Bab 11. Beberapa Syarat

1989 Words
“Nona Chiara?” Laki-laki paruh baya di depan Chiara tersenyum. Namanya Arkes. Arkes Brunn. Dia adalah asisten pribadi Jovan yang juga mengepalai semua karyawan yang bekerja di rumah Jovan. Istana, maksudnya. Chiara berkeras, gedung semegah tempat ia berdiri sekarang terlalu mewah untuk sekedar disebut rumah. Ini adalah kali kedua Chiara menginjakkan kaki di istana ini lagi. Ia tidak tahu mengapa kakinya melangkah ke sini, padahal seharusnya ia cukup menelepon dan meminta bertemu dengan Jovan di luar. Namun, alih-alih menelepon, ia malah memanggil taksi dan menyebutkan alamat istana ini. “Uhm ... maaf, tapi saya perlu bertemu dengan ... uhm ... Jo-eh, euh ... Om Jo-Jovan?” Alis kanan Arkes yang berwarna abu-abu naik dan matanya tertawa, meskipun bibirnya hanya mengulum senyum. “Kenapa memanggilnya Om?” tanya Arkes dengan nada menggoda. Ia membuka daun pintu lebih lebar dan memberi isyarat agar Chiara masuk. “Masuk dan tunggulan di dalam. Anda menunggu di gazeebo waktu pertama kali datang dan sekarang, saya tidak mau bersikap tidak sopan kepada gadis yang akan segera menjadi Nyonya rumah ini.” Wajah Chiara merona seperti tomat matang mendengar ucapan Arkes. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan gugup. Arkes mengucapkan kalimat-kalimatnya dengan nada ringan, tetapi Chiara tahu makna dari ucapannya dan dia bersungguh-sungguh dengan maksudnya. “Saya ... uuh, mungkin lain kali saja saya datang lagi. Saya seharusnya menelepon dulu sebelum datang. Om Jovan mungkin sedang sibuk.” “Mana ada seorang calon istri harus menelepon dulu dan membuat janji hanya untuk bertemu dengan calon suaminya.” Sebuah suara bariton dari dalam istana itu membuat Chiara membeku di tempat. Ia menelan ludah dengan gugup. Itu suara Jovan dan kemunculan seorang laki-laki dari balik pintu, di belakang Arkes, membuat Chiara menjadi seperti ingin melarikan diri dari tempat itu. Ia menyesali setengah mati sikap impulsifnya. Jovan memberi isyarat kepada Arkes dengan matanya dan dengan santun Arkes mengangguk kemudian mundur dan kembali ke dalam. Sekarang, Jovanlah yang berada di depan Chiara, memegangi daun pintu. “Kau tidak mau masuk? Rumah ini akan segera menjadi rumahmu juga. Tidak perlu sungkan.” Chiara menatap Jovan dengan tatapan tidak terbaca. Jovan memakai kimono sepanjang lutut berwarna hitam yang ditalikan pada pinggang. Bagian dadanya terbuka dan tetasan air dari rambutnya yang setengah basah jatuh ke atas kulit dadanya yang berotot. Sepertinya dia baru selesai mandi karena Chiara dapat mencium aroma sabun mandi yang harum dari Jovan. Atau mungkin sampo. “A-aku ... maaf, aku akan datang lain kali saja,” gumam Chiara dengan suara serak. Ia tidak yakinmau menghadapi Jovan sekarang. Penampilannya sangat ... uh, menggoda. Chiara merasa seperti agak murahan sekarang, karena melihat tetesan air yang jatuh ke d**a Jovan membuatnya merona. “Chiara,” tegur Jovan dengan tegas. “Masuklah.” Chiara mendongak dan matanya bertemu dengan mata Jovan yang dalam. Ia mengangguk dan mengikuti Jovan dengan langkah kaku. Jovan berjalan mendahului Chiara dan menunjuk sebuah ruangan di sebelah kanan. “Tunggulah di sana. Aku akan berganti pakaian dulu dan segera menemuimu.” Chiara melihat Jovan berjalan menjauh dan menaiki undakan tangga yang ada di depannya. Tangga yang sangat lebar, terbuat dari batu yang kokoh dan lapisan marmer mengkilat. Persis di depan mata Chiara adalah ruangan luas dengan langit-langit tinggi yan terang benderang karena jendela-jendela kaca besar di satu sisi di atas tangga. Sebuah vas bunga yang sangat besar diletakkan di atas meja marmer berbentuk bulat di tengah ruangan itu, berisi bunga-bunga berwarna ungu, merah muda, dan putih yang dirangkai dalam satu tatanan yang apik dan cantik. Satu set sofa kulit besar diletakkan di tengah ruangan dan dua buah lemari besar berisi buku-buku menutup dua sisi dinding bagian kanan dan kiri ruangan itu, tepat di bawah tangga. Ada dua ambang pintu masuk ke ruangan lain pada sisi kanan dan kiri dinding setelah lemari-lemari buku besar itu. Chiara ingat, tadi Jovan menunjuk ambang pintu di sebelah kanan. Ia melangkah ragu dan masuk melalui ambang pintu besar yang tinggi di atas kepalanya. Semua yang ada di istana ini terbuat dari batu dan marmer, sehingga berkesan kuat dan mewah. Mata Chiara terbelalak lagi. Ia berdiri di depan sebuah ruangan yang dikiranya hanya ada di film-film fantasi. Ruangan itu sangat luas, dengan sekeliling dindingnya memiliki jendela-jendela kaca yang sangat besar dan terang. Ada dua set sofa besar dari kulit yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Di sisi kanan dan kiri dinding di dekat ambang pintu ada dua buah lemari buku yang besar, kemudian diselingi oleh lemari kaca besar berisi aneka patung kristal yang tampak berkilauan tertimpa cahaya. Di tengah ruangan, dibuat sebuah perapian besar yang indah dan lukisan pemandangan sungai. Chiara melangkah ke dalam ruangan itu dan menghampiri salah satu sofa. Ia menyentuh sofa besar itu dan tersenyum senang. Sofa itu sangat besar, bisa menampung tiga atau empat orang Chiara sekaligus dan kulitnya sangat halus, sampai terasa seperti beludru. Ia duduk dan merasa seperti tenggelam di sofa itu. Chiara ingin tahu, ada berapa orang yang tinggal di dalam istana ini. Rumahnya sendiri mungkin lebih kecil dari bagian depan istana ini. Ambang pintu yang ada di sebelah kiri dari ruang depan tadi, entah ruangan apalagi itu, tetapi Chiara yakin besarnya pasti sama dengan ruangan tempat ia duduk sekarang. Belum lagi bagian atas, di mana Jovan tadi menaiki tangganya dan menghilang ke arah kiri di lantai dua. Arkes masuk ke dalam ruangan itu, diikuti seorang wanita di belakangnya, menating sebuah baki besar di tangannya. Wanita itu mengenakan setelan blus dan celana panjang yang tampak berkelas, berwarna hijau pucat dan krem dan sepatu pantofel berwarna hitam yang tampak nyaman. “Silahkan, Nyonya Mina, letakkan saja di atas meja. Saya yakin Nona Chiara akan menyukai hidangan yang anda buatkan ini,” ujar Arkes, memberi isyarat kepada wanita yang dipanggilnya dengan sebuat Nyonya Mia itu. Nyonya Mia tersenyum dan meletakkan baki yang dibawanya di atas meja di depan Chiara. “Silahkan, Nona, hanya hidangan sederhana. Semoga Anda menyukai kreasi saya.” Chiara menatap baki di atas meja dan seketika ia terkesiap. Ia menoleh dan menatap Nyonya Mia yang berdiri di depannya. “Anda membuat ini semua?” tanya Chiara. Nyonya Mia mengangguk dengan wajah terlihat puas pada dirinya sendiri. Ekspresi wajah Chiara sangat jelas terbaca. Chiara mengambil sebuah kue mangkok dengan hiasa krim berbentuk bunga mawar berwarna merah muda dan kuning pucat kemudian menggigitnya perlahan. Matanya terpejam perlahan-lahan. “Nyonya Mia, eh, maaf, tapi ini adalah kue paling enak yang pernah saya makan selama sembilanbelas tahun hidup saya,” ujar Chiara setelah membuka kembali matanya. Ia menyuapkan lagi kue itu ke mulutnya dan mendesah. Krim di atas kue itu seperti meleleh di dalam mulutnya. “Anda seharusnya ikut dalam kontes Masterchef.” Nyonya Mia benar-benar tersenyum lebar sekarang. “Anda bisa meminta saya untuk membuat kue apapun yang Anda suka nanti. Saya akan memanjakan Anda dengan makanan apapun yang Anda sukai.” “Ohoho ... rupanya calon Nyonya rumah kita sudah berhasil dipikat oleh Nyonya Mia, eh?” Ketiga kepala menoleh bersamaan dan melihat Jovan masuk ke dalam ruangan, sudah memakai pakaian formal—kemeja polos berwarna hitam dan celana jins hitam yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. “Aku hanya ingin sedikit memamerkan kemampuanku, Tuan Jovan. Anda tidak pernah suka kue-kue yang kubuat dan Kakek Arkes terlalu tua untuk makan makanan yang manis. Dia selalu mengeluh sakit gigi setelah makan kue buatanku,” gerutu Nyonya Mia. Jovan dan Arkes tertawa, begitu juga Chiara, sambil menghabiskan kue di tangannya. Ia melirik nampan. Aneka kue yang cantik tampak sangat menggoda dan Chiara belum sempat makan siang. “Jangan terlalu memanjakan Nona Chiara, Nyonya Mia, kau akan membuat calon istriku menjadi gendut,” ujar Jovan sambil duduk di sebelah Chiara. “Hei! Aku tidak gendut,” seru Chiara kesal. Ia melirik kue-kue itu lagi dengan wajah merona. “Lagipula bukan salahku, kue-kue itu tampak sangat menggoda.” Tiga orang yang lain di ruangan itu tertawa melihat wajah Chiara yang merona. Sekarang, Chiara merasa hatinya hangat. Sudah lama ia tidak dikelilingi orang-orang yang tertawa bersamanya. Ini terasa seperti ... rumah. ***o*o*** “Para pengacara papaku akan mengirimkan dokumen resminya melalui pengacaramu, setelah mereka memeriksa isinya dan mungkin mengubah beberapa kalimat supaya menjadi lebih pantas dan enak didengar.” Jovan mengangkat alis kanannya selagi ia membaca sekali lagi kertas yang diberikan Chiara kepadanya. Tulisan tangan Chiara tidak terlalu bagus dan sedikit berantakan, kontras dengan penampilannya yang rapi dan serasi. Jovan tertawa kecil melihat beberapa kalimat yang tertulis di atas kertas. “Oke!” Chiara terkejut dan menatap Jovan dengan mata melebar. “Hah? Oke apa?” “Oke, aku setuju dengan semua syarat yang kau ajukan,” jawab Jovan dengan santai. Ia meletakkan kertas di atas meja dan mengambil gelas berisi kopi dan menyesap isinya yang sudah menjadi hangat dengan santai. “Ta-tapi ... kau menerima semuanya? Tidak ada protes atau keberatan?” Jovan tersenyum dan menggelengkan kepala. “Tidak perlu. Apa yang kau inginkan semua wajar dan memang sudah seharusnya kau minta. Bahkan, sebenarnya, sebagian besar sudah kupikirkan juga.” Chiara tertegun. Mengapa semudah ini? Ia sudah mempersiapkan diri untuk bertengkar dengan Jovan, atau setidaknya, berdebat dengan laki-laki itu, karena dia tidak menyukai syarat-syarat yang diajukan olehnya. “Aku ingin kuliah, kau tidak keberatan?” “Tentu saja tidak. Well, aku seorang pemimpin perusahaan, kan? Memiliki seorang istri yang berpendidikan tinggi sudah pasti akan menambah gengsiku di mata para kolega dan lawan bisnis. Kedokteran, kan? Aku akan membuatmu mencapai gelar tertinggi di bidang itu. Ambillah spesialisasi apapun yang kau minati, di Amerika sekali pun.” “Aku ... ingin memiliki kamar sendiri?” “Silahkan. Rumah ini memiliki kurang lebih delapan atau sepuluh kamar—aku lupa. Kau boleh mengambil kamar mana saja yang kau sukai. Asal kau tahu, aku juga seringkali memerlukan waktu untuk sendiri dan tidak diganggu oleh siapa pun. Pekerjaanku banyak dan tidak mudah, jadi aku harus fokus dan memusatkan perhatian pada semua hal yang harus kuatur dan kukerjakan.” “Itu ..., soal, ehm ....” “Anak?” Wajah Chiara merah padam. Ia memalingkan wajah menatap lemari buku yang menempel di seluruh dinding. Konyol. Seharusnya ia tidak perlu membahas soal itu sekarang. Jovan mencondongkan wajahnya kepada Chiara, membuat gadis itu mundur ke belakang, hampir menempel pada sandaran sofa. Sejak kapan Jovan menjadi begitu dekat dengannya? Ia tidak melihat laki-laki itu beranjak dari sofa yang didudukinya di seberang sofa tempat Chiara duduk. Wajah Chiara terasa panas, menjalar dari bawah leher ke pipinya. Jovan sangat harum. Keharuman maskulin yang lembut dan menenangkan. Seperti aroma tanah sehabis hujan. Aroma matahari di tepian pantai. Aroma pinus di pinggiran hutan. Aroma kopi hitam yang baru diseduh. Aroma lemon yang sedang diperas. Aroma rempah yang terbakar di pedupaan. Aroma angin di kaki gunung. Aroma daun yang tertimpa embun. Chiara terkesiap. Bagaimana mungkin ia menggambarkan Jovan dalam semua kiasan yang disukainya? Ia menatap mata Jovan yang sedang menatapnya dan mengedip lambat. Pernahkah mendengar, seseorang tenggelam dalam lautan tidak berdasar? Itulah mata Jovan sekarang dan Chiara takut ia akan kehilangan pegangan dan tenggelam perlahan-lahan. Kesadaran seketika membuat Chiara mendorong pelan bahu Jovan. Laki-laki itu terkekeh dengan mata menyipit, seolah-olah merasa puas denga shock terapi yang diberikannya kepada Chiara. “Tenang saja, Nona, aku bukan seorang laki-laki dengan kebutuhan biologis yang menggebu-gebu. Aku bisa mengatur kebutuhanku sendiri dan melihatmu yang begitu mungil dan rentan, aku juga tidak terlalu tertarik untuk segera menggaulimu segera setelah kita menikah. Aku sudah menjaga diriku selama bertahun-tahun, jadi aku akan menunggu sampai kau benar-benar matang.” “Hei, aku bukan anak kecil, Om!” sergah Chiara, menekankan ucapannya ada kata ‘Om’. Jovan terkekeh lagi. Ia mengedipkan mata dan berdiri dari sofa. “Nah, itu yang membuatmu terlihat lebih seperti anak kecil yang manja, daripada seorang wanita dewasa seperti yang kau rasakan.” Chiara menahan kemarahannya di dalam hati. Ia yakin, ada waktunya nanti, Jovan akan mengetahui kekuatannya. Ia akan membuat laki-laki arogan itu bertekuk lutut kepadanya dan pada saat itu, ia akan pergi dengan dagu terangkat. Jovan bisa membuat Chiara mematuhi kesepakatan pernikahan itu, tetapi tidak ada aturan yang bisa mengikat Chiara, sampai kapan ia dapat menjalani kesepakatan itu. Lihat saja nanti, Om! ***o*o***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD