Jakarta

1002 Words
Kini, mereka sudah berada di Kota Jakarta. Rumah sudah disediakan oleh kantor nya, jadi Putri tak perlu sulit-sulit mencari tempat tinggal untuknya selama berada di tempat ini. Wanita itu menatap pada rumah yang ada di depannya saat ini. Rumah yang sama minimalist nya dengan rumah yang ditempatinya dulu. Hanya saja, rumah ini terlihat jauh lebih lebar pada daerah taman nya, sehingga Putri bisa menikmati waktu yang ada di taman tersebut. "Ini rumah baru kita?" tanya Cinta. Putri menganggukkan kepalanya. Tatapan matanya teralih, dia melihat pada seorang pria yang sudah berada di depan pintu gerbang Rey. Langsung saja Putri menerbitkan senyum yang terlihat sangat manis sekali ke arah Reyhan. Pria itu memang sudah tahu dia akan pindah di sini dan tentu saja, akan sangat sulit untuk Rey menyembunyikan Putri dari kakaknya. Rey hanya bisa berharap bahwa Putri dan Gio tak akan bisa bertemu, meski mereka telah tinggal dalam satu kota yang sama. Ya, setidaknya itu adalah keinginan Rey saat ini juga. Putri menghampiri Rey dan langsung memeluk adik iparnya itu. Dia sudah menganggap Rey sebagai saudaranya sendiri. Bahkan, Rey adalah pria yang paling baik kepadanya, melebihi Gio. "Akhirnya kau kembali dengan selamat," bisik Rey. Hatinya merasa lega sekali melihat perubahan yang terjadi pada diri Putri saat ini. Putri tak lagi merasakan hidupnya hampa semenjak dia melahirkan Cinta. Tak ada lagi tatapan sendu dari mata Putri, membuatnya benar-benar merasakan sebuah kebahagiaan. Mereka melepaskan pelukan tersebut dan kini, pandangan Rey teralihkan, dia melihat Cinta dengan lembutnya. "Hey, gadis kecil Om. Apakah kau baik-baik saja?" Cinta menganggukkan kepalanya dengan lemas nya. Rey tertawa dengan pelan, dia yakin sekali kalau saat ini, Cinta pasti sudah sangat lemas dan ingin tidur. Bagaimanapun juga ini sudah malam. Ditambah tadi Cinta tak sekalipun tidur di dalam kapal atau mobil, gadis kecil itu terlalu asik melihat perjalanan, sehingga tak memperdulikan bahwa saat ini, tubuhnya tengah kelelahan. Tak berselang lama kemudian, sebuah mobil yang mengangkut barang bawaan Putri telah datang. Barang-barang yang berada di dalam mobil itu langsung ditaruh ke dalam rumah Putri tersebut. Karena tubuh Putri benar-benar merasa lelah dan juga mengantuk, akhirnya wanita itu memilih untuk langsung tidur. Putri menatap sayu Rey yang tengah sibuk dengan laptop nya. "Kau menginap di sini?" Rey mengangguk. "Ya, aku malas pulang dan melihat dua monster ada di rumah." Pria itu memberikan jawabannya dengan santai. Tanpa diberitahu secara jelas identitas dua monster itu, tentu saja Putri sudah tahu maksud dari ucapan Rey itu. Siapa lagi kalau bukan Gio dengan Enzy. "Baiklah, kau bisa tidur di kamar itu. Cinta bisa tidur di kamar ku---" "Tak perlu repot, aku akan tidur di ruang tamu ini." Rey berucap dengan tegas nya. Tentu saja pria itu tahu bahwa saat ini Cinta sudah tidur di kamar itu dan dia sangat tak tega jika harus membangunkan keponakannya hanya untuk pindah kamar. "Tapi, disini banyak nyamuk." "Tenang saja, aku tak masalah." Meski sedikit tak yakin, Putri menganggukkan kepalanya. Dia langsung naik tangga, menuju ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Langsung saja dia masuk ke dalam kamar itu, di mana sudah ada satu ranjang yang telah terlapisi oleh sprei abu-abu