Sebuah Foto

1105 Words
Putri hanya bisa tersenyum miris setelah dia melihat foto itu. Tentu saja hatinya terasa sangat sakit sekali, tapi dia harus apa? Ingin mengamuk rasanya sudah lelah menghadapi perselingkuhan suaminya itu. Sungguh, saat ini dia benar-benar berada dalam kebingungan. "Wanita itu sudah berani menunjukkan tanduk nya." Putri yakin sekali, seseorang yang mengirimkan foto ini adalah selingkuhan Gio sendiri. Dia akan menyimpan nomor wanita itu, wanita yang telah menjadi perusak hubungan rumah tangganya dengan Gio. Dugaan Putri ternyata benar juga kalau saat ini, Gio pasti tengah bersama dengan selingkuhannya. Pria itu sudah benar-benar berubah di mata Putri. Putri menggigit bibirnya dengan kuat. Dia mulai melangkahkan kakinya, menuju ke ruang tengah dan terduduk di atas sofa. Tubuhnya meringkuk dan kini dia mulai menangisi masalah yang tengah menimpanya saat ini. Seluruh kenangan akan kebersamaannya dengan Gio memasuki pikirannya. Semuanya itu menghantui Putri sendiri, membuat wanita itu benar-benar stress saat ini. Malam itu, dia memilih untuk mengeluarkan kesedihannya secara langsung. Dia tak bisa lagi menutupi semua kesedihannya ini, hatinya sudah benar-benar terasa sangat sakit sekali. Tiga puluh menit berlalu dan Putri masih saja menangis, wanita itu tak menyadari bahwa saat ini Rey telah datang dengan membawa sebuah plastik di tangannya. Raut wajah yang Rey tunjukkan adalah terkejut saat dia melihat Putri. Lantas pria itu langsung menghampiri Putri dan bertanya, "Ada apa dengan mu?" Sungguh, saat ini Rey sangat cemas sekali. Tak ada jawaban dari Putri, yang membuat Rey semakin kebingungan. Lalu, dia mengalihkan pandangannya, matanya menatap ke arah sebuah ponsel yang berada di atas lantai. Foto kakaknya yang tengah tertidur, apakah foto ini yang menjadi penyebab Putri terlihat sangat sedih sekali? Rey menyentuh tangan Putri dengan pelannya, lalu dia meminta Putri untuk menatap matanya saat ini. "Hey, lihat aku!" Secara perlahan, Putri mulai mengangkat kepalanya. Terlihat sekali wajahnya yang kini sudah banjir oleh air mata, membuat Rey merasa sangat tak tega sekali melihat kesedihan Putri. "Jangan pikirkan Gio dan lebih baik, kau isi perut mu. Aku sudah membelikan mu siomay, juga es krim." Sebisa mungkin, saat ini Rey membujuk Putri yang masih mengeluarkan air matanya. Tatapan Putri jatuh pada makanan yang dibawa oleh Rey. Sepertinya, menyalurkan seluruh rasa sakitnya ini dengan makan adalah pilihan yang tepat. Dia membangunkan tubuhnya dan mulai membersihkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata itu. Rey tersenyum kecil, setidaknya saat ini Putri tak begitu berlalu dengan masalah yang tengah dihadapinya. Dia membuka plastik itu dan menaruh siomay nya ke dalam piring, dia juga menyediakan segelas s**u ibu hamil agar kesehatan kandungan Putri terjaga saat ini. Es krim juga sengaja dia sediakan, agar nantinya suasana hati Putri serasa lebih baik. Melihat Putri yang makan dengan lahap saat ini, tentu saja membuat Rey mendapatkan kepuasan. "Jangan bersedih lagi, setelah ini aku akan membantu mu untuk keluar dari masalah ini," gumam Rey. Tentu saja dia tak tega jika harus melihat Putri yang menderita secara terus-menerus, dia ingin kakak iparnya ini bahagia. Setelah satu piring siomay itu habis, Putri memilih untuk meminum air terlebih dahulu untuk menetralkan rasa di lidahnya, lalu beralih meneguk segelas s**u ibu hamil nya. Perut Putri terasa penuh saat ini. Dia mengelus pelan perutnya itu. "Terimakasih, kau sudah membantu ku malam ini." "Sama-sama." Putri menyandarkan tubunya, setidaknya dengan dia makan tadi, kini suasana hatinya sudah jauh lebih membaik dan rasa kantuk pun datang dalam dirinya. Secara perlahan, dia mulai menutup matanya dan larut dalam tidurnya. "Malam ini, aku akan menginap di rumah---" ucapan Rey terhenti saat dia melihat bahwa saat ini Putri telah teridur. Satu alisnya menukik naik, dia bergerak untuk merebahkan tubuh Putri, karena baginya tak bagus jika Putri tidur dalam posisi duduk. Setelah berhasil merebahkan tubuh wanita itu, Rey memilih untuk tidur di sofa yang lain. Malam itu juga, dia tertidur dalam satu ruangan yang sama dengan Putri. *** "Kau mau pulang? Ayolah, sarapan dulu bersama dengan ku pagi ini." Seorang wanita berucap dengan wajah yang dibuat-buat imut nya. Matanya menatap pada sosok pria yang ada di depannya saat ini. "Tidak, Enzy. Aku tak enak jika harus meninggalkan Putri dalam waktu yang lama." Gio memakai pagu jas kerja nya, lalu dia menatap wanita yang ada di depannya. Bahkan, saat ini wanita itu sudah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia menghembuskan napasnya dengan kasar, merasa bingung apakah dia harus mengikuti keinginan wanita untuk sarapan bersama atau tidak. "Aku sudah susah payah membuatkan sarapan untuk mu. Apakah kau tak ingin menghargai jerih payah ku?" tanya Enzy dengan suara lirih nya. Sungguh, saat ini Gio merasa sangat tak tega sekali jika dia harus meninggalkan Enzy saat wanita itu merasa sedih seperti ini. Gio menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia sudah sangat tak tega sekali jika melihat wajah seduh dari Enzy seperti ini. "Ya, aku akan makan bersama dengan mu." Enzy berseru senang, dia langsung menarik tangan Gio dan membawanya menuju ke dapur. Wanita itu terlihat sangat bahagia sekali saat dia menyajikan makanan di atas meja makan itu dan tentu saja, Gio sudah memperhatikan raut wajah wanita itu. Mereka mulai memakan sarapan itu. Gio makan dengan sedikit cepat agar hidangannya cepat habis, dia tak ingin membuang waktu yang lebih banyak dah hanya adalam waktu 5 menit saja, makanannya telah habis. Dia memajukan piringnya dan mengambil segelas air putih. "Aku akan pulang sekarang." Pria itu memberikan sebuah kecupan hangat di kening Enzy dan tak peduli jika Enzy memanggilnya, dia tetap melangkah pergi dari tempat tersebut. Memasuki mobilnya, dia langsung mengendarai alat transportasi nya itu dengan kecepatan yang tinggi. Saat ini masih pagi dan jalanan pun tak seramai seperti apa yang Gio duga, setidaknya saat ini Gio berhasil cepat sampai rumahnya tanpa harus menghadapi kemacetan. Mobilnya mulai masuk ke dalam pekarangan rumahnya, dia memilih untuk memarkirkan mobilnya langsung ke garasi. Dia keluar dari mobil itu. Matanya menatap ke arah sebuah mobil yang tampak tak asing di matanya, terparkir tepat di depan rumahnya. Apakah semalam sedang ada tamu yang datang dan menginap di rumah ini? Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam benak nya itu, Gio memilih untuk langsung melangkah menuju masuk ke dalam rumahnya. Saat dia berada di ruang tengah, matanya menatap ke arah istrinya yang saat ini tengah tertidur di atas sofa bersama dengan seorang pria. "Apa yang kalian lakukan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD