Hari Pertama

1057 Words
Sungguh, saat ini Putri merasa sangat tak percaya sekali akan apa yang dilihatnya baru saja. Pria yang ada di depannya ini adalah Vano, jadi tetangga nya itu menjabat sebagai atasannya? Astaga, ini benar-benar gila dan diluar dugaan. "Kau juga ada di sini?" Vano membangunkan tubuhnya. Bahkan, pria itu terlihat sangat terkejut, tak dibuat-buat nya. Dihampirinya Putri yang sampai saat ini terdiam, lalu dia memegang bahu wanita itu. "Jadi kau dipindah tugaskan ke tempat ini? Fakta ini benar-benar mengejutkan aku." Putri menganggukkan kepalanya, dia sangat setuju mendengar apa yang dikatakan oleh Vano tadi. Ternyata mereka tak jadi berpisah, mereka justru akan bertambah dekat karena hubungan pekerjaan ini. Putri tertawa pelan. Tak menyangka kalau dunia akan sesempit ini. Saat Vano mengajaknya untuk duduk di atas sofa, dia langsung menurut. Setidaknya, saat ini Putri merasa sangat bersyukur sekali dalam hatinya, karena Vano adalah atasannya, dengan begitu dia tak perlu pendekatan atau canggung dengan Vano. Mereka sudah menjadi teman dan sering berinteraksi. Ya, itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini. "Pekerjaan mu di sini hanya perlu mengawasi progres kerja para pekerja di sini juga memeriksa beberapa berkas pemasukan juga pengeluaran. Selain itu, kau harus menyusun jadwal pekerjaan ku dengan baik." Putri menganggukkan kepalanya. Baginya, tugas yang diberikan oleh Vano itu terbilang cukup mudah juga. Itu baginya. "Baiklah, ruangan mu ada di samping ruangan ku itu dan kau bisa mulai bekerja saat ini." Vano berucap seraya memberikan kunci ruang kerja nya dan Putri mengambil kunci itu. "Terimakasih." Putri membangunkan tubuhnya, dia sedikit menundukkan tubuhnya sebelum pergi dari tempat itu. Keluar dari ruangan Vano, dia langsung menuju ke ruangannya sendiri. Dibukanya ruang kerja itu, lalu dia masuk ke dalamnya. Pandangan Putri mengedar, dia melihat ruangan ini, ruangan yang cukup lebar dengan sebuah meja dan kursi yang berada di bagian tengah ruangan ini. Ruangan kerjanya ini memiliki warna abu-abu yang mendominasi juga ada beberapa lukisan pemandangan yang menambah kesan indahnya. Putri mengambil tempat duduk. Dia menatap ke arah berkas dokumen yang kini ada tepat di depannya, diambilnya kertas dokumen itu dan dia mulai bekerja dengan fokus. Beberapa dokumen harus diperiksanya sebelum sampai di tangan Vano, agar tak ada kesalahan yang diterimanya. 12.15. Waktunya jam makan siang. Ponsel Putri berdering dengan kuatnya, saat ini ada sebuah alarm yang menyadarkan Putri dari fokus pekerjannya. Dia mengalihkan pandangannya dan mematikan alarm itu. Hari ini, dia harus menjemput Cinta yang pulang dari sekolahnya. Keluar dari ruangannya itu, melihat Vano yang akan mengetuk pintunya. Vano mencengir. Baru saja tadi dia mau mengajak Putri untuk makan siang, tapi wanita itu sudah keluar sendiri dari ruangannya. "Ayo, kita makan siang bersama." Terpaksa, untuk saat ini Putri menggelengkan kepalanya. Dia tak mungkin membiarkan anaknya menunggu di siang hari yang panas nya luar biasa ini. "Aku harus menjemput Putri dulu, dia akan pulang dari sekolahnya." Vano membulatkan mulutnya. "Ya sudah kalau begitu, aku juga ikut dengan mu." Tangan Putri ditarik olehnya, mengajaknya untuk menuju ke lift. Tujuan mereka adalah basement, di mana sudah ada mobil Vano yang terparkir di sana. Mereka langsung masuk ke dalam mobil itu, Putri menyandarkan punggungnya, dia merasakan tubuhnya sedikit lelah saat ini. "Dia sekolah di mana?" "Sekolah Pertiwi." Putri memberikan jawabannya. Dia menengok ke arah luar, pandangannya fokus ke arah seorang pria yang saat ini posisinya tengah membelakanginya. Di samping pria itu ada seorang wanita juga anak kecil yang tampak serasi sekali sebagai satu keluarga. Perawakan dari pria itu tampak tak asing dari pandangannya, seperti Putri pernah melihatnya. Tubuh besar yang dibaluti oleh jas biru dongker, rambut tampak tertata dengan sangat rapi dan tubuhnya sangat tinggi. 