polos. Putri menidurkan tubuhnya di atas ranjang itu. Tak lupa sebelum dia tidur, terlebih dahulu dia mematikan lampu agar tak mengganggu tidurnya malam ini. *** Minggu. Hari ini sudah tanggal merah, dibanding pulang, Rey memilih untuk membantu Putri rapih-rapih rumah ini. Dia membantu memasangkan lampu pada beberapa bagian tempat juga membenarkan keran yang sudah rusak, mengangkat barang-barang yang sangat berat dan juga dia menemani Rey bermain. Setidaknya, dengan bantuan Rey ini, pekerjaan Putri sedikit berkurang. Wanita itu menjadi merasa bersyukur karena Rey telah membantunya. "Aku sudah memesan makanan lewat driver, jadi kau tak perlu memasak." Rey berucap. Sungguh, rasanya dia tak tega melihat Putri yang kini tengah kelelahan justru memilih untuk membuat makanan untuk mereka. "Ayo sini, duduk disampingku saja." Putri menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia langsung melangkah pelan, menuju ke tempat Rey berada dan mengambil tempat duduk tepat di samping Rey. Kepalanya disandarkan di bahu Rey. "Kau tahu saja kalau aku sangat lelah." "Tentu, aku tahu banyak tentang mu, Putri.'' Putri menengok, dia memperhatikan wajah Rey. "Terimakasih, selama ini kau selalu membantuku." Putri berucap. Entah harus berapa kali dia ucapkan terimakasih untuk pria yang ada di samping nya ini. Rey telah banyak membantunya, dari saat dia masih bersama dengan Gio, bahkan sampai sekarang. "Kau tak perlu berterima kasih, anggap apa yang aku lakukan ini hanyalah tebusan atas kesalahan yang telah Kak Gio lakukan," ucap Rey. Putri membangunkan kepalanya. Dia menengok, menatap Rey dengan seriusnya. "Lalu, bagaimana kabar pria b******k itu saat ini?" tanya Putri. Mungkin, ini adalah kali pertamanya bertanya tentang Gio dengan Rey setelah 5 tahun berlalu. Selama ini, untuk melupakan Gio dia selalu menolak berita informasi tentang suaminya itu. Namun, untuk saat ini, sepertinya dia telah berhasil sedikit-sedikit tak memperdulikan Gio lagi. Rey menghembuskan napasnya dengan kasar. "Saat ini, pernikahannya dengan Enzy sudah diketahui oleh Ibu dan kau tahu apa yang terjadi?" "Mengamuk?" tebak Putri. Wanita itu langsung mendapatkan satu jentikan jari dari Rey. "Ya, ibu mengamuk begitu juga dengan Ayah." Rey berucap, dapat dilihat oleh Putri ada tatapan sendu yang terpancar dengan jelas di wajahnya. "Ibu bahkan terus memperlakukan Enzy dengan buruknya, begitu juga anak mereka. Tak peduli jika anak mereka memiliki keturunan dari Gio juga, intinya Ibu sudah benar-benar buta dan sangat menolak hubungan mereka." Putri tersenyum kecil. Tentu saja dia merasa sangat senang sekali setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Rey. Mungkin dirinya akan dianggap jahat oleh siapa saja, tapi dia sangat tak peduli sama sekali. Mungkin, inilah karma yang didapatkan oleh Enzy. Namun, rasanya Putri saat ini belum puas sekali. Dia ingin Enzy jauh lebih menderita lagi dari saat ini. "Hey, apa yang sedang kau pikirkan saat ini?" tanya dia, matanya melihat Putri yang sedari tadi tampak terdiam saja. Keningnya mengerut dia yakin sekali kalau saat ini Putri tengah merencanakan sesuatu. Putri menggelengkan kepalanya dengan pelan, lalu dia berkata, "Tidak ada aku sedang tidak memikirkan akan sesuatu." Wanita itu berucap dengan sedikit gugup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD