"Jadi, kau disuruh atasan mu untuk pindah tugas?" tanya Bella. Dia yang sedari tadi sudah mendengar apa yang Putri ceritakan, mulai memikirkan jalan keluar untuk sahabatnya itu.
"Apakah kau sudah mencoba untuk berbicara dulu dengan atasan mu, dampak jika kau menolak dan menerima nya? Aku rasa, tak ada salahnya juga untuk bertanya."
Putri menganggukkan kepalanya dengan pelan. Apa yang baru saja diucapkan oleh Mala itu tak ada salahnya, di sini dia memang harus mencoba untuk bertanya kepada mereka, siapa tahu saja mereka bisa memberikannya kesempatan untuk tinggal di tempat ini.
"Apa yang kalian ucapkan itu benar. Aku akan bertanya nanti." Putri menyandarkan punggungnya, karena masalah ini, dia terus memikirkan nasib nya bagaimana jika pindah ke Jakarta.
"Lagian juga tak masalah jika kau balik ke Jakarta. Gio tak akan mengganggumu lagi, aku yakin itu." Stella berucap.
Mala mengangguk setuju mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Stella itu. "Benar, saat ini Gio tak lagi bertanya dan memaksa suamiku untuk memberitahu di mana kau berada. Jadi aku pastikan, kau akan aman jika bertemu dengannya."
Meski sudah diberi keyakinan seperti itu oleh mereka, tetap saja Putri merasa sangat ragu sekali. Dia tak bisa begitu saja membiarkan dirinya terjebak dalam masalah yang lebih rumit, yaitu kembali ke masa lalu.
"Sudahlah, jika kau tak mau juga tidak masalah. Namun, aku hanya ingin mengatakan bahwa Gio masih suamimu dan hubungan pernikahan kalian masih terjalin. Apakah kau tak ingin hidup bahagia dengan menikah lagi? Aku sarankan kau menceraikan dia saja."
Putri menggelengkan kepalanya. Saat ini, dia sedang memikirkan kemungkinan terburuk apa yang akan dia dapatkan jika sampai melakukan hak tersebut.
"Bagaimana jika Gio justru menuntut hak asuh anakku? Aku tak mau jika sampai Cinta pergi dari hidupku," ucap Putri dengan lirihnya. Inilah yang dia takutkan, Cinta pergi dari hidupnya. Dia bahkan lebih memilih untuk menyembunyikan Cinta saja dari suami nya, daripada pria itu datang dan merebut cahaya nya.
Tak akan Putri biarkan hal itu sampai terjadi, kapanpun itu.
Dia menghembuskan napasnya dengan kasar. Hanya dengan memikirkan masalah tersebut saja, kepalanya sudah terasa sangat pusing saat ini.
Tangannya terangkat, memijat pelan keningnya.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Lebih baik, sekarang kita nikmati waktu bersama." Tangan Putri ditarik oleh Bella. Saat ini, mereka sudah berada tepat di depan Mall untuk menonton film bioskop, sementara Cinta dibiarkan bermain dengan Gabriel di rumahnya.
Tentu saja Cinta dan Gabriel tak akan dibiarkan sendiri, mereka akan bertengkar dan menciptakan kekacauan jika ditinggal sendiri, oleh karena itu ada baby sitter yang mengurus mereka nantinya.
Setidaknya, hari itu Putri bisa merasakan kebahagiaan, meski hanya sejenak. Untuk masalah pindah tugas pekerjaannya, mungkin dia akan memikirkannya nanti saja.
***
21.00
Mereka baru saja pulang dari kegiatan seharian ini. Dengan tubuh lelahnya, mereka masuk ke dalam rumah minimalis yang dimiliki oleh Putri itu.
Putri langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Sungguh, dia merasa sangat lelah sekali saat ini, setelah mereka seharian beraktivitas untuk menyenangkan dirinya.
Pandangan Putri teralihkan, dia melihat seorang wanita yang dipilihnya untuk menjaga dua anak kecil di sini.
"Di mana mereka saat ini?" tanya Putri langsung. Sedari bangun tadi, dia belum juga melihat kedua anak kecil yang suka membuat keonaran itu.
"Mereka sudah tertidur." Wanita itu memberikan jawabannya.
Putri menganggukkan kepalanya. Dia menengok ke arah teman-teman nya yang sampai saat ini memilih untuk bersantai dulu. "Aku ingin langsung ke kamar, beristirahat lah kalian. Besok kalian akan pulang."
Diambilnya tas, lalu dia mulai beranjak menuju ke kamarnya. Matanya melihat Cinta yang kini sudah tidur di kamarnya, sementara kamar putrinya sengaja dipakai oleh Mala dan anaknya.
Putri menaruh tas nya ke dalam lemari, lalu dia mulai melepaskan aksesoris yang melekat di tubuhnya. Setelah selesai, langsung saja dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Rasanya sangat segar sekali saat air yang hangat itu menyentuh kulitnya yang terasa dingin ini. Pakaian yang digunakannya untuk tidur hanya daster dengan warna abu-abu polos tanpa adanya motif. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, disaat itulah dia melihat Cinta yang mulai membuka matanya.
"Bu, sudah pulang?" tanya Cinta dengan mata sayu nya.
Putri menganggukkan kepalanya. Dia mengelus pelan rambut Cinta, berusaha untuk membuat anak itu tidur lagi saat ini.
"Ibu, aku ingin ayah. Aku iri melihat Gabriel yang sudah memiliki ayah saat ini," ungkap Cinta dengan terang-terangan, membuat Putri yang mendengar itu hanya hsia menegang.
Sepertinya, mulai saat ini, Cinta sangat membutuhkannya ayah nya.
Namun, apa yang harus dia lakukan? Tak mungkin juga Putri membiarkan Cinta dengan Gio bertemu begitu saja, bagaimanapun juga Putri tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Kau akan memiliki ayah, suatu hari nanti." Hanya kalimat itu saja yang bisa diucapkan olehnya saat ini. Putri tak tahu lagi bagaimana caranya dia untuk menenangkan Cinta yang akan menangis saat ini.
Putri menghembuskan napasnya dengan kasar. Setidaknya, saat ini Cinta sudah tidur lagi dan Putri harap, Cinta tak lagi memikirkan masalah perihal keinginannya untuk memiliki ayah.
"Kau hanya membutuhkan ibu saja tidak untuk ayahmu."
***
Wanita itu terdiam di tempatnya. Dia memandangi laptop nya saat ini. Giginya menggigit bibirnya dengan sekuat mungkin, dia merasa sangat frustasi sekali saat membaca kalimat yang ada di laptop nya.
Kini, dia tak memiliki lagi kesempatan. Bos nya mengatakan pada dirinya, bahwa dia harus pindah ke Jakarta atau dirinya akan dipecat.
Sialan, dia tak memiliki kesempatan untuk berdalih lagi.
Apa yang harus dilakukannya saat ini? Sungguh, dia bingung sekali rasanya.
Saat ini, tak banyak lowongan kerja yang ada di sini. Akan sangat sulit juga dia mendapatkan uang jika harus seperti ini.
"Apakah aku harus menerimanya." Putri mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya saat ini benar-benar sedang stress.
Jika dia pindah dari tempat ini, mungkin saja Putri harus pintar memilih tempat dan di sangat berharap bahwa Gio tak akan mengganggunya nanti.
Ada banyak hal lainnya juga yang harus diurus.
"Ibu, kenapa ibu tampak stress saat ini?" tanya Putri seraya mengucek matanya beberapa kali, gadis kecil itu baru saja bangun dari tidurnya.
Puyri menengok. Dia menyuruh Cinta untuk mendekat ke arahnya. "Apakah Cinta mau tinggal di Jakarta."
Tatapan mata Cinta yang tadinya terlihat sangat sayu, kini justru sebaliknya. Dia langsung membuka matanya tak percaya. "Aku-aku, Bu." Dia berucap dengan penuh semangat.