungguh, Gio merasa sangat bersalah sekali akan ulahnya itu. "Semoga kau lekas membaik." Gio mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan hangat di wajah wanita itu. Gio memilih untuk duduk di kursi yang berada dekat dengan bangsal Putri. Gio menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia menidurkan kepalanya ke atas tangan wanita itu dan ikut menutup matanya. Disaat itulah, secara perlahan mata Putri terbuka. Tatapannya menyorot ke arah Gio yang saat ini tengah tidur, dekat dengannya. Sungguh, sampai saat ini dia merasa hatinya sangat kecewa sekali dan ingin mengusir suaminya. "Mengapa kau tak bisa pergi dari hidupku untuk selama-lamanya?" tanya Putri dengan suaranya yang terdengar sangat lirih. Putri menggigit bibirnya dengan kuat. Sungguh dia tak bisa hidup seperti ini terus dan menghadapi semua rasa sakitnya sendiri, tapi apa boleh buat, Tuhan telah memberikan takdirnya seperti ini. 'Tuhan, tolong selamatkan aku. Aku tak ingin terus berada dalam lingkungan suamiku.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD