bc

Samuel (Jerat Pesona Mafia)

book_age18+
166
FOLLOW
1K
READ
mafia
like
intro-logo
Blurb

Seorang gadis manis tengah melaksanakan latihan pramuka tingkat Penegak bersama teman-temannya, Yasmin mendapat tugas memipin pencari jejak bersama tim Angsana. Ia tersesat masuk ke dalam hutan, kemudian terperangkap dalam asrama putra, asrama yang terletak di bawah kaki gunung dengan suhu delapan belas derajat celcius. Asrama itu memiliki seorang mahasiswa laki-laki bernama Samuel Ibrahim. Pemuda tersebut terkenal super nakal.

Segala hukuman di sekolah itu telah ia coba. Yasmin tidak berani keluar dari kamar Samuel karena takut ketahuan Pembina Asrama. Undang-undang di sekolah tersebut, memberi hukuman fatal untuk mahasiswa yang ketahuan mendatangi asrama lawan jenis adalah dinikahkan. Yasmin sering mendengar cerita tentang sosok Samuel dari mentor-mentor mereka, Samuel diberi gelar Sang Maestro karena kenakalannya, Samuel bahkan berani berladang daun terlarang di bawah jendela kamarnya. Bahkan ia memiliki beberapa hektar kebun berisi daun cannabis terlarang.

Asrama Putri kehilangan Yasmin. Semua dikerahkan untuk mencarinya. Samuel memanfaatkan gadis lugu itu untuk kepentingannya, ia menyuruh Yasmin mengantarkan daun kering terlarang yang biasa disebut ganja ke sebuah pasar. Di mana telah menunggu agen penampung gelap.

Pembina Asrama menemukan Yasmin dalam keadaan tidak sadarkan diri, berselimut dengan bibir pucat di kamar Samuel

chap-preview
Free preview
MENYAMAR
“Au!” Suara teriakan kecil disusul tubuh yang membeku ditempat, sesaat setelah seorang pemuda membungkam mulut gadis kecil berpostur mungil dengan telapak tangannya. Gadis itu melotot kaget, ketakutan memancar dari wajah lusuhnya. Napas terengah bagai diburu anjing gila, serasa telah mengalahkan Muhammad Zohri di laga final lari seratus meter, rintik mulai berhenti. “Jangan teriak!” bisik pemuda itu. Sang gadis menggeleng. Ia sedikit meronta, berusaha melepaskan bungkaman. “Jangan mencoba melawan aku. Apa kau mau kita digerebek terus dikawinkan, kalau aku sih ogah! Ngapain nyari istri kucel, item mutlak kayak gini. Mending kau dihukum sendirian, diarak satu kampung, seru juga tu, aku bisa nonton pameran arak arakan,” ujar pemuda yang bersamanya dengan ketus. Lalu ia seenak hati melepas bungkaman tangan dari mulut gadis bernama Yasmin. Menatap wajah ketakutan gadis berjilbab coklat itu dengan senyum mengejek. Yasmin menahan pita suara yang hampir mengeluarkan power lengkingan. Menggigil. Bibirnya gemetar, gemerutuk gigi berbunyi pada derajat celcius semakin mengecil. Iris coklatnya mengerjap, menahan sepuluh jemari yang gemetar, refleks dua tangan Yasmin saling menggenggam kuat. Entah siapa teman tak diundang itu, menutup mulutnya dengan paksa seperti maling anak alias penculik untuk dijual ke luar negeri saja. Sebenarnya hati kecil Yasmin tidak menolak saat mulutnya dibungkam, sebab ia tahu dengan begitu ia merasa terlindungi dari bahaya tertangkap basah dari tim keamanan. Wangi parfum murahan yang sering terendus di beberapa baju anak sekolahan menguar pada indra penciumannya. Pemuda bercelana persis sarung dijahit itu meliriknya sambil mendengkus. “A-aku ….” Yasmin baru saja hendak membuka mulutnya. “Ssst,” bisik pemuda itu, memotong kalimat Yasmin. Ia kembali membungkam mulut Yasmin dengan dua telapak tangan sekaligus. Suara kresek terdengar beberapa meter dari tempat persembunyian mereka. “Jangan berisik! ada petugas keamanan,” bisiknya lagi. Mata Yasmin membola, takut. Ia mengangguk tanda mengerti. Gadis itu memejam matanya, menikmati kehangatan telapak tangan yang menempel membungkam mulutnya. Aneh, mengapa dia jadi bloon? Seolah nyaman berada tanpa jarak dengan lawan jenis yang baru ia kenal, Yasmin sama sekali tidak ketakutan dengan pemuda asing itu bahkan mereka belum sempat kenalan. Semua orang tahu, sifat aslinya adalah penakut. “Awas kalau teriak!” ucap laki-laki pemilik gigi berbaris rapi itu, mengancam. Sebenarnya Yasmin tidak punya niat untuk berteriak, teman yang mendadak muncul lebih dulu takut akan teriakannya. Jika Yasmin berteriak. Matilah dia yang ikut bersembunyi bersama. Mereka pasti diarak ke pelataran 'Saung' setelah itu orang tua masing-masing akan dihubungi lalu mereka .... "Tidak!" Yasmin menggeleng kepalanya, tidak sanggup membayangkan jika tertangkap basah bersama lawan jenis, kemudian mereka berdua segera dinikahkan. Ya, pemuda yang sedang bersama Yasmin bernama Samuel. Samuel Ibrahim, Maestro Kampus. Dikenal sebagai Mahasiswa paling nakal seantero asrama putra. Bukan Samuel namanya jika dalam sebulan ia tidak menjalani dalil pelanggar aturan. Ia menjadi pelanggan pelanggaran peraturan kampus terbanyak. Tapi anehnya selalu berhasil aju banding alias lepas hukuman. "Kau kenapa? urat lehermu bermasalah?" tanya Samuel melihat Yasmin menggeleng lagi untuk kedua kalinya. Sambil memejam pula. Yasmin mulai merasa malu dengan dirinya sendiri, Ia merasa aneh, nyaman dibungkam oleh pria asing, Meski berusaha melepaskan diri walau tidak berteriak. Tapi, Yasmin berharap lelaki itu tidak melepaskan bungkaman. Dengan begitu udara di kaki gunung sedikit menaikkan kurva derajatnya. Samuel bagai teman yang tak diundang, tidak mungkin berniat jahat, pikir Yasmin, positif. Secara pakaiannya mengisyaratkan ia seorang pemuda baik-baik. Sebaya dengannya, pasti seorang mahasiswa di kampus yang sama dengan Yasmin. Walaupun begitu Yasmin tetap waspada. "A-aku ...." Yasmin berusaha berdiri sempurna, mengambil ancang-ancang untuk kabur dari belantara yang ada di belakangnya. “Diamlah disini! Jangan sok kuat. Tanganmu sudah beku, kalau kau masih meronta, merasa bisa kabur, aku lempar kau ke dalam hutan yang banyak hewannya, biar dimakan serigala sekalian,” ujar Samuel, sambil mengepul rokok murahan ada di sela jari kirinya. Pemuda yang sebenarnya sudah berusia 25 tahun itu tapi terdaftar sebagai mahasiswa berusia 21 tahun. Aneh memang. Samuel mengencangkan cekalan tangan kanannya seraya menghardik Yasmin dengan suara tertahan. Gadis yang terlihat seperti kebingungan memilih diam saja. Entah karena ketakutan atau tidak ada pilihan. Atau ... menikmati sentuhan Samuel. “Pamer ... pamer ... pamer, ayo semua kembali ke kamar!” Beberapa orang berteriak melewati mereka yang tak terlihat di antara sela-sela pepohonan karet, seperti ada yang mengkomandoi suara seperti gelombang di setiap sudut bergemuruh saling bersahut. Dari mulut ke mulut sebuah kata kode ‘pamer’ singkatan dari pameriksaan, sebenarnya pemeriksaan sebuah kode kata agar tidak ketahuan diplesetkan menjadi pamer. Kata kode itu sama seperti polisi yang sedang razia. Siapapun yang terlebih dahulu melewati tempat razia, maka akan memberitahu dengan kode tangan atau teriakan kepada pengendara motor yang belum melewati tempat razia. Kalau polisi sedang razia. Kata kode pamer berhasil membuat suasana bakda magrib riuh mencekam. Banyak yang berbalik arah, tak sedikit pura-pura tidak tahu. Tiba-tiba suara riuh, ribut, ramainya teriakan hening seketika. Tidak ada satupun suara yang terdengar, jangkrik pun seakan ikut bisu. Hanya suara Samuel terdengar berbisik di telinga Yasmin. “Dasar perempuan bego! bisa-bisanya datang ke asrama putra. Apa kau tidak tahu usiaku baru saja genap dua puluh lima tahun, kata orang, itu masa emas seorang laki-laki dewasa, kau mengerti maksudku? apa kau mau jadi kelinci percobaan untuk usia dewasa ini?” Samuel menunjuk ke arah dadanya, menggoda, Sedangkan Yasmin lagi-lagi memilih diam tidak menanggapi. Samuel memang tipe lelaki slengekan jika lagi bicara. Tubuh Yasmin tak lagi mampu melawan suhu yang semakin dingin. Enam belas derajat celcius, di bawah kaki gunung, tanpa jaket tabel, hanya baju pramuka dengan balutan jilbab coklat tipis persis taplak meja, melilit lehernya meredam kedinginan. Duduk meringkuk di bawah jendela kamar salah satu mahasiswa, kata kode pamer masih terdengar saling dibisikkan dari mulut ke mulut. Berbagai tingkah polah menghiasi kode kata itu, ada lagi yang berlari terburu menarik kain sarung di jemuran kawan, