“Nama Anda, Nona?”
Chiara menatap laki-laki yang ia perkirakan berada di usia pertengahan baya, bertubuh tinggi dengan rambut berwarna hitam dengan garis-garis perak yang berkilau, senyum ramah dan suara menyenangkan yang lembut.
“Chi-Chiara,” jawab Chiara gugup. Entah mengapa, ia mulai menyesali keputusannya datang ke rumah, ah, bukan! Gedung ini, di mana ia sedang menginjak lantai marmernya yang berwarna hitam mengilat, lebih sebuat disebut sebagai istana. Bukan jenis istana dengan banyak menara, tiang-tiang besar, dan jembatan yang bisa diangkat dengan katrol seperti dalam dongeng anak-anak, tetapi dalam bentuk dongeng yang lebih modern.
“Ah! Nona Chiara,” ucap laki-laki paruh baya di depan Chiara sambil menjentikkan jari, seolah-olah dia sudah mengetahui kedatangan Chiara. Ia membentuk isyarat dengan tangan terbuka, menunjuk sebuah gazeebo dengan dinding-dinding kaca di tengah-tengah taman bunga di bagian samping istana. “Saya akan memanggil Tuan Jovan dan sementara menunggu, silahkan Anda melihat-lihat taman atau Anda bisa beristriahat di gazeebo itu.”
“Saya akan ... eh, menunggu saja di dalam gazeebo,” sahut Chiara sungkan. Ia ingin sekali melihat-lihat taman yang mengelilingi istana itu, tetapi takut tersesat. Lagi pula ia perlu bertemu Jovan secepatnya dan tidak mau dipergoki olehnya sedang mengagumi istananya yang luar biasa ini dan membuatnya besar kepala.
Chiara masuk ke dalam gazeebo yang terletak di atas kolam berbentuk bulat berisi banyak sekali ikan koi yang memiliki warna-warni yang indah. Ia menaiki tangga tiga undak untuk masuk ke dalam gazeebo berbentuk lingkaran itu dan terbelalak takjub.
Dinding-dinding gazeebo itu terbagi menjadi dua bagian. Tiga perempat dinding berupa kaca dan seperempat sisanya adalah kayu. Yang paling menarik adalah, di setiap bidang dinding kayu, dibuat menjadi rak buku dan diatasnya adalah tempat membaca dengan bantalan duduk dan bantal-bantal aneka warna dan motif. Lantai gazeebo ditutup dengan karpet tebal. Chiara menyentuh karpet itu dan merasa tangannya tenggelam dalam ketebalan karpet.
Chiara masuk ke dalam gazeebo dan berlutut di depan rak-rak buku. Matanya melahap deretan judul-judul buku yang ada di rak dengan lapar. Sebagian besar buku-buku itu adalah buku-buku berbahasa Inggris dan lainnya adalah terjemahan. Semua dalam edisi hard cover.
Chiara membuka dan membaca sekilas beberapa buku yang menarik minatnya. Jovan rupanya memang bukan laki-laki sembarangan. Chiara baru menyadari ada juga beberapa buku dalam bahasa Korea, Thailand, Spanyol, Jerman, dan Perancis.
Suara berdehem di belakang Chiara membuatnya tersentak dan menjatuhkan sebuah buku tebal ke atas pangkuannya. Chiara meringis ketika buku setebal batu bata itu menimpa pahanya. Ia menoleh dan melihat Jovan berdiri di undakan tangga kedua di depan gazeebo. Ia cepat-cepat mengembalikan buku itu kembali ke tempatnya.
Jovan masuk ke dalam gazeebo dengan sedikit membungkukkan tubuh karena bahkan gazeebo setinggi dan seluas itu masih tampak kecil ketika dia masuk. Jovan duduk bersila di depan Chiara.
Chiara melihat kali ini penampilan Jovan terlihat santai. Dia memakai kaos berwarna biru tua dengan leher berbentuk segitiga yang memperlihatkan tulang selangka yang seksi. Ups! Chiara! Batin Chiara menampar otaknya. Dia memakai celana panjang kain yang terlihat nyaman dan rambutnya sedikit turun ke dahi.
