Chiara tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh ketiga pengacara dari PT. Buana Biru yang sedang duduk di depannya sekarang. Mereka memperkenalkan diri kepadanya sebagai perwakilan pribadi dari Jovan Drew Orion sendiri.
Ketiga pengacara itu memperkenalkan diri sebagai Pradipta—ia meminta Chiara memanggilnya Dipta saja, Luki Atmaja, dan Tomas Purba. Ketiganya berusia rata-rata 40 tahun, merupakan trio yang lebih banyak mewakili Jovan dalam urusan pribadinya. Perjanjian Jovan dengan Ayah Chiara, karena menyangkut dengan kehidupan pribadi Jovan yaitu pernikahan, maka diangap sebagai urusan pribadi.
“Mengapa dia tidak mengadakan sayembara saja untuk mencari istri?” sergah Chiara kesal. “Dia masih muda, tampan, kaya raya, dan melihat bahwa dalam usianya sekarang dia sudah bisa memimpin sebuah kerajaan bisnis yang mendunia, aku yakin dia bukanlah orang yang bodoh.”
“Usianya sudah 35 tahun,” ujar Dipta sambil menghela napas.
“Tapi dia tampan. Dan kaya raya,” sergah Chiara.
“Kau mengakui kalau dia tampan, lalu mengapa kau menolak menikahinya?” tanya Tomas sambil tersenyum penuh siasat. “Ditambah dengan kekayaan yang dimiliki olehnya, kau bisa berbelanja ke seluruh kota-kota yang kau inginkan di dunia ini setiap minggu, Nona Chiara.”
Chiara ingin sekali menyambar cangkir berisi teh di depannya dan menyiramkan cairan berwarna coklat yang masih berasap itu ke wajah pengacara berkepala plontos itu untuk menghentikannya tersenyum. Namun, ia hanya meremas kedua tangan di atas pangkuannya kuat-kuat.
“Dia tampan, kaya raya, dan cerdas. Lalu, mengapa dia tidak bisa mencari sendiri calon istrinya? Mengapa harus dengan cara menjebak seorang laki-laki yang sedang berusaha mengatasi masalahnya demi kelangsungan perusahaannya supaya tidak perlu memecat atau mengurangi karyawan dan membuat banyak orang menjadi pengangguran?”
“Dia tidak menjebak ayahmu, Nona. Ayahmu yang mendatanginya dan meminta bantuan kepadanya. Mereka hanya bertemu dua kali dalam sebuah acara pembukaan cabang baru PT. Buana Biru, dan pada pertemuan ketiga, ayahmu mengutarakan maksudnya. Jovan tidak langsung menyetujui. Ia memerlukan banyak waktu berdiskusi dengan kami sebelum akhirnya memutuskan untuk membantu perusahaan ayahmu.”
Chiara menatap kedua pengacara ayahnya yang duduk di sisi lain—Ginting dan Doni, dengan tatapan penuh tanda tanya. Mereka menunduk, tidak berani membalas tatapan Chiara. Mereka sendiri sama sekali tidak tahu kalau Ershan membuat perjanjian itu.
“Mengapa dia membuat perjanjian seperti itu?” tanya Chiara penasaran.
“Kami ... tidak tahu alasannya. Itu terlalu pribadi. Kami bekerja padanya, bukan orangtuanya,” jawab Luki dengan tenang.
“Apa dia pernah membuat perjanjian seperti itu sebelumnya? Kepada siapa saja orang yang meminta bantuan kepadanya, untuk menjadikan Putri mereka sebagai jaminan?”
Dipta, Luki, dan Tomas menghela napas bersamaan. Gadis cantik di depan mereka memiliki penampilan yang halus seperti sebuah boneka porselen. Namun, ternyata dia cukup keras dan spontan.
“Tidak, Nona. Selama ini, Jovan tidak pernah langsung membuat perjanjian dengan siapapun yang meminta tolong kepadanya. Semua urusan yang berhubungan dengan perusahaan, sudah diurus oleh para personil yang tepat pada posisinya masing-masing. Jovan tahu siapa yang dapat dipercayainya dan dalam bidang apa. Dia tidak pernah gagal menilai orang-orang di sekelilingnya,” jawab Dipta dengan lugas.
“Lalu, mengapa dia melakukan ini?” tanya Chiara putus asa. Ia emngangkat kedua tangannya ke udara dengan hampa. “Mengapa dia melakukannya kepada ayahku?”
“Ehm, maaf,” sela Doni setelah berdehem pelan. “Aku bukan bermaksud tidak sopan, tetapi kalau boleh aku tahu—mewakili Nona Chiara, apakah ... er ... Tuan Jovan pernah memiliki seorang istri sebelumnya?”
Lagi-lagi, ketiga pengacara itu menggelengkan kepala. “Tidak pernah ada seorang kekasih, apalagi seorang istri,” tegas Luki.
“Kami, err ... jarang sekali, bahkan boleh dikatakan hampir tidak pernah mendengar nama Tuan Jovan Drew Orion sebagai bagian paling utama dari PT. Buana Biru. Setahu kami, PT. Buana Biru dijalankan oleh sekelompok direktur dan pejabat tinggi, tanpa pernah menyebutkan nama Tuan Jovan sebagai seorang pemilik.”
“Yah, dia memang tidak pernah turun tangan langsung ke dalam perusahaan,’ ujar Tomas dengan tenang. “Seperti yang tadi disebutkan oleh rekan kami, Tuan Jovan mempunyai kemampuan menilai dan menempatkan orang-orang yang handal dan dapat dipercaya untuk menjalankan semua rencananya terhadap kelangsungan dan keberhasilan perusahaannya. Dia adalah sutradara, mengendalikan dari belakang layar.”
“Katakan padaku, mengapa pada usianya ini, dengan ketampanan, kekayaan, dan kecerdasannya, dia belum menikah bahkan tidak pernah mempunyai seorang kekasih?” tanya Chiara dengan nada ingin tahu. Ia tersenyum tipis sambil menatap ketiga pengacaranya. “Apa dia ... impoten?”
“Nona,” tegur Dipta sambil merapikan dasinya, berusaha menyembunyikan keterkejutan karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Chiara. “Kami tidak berhak menjawab pertanyaan yang tidak pantas seperti itu.”
“Atau mungkin ... dia seorang gay dan perlu mengambil seorang wanita yang tidak berdaya karena terlibat dalam urusan utang budi kepadanya, sebagai alat untuk menyamarkan identitas seksualnya?”
Tomas hampir menumpahkan air teh dari cangkirnya. Ia meletakkan cangkir dengan penuh kekhawatiran dan bertukar pandang dengan kedua rekannya. Pada awalnya mereka mengira bahwa meyakinkan seorang gadis yang baru lulus SMA satu bulan yang lalu, menjadi yatim piatu seketika saat kedua orangtuanya meninggal bersamaan dalam kecelakaan tragis, dan harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya melibatkan dia dalam urusan utang-piutang yang menjadikan dirinya sebagai jaminan, bukan hal yang terlalu sulit untuk dilakukan.
Mereka mengira akan bertemu dengan seorang gadis yang mudah untuk diyakinkan bahwa menikah dengan Jovan Drew Orion adalah pilihan terbaik untuknya, mengingat situasi yang sedenag dihadapinya sekarang. Lagipula, dari foto yang diberikan oleh Jovan kepada mereka, gadis itu telihat lemah lembut dan mungkin, penurut.
Namun, Chiara Stasya yang ada di dalam foto, sangat berbeda dengan yang berada di depan mereka sekarang. Memang, secara fisik, gadis di depan mereka ini tidak banyak berbeda dengan fotonya, bahkan mungkin lebih baik. Secara perilaku, yah, dia sama sekali tidak lemah lembut apalagi penurut.
Chiara sangat tegas, cerdas, dan berani. Dia tahu apa yang harus dikatakan dan bagaimana cara mengatakannya. Dia membuat tiga orang pengacara di depannya tersedak dan bingung harus menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya dengan suara lembutnya.
Ketiga pengacara di depan Chiara memiliki pemikiran yang sama saat iti. Mungkin, atasan mereka, Tuan Jovan Drew Orion seharusnya tidak meminta Ershan Priyadi menjadikan putrinya sebagai jaminan. Chiara bukan gadis yang mudah dan tampaknya memang tidak bermaksud membuat segalanya menjadi mudah.
“Jadi, kapan aku bisa bertemu dengannya? Calon suamiku?” tanya Chiara, kali ini dengan dagu terangkat dan mata menyorot tajam. “Kurasa, kami perlu berkenalan dulu sebelum menikah, kan? Setidaknya, aku mungkin bisa menilai sedikit, apakah dia mempunyai kelainan yang perlu kuwaspadai. Impoten, gay, atau psikopat? Atau bisa jadi, dia hanya seorang pengecut yang berlindung di balik kekayaan.”
Ginting dan Doni meneguk ludah dengan susah payah. Mereka menatap ke arah ketiga pengacara lawan mereka dan melihat perubahan raut wajah mereka setelah mendengar ucapan Chiara, mereka merasa kasihan.
***o*o***