Langit Pulau Jawa

1010 Words
Sangat terpaksa, Putri memilih opsi pertama, dia akan pindah ke Jakarta bersama dengan Cinta. Ini adalah keputusan yang dia ambil. Tentu saja dia tak mau menjadi pengangguran dan hidup miskin. Lebih baik jika dia hidup sendiri, tapi ada Cinta yang harus dihidupkan nya. Putri menghembuskan napasnya dengan kasar. Kepalanya terasa sangat pusing sekali saat ini. Tangannya terangkat, memijat pelan kepalanya. Dia tak bisa duduk-duduk seperti ini terus. Ada banyak hal yang harus diurusnya. Salah satu nya adalah memindahkan sekolah Cinta dan memilih sekolah lainnya untuk Cinta nantinya. Putri mulai membangunkan tubuhnya. Dia menuju ke meja rias dan mulai memberikan beberapa cream untuk wajahnya itu, tak lupa dia memakai make up dibagian bawah matanya. Ya, semalam dia begadang hingga membuat sebuah warna hitam muncul di bagian bawah matanya, wajahnya juga terlihat sangat pucat sekali saat ini. "Ibu, katanya mau pindahan!" teriak Cinta dari lantai satu. Di sini, memang Cinta yang paling semangat pindah ke Jakarta. Bagi Cinta, Kota Jakarta adalah kota yang mewah dengan jumlah bangunan besar yang sangat banyak sekali, apalagi apa-apa di sana sangat lengkap. Putri mendesah pelan. Dengan lesu, dia berjalan keluar dari kamarnya. Hari ini, dia diberikan kesempatan untuk membereskan barang-barang yang ada di kamar ini, mereka harus menaruh semua barang-barang itu ke dalam kotak yang telah dibelinya. Mereka mulai mengangkut barang-barang yang sekiranya akan dipakai untuk ke Jakarta nantinya dan untuk aktivitasnya hari ini, dia sungguh-sungguh merasa sangatlah lelah sekali. Tok. Tok. Tok. Pintunya diketuk beberapa kali, langsung saja dia melangkah menuju ke arah pintu dan membukanya dengan lebar. Matanya melihat Vano yang membawa sebuah kotak "Ada apa?" tanya Putri. "Kau tak datang dalam acara semalam." Putri terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Vano tadi. Astaga, dia benar-benar lupa akan acara itu. Acara perpisahannya dengan Vani. Putri memukul kepalanya dengan pelan. Dirinya memang benar-benar bodoh sekali, sampai masalah seperti ini saja, tak bisa dia atasi. "Maaf, sungguh aku lupa. Aku ada banyak masalah yang harus diurus, jadi tak mengingat akan acara yang akan kita lakukan." Putri berucap dengan nada tak enaknya. Dia menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah sekali karena tak memenuhi undangan yang dirinya dapatkan itu. Vano tersenyum kecil, dia sangat mengerti sekali saat ini, melihat wajah Putri yang sedikit pucat, membuatnya yakin kalau saat ini, Putri tengah tak baik-baik saja. Dia menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti, ini makanan untukmu." Vano memajukan kotak makannya, memberikan kepada Putri. Putri mengangguk, dia menerima kotak makan itu dan berkata, "Aku akan membersihkan kotak makan nya dulu, kau bisa menunggu di dalam." Dia berbalik dan pergi dari sana, membiarkan Vano juga ikut masuk ke dalam rumahnya ini. Sedari tadi, Vano menatap ke arah kotak-kotak yang memiliki ukuran besar di dalam rumah ini. "Kau seperti ingin pindahan saja." Vano berucap. Dia juga melihat beberapa barang-barang yang ada di dalam rumah ini telah dimasukkan ke dalam kotak itu. "Ya, aku memang mau pindah." Putri berucap. Dia membawa sebuah kotak makan yang diberikan oleh Vano tadi. Dia memberikan kotak makan itu kepada Vano. Putri tertawa pelan saat dia melihat wajah Devan yang mulai kebingungan saat ini. "Kau juga pindah? Kenapa?" tanya Vano. "Bos ku memindahtugaskan aku Ke Jakarta, tak mungkin aku menolak, jadi lebih baik aku memilih untuk terima saja pergi ke Jakarta." Vano membulatkan mulutnya. Tak disangka ternyata mereka akan tinggal satu provinsi lagi setelah ini. "Kebetulan sekali, kita akan tinggal di satu provinsi. Ngomong-ngomong, kau akan pindah ke kota mana." "Jakarta Pusat, aku akan tinggal di sana dan untuk kota nya, aku belum mencari tahu." "Semoga saja, di Jakarta nanti kita bisa bertemu." Vano tersenyum kepada Putri, wanita yang menjadi temannya di kota ini. *** Sore datang dan semua persiapan yang telah Putri lakukan sudah usai semua. Diperkirakan, ada sekitar dua kotak yang ukurannya cukup besar, menjadi tempat menaruh barang-barang yang akan Putri bawa nantinya. Selain itu juga, ada tiga koper yang berukuran sangat besar kini sudah terisi penuh oleh pakaiannya dan nanti sore, dia tinggal ke Bakauheni untuk naik kapal Feri. Untuk saat ini, mungkin dia ingin berjalan-jalan dulu di Kota Bandar Lampung, meninggalkan kenang-kenangan yang akan membuatnya merindukan kota ini. Kota yang menjadi tempat pelariannya. "Bu, aku ingin foto dengan patung itu."' Putri menatap ke arah sebuah patung wanita yang memakai pakaian adat Lampung dan juga siger berwarna emas itu. Beberapa potret telah Putri ambil, dia menyimpan foto itu dengan baik. Wanita itu tersenyum kecil. "Ayo, Putri kita pulang. Kita harus siap-siap sebentar lagi akan ada mobil angkut yang datang." Putri baru saja mendapatkan pesan dari agen untuk mengantar barang-barang nya bahwa mereka akan sampai di rumahnya. Dan tak mungkin Putri membiarkan mereka berada di sana sendirian. Dengan memakai motor Scoopy nya, Putri menjalankan mobil dengan kecepatan yang tak terlalu tinggi. Jalanan pada siang yang menjelang sore ini cukup ramai oleh orang-orang yang akan pulang kerja sebentar lagi. Untungnya, mereka sampai di tempat tepat waktu. Tak berapa lama kemudian, baru lah mobil angkut telah datang. "Ini Pak, bawaannya." Putri menunjuk ke arah dua kardus yang berukuran besar. Sekitar dua pria dengan ukuran tubuhnya yang terbilang kecil itu, cukup kuat mengangkat barang yang pastinya sangat berat sekali. Putri menatap dua kardus barang bawaannya itu. Dia tersenyum kecil, kini dia hanya bisa berharap bahwa semua yang terjadi pasti akan baik-baik saja dan tak ada masalah rumit yang akan dihadapinya di kota itu. 'Ya, aku pasti baik-baik saja.' *** Perjalanan menuju ke Jakarta menghabiskan waktu yang cukup lama, sekitar 90 menit lamanya mereka berada di dalam kapal tersebut. Putri yang memang merasa sangat lelah sampai tertidur di posisi duduk dengan tangan yang memeluk tubuh Cinta dengan erat. Dia tak mau jika Cinta nanti pergi secara diam-diam saat dirinya tengah larut dalam tidurnya. Sampai saat suara ribut yang masuk ke dalam era pendengarannya, dia langsung membuka matanya dan menatap ke arah depan. "Bu, kita sudah sampai," ungkap Cinta seraya memperhatikan ibunya yang saat ini tengah mengumpulkan kesadarannya.. Putri menganggukkan kepalanya. Langsung saja dia membangunkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kapal Ferry itu. Matanya menatap ke arah langit merak ini. "Kita sudah sampai di pulau Jawa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD