18. This is insane!

1350 Words
Aku memang sudah mengira kalau menerima kesepakatan Pak Mahesa tawarkan akan membuat hidupku semakin rumit tapi aku tidak akan menyangka akan serumit ini. Aku pikir cukup dengan bertemu dan urusan kami selesai tanpa ada lagi pertemuan lanjutan tapi siapa sangka malah jadi begini. Pak Mahesa sendiri bukannya membantuku malah membuatku makin sakit kepala. “Sepupu lo yang mau nikah tapi kok malah muka lo yang nelangsa banget begitu.” Mas Satria buka suara. "Pasti elo kebawa-bawa suru cepet nikah ya, Va?" Aku menatap seniorku dan meringis. Aku benar-benar tidak mengira kalau ada seniorku yang memperhatikan aku sedari tadi dan dari pada memperpanjang pembahasan mengangguk jelas mempersingkat. Mas Satria pun mulai buka suara kalau dia sering mengalami hal yang sama namun alih-alih mendengarkan cerita Mas Satria perhatianku kini tertuju pada layar ponselku. Sebuah pesan lain masuk dari Ibu Dara membuat mataku membulat membacanya. Ibu Dara Wiradilaga : Maaf ya, Vanala. Kata Esa kamu lagi sibuk kerja. Mama gak maksud ganggu kamu. Ibu Dara Wiradilaga : Kata Esa sore nanti kalian ada janji nanti Esa yang akan anter kamu ketemu Mama. Ibu Dara Wiradilaga : Sampe ketemu sore nanti, Vanala. Wow! Bosku itu benar-benar minta dikirim ke antartika rupanya! Pak Mahesa dengan ekspresi datarnya meninggalkan ruangan divisi kami bekerja setelah dia dengan santainya tanpa berdiskusi denganku mengirimku untuk bertemu dengan Ibunya. Totalitasnya memang tidak perlu diragukan tapi ini jelas mengkhawatirkan. Aku harus berbicara masalah ini nanti. Jelas kami perlu diskusi lebih lanjut mengenai kesepakatan hubungan pura-pura ini supaya jantungku aman dari serangan-serangan dadakan seperti ini. *** Pada akhirnya aku meninggalkan kantor lebih dulu karena ulah Pak Mahesa yang mengiyakan ajakan Ibu Dara. Untungnya aku pergi bersama dengan Pak Mahesa disaat para seniorku yang lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing sehingga aku tidak perlu berpikir keras untuk menjawab pertanyaan mereka sebelum pergi meninggalkan kantor. “Kalau kamu mengendap-ngendap seperti itu orang justru akan curiga.” Aku spontan mendengus. Berurusan dengan Pak Mahesa beberapa hari belakangan membuat kadar kesopananku pada pria ini terkikis sedikit demi sedikit sama seperti kesabaranku pada pria itu. “Ini dikantor, Pak. Nanti kalau ada─” “Jangan bodoh. Ini bukan pertama kalinya kamu naik mobil saya. Kita sudah sering pergi keluar berdua seperti saya pergi berdua dengan Retha atau Bimo. Siapapun yang lihat kamu barengan sama saya pasti mikir kamu dan saya ada urusan pekerjaan.” Skakmat! Ucapaan Pak Mahesa memang benar. Pak Mahesa mengemudikan mobil miliknya dan awalnya aku memilih diam hingga ingatan tentang aku yang perlu berbicara mengenai kelakuan Pak Mahesa membuatku menoleh menatap Pak Mahesa. "Pak, kesepakatan awal kan cuma ketemu sama orang tua bapak di hari sabtu kemarin mengakui kita memang pacaran tapi kenapa sekarang bapak mengiyakan ketika Ibu Dara mau ketemu lagi? Ini diluar kesepakatan awal kita." Pak Mahesa menoleh sesaat. "Saya pikir kamu itu pintar tapi kepintaran kamu ternyata terbatas. Saya jadi sadar kalau saya harus sabar-sabar punya partner yang kepintarannya terbatas kayak kamu." Pak Mahesa menjeda kalimatnya untuk mendengus kesal, "Jelas kamu tidak mungkin hanya bertemu dengan orang tua saya sekali saja lalu selesai. Kamu mengaku kalau pacaran terus nggak lama menghilang gitu? Jelas kedua orang tua saya bisa tau kalo kita pura-pura. Kita perlu menyusun strategi untuk berpisah dan tidak langsung berpisah karena kamu saja baru tau orang tua saya." Aku terdiam. Memang bener sih. "Maksud saya diskusi dulu, Pak. Jangan langsung iyain aja ajakan Ibu Dara. Kalau saya ada janji sama orang lain gimana? Masa saya batalin─" "Tinggal kamu batalin janji kamu itu. Ingat kamu sudah sepakat sama saya. Selain fokus sama saya kamu harus utamakan saya juga." Aku menatap horor ke arah Pak Mahesa. "Kok nambah?" Pak Mahesa menoleh sesaat menatapku dengan alis berkerut. "Nambah gimana?" "Kemarin bilang suru fokus sekarang utamain. Besok apa, Pak?" "Nanti saya pikirkan lagi." Mataku membulat, Pria disebelahku ini beneran gila rupanya. Tanpa kusadari mobil yang Pak Mahesa kendarai sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan yang sangat besar. Pak Mahesa langsung menghubungi Ibu Dara dan pria itu spontan mengenggam erat tanganku saat hendak memasuki mall. Aku jelas panik. “Pak, ini diluar gimana kalau ada─” “Keempat teman berisik kamu masih ada dikantor kerjain deadline yang saya kasih dan kalau ada mall ini jauh dari kantor. Saya rasa kekhawatiran kamu itu tidak berdasar.” Jawaban Pak Mahesa mengugurkan kekhawatiranku. Tanpa menunggu jawabanku Pak Mahesa melangkahkan kaki memasuki area pusat perbelanjaan sambil mengenggam erat tanganku. Tidak. Aku tidak baper karena hanya Pak Mahesa mengenggam tanganku karena aku sadar betul pria itu melakukan itu untuk meyakinkan mamanya kalau kami memang berpacaran. “Ma!” Pak Mahesa memanggil Ibu Dara hingga wanita paruh baya itu menyadari keberadaan kami. Pak Mahesa melangkahkan kaki mendekati Ibu Dara dan pandangan aku dan Ibu Dara bertemu. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat kepadaku lalu memelukku. “Kalian jalan langsung dari kantor ke sini? Kita jalan-jalan sebentar baru kita makan malam sama-sama, ya.” ucap Ibu Dara dengan nada antusias. "Mama gak sabar ajak Vanala jalan-jalan sekalian ngobrol bareng." Aku jelas hanya mengangguk. Kebaikan wanita paruh baya ini membuat dadaku semakin sesak dengan rasa bersalah. Aku tidak menolak atau membantah selama bersama dengan Ibu Dara dan semua itu aku lakukan karena aku tidak mau melakukan kesalahan lainnya. Aku yakin kebohongan kami akan membuat Ibu Dara terluka saat wanita paruh baya ini menyadari skenario kami nantinya. “Kalian pacaran serius, kan?” Ibu Dara menatapku dan Pak Mahesa satu per satu bergantian. “Mama udah denger cerita Esa soal bagaimana kalian dekat dan Mama harap kalian pacarannya jangan lama-lama.” Ucapan Ibu Dara spontan membuatku menghentikan pergerakanku selama beberapa detik sebelum akhirnya aku berhasil menguasai diri karena Pak Mahesa sudah menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Ibu Dara. “Aku dan Cantika masih mengenal satu sama lain, Ma. Pembahasan mengenai pernikahan bukankah terlalu jauh?” “Enam bulan pendekatan dan enam bulan bersama sudah jauh lebih cukup, Sa. Usia kamu bukan usia untuk main-main lagi terlebih Mama dan Papa sangat menyukai Vanala. Mama tidak mau Vanala keburu sadar kalau pacarnya saat ini adalah pria membosankan dan kaku kayak kamu. Lebih gawat lagi kalau sampe Vanala ketemu cowok yang lebih baik dari kamu, Sa.” “Mana ada yang lebih baik dari aku, Ma. Mama ini─” “Diatas langit masih ada langit, Sa. Jangan sombong kamu tuh.” Aku meringis mendengar percakapan Ibu Dara dan Pak Mahesa yang jelas ngawur ini dan saat pandanganku dan Ibu Dara bertemu aku pun berusaha tersenyum. “Sabar-sabar sama Esa ya, Nala. Esa besar memang menyebalkan tapi pas kecil enggak kok. Esa mirip sama Kevan tapi entah gimana malah ikut-ikutan kayak Nena yang seringnya judes padahal Nena itu anak perempuan. Untung Ardhan mau sama Nena.” Ibu Dara menjeda ucapannya dan menatapku dengan tatapan yang terasa berbeda, “Mama sangat berharap kalian memang berjodoh dan segera menikah.” Makan malam selesai dan Pak Mahesa pun mengantarkan aku pulang ke apartemen. Seperti sebelumnya setelah bertemu dengan keluarganya aku hanya diam. Rasa bersalahku muncul dan kali ini semakin berat terasa karena kebaikan Ibu Dara jelas terasa begitu tulus untuk aku yang sudah membohonginya. “Pak, This is insane.” Aku akhirnya meluapkan isi kepalaku ketika mobil yang dikendarai Pak Mahesa sudah terparkir rapi. “Enggak seharusnya kita melakukan ini karena Ibu Dara pasti akan kecewa kalau tau yang sebenarnya.” “Maka dari itu Mama saya tidak perlu tau,” jawab Pak Mahesa menanggapi dengan nada santai. “Tapi, Pak─” “Saya sudah bilang berkali-kali panggil saya Mas saat kita berdua. Itu bisa membantu kamu terbiasa sehingga kamu tidak salah saat─” “Saya takut, Pak! Saya takut semua terbongkar! Ibu Dara begitu baik sama saya dan saya membohongi beliau!” Pak Mahesa menatapku lekat. Masa bodoh dengan keterkejutannya karena aku barusan meluapkan isi kepalaku. Aku hanya takut. Aku pikir Pak Mahesa akan memarahiku karena kelancanganku meluapkan kekesalanku barusan tapi siapa sangka Pak Mahesa malah menarikku masuk ke dalam pelukkannya, “Tidak perlu mengkhawatirkan apa yang tidak perlu kamu khawatirkan. Ingat tiga hal yang saya bilang ke kamu. Biasakan panggil saya dengan Mas Esa saat kita berdua, mulailah terbiasa melakukan skinship sebagaimana seorang pacar berinteraksi dengan pacarnya dan yang terakhir fokuskan perhatian kamu sama saya, Cantika.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD