Memulai Hari

1009 Words
"Cinta bangun, kau harus bersekolah hari ini!" teriak Putri dengan kuatnya. Dia menengok ke arah jam, kepalanya menggeleng dengan pelan saat dia melihat jam itu. Sebentar lagi harusnya mereka berangkat dan tentu saja Putri tak mau jika Cinta sampai telat datang ke sekolah. Bagaimanapun juga, Lampung sangat berbeda dengan Jakarta. Lampung tak akan begitu macet di jalanan saat pagi hari, tetapi Jakarta, akan ada kemacetan parah yang terjadi saat matahari telah terbit dan memberikan sinar yang terang. Mungkin, saat ini Cinta belum terbiasa dengan aktivitasnya yang akan jauh lebih berbeda dibanding saat tinggal di Lampung. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar milik Cinta, melihat gadis manis itu yang kini tengah tertidur dengan sangat nyenyak dengan tangan yang memeluk erat boneka nya. Sepertinya, saat ini Cinta benar-benar telah tertidur. Segera, Putri menghampiri anaknya itu, dia menepuk pelan pipi Cinta, berusaha membuat dia terbangun. Cinta merasa sedikit terganggu. Anak itu hanya meringis kecil dan justru membalikkan tubuhnya, dia sangat menolak saat ada sesuatu yang menepuknya tadi. "Sayang, ayo bangunlah." Diambilnya bantal yang Cinta buat untuk menutupi wajahnya. Lalu, Putri juga membuka tirai jendela dengan lebarnya, membiarkan cahaya matahari masuk dan mengganggu tidurnya. "Ibu, kenapa? Ini masih pagi." Cinta berucap dengan lemasnya. Susah payah, gadis itu membangunkan tubuhnya dan mulai mengucek matanya beberapa kali. "Kau tak lupa kan kalau hari ini kau akan sekolah? Ayolah, tak lucu Cinta jika kamu sekolah dan terlambat di hari pertama mu." Secara perlahan, Cinta menengok ke arah jam. Dia mendesah pelan, menyadari bahwa saat ini masih pukul 06.00. "Aku gak bisa tidur lagi? Sungguh, aku ngantuk banget, Bu. Lagian juga, aku biasanya mandi pukul setengah tujuh." Cinta menggelengkan kepalanya dengan tegas. Memang, dirinya harus memberitahu langsung tentang keadaan di kota ini yang jauh berbeda dengan di Lampung. "Kau tau, ini Jakarta. Jika kita tak ada di jalanan setelah pukul 7, Ibu yakin sekali kalau kita akan terjebak dalam kemacetan selama dua jam. Apakah kau mau?" Sedikit, Putri lebih-lebih kan pernyataan darinya, agar Cinta percaya dan mau menuruti perintahnya. Lantas, Cinta menggelengkan kepalanya dengan kuat. Sungguh, dirinya tak menyangka sekali kalau jalanan akan terjadi macet saat pagi hari. "Baiklah, aku akan siap-siap." Putri menghembuskan napasnya dengan lega, setidaknya saat ini Cinta mempercayai apa yang diucapkannya tadi. Langsung saja dia keluar dari kamar putrinya itu, dia mulai mengambil jas kerja nya, hari ini juga adalah hari pertama dia bekerja disalah satu restoran bintang lima, di mana dia akan menjabat sebagai asisten manajer. Mungkin status pekerjaannya telah menurun, tapi tidak dengan gajinya. Dia sudah mencari tahu, bahwa gajih yang akan didapatkannya akan naik 2 kali lipat dari sebelumnya. Sungguh, memuaskan sekali. "Ibu, aku siap." Cinta datang dengan wajah yang masih terlihat mengantuk. Putri memberikan sebuah permen kopi yang dipastikan akan membuat Cinta tak akan lagi merasa mengantuk. "Ini kotak bekal mu dan sekarang, ayo kita berangkat." Putri menarik pelan tangan Cinta, keluar dari rumah itu dan tak lupa dia juga menguncinya, agar keamanan di rumahnya ini bisa terjaga dengan baik. Motor Scoopy adalah kendaraan yang mereka pakai untuk sampai di tempatnya dan untungnya kemacetan yang terjadi pada pagi hari ini terbilang tak terlalu patah, jadinya Putri bisa merasakan lega sedikit dalam hatinya karena dia tak perlu cemas. Sampai di sekolah yang akan menjadi tempat Cinta menggapai ilmu, Putri langsung menurunkan Cinta dari motornya. Dia melepaskan helm yang anaknya itu pakai dan merapikan rambutnya. "Ingat, jika kau dibully atau disakiti oleh orang lain, maka sakiti balik dan jika ada guru, kau sapa dengan sopan. Carilah teman yang baik dan berguna untuk mu." Itulah kalimat yang Putri ucapkan sebelum meninggalkan Cinta berada di sekolah ini. Tentu saja Putri tak akan membiarkan Cinta nya mengalami pembullyan di sekolahnya. Dia akan membuat Cinta menjadi gadis yang kuat dan tak mudah menangis. "Ya, Bu. Aku akan mendengarkan ucapan, Ibu." Putri mengangguk dengan puas setelah dia mendengar apa yang dikatakan oleh Cinta itu. "Bagus, sekarang kau bisa masuk." Sebelum Cinta melangkah pergi dari tempat itu, terlebih dahulu Cinta mencium tangan ibunya itu. Putri melambaikan tangannya ke arah Cinta. Senyum yang ada di wajahnya mulai luntur. "Semoga saja, dia tak mengalami masalah di masa sekolahnya ini." Wanita itu memilih untuk langsung pergi, menuju ke restoran tempat dia akan bekerja nantinya. *** Restoran dengan gaya bangunan ala Eropa ini, benar-benar terlihat sangat estetik sekali, sungguh Cinta sangat mengagumi bangunan yang ada di depannya saat ini juga. Dia memasuki restoran itu. Kakinya menginjak karpet merah yang memanjang sampai lift. Untuk saa ini, Putri lebih dulu menghampiri meja kasir terletak. "Bisakah saya bertemu dengan menejer di sini?" tanya Putri langsung. Kasir itu tampak sangat ragu dan akhirnya, dia bertanya, "Ada keperluan apa, Anda ingin bertemu dengan menejer di sini." Putri mengeluarkan sebuah kartu tanda pengenal nya. Ini adalah identitasnya, setidaknya dengan begini, dia diperbolehkan untuk masuk dan bertemu dengan orang yang menjabat sebagai menejer itu. Kasir itu tersenyum hormat kepadanya. "Baiklah, Anda bisa masuk langsung ke dalam lift itu dengan memakai scan yang ada di dalam kartu tersebut." Kasir itu berucap seraya menunjuk k arah satu lift yang berada tepat di samping meja nya. Putri menganggukkan kepalanya. Langsung saja dia melangkahkan kakinya meuju ke lift itu dan untuk membukanya, dianhanya perlu menaruh scan kartunya ke teknologi yang sudah terpasang di sana. Pintu lift terbuka dengan lebarnya, dia langsung masuk ke dalam lift itu. Tak perlu lagi dia menekan angka ke mana lantai yang akan dia tuju, karena lift ini akan langsung otomatis menuju ke lantai empat, di mana ruangan menejer berada. Di lantai empat ini, di d******i oleh beberapa ruangan yang biasa dijadikannya sebagai ruangan VVIP, hanya orang-orang dengan kelebihan uang saja yang bisa masuk ke lantai ini. Putri berdecak kagum, sangat mewah sekali tempat ini. Lantai yang dilapisi oleh marmer berharga ratusan juta rupiah juga beberapa furnitur yang terpasang, menciptakan kesan yang indah untuk tempat ini. Tujuan dia adalah ruangan menejer, ruangan yang berada paling pojok dan terdapat plang yang tertulis, 'Manager' di depan pintu itu. Beberapa kali dia mengetuknya, hingga sebuah suara memerintahkan dia untuk masuk. Dibukanya pintu ruangan itu, matanya tertuju pada seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya. "Kau!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD