Jovan mengangkat kedua alisnya. “Dia mengatakan hal seperti itu tentangku?”
Luki menunduk dan menganggukkan kepala tanpa berani menatap kepada Jovan. Dalam hati ia memaki kedua rekannya yang tiba-tiba mempunyai kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan ketika Luki mengajak mereka memberikan laporan hasil pertemuan mereka dengan Chiara dan dua orang pengacaranya. Luki menghadap Jovan sendirian.
Luki adalah jenis orang yang pandai berbicara, luwes dalam bergaul, dan piawai dalam berdebat. Begitu juga dengan kedua rekannya—Tomas dan Dipta. Mereka diterima bekerja sebagi pengacara utama di PT. Buana Biru karena kemampuan mereka mengungguli ratusan pelamar lain, bahkan banyak di antara para pelamar itu adalah para pengacara dengan jam terbang lebih banyak.
Satu-satunya hal yang membuat Luki, Tomas, dan Dipta tidak bisa menggunakan keterampilan dan keunggulan mereka sebagai pengacara handal PT. Buana Biru adalah Jovan.
Jovan Drew Orion, bukan jenis laki-laki yang suka berbicara banyak. Ia lebih banyak mendengarkan, berpikir, kemudian mengungkapkan isi pikirannya dalam bahasa dan cara yang jelas, tegas, dan padat. Dia tidak bersikap dingin atau arogan kepada para stafnya, tetapi juga tidak bersikap ramah dan bersahabat. Ia memberi jarak, memberi batas dengan sikap santun dan ramah, tetapi tetap terasa dingin dan sulit dijangkau.
Tidak ada yang tahu mengapa Jovan menutup diri dari dunia luar, dengan semua yang dimiliki, kemampuan, dan bahkan kondisi fisiknya yang nyaris sempurna sebagai seorang laki-laki. Dia tidak pernah terlihat menjalin hubungan dengan siapapun lebih dari hubungan bisnis, itupun hanya sedikit sekali orang yang bisa menemui dan berbicara langsung dengan Jovan untuk urusan bisnis, apalagi urusan pribadi. Jovan adalah sebuah pribadi yang penuh misteri, bagi orang-orang yang mengenalnya hanya sepintas lalu, dan bahkan merupakan misteri yang jauh lebi dalam bagi orang-orang yang mengenalnya cukup dekat.
Jovan tidak akan pernah benar-benar menampakkan dirinya untuk urusan publik, kecuali dia sendiri merasa perlu dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan dan untuk apa dia bersedia tampil ke publik. Dia lebih banyak berada di istananya. Melakukan semua pekerjaannya dari kamar kerjanya yang sunyi dan mengatur segala urusan bisnisnya yang mendunia melalui dunia digital. Persentuhannya dengan dunia nayat benar-benar terbatas dan itu pun lebih banyak melalui orang-orang pilihannya.
Jovan mempunyai aura yang sangat kuat. Dia bisa jadi sangat mengintimidasi, tegas, dan dingin. Ucapannya sedikit, tetapi tidak akan ada orang yang berani meragukan kebenaran dan kejelasan apa yang diucapkannya. Seolah-olah, semua orang yang ditunjuk olehnya untuk mewakili dirinya ke publik hanya boneka atau robot yang sudah diprogram dengan sangat baik olehnya.
Luki berdehem untuk memgusir kegugupannya. “Kami menjelaskan segalanya dengan gamblang. Dia mendengarkan dengan baik, kemudian dia mulai mempertanyakan ini dan itu dan ..., yah, kami sama sekali dia bahkan akan berani melontarkan pertanyaan seekstrim itu.”
“Hm, menarik,” gumam Jovan sambil tersenyum tipis. “Jadi, dia adalah seorang gadis yang sulit, ternyata, eh? Apa selama ini kita menganggapnya remeh hanya karena dia adalah seorang gadis yang bahkan belum mencapai usia duapuluh tahun?”
“Ugh, kami hanya sedikit terkejut dengan keberaniannya. Nona Chiara sangat cantik, berpenampilan menarik, dan melihat betapa mungil tubuhnya, saya priadi tidak menyangka bahwa dia ternyata begitu kritis dan blak-blakan. Cra bicaranya juga penuh tekad dan sedikit ... err ... membangkang.”
“Hm, menarik. Aku sudah tahu sedikit tentang kepribadiaannya, dari almarhum papanya ketika kami membuat perjanjian itu dan mendengar apa yang kau ceritakan sekarang, kurasa almarhum Ershan tidak terlalu melebih-lebihkan juga. Dia ingin bertemu denganku?”
“Ya, Tuan Jovan.”
“Kapan dia ingin aku menemuinya?”
“Katanya, eh, dia yang akan menentukan waktu dan tanggalnya. Dia cukup sibuk akhir-akhir ini dan akan mengabari kami saat dia mempunyai waktu luang. Dia meminta agar kami mengatakan kepadamu untuk menunggu. Kami mengatakan bahwa sebaiknya kami yang mengatur jadwal pertemuan itu, tetapi dia menertawakan kami dan mengatakan bahwa dia tidak akan datang kalau kami tidak mau mengunggu kabar darinya. Dia berkeras, kita yang harus mengikuti kemauannya, bukan sebaliknya.”
Jovan tidak dapat menahan senyumnya. Menarik, pikirnya. Ia tidak pernah menunggu, apalagi diminta untuk menunggu. Pada kenyataannya, semua orang menunggunya. Gadis bernama Chiara Stasya ini berbeda. Jovan tahu bahwa Chiara berbeda.Almarhum Ershan—Papa Chiara, telah mengatakan kepadanya sifat-sifat putrinya yang sulit ditebak dan saat itu sejujurnya Jovan tidak terlalu tertarik pada penggambaran tentang Chiara. Ia hanya memikirkan sesuatu yang lain yang memang benar-benar membuatnya meyakini bahwa keputusannya menyetujui perjanjian itu adalah benar.
“Tidak apa-apa. Kalian hanya perlu menunggu dia memberi kabar, kemudian memberitahu aku kapan dan di mana dia ingin bertemu. Aku akan menunggunya. Jangan menghubungi dia lagi, sebelum dia yang menghubungi kalian. Kalau dia ingin bermain, maka kita akan ikut bermain. Begitulah cara yang benar untuk menghadapi seorang gadis kecil. Lagi pula, kurasa dia juga masih berduka atas kepergian papanya yang begitu tiba-tiba dan sudah selayaknya kita memberi dia waktu untuk sedikit pulih, sebelum mengikat atau mengambil semua yang dimilikinya.”
Luki merasa tenggorokannya kering dan ia benar-benar ingin meninju kedua rekannya karena berani memaksanya melaporkan hasi pertemuan mereka dengan Chiara kepada Jovan, sendirian. Tomas dan Dipta pasti sedang berada di kafe langganan mereka sekarang, dengan segelas kopi di tangan masing-masing sambil membicarakan berbagai kemungkinan yang dihadapi oleh Luki saat ini.
Luki meminta diri setelah melaporkan beberapa hal lain tentang perusahaan kepada Jovan dan langsung keluar dari gedung PT. Buana Biru menuju kafe Enchante yang terletak di belakang gedung bertingkat 32 itu. Ia memerlukan kopi yang paling pahit dan duduk di ruangan dengan pendingin ruangan disetel maksimal. Menghadapi Jovan selalu membuatnya berkeringat dingin, meskipun dia sudah bekerja selama hampir delapan tahun sekarang.
Jovan tetap duduk di atas sofa sambil berpikir, setelah Luki meminta diri untuk kembali ke ruangannya. Ia mengambil sebuah foto dari dalam map di laci meja kerjanya yang selalu terkunci dan menatap foto Chiara di tangannya. Dalam foto itu, Chiara tersenyum ke arah kamera, dengan ceria dan sumringah. Jovan mengelus foto itu dan menghela napas.
“Tidak semudah yang kau bayangkan, Tuan Muda?”
Jovan menoleh dan melihat seorang laki-laki setengah baya masuk ke ruangannya dengan membawa sebuah tas hitam berbentuk kotak di tangannya. Laki-laki itu menutup pintu di belakangnya dan meletakkan tas itu di atas meja kerja Jovan. Ia mengelurakan sebuah botol kaca dari dalam tas dan menuangkan isinya ke dalam sebuah gelas berwarna perak. Jovan tersenyum dan mengangguk. Laki-laki itu—Arkes Brunn, menyodorkan gelas perak itu dan mengeluarkan sebuah apel dan sebuah roti dalam dalam tas dan memberikan semuanya kepada Jovan.
“Aku terlalu menganggap enteng semua ini, kan?” tanya Jovan sambil menyesap cairan di gelas perak. Ia menatap apel berwarna merah di atas meja tanpa minat. “Mereka tidak suka memberiku kemudahan.”
Arkes tertawa. “Mereka menyayangimu, Tuan, tetapi mereka juga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga segalanya berada di jalur yang benar. Kau beruntung karena mereka ....”
“Oh, Arkes, aku tahu, aku tahu,” potong Jovan dengan nada kesal. “Aku beruntung karena mereka masih bersedia memberiku kesempatan karena aku adalah yang terbaik di kelasku bahkan mungkin di seluruh angkatan. Namun, aku benar-benar hampir kehilangan kesabaran. Ini sudah terlalu lama dan aku takut gadis kecil itu akan membuatku kehilangan kesempatan untuk kembali karena sifat keras kepalanya yang menyulitkan.”
“Tidak. Kau adalah yang paling penyabar dari yang pernah aku kenal, tetapi kali ini, bagiku, kau hanya bosan dan lelah. Kau sudah terlalu lama menunggu dan ketika akhirnya kesempatan itu datang, kau sudah terlalu tidak berminat. Aku sangat mengenalmu, Tuan Jovan,” ujar Arkes sambil terkekeh.
“Yah, mungkin aku harus mulai berpikir untuk menikmati saja semuanya selagi menunggu mereka selesai dengan permainannya. Lagi pula, kurasa gadis kecil itu juga cukup menarik.”
Arkes tersenyum tipis. “Kau bukan jenis yang seperti itu. Lagipula, kau sudah menemukannya. Setidaknya, itu berarti kau sudah melewati satu tahap lagi dan bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Kenapa tidak bersabar sedikit lagi dan menikmati lagi semua prosesnya. Kurasa ini akan menjadi suatu tahap yang menyenangkan untuk dilalui.”
“Tahap selanjutnya pasti akan lebih sulit, kan? Jangan coba menghiburku, Arkes, aku sudah tahu jawabannya dari senyummu itu,” rengut Jovan sambil melemparkan apel kepada Arkes yang menangkapnya dengan gesit. “Aku tidak mau makan. Mendengar cerita Luki sajan sudah membuatku kenyang.”
Arkes tidak mengatakan apa-apa. Ia menaruh gelas ke dalam tas dan menggigit apel yang dilemparkan oleh Jovan kepadanya, kemudian berdiri dan dan menepuk bahu Jovan selagi berjalan melewatinya untuk keluar dari ruangan itu. “Jangan pulang terlalu larut, Tuan. Nyonya Mia membuat sup krim dengan udang dan salad sayuran hijau kesukaanmu. Jangan membuatnya cemberut dengan membiarkan makanannya menjadi dingin.”
Jovan hanya mendengkus dan menatap keluar jendela ruangannya yang berada di lantai 32. Hamparan langit berwarna biru dengan awan-awan berwarna putih yang bergerak lambat seperti sekumpulan kapas membuatnya merasa tenang. Jovan memejamkan mata dan menyandarkan tubuh pada kursi.
Jovan teringat percakapannya dengan Ershan Riyadi dua tahun yang lalu.
“Mengapa putriku, Tuan Jovan? Aku bisa mengembalikan yang kau tanamkan di perusahaanku sebelum waktu perjanjian kita berakhir dan kalau aku tidak bisa pun, kau hanya tinggal mengambil alih perusahaanku.” Ershan Riyadi merasa gusar. “Aku ... tidak bisa menjual putriku.”
“Kalau kau bisa membayarnya tepat waktu, itu berarti kau tidak perlu menyerahkan putrimu kepadaku, kan?” jawab Jovan dengan tenang. “Menjadikan putrimu sebagai jaminan, akan membuatmu berusaha lebih keras untuk mengembalikan pinjamanmu tepat waktu. Aku hanya memberimu motivasi. Lagipula, ketika kau tidak mampu membayar pinjamanmu, itu artinya kau sepenuhnya bangkrut dan kalau itu sampai terjadi, bagaimana dengan kehidupan yang harus dijalani oleh putrimu? Masa depannya?”
Ershan Riyadi tampak kebingungan sekarang. Jovan menepuk bahunya lembut. “Percayalah, aku hanya ingin memberimu motivasi. Lagipula, sebagai menantu—kalau kau gagal memenuhi janjimu sendiri, aku bukanlah pilihan yang buruk. Aku bukan hanya mampu secara finansial, tetapi aku juga tidak memalukan untuk menjadi pendamping putrimu.”
“Putriku baru berusia 19 tahun, dua tahun ke depan,” gumam Ershan Riyadi dengan tatapan kosong. “Namun, sebenarnya, memang sempat terpikir olehku untuk mencarikan calon suami untuknya karena aku tidak yakin dia akan mampu mencarinya sendiri. Dia terlalu serius dan sering mengatakan bahwa dia tidak bisa meninggalkan aku sendiri. Hal itu membuatku seringkali berpikir, bagaimana kalau suatu saat malah aku yang harus meninggalkannya?”
“Seorang suami akan menjaganya dengan baik, apabila suatu saat kau pergi. Aku bisa melakukannya. Usiaku dengannya terpaut cukup jauh dan kurasa, mendengar cerita-ceritamu tentang dia, sudah seharusnya dia mendapatkan pendamping yang lebih dewasa dan mapan.”
Ershan menatap Jovan dengan tatapan seperti sedang menilai. “Ada benarnya, semua yang kau katakan. Baiklah, aku setuju dengan semua syaratmu. Namun, ada satu hal yang ingin kuminta padamu, kalau kau tidak keberatan.”
“Katakan saja, akan aku kabulkan selama itu tidak merugikan untuk siapapun. Kita sudah saling mengenal dengan baik dan kerjasama ini kuharapkan dapat terjalin dengan baik dan lancar.”
“Aku mempercayaimu. Bukan hanya karena reputasi yang kau miliki di dunia bisnis, tetapi karena kau melihat ketulusan dan kesungguhanmu. Seorang Ayah sudah pasti menginginkan yang terbaik untuk putrinya dan kurasa untuk putriku, kau adalah pilihan yang paling tepat. Bahakan mungkin, seandainya aku dapat membayar pinjamanku ini pun, aku akan tetap meminta kau menikahi putriku, kalau kau berkenan. Namun, aku minta, tolong rahasiakan hal ini dari siapapun. Istri dan anakkua tidak perlu tahu soal ini. Hanya kita berdua. Bertiga dengan Anda, Pak Arkes.”
Jovan menoleh kepada Arkes dan mengedipkan mata, melihat tatapan Arkes yang tampak tidak menyetujui apa yang sedang dilakukannya. Arkes mengangguk sopan kepada Ershan. Jovan tersenyum tipis dan memberi isyarat bahwa ia akan menceritakan semuanya nanti, setelah Ershan pergi. Arkes berhak untuk mengetahui penyebab mengapa dia melakukan semuanya kepada Ershan Priyadi.
Jovan menatap bayangannya di cermin dan mengeja nama Chiara Stasya. Ia berada di tahap selanjutnya, setelah Chiara setuju dengan pernikahan. Gadis itu akan setuju. Harus setuju. Jovan mengelus kaca dan menggelengkan kepala.
***o*o***