“Nona Chiara? Apa yang ingin Anda bicarakan sekarang?” Pertanyaan yang dilontarkan Jovan dengan nada tenang dan sedikit terdengar dingin itu membuat Chiara gugup. “Saya sedang beristirahat dan waktu saya tidak banyak. Saya harus berangkat ke Uzbekistan malam ini.”
“Saya ...,” gugup Chiara. “Mengapa Anda melakukan semua itu?” tanya Chiara akhirnya, dengan suara lemah. Ia sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh Jovan, tetapi tetap, ia ingin mendengarnya sendiri. Meski pun jawaban Jovan mungkin akan membuatnya terdengar bodoh.
Jovan memiringkan kepala, menatap gadis di depannya dengan tatapan tidak terbaca. Ia tersenyum lembut, tetapi Chiara yang sedang menunduk tidak melihatnya.
“Maafkan saya, Nona Chiara, tetapi bukan saya yang melakukan apa yang terjadi hari ini,” jawab Jovan dengan tenang. Ia melipat tangannya ke d**a. “Itu almarhum Ayah Anda, dan juga Anda. Setidaknya, ada mempunyai andail dalam prosesnya.”
Chiara mendongak dan matanya menatap Jovan dengan berani—untuk sesaat. Kemudian, matanya mulai berkaca-kaca dan ketika ia menarik napas, setetes airmata meluncur ke pipinya.
“Mereka semua akan kehilangan pekerjaan,” gumam Chiara.
Jovan tertawa kecil. Ia harus mengalihkan pikirannya sendiri dari keinginan untuk mengulurkan tangan dan menyeka airmata Chiara, jadi ia tertawa. “Tentu saja tidak, Nona. Aku bukan seorang pengusaha tanpa hati nurani. Kau tahu apa yang kulakukan supaya semua orang yang bekerja di bawahku tetap loyal dan mau bekerja dengan giat?”
“Memberi mereka gaji yang besar?” tanya Chiara sambil menyeka airmatanya dengan punggung tangan.
“Sudah pasti, tetapi berapapun gaji yang bisa kuberikan kepada mereka, selalu akan ada perusahaan yang berani menawarkan lebih besar. Jadi, aku membeli hati mereka.”
“Uum ... aku tidak mengerti.”
Jovan tersenyum mendengar perubahan pada penyebutan diri yang diucapakan Chiara. Bukan lagi saya, tetapi aku.
“Aku memperhatikan kesejahteraan dan kebutuhan keluarga mereka. Aku mengenal nama setiap anak-anak mereka, nama orang tua mereka, mertua, dan pasangan mereka. Aku memberi jaminan kesehatan, pendidikan, dan memastikan mereka mendapatkan istirahat yang cukup di luar hari libur rutin dan cuti tahunan mereka.”
Chiara menatap Jovan dengan kekaguman yang jelas terbaca di matanya. “Para karyawan perusahaan Papa ..., mereka ....”
“Tenang saja, Nona Chiara. Aku sudah mengatur agar mereka diberi pesangon yang layak. Para karyawan yang masih berada dalam usia produktif akan kuberi rekomendasi untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan baru dan para pekerja yang sudah cukup lama mengabdi akan menerima pensiun yang layak.”
Chiara tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Ia hanya menunduk dan berpikir keras. Ini semua seharusnya tidak separah yang dibayangkan olehnya dalam perjalanan ke istana Jovan ini.
“Nona Chiara,” tegur Jovan lembut. “Rumah Anda juga tidak akan sepenuhnya hilang. Itu hanya sebuah proses birokrasi dan administrasi. Bagaimana pun, saya mengenal baik almarhum Ayah Anda dan saya sudah berjanji akan menjaga Anda dengan baik, terlepas dari adanya pernikahan atau tidak.”
“A-apa maksudmu?”
“Rumah itu akan tetap menjadi milikmu. Meskipun kau menyombongkan diri mampu bertahan hidup tanpa apa-apa, tetapi aku tidak akan membiarkan seorang gadis terlunta-lunta tanpa keluarga,” ujar Jovan dengan datar. Ia berdiri dan bersiap keluar dari gazeeboo. “Sekarang pulanglah. Aku perlu beristirahat sebelum tidur. Semua hal akan disampaikan kepadamu dan para pengacaramu setelah semua proses pengambilalihan selesai.”
Chiara mengulurkan tangan dan menarik ujung kaos Jovan ketika laki-laki itu sudah menuruni undakan kedua. Jovan tertegun dan membalikkan setengah tubuh, menatap Chiara dengan heran.
Chiara menundukkan kepala dan menghela napas panjang sebelum memberanikan diri berkata, “Aku tidak menginginkan rumah itu. Kau boleh mengambilnya.”
Alis Jovan terangkat. “Mengapa?”
“Aku akan pindah ke istana ini.”
“Huh? Apa maksudmu, kau akan pindah ke rumahku?”
“Bukankah itu adalah hal yang seharusnya terjadi? Seorang istri pindah ke rumah suaminya?”
Wajah Chiara merona.
***o*o***
Doni nyaris menangis, ketika ia menerima pemberitahuan pembatalan proses pengambilalihan aset almarhum Ershan. Ia sudah memberitahu kepada istrinya bahwa kemungkinan mereka harus mulai berhemat untuk beberapa bulan ke depan sebelum ia menemukan pekerjaan baru atau kemungkinan lainnya, membuka firma swasta bersama Ginting. Istrinya agak cemberut, membayang tas tangan edisi terbaru dari Paris yang mungkin harus tertunda menjadi miliknya, tetapi dia mengerti.
Ginting tidak mengatakan apa-apa, tetapi Doni tahu sahabatnya itu juga merasa lega. Namun, sesiangan ini, setelah menerima pemberitahuan resmi dari trio Kwek-kwek—demikian Doni dan Ginting menyebut ketiga pengacara Jovan, Ginting terlihat agak gelisah.
“Gin, kenapa kau terlihat sangat gelisah? Kau memikirkan apa?” tanya Doni akhirnya, setelah makan siang menjelang sore, ia masih melihat Ginting dalam sikap gelisahnya. “Apa ada yang salah?”
Ginting menekuri meja kerjanya dan menghela napas berkali-kali. “Aku memikirkan Chiara.”
“Kenapa Chiara?”
“Aku takut dia tidak bisa mengatasi semuanya nanti, setelah semua keriuhan ini mereda. Dia akan ... menjadi istri Jovan Drew Orion, seorang konglomerat dengan kekuasaan dan kekuatan yang kita tidak tahu sampai di mana batasnya. Kita bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya. Kita hanya tahu namanya yang besar dan entah bagaimana caranya Ershan bisa berhubungan dengan orang sekelas dia bahkan sampai membuat perjanjian bodoh seperti itu.”
Doni terdiam dan membenarkan ucapan Ginting di dalam hatinya. “Apakah kita harus mulai menyelidiki latar belakang Jovan, sebelum mereka menikah?”
“Tetap saja, kurasa itu akan sedikit tidak berguna saat ini. Bagaimana pun Chiara sudah setuju untuk menikah dengannya dan kudengar para pengacara Jovan sudah mulai bersiap memprosesnya.”
“Chiara mengajukan syarat untuk pernikahan itu?”
“Ya, tentu saja. Dia bukan gadis yang bodoh, meskipun kesembronoannya kadang-kadang membuatku cemas”
“Kalau begitu, kita tetap harus menyelidiki latar belakang Jovan,” tegas Doni sambil memukul lengan kursinya. “Setidaknya, kalau kita tahu latar belakang Jovan, informasi itu akan berguna untuk Chiara menjaga diri, seandainya terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan yang dilakukan oleh Jovan.”
Ginting berpikir sejenak dan kemudian mengangguk. Ia mengambil telepon dan menghubungi beberapa orang kepercayaan yang biasa dibayarnya untuk menyelidiki sesuatu bila diperlukan.
Chiara masuk ke ruangan kantor Doni dan Ginting beberapa saat setelah Ginting menutup telepon. Ia terlihat puas dan wajahnya tidak semurung kemarin. Doni mengunci pintu di belakang Chiara dan menggiring gadis itu duduk di kursi.
“Chia, kau baik-baik saja, Nak?” tanya Doni dengan lembut.
Chiara mengangguk dengan pasti dan membuka tas. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan memberikannya kepada Doni dan Ginting. “Ini, Om. Aku perlu Om Doni dan Om Ginting memeriksa dulu semuanya sebelum memberikannya kepada pengacara trio kwek-kwek itu.”
Ginting tertawa geli mendengar ucapan Chiara dan mengambil kertas-kertas itu dari tangan Doni. Ia membaca dengan cermat tulisan di atas kertas yang ditulis dengan tulisan tangan yang rapi, kemudian memberikannya kepada Doni. Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan perasaan apapun.
Doni membaca isi kertas-kertas itu dan setelah selesai, ia mendongak dan menatap Chiara sambil tersenyum lebar. Ia meletakkan kertas-kertas itu di atas meja dan bertepuk tangan.
“Kau hebat, Chia!” puji Doni senang. “Semua yang kau tulis akan membentengimu dari sesuatu yang buruk yang mungkin dilakukan olehnya. Bagimana pun, usia kalian berdua tepaut sangat jauh dan kami sedikit khawatir.”
“Yah, Jovan bukan laki-laki sembarangan. Sudah jelas dari sisi umur, dia adalah laki-laki dewasa yang matang, dari sisi pengalaman sudah jelas dia telah melakukan segala hal yang perlu dilakukan hingga kerajaan bisnisnya bisa berkembang seperti yang kita tahu, dan dari segi finansial, yah, dia memiliki kekayaan yang mungkin nilainya tidak cukup dihitung dengan kalkulator,” tambah Ginting menegaskan.
Chiara tersenyum senang. Ia tidak bisa tidur semalaman, memikirkan apa yang harsu dilakukannya agar dia tidak menjadi satu-satunya pihak yang “menderita” dalam pernikahan yang tidak diinginkannya ini. Ia mungkin terjebak dalam situasi tidak menguntungkan, tetapi ia berkeras tidak mau tenggelam.
Kertas-kertas yang ditulisnya semalaman sampai menjelang subuh itu, berisi syarat-syarat apa saja yang akan diajukannya kepada Jovan dan ia juga memberi kesempatan kepada Jovan untuk mengajukan syaratnya supaya keadaan menjadi adil untuk kedua belah pihak.
“Baiklah, Om, jadi kapan mereka meminta kita untuk memproses pernikahan ini?” Chiara agak tergagap ketika menyebut kata “pernikahan”.
“Mereka belum mengatakan apa-apa,” jawab Ginting sambil menggelengkan kepala. “Kita akan menunggu. Sementara ini, sepertinya mereka akan membereskan dulu masalah perusahaan.”
“Mereka akan mengurus masalah pendanaan baru agar perusahaan bisa kembali beroperasi dan membentuk dewan direksi dengan Jovan duduk sebagai pembina sekaligus konsultan pengembangan bisnis. Menurut para pengacaranya, PT. Buana Biru tidak akan mengubah nama perusahaan. Itu tetap akan berdiri dengan nama Ershan Persada.”
Mata Chiara berkaca-kaca. Jovan benar-benar mengabulkan permintaannya dan dia tidak menunda apapun. Sedikit perasaan simpati menyelinap ke dalam hati Chiara. Hanya beberapa saat, sebelum ia menepisnya kembali.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Chiara takut menghadapi segalanya. Ia sadar, dengan menyetujui pernikahan dengan Jovan, ia akan kehilangan segalanya. Ia kan terikat pada sesuatu yang tidak dikenalnya, dunia pernikahan. Ia terlalu muda untuk hal itu dan calon suaminya bahkan jauh lebih tua usianya.
Chiara berhitung. Berapa perbedaan usia mereka? Kurang dari dua bulan lagi adalah ulangtahunnya yang keduapuluh dan saat itu perbedaan usia mereka adalah enambelas tahun. Oh Tuhan. Chiara merasa ia akan menikahi seorang laki-laki yang lebih pantas disebutnya Om.
Masalahnya adalah, Jovan sama sekali tidak tampak seperti seseorang yang pantas disebut Om. Chiara bahkan curiga kalau dia memalsukan usia sebenarnya. Mungkin saja dia sebenarnya baru berusia 28 atau paling tua 30 tahun? Usia yang diperkirakan oleh Chiara itu saja masih jauh di atas usianya sendiri, tetapi dengan penampilan seperti Jovan, adakah yang percaya kalau usianya sudah 36 tahun?
Jovan sangat ... muda. Ketenangan dan sikapnya yang dingin mungkin membuat dia terlihat lebih dewasa, tetapi secara penampilan dan fisik, dia akan membuat seorang idol K-pop yang baru debut menjadi minder.
Chiara menghela napas. Baiklah, ambil saja sisi positifnya. Ia akan menikah dengan seorang laki-laki yang usianya hampir separuh lebih tua dari usianya sendiri tetapi berpenampilan sempurna seperti layaknya seorang idol K-pop yang baru memulai debut karena ketampanannya memang patut dipuji dan dikagumi. Oh Tuhan, Chiara menampar dirinya sendiri secara batin. Sekarang aku malah memuji-mujinya. Sadar Chiara!
“Kalau begitu, beritahu aku tentang perkembangannya, Om. Sementara menunggu, aku juga akan mengurus pendaftaran kuliahku. Ada beberapa berkas yang harus kulengkapi untuk administrasi kampus.”
“Kau yakin, tetap akan menikah dengan Jovan?” tanya Ginting, kali ini dengan nada khawatir yang sama sekali tidak berusaha disembunyikan olehnya. Ia berpikir, mungkin masih bisa mencari celah untuk menghindari pernikahan itu, meskipun ia sendiri sma sekali tidak yakin, tetapi ia dan Doni bisa mencoba lebih baik demi Chiara. “Kami ... akan mencari cara lain untuk membatalkan atau mengubah perjanjian itu. Kami kurang keras berusaha sebelumnya, tetapi sekarang, membayangkan kau menikah dengannya, aku merasa sedikit ... khawatir.”
Doni memeluk bahu Chiara. “Kami bersyukur, Ershan memiliki seorang putri sepertimu, Chia. Kau gadis yang hebat dan kuat. Namun, kami seharusnya berusaha lebih keras lagi untukmu.”
Chiara tersenyum. Miris. “Tidak apa-apa, Om. Semua yang harus kulakukan, akn kulakukan. Om tidak prlu khawatir. Aku bukan anak kecil lagi dan aku tahu dengan jelas apa yang akan kuhadapi dan jalani nantinya. Percayalah, Papa tidak mungkin menjerumuskan aku pada tempat yang berbahaya. Papa mungkin sedikit ceroboh, terlalu percaya diri, atau terlalu berani berspekulasi, tetapi aku tetap yakin semua didasari dengan niat yang baik.”
Ginting dan Doni saling melempar pandang. “Kau tahu, Chia, kau selalu bisa mengandalkan kami untuk apapun. Apapun yang terjadi, kami akan selalu mendukungmu dan berusaha keras memastikan kau aman dan nyaman.”
“Aku tahu, Om, aku juga akan mengandalkan Om berdua, karena sekarang, memang aku hanya memiliki kalian berdua.”
Ginting dan Doni tersenyum. Namun, kekhawatiran itu tidak juga hilang.
***o*o***