'Pria itu kayak Gio.' Itulah isi otaknya.. Namun secepatnya, Putri menggelengkan kepalanya dengan pelan. Itu tak mungkin terjadi dan tak akan dirinya biarkan terjadi. Gio tak boleh bertemu dengannya, hubungan mereka telah selesai dan ikatan pernikahan itu hanya sebuah nama saja saat ini. 'Dia hanyalah masa lalu ku saat ini.' Putri menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia mengalihkan pandangannya, fokusnya hanya ke arah depan, dia mulai memperhatikan jalanan yang cukup ramai pada siang ini. Jarak dari restoran ke Sekolah Dasar Pertiwi tak begitu jauh, hanya berjarak 4 km saja, hingga dalam waktu 10 menit, akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuannya. Melihat ke arah luar sekolah itu, sudah ada beberapa anak-anak yang tengah menunggu jemputan dari orang tua eah salah satunya dari mereka adalah Cinta. Langsung saja Putri keluar dari mobil itu. Dia memanggil nama anaknya itu, hingga membuat pandangan Cinta teralihkan, dia melihat ke arah nya dan langsung tersenyum senang. Cinta membangunkan tubuhnya, lalu dia mulai bergegas dan menghampiri ibunya itu. Dipeluk tubuh Putri dengan sangat erat. "Kau sudah makan?" Cinta menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dari apa yang Putri lihat, dia yakin sekali kalau saat ini Cinta tak nyaman dengan sekolah baru nya. Mungkin saja lingkungan di sini jauh lebih berbeda daripada lingkungan sebelumnya, membuat dia sedikit kesulitan untuk beradaptasi dengan teman-teman nya. Putri menarik tangan Cinta, lalu membawanya masuk ke dalam mobil itu. Dapat dilihatnya reaksi terkejut yang ditunjukkan oleh Cinta saat melihat ada Vano di dalam mobil ini. Putri tertawa pelan, merasa sangat lucu sekali dengan raut wajah anaknya yang kini ditunjukkan. "Om Vano, kok ada di sini?" "Om Vano memang tinggal di sini juga. Apakah kau senang bertemu dengan Om Vano?" tanya pria itu dengan suara lembutnya. Dengan senang nya, Cinta menganggukkan kepalanya. "Ya, aku sangat senang." Bahkan, kebahagiaan itu tercetak sangat jelas di raut wajahnya. Vano terkekeh pelan. Dia mengacak-acak rambut Cinta dan berkata, "Apakah kau sudah makan siang?" Jawaban yang Cinta berikan adalah gelengan kepala nya. "Aku belum makan." "Kita makan siang bersama, ya." Vano mulai menjalankan mobilnya, menuju ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari sekolah tersebut. Mereka keluar dari mobil itu. Putri memegang tangan kanan Cinta dengan Vano yang memegang tangan kiri putrinya itu, membuat beberapa orang yang melihat ke arah mereka pasti berpikir bahwa mereka memiliki hubungan keluarga. Namun, Putri tak begitu mempedulikan tatapan mereka. Dia melangkah, menuju masuk ke dalam restoran itu dan menemukan meja yang kosong. Saat datang, mereka langsung mengungkapkan pesanan yang mereka inginkan. Untuk siang ini, Putri sangat ingin menghabiskan spaghetti yang rasanya sangat lezat sekali. Pandangan Putri teralihkan, dia melihat wajah Cinta yang terlihat sedikit lesu. Dipegangnya rahang gadis itu, lalu dengan lembut dia bertanya, "Ada apa denganmu?" Cinta menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu dia menjawab, "Aku tak nyakan di sekolah itu. Ada anak perempuan yang selalu menggangguku di sana.''
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD