Enzy

2028 Words
Suara teriakan yang berasal dari Gio itu berhasil membuat Putri terbangun dari tidurnya. Secara perlahan, dia membuka matanya dan mendesah pelan saat matanya langsung bertemu dengan cahaya lampu yang menyilaukan. Lalu, pandangannya pun teralihkan, dia menatap ke arah seorang pria yang kini berada tak jauh darinya. Gio, tampak menatapnya dengan penuh amarah. Putri membangunkan tubuhnya dan dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau sudah pulang?" tanya Putri dengan raut wajah sinis nya. Tentu saja dia tak akan lupa kalau semalam, Gio baru pergi dan meninggalkan dirinya di sini. "Aku pikir kau tak akan pulang dan memilih bersama dengan selingkuhan mu itu." Putri bersuara. Dia tak peduli jika saat ini, Gio tengah menatap tajam dan penuh amarah kepada dirinya. "Jaga kata-katamu, Putri!" bentak Gio. Mata Putri tertutup sejenak, rasanya cukup kaget juga saat Gio membentaknya seperti itu, dia juga merasakan takut di dalam hatinya, tapi sebisa mungkin dia mengontrol ketakutannya itu. "Mengapa aku harus membatasi diriku jika kau sendiri sudah melakukan sesuatu yang melewati batas?" Pandangan Putri teralihkan, dia melihat Rey yang kini mulai terbangun dari tidurnya. "Dan kau marah karena aku tidur dengan Rey. Coba kau tanyakan saja pada dirimu, apa kesalahan mu dan kebodohan yang telah kau lakukan." Putri mulai membangunkan tubuhnya, dia memilih untuk meninggalkan ruangan tersebut saat ini. Menghadapi sikap Gio yang sangat egois, justru akan membuat beban pikirannya bertambah nantinya. Lebih baik dia mengalah saja. Sementara itu, Gio kini tengah mengalihkan fokus nya ke arah Rey yang justru tampak biasa saja. Tak ada raut wajah takut yang terlihat di mata Gio. "Kenapa? Kau ingin marah padaku? Asal Kakak tau, aku yang membantu Putri semalam. Dia mengidam dan kau tak ada di samping nya dan memenuhi kebutuhannya, suami macam apa Kakak ini." Rey berkata dengan kasarnya. Dia tak peduli sedikitpun jika nantinya dia akan mendapatkan amarah dari pria itu. Rey menyunggingkan senyumnya saat dia melihat kemarahan dari kakaknya. "Bayangkan Kak, bagaimana jika suatu hari nanti Putri meninggalkan Kakak dan Kakak tak akan bisa bertemu lagi dengan anak dalam kandungannya?" "Jaga bicaramu, Rey!" Kedua tangan Gio mengepal dengan sangat kuat, tentu saja dia merasa sangat marah sekali setelah mendengar apa yang Gio katakan itu. Tentu saja dia tak akan membiarkan semua hal itu terjadi begitu saja. Putri adalah miliknya dan tentu dia tak akan membiarkan Putri pergi begitu saja dari dirinya. "Perbaikilah diri Kakak saat ini, karena kita tak tahu apa yang akan terjadi suatu hari nanti." Rey mulai membangunkan tubuhnya, dia mengambil kunci mobilnya dan menghampiri Gio yang kini masih berdiri diam di tempatnya. Dia memilih untuk menghampiri Gio dan memberikan bisikan, "Aku tak ingin jika melihat Kakak menyesal suatu hari nanti, lebih baik saat ini Kakak berubah." Setelah mengucapkan kalimat itu, dia langsung pergi, meninggalkan tempat tersebut. Sementara Gio sendiri, masih memikirkan apa yang Rey katakan tadi. Tentu saja rasanya sangat sulit sekali untuknya melepaskan Enzy dalam hidupnya. Dia sangat mencintai Enzy, begitu juga dengan Putri. Dia tak bisa mengorbankan salah satu dari mereka. "Maaf jika aku egois." Gio menghembuskan napasnya dengan kasar, dia mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya berada. Tangannya terangkat, membuka knop pintu itu, lalu dia melihat seorang wanita yang kini tengah menghabiskan es krim. "Tak baik makan es krim pagi-pagi." Gio berucap dengan tak suka nya. Dia ingin merampas es krim yang ada di tangan Putri, tetapi dengan cepat, wanita itu langsung menjauhkannya. "Ini keinginan bayi ku, daripada ileran, lebih baik aku turuti," ucapnya tanpa menatap Gio sedikitpun. Gio menghembuskan napasnya dengan kasar, kalau sudah dari permintaan bayi nya, maka dia tak bisa melakukan apa-apa dan membiarkan Putri menghabiskan es krim itu. "Kau ingin makan apa untuk pagi ini?" tanya Gio. Sebisa mungkin dia menunjukkan perhatiannya kepada Putri, agar wanita itu tak membencinya saat ini. "Sandwich." Putri menjawab. "Akan aku buatkan." Gio menundukkan kepalanya, mengecup pelan puncak kepala Putri dan meninggalkan tempat itu. Putri terdiam untuk beberapa saat. Hingga tak berapa lama, Tangannya terangkat, menyentuh puncak kepalanya, di mana Gio baru saja mengecup nya tadi. "Seandainya saja kau tak selingkuh." Mungkin, Putri akan merasa sangat bahagia sekali mendapatkan perlakuan seperti itu jika Gio tak selingkuh. Namun, apa yang dirasakannya saat ini? Dia justru merasakan kehambaran dalam hubungan yang tengah dijalani dengan Gio. Putri memilih untuk membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, lalu setelahnya dia memakai kaos yang oversize agar pas di tubuhnya. Saat keluar dari walk in closet, dia melihat Gio yang kini telah duduk di atas sofa dengan membawa piring yang berisi empat roti sandwich dengan segelas s**u. Putri menghampiri Gio dan dia mulai memakan hidangan itu hingga habis. Rasanya cukup lezat juga saat makanan itu menyentuh lidahnya, dia menghabiskan nya dalam waktu yang cukup cepat. "Pelan-pelan makannya," ungkap Gio dengan lembut. Dia mengelus pelan bibir Putri yang terkena selai strawberry. Gio tersenyum kecil, setidaknya saat ini dia berusaha untuk dekat dengan Putri. "Hey, bagaimana jika hari ini kita ke mall? Beli seluruh persiapan untuk anak kita nantinya." Untuk sementara, Putri hanya bisa terdiam. Astaga, dia bahkan lupa mempersiapkan semua hal untuk anaknya nanti, padahal sebulan lagi dia akan melahirkan. Putri menganggukkan kepalanya. "Ya." "Aku akan mandi sebentar." Gio beranjak, dia langsung menuju ke kamar mandi. Putri mengambil segelas s**u dan meneguknya dengan pelan. Keheningannya terganggu saat dia mendengar suara dering ponsel. Pandangannya teralihkan, dia menatap ke arah ponsel milik Gio itu. Dia sedikit menggeser tubuhnya dan mengambil ponsel pria itu. Enzy? "Jadi, nama selingkuhan suami ku Ezny." Nama ini cukup asing di telinga Putri dan dia pasti menduga bahwa seseorang yang menghubungi Gio adalah selingkuhannya. Putri menatap ke arah pintu kamar mandi, memastikan kalau Gio tak akan muncul, lalu dia mulai mengangkat telepon itu. 'Halo, sayang. Mengapa kau begitu lama menjawab teleponku?' Benar dugaan Putri bahwa Enzy adalah selingkuhan Gio. Cukup tak dipercaya. 'Hey, kenapa kau tak menjawab ucapan aku?!' Putri berdehem pelan. "Ada apa kau menghubungi suami ku? Apakah waktu semalam tak cukup untuk mu?" Tak ada jawaban dari seberang sana, Putri tertawa pelan, dia sangat yakin sekali kalau Enzy saat ini pasti sangat terkejut. "Mengapa? Terkejut? Sebaiknya kau tahu diri saja, kau hanyalah sebuah simpanan, jadi jangan menuntut suamiku lebih banyak lagi.'' Putri menaruh ponsel milik Gio itu lagi ke tempat semulanya. Cukup puas juga dia berhasil menyakiti hati simpanan Gio itu dengan kalimat pedas nya. Putri akan menunjukkan kepada dunia, bahwa dia bukanlah wanita yang lemah dan mudah ditindas. Itulah keyakinannya. Jika Enzy ingin merebut Gio, maka Putri akan dengan suka rela melepaskan Gio. Hanya saja, situasi saat ini, Gio tak mau melepaskannya membuat Putri harus memberikan teguran kepada Enzy agar tahu diri. Mungkin apa yang dilakukannya saat ini, sudah jalan yang terbaik. "Aku sudah siap." Pandangan Putri teralihkan, dia melihat Gio yang saat ini memakai sebuah Hoodie hitam dengan celana panjang yang menutupi kakinya. Putri mengambil cardigan juga topi nya. Sempat dia menengok Gio yang akan mengecek ponselnya. "Ayo, kita berangkat!" Putri tak akan membiarkan Gio mengecek keadaan ponsel itu dan mengetahui bahwa baru saja Enzy menghubungi Gio. Untuk hari ini, Putri hanya ingin Gio bersama dengannya dan membeli seluruh peralatan untuk anaknya nanti. Dia tak ingin jika ada seseorang yang mengganggunya hari ini dan membuat kekacauan. Ya,dia ingin bersifat sedikit egois saja untuk hari ini. Mereka memasuki mobil yang berwarna hitam mengkilat itu. Putri menyandarkan punggungnya, terasa sedikit nyeri pada bagian perutnya, tapi dia hanya mewajarkan rasa nyeri itu. Wanita itu memilih untuk menatap pada pemandangan yang ada di jalanan. Satu hal yang membuatnya merasa kesal saat ini adalah ketika dia melihat kemacetan Kota Jakarta yang cukup panjang. Semakin memperpanjang waktunya di perjalanan saja. Dia mengambil sebotol air putih dan meneguknya hingga sisa setengah botol. "Kita akan sampai." Setidaknya Putri bisa merasakan hatinya lega setelah dia mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Gio itu. Dia mulai membenarkan penampilan nya saat ini dan juga merapikan tatanan rambut nya. Setelah mobil selesai di parkir di basement, mereka keluar dari mobil itu. Gio merangkul tubuh Putri, dia melangkah harus lebih lambat, karena menyamakan posisi dengan Putri. Tujuan mereka langsung ke toko yang menjual peralatan bayi. Saat kandungan Putri menginjak ke lima bulan, dia sempat melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anaknya dan dari hasil USG itu, dia bisa tahu bahwa kini dia tengah hamil anak seorang cewek. Sungguh, hatinya merasa bahagia sekali. Saat mata Putri melihat gaun-gaun cantik dengan warna yang d******i nya adalah pink, Putri langsung kesenangan. Dia meraih keranjang dan mulai mengambil barang-barang apa saja yang berhasil menarik perhatiannya. Gaun-gaun cantik atau juga sepatu yang menggemaskan sudah menumpuk di keranjang itu, tak sampai situ saja, Putri mengambil kain bedong untuk bayi. Satu jam berlalu dan kini keranjang itu sudah benar-benar penuh karena pesanan dari Putri. Napasnya telah saling berkejar-kejaran, tangannya terangkat dan dia mengelus pelan keningnya yang terasa basah oleh keringat. "Sudah? Segini saja?" tanya Gio. "Aku ingin beli keranjang bayi juga tempat makan bayi, mainan terus apalagi, ya ... intinya aku ingin semuanya, tapi tidak sekarang. Aku sudah sangat lelah sekali saat ini," ungkap Putri. "Kau duduk saja, biar aku yang mengantri untuk bayar." Putri mengangguk. Lagian juga saat ini dia sudah merasa sangat lelah sekali dan ingin beristirahat. Dia memilih untuk mengambil tempat duduk dan memperhatikan Gio yang tengah mengantri. Pasti lama sekali mengantri itu. Putri mengeluarkan ponselnya, dia memilih untuk bertukar pesan dengan sahabat-sahabat nya saat ini. "Hey," panggil seseorang. Lantas, Putri mengangkat kepalanya dan melihat suaminya yang kini sudah menenteng dua paper bag berukuran besar yang berisi barang-barang pesanannya tadi. "Aku akan taruh barang-barang nya dulu, kau bisa ke restoran untuk makan siang, nanti aku akan menyusul ke sana." Putri menurut. Dia menuju ke restoran terdekat dan memesan spaghetti untuk makanannya siang ini. Fokusnya masih pada ponselnya, beberapa pesan masuk dari temannya. Bella. |Jika ada apa-apa, beritahu pada kami. Kami akan membantumu. Putri tersenyum kecil, setidaknya saat ini dia memiliki sahabat yang selalu ada disampingnya saat dia membutuhkan mereka. Tiba-tiba saja, sebuah panggilan Putri dapatkan, dari Gio. Untuk apa suaminya itu menghubunginya saat ini? Tumben sekali. Langsung saja Putri menjawab telepon tersebut dan bisa di dengar nya Gio berkata, "Putri, aku ingin ke kantor dulu, ada hal yang mendesak harus aku lakukan." Putri terdiam. Kantor? Kenapa hal itu sering menjadi alasan utama Gio untuk membohonginya. Dia yakin sekali kalau saat ini Gio ingin bertemu dengan Enzy. "Jika kau ingin bertemu dengan Enzy, aku tak masalah. Habiskan lah waktu bersama dengannya dan jangan pedulikan aku di sini." Langsung saja Putri memutuskan sambungan teleponnya. Kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat sekali. Sebisa mungkin, dia menahan air matanya agar tak turun. "Aku pasti bisa melewati ini semua." Putri membangunkan tubuhnya. Dia sudah tak mood makan lagi dan membatalkan pesanannya itu. Keluar dari restoran tersebut, Putri memegang ponselnya dengan kuat. Langkahnya terhenti. Dia menuliskan satu kalimat di ponselnya itu dan mengirimkan pesannya kepada teman-teman nya. Putri. |Bisakah kita ketemu di Restoran Apple? Ponselnya itu disimpan di dalam kantung celananya setelah dia mendapatkan sebuah jawaban dari teman-teman nya, dia langsung menuju ke Restoran Apple yang letaknya tak jauh dari tempatnya berada. Hanya perlu jalan kaki saja, meski mengeluarkan tenaga yang lebih banyak untuk berjalan, dia tak peduli sedikitpun. Mungkin jarak antara mall sampai restoran hanya 500 meter saja. Setelah sampai di tempat tujuannya, dia langsung masuk ke dalam restoran itu dan melihat Bella juga Stella yang kini tengah terduduk seraya berbincang dengan serius. "Di mana Mala?" tanya Putri kepada mereka, Mala adalah sahabatnya yang memiliki nasib tak jauh berbeda dari dirinya. "Biasa, lagi mengurus mertuanya yang cerewet itu." Bella menjawab dengan santai. Lalu, dia memperhatikan raut wajah Putri yang tampak sangat sedih saat ini. "Apa kau punya masalah?" tanya Bella. Putri mengangguk. Dia tak bisa memendam semua rasa sakitnya ini sendiri, yang ada pikirannya akan jauh tambah stress, makanya dia lebih memilih untuk menceritakan semua rasa sakitnya ini kepada mereka. "Suamiku berselingkuh dan tadi aku dengannya sedang berbelanja, dia justru meninggalkan aku dengan alasan ku dan mengatakan bahwa akan pergi ke kantor. Padahal, aku yakin dia bertemu dengan selingkuhannya," ungkap Putri dengan kesal nya. Stella mengangguk pelan. "Jadi, apa yang ingin kau lakukan setelah ini? Bukankah kami sudah meminta mu untuk kabur saja---" "Aku tak akan bisa kabur jika dia terus mengintai ku, lihat saja sisi kanan ku saat ini. Ada seorang pria yang tengah mengikuti ku sedari tadi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD