“Ini pasti gila!”
Ginting membanting setumpuk berkas ke atas meja kerjanya yang memang sebenarnya sudah berantakan seolah-olah terjadi badai lokal di daerah itu. Beberapa kertas, pensil, dan sebuah buku memo terlempar ke lantai ketika tumpukan berkas itu menimpa meja. Ginting tidak peduli apalagi berusaha membereskan segala kekacauan itu. Ada hal besar yang jauh lebih kacau yang harus segera diatasi.
Doni, yang saat Ginting masuk membawa badai baru ke dalam ruangan dengan tumpukan berkas—entah apa dan membantingnya dengan suara keras, mengangkat kepalanya yang sudah sejak satu jam lalu ditumpukan di atas meja dengan mata terpejam dan napas tersengal-sengal.
Doni mempunyai penyakit asma turunan yang sesekali kambuh, terutama ketika ia merasa terlalu kelelahan, stress, atau sekedar merasa cuaca terlalu dingin. Namun, sampai sejauh ini, meskipun pekerjaannya sebagai pengacara cukup sibuk dan melelahkan, ia masih merasa cukup dengan meminum obat rutinnya dan beristirahat memejamkan mata sejenak, maka ia akan merasa baik-baik saja.
Kali ini, serbuan panggilan telepon sejak pagi, pesan suara, pesan singkat, sampai surat elektronik yang masuk, membuat telepon pintarnya nyaris menjadi sebodoh dirinya yang pada akhirnya terjebak dalam sesak napas parah yang membuat ia harus menelan sekaligus dua butir obat dan tidur dengan kepala menelungkup di atas meja dan sekarang lehernya nyaris patah karena pegal.
Ginting menarik kursi di seberang meja tempat Doni sekarang menatapnya dengan bodoh dan membanting dirinya sendiri ke atas kursi itu. Untung saja kursi itu adalah kursi dengan kualitas nomor satu yang mampu menahan beban berat, bahkan untuk beban seberat 80 kilogram seperti Ginting.
“Jangan mati sekarang, Don. Ada 578 nyawa yang harus kita urus secepatnya, sebelum mereka meledakkan gedung ini dengan bom rakitan dan bahkan polisi pun tidak akan mampu menangkap mereka,” sergah Ginting. “Aku khawatir pada akhirnya kita benar-benar harus berhadapan langsung dengan mereka dan memasang badan untuk melindungi Chiara.”
“Tapi, Gin, mengapa tiba-tiba Chiara mengubah keputusannya setelah bertemu langsung dengan Jovan? Apa Jovan memperlakukannya dengan tidak hormat atau menyinggung Chiara? Gadis itu seringkali tidak terduga, tetapi kali ini aku benar-benar tidak mengerti,” ujar Doni bingung. Ia mengambil obatnya dan menyemprotkan isinya ke dalam mulut untuk melegakan jalan napasnya yang tersengal-sengal.
“Aku tidak tahu, Don. Chiara juga menolak mengatakan apapun kepadaku dan tiba-tiba saja, BUM! Semua meledak. Namun, satu hal yang aku yakini, Don, seseorang seperti Jovan tidak mungkin melakukan hal-hal tidak senonoh kepada wanita manapun, apalagi kepada Chiara yang mungkin dikiranya akan menjadi istrinya. Dia laki-laki terhormat dan semua orang tahu reputasinya yang baik tanpa cela.”
“Oh Tuhan, ini benar-benar gila,” sergah Doni kesal.
“Minum obatmu dan segera bergerak dari kursi itu, Don. Jangan membuatku harus memesan peti untuk mengangkut tubuhmu yang mati, bukan karena semua masalah ini tetapi karena overdosis obat asmamu itu.”
“Diam kau, Gin!” balas Doni lemah. “Aku tidak perlu menunggu sampai mereka mengubur kita hidup-hidup dalam reruntuhan gedung ini, karena sekarang saja aku sudah nyaris terkubur dalam caci maki, keluhan, dan tangisan mereka. Obat ini bahkan kehilangan fungsinya sekarang.”
Ginting mendengkus, tetapi tidak berdaya untuk menepis ucapan Doni. Sejak tengah malam tadi, ia dan Doni sudah dihujani oleh telepon, pesan, dan bahkan beberapa orang yang nekat, mendatangi rumah mereka dan membuat seluruh keluarga mereka gelisah dan terganggu.
Doni yakin, ini pasti ulah para pengacara PT. Buana Biru dan tentu saja, the Boss—Jovan Drew Orion. Namun, lebih dari itu, Doni dan Ginting tahu apa alasan di balik kegilaan yang harus mereka lewati hari ini sampai beberapa minggu bahkan mungkin beberapa bulan ke depan. Chiara. Gadis itu penyebabnya.
Entah apa yang telah terjadi antara Chiara dan Jovan kemarin, tetapi Doni dan Ginting, hal apapun itu, pasti bukan sesuatu yang menyenangkan dan itu sebabnya sekarang mereka harus menhadapi semua kehebohan ini.
“Aku akan menghubungi Chiara,” ujar Ginting sambil mengambil teleponnya dari saku pantalon. Ia penasaran dengan apa yang terjadi di antara Chiara dan Jovan dan membutuhkan setidaknya sedikit penjelasan meskipun sebenarnya ia sudah bisa meraba kejadiannya. “Sialan! Benda ini kehabisan baterai dengan sangat cepat sejak tadi malam.”
Ginting menumbukkan kepala ke meja dan membuat Doni terkekeh. Ia berdiri dari kursi untuk mengambil pengisi daya, ketika tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan.
Chiara berdiri di depan Ginting dan Doni dengan wajah merah padam dan mata berair. Ia kelihatan kusut dan gemetar.
“Om!” seru Chiara. “OM!”
Sebelum Ginting sempat menjawab atau bertanya, ia ditubruk oleh Chiara yang tangisnya meledak di dadanya. Doni berdiri dengan cepat menghampiri Ginting yang terlihat kaget sambil memeluk Chiara yang terisak-isak.
“Hei, hei, hei, Chiara? Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanya Doni sambil mengusapi punggung Chiara pelan. “Apa kau sakit?”
Chiara menjauhkan diri dari pelukan Ginting dan berusaha sekuat tenaga meredakan tangisnya sendiri. Ia menghapus airmata dan pipinya yang lembab. Chiara menatap kedua laki-laki di depannya dan merasa malu. Bukan malu karena ia telah menangis seprti anak kecil di depan mereka. Bukan. Bagaimana pun Doni dan Ginting adalah bagian dari keluarganya. Mereka melihat bahkan sebenarnya mendampingi Chiara tumbuh. Ia malu, karena melihat bagaimana pucatnya wajah mereka. Mata yang memerah, kantong mata, dan raut lelah di wajah Doni dan Ginting, merefleksikan kebodohan dan keegoisannya kemarin.
“Aku ... mereka datang ke rumah dan menandai semuanya, Om,” ujar Chiara terbata-bata. “A-aku pikir mereka tidak akan melakukannya seekstrim dan secepat itu.”
“Apa? Siapa yang menand ..., ouh, orang-orang dari PT. Buana Biru?” tanya Ginting. Ia sudah tahu jawaban pertanyaannya bahkan sebelum menyelesaikan kalimatnya.
Doni menarik Chiara lembut dan membawanya duduk di kursi. Ia membuat teh hangat untuk Chiara agar gadis itu bisa menenangkan diri. Banyak hal yang harus dibicarakan oleh mereka terkait kejadian hari ini dan beberapa hari ke depan.
Ginting menarik kursi di sebelah Chiara dan menunggu sampai gadis itu benar-benar tenang. Ia memberi isyarat kepada Doni agar mengunci pintu dan menurunkan tirai selagi mereka berbicara.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Chia? Kau sudah bertemu dengan Jovan, kan?” tanya Ginting berhati-hati, setelah melihat Chiara menghabiskan teh yang dihidangkan oleh Doni dan mengatur napasnya. “Lalu, apa yang terjadi? Kau membuat kami khawatir, tetapi kau sama sekali tidak mau mengatakan apa-apa kepada kami, sampai pagi ini kami menerima pemberitahuan soal pengambialihan. Kau ... berubah pikiran dan menolak pernikahan?”
Chiara mengangguk sambil tetap menunduk. Ia terlalu malu kepada dirinya sendiri dan kepada dua orang laki-laki di depannya. “Aku ... menolaknya, Om dan kurasa caraku benar-benar tidak baik.”
Doni dan Ginting saling melempar pandang. Sudah pasti itu yang terjadi. Doni menyentuh tangan Chiara yang saling bertaut di atas meja. Ia tahu, tidak mungkin menyalahkan Chiara atas penolakannya kepada Jovan yang menyebabkan semua kekacauan yang terjadi sekarang. Sebagian besar, tidak, mungkin hampir seluruhnya adalah kesalahan Ershan.
“A-aku sama sekali tidak menyangka dia bisa melakukan semua ini dalam hanya hitungan jam saja,” gumam Chiara. “Dia pasti gila. Aku juga gila karena tidak tahu siapa yang kuhadapi dan bisa-bisanya aku menantangnya.”
“Chiara, apa dia menyakitimu? Menyentuhmu di tempat yang tidak seharusnya?” tanya Doni cemas. Ia memiliki seorang anak perempuan yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih muda dari Chiara dan sebagian besar waktunya dihabiskan dengan mencemaskan putrinya itu yang kini sudah menjadi remaja dewasa.
“Tidak, Om, dia sangat sopan dan bahkan sedikit menjaga jarak denganku. Ketika aku menolaknya, dia hanya tertawa dan mengangguk. Kemudian ....”
“Dia menjungkirbalikkan kita,” gumam Doni masygul. “Aku pikir kau akan menerima pernikahan ini, seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, Chia. Well, bukan berarti kau tidak boleh berubah pikiran.”
“Aku ... entahlah, Om. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku melakukan hal itu. Aku bertemu dengannya untuk mengatakan bahwa aku menerima pernikahan dengannya dengan beberapa syarat yang akan aku ajukan. Namun, ketika bertemu dengannya secara langsung, tiba-tiba saja aku merasa takut dan melakukan hal bodoh dengan menolak semuanya.”
Ginting dan Doni saling melirik. Mereka tahu, pasti tidak mudah untuk Chiara menghadapi seorang laki-laki seperti Jovan. Dia hanya seorang gadis menjelang dewasa, sedangkan untuk ukuran Ginting dan Doni saja, mereka tidak yakin akan memiliki kepercayaan diri berhadapan langsung dengan Jovan.
“Mereka akan memecat semua karyawan perusahaan Papa?” tanya Chiara dengan suara serak. “Mengapa mereka melakukannya? Mereka bisa saja tetap mempekerjakan semua karyawan itu.”
“Itu sudah di luar wewenang kita untuk tahu apa yang akan mereka lakukan. Ketika kau memutuskan untuk menolak semua isi kontrak itu, maka perusahaan dan semua aset milik ayahmu otomatis jatuh ke dalam kepemilikan mereka. Kita hanya harus bersiap untuk meninggalkan semuanya,” sahut Ginting sambil menatap langit-langit ruangannya. Ia mungkin tidak akan berada di sini lagi beberapa hari ke depan.
“Mereka sangat kejam. Mereka mengirim pemberitahuan kepada semua karyawan itu di malam hari, saat semuanya akan beristirahat, bahkan mungkin sebagian besar sudah tidur. Mereka diminta untuk mempersiapkan surat pengunduran diri dalam waktu 2x24 jam atau bagi yang tidak melakukannya, akan dinyatakan sebagai pemecatan sepihak tanpa pesangon.” Chiara mengingat kembali isi pesan yang dibeberkan oleh salah satu karyawan perusahaan ayahnya yang datang menemuinya tadi pagi.
“Mereka memang kejam, dari sisi kemanusiaan—meski pun sebenarnya, mereka tetap bersedia memberikan surat rekomendasi yang baik untuk semua karyawan dan banyak dari mereka menerima pesangon lebih besar karena prestasi kerja sebelumnya. Namun, dari sisi profesional, mereka tidak salah. Kita tidak bisa menuntut mereka atas tindakan sewenang-wenang, karena menurutku mereka sudah mengatur semuanya dengan baik. Mereka melakukan yang terbaik untuk meminimalisir kerusakan dan kerugian kepada semua pihak.”
“Mereka tidak dipecat, Om?”
“Tidak, tentu saja tidak. PT. Buana Biru bukan jenis perusahaan yang menjalankan bisnis dengan cara seperti itu. Mereka berkembang, bertahan, dan menjadi semakin besar dan terus membesar karena mereka selalu mengutamakan karyawan dan mendahulukan kepentingan mereka.”
Chiara tepekur. Ia membayangkan bagaimana rasanya menanggung beban perasaan bersalah kepada ratusan orang yang dikorbankan oleh keegoisannya. Chiara menegakkan tubuh dan menoleh kepada Ginting. “Dia mengatakan bahwa aku telah mengorbankan banyak orang. Mengapa dia mempermainkan aku?”
“Memangnya apa yang dia katakan?” tanya Ginting bingung.
“Dia bilang, apa yang aku lakukan akan membuat banyak orang menderita karena aku mengorbankan mereka untuk kepentinganku. Papa berusaha untuk tetap bisa membayar gaji mereka dengan layak dan mempertahankan kredibilitas perusahaan supaya tidak ada karyawan yang terpengaruh oleh keadaan perusahaan, tetapi aku malah mengacaukan usaha papaku.”
Airmata Chiara mengalir ke pipinya selagi itu mengucapkan kalimat-kalimat itu. Ia merasa sesak. Jovan mempermainkannya. Laki-laki itu tahu bahwa dia berada di atas angin dan dengan seenaknya melakukan permainan mental untuk membuat Chiara menyerah.
Ginting dan Doni saling bertukar pandang. Apa yang mereka khawatirkan ketika Chiara mengatakan bahwa dia ingin menemui Jovan secara langsung, benar-benar terjadi. Mereka ingin memberi peringatan kepada Chiara, tetapi mengingat bagaimana sifat Chiara yang mereka kenal, pada akhirnya mereka malah sepakat untuk menutup mulut dan membiarkan Chiara sendiri menghadapi kenyataan.
“Dia berbohong, Om. Dia sengaja melakukannya supaya aku merasa terbebani rasa bersalah. Benar begitu, kan, Om?” tanya Chiara sambil sesenggukan. Ia merasa seperti orang bodoh.
Ginting menepuk-nepuk pelan kepala Chiara. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Sekarang kita harus berpikir bagaimana menghadapi semua ini. Banyak hal yang harus kita lakukan dan tidak ada waktu lagi untuk memikirkan semuanya. Kau pulanglah, Chia, dan beristirahat. Serahkan semua urusan ini kepada kami.”
Chiara menatap Ginting dan Doni dengan mata basah. Ia semoat melihat obat penghilang sesak napas milik Don di meja, ketika datang tadi dan perasaan bersalah membuatnya merasa semakin kacau. Bagaimana mungkin ia melakukan semua ini kepada mereka yang telah membantu dan menjaganya dengan baik? Di luar semua keryawan perusaahaan papanya yang sekarang sedang menghadapi kepanikan, ada Ginting dan Doni yang sudah kelelahan dan juga harus bersiap kehilangan pekerjaan mereka kalau sampai perusahaan papanya ini diambil alih.
Chiara mengepalkan kedua tangan dan meninju meja pelan. “Laki-laki tua itu, berani-beraninya dia mempermainkan aku. Om, beri aku alamat Jovan. Sekarang!”
“Untuk apa, Chia?” tanya Ginting terkejut. Jangan, jangan lagi, batin Ginting dalam hati. Ia takut Chiara akan membuat hal-hal menjadi semakin memburuk karena Chiara tidak dapat menahan kemarahannya. “Sebaiknya kita tidak menambahkan minyak ke dalam api sekarang. Om khawatir ....”
“Tidak, Om, aku tidak akan melakukan hal bodoh yang lain. Sudah cukup semua kehebohan dan masalah yang kutimbulkan sekarang ini. Aku hanya ingin memperbaiki atau kalau aku bisa, membatalkan semua kerusuhan ini,” jawab Chiara sambil menundukkan kepala.
Doni menghela napas diam-diam. Ia tidak ikut berbicara sejak tadi, karena terlalu bingung dan kalut. Ia mendekati Chiara dan meneglus bahu gadis itu. “Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan menemui Jovan sekali lagi dan bernegosiasi, kalau memungkinkan. Aku akan ... membatalkan keputusanku kemarin.” Chiara memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan menggeleng-gelengkan kepala. “Oh, ini benar-benar konyol. Aku sangat bodoh. Sekarang, Jovan pasti akan semakin mengangapku remeh dengan semua tindakan plin-plan ini. Memalukan.”
“Tidak, Nak. Kau melakukan hal yang benar, kalau kali ini kau menemuinya untuk mengatakan bahwa kau menerima pernikahan itu. Kau menunjukkan kebesaran hati dan keberanian memperbaiki apa yang kau anggap salah,” ujar Doni lembut. “Kau mau ditemani?”
“Tidak, Om. Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Harus bisa.”
***o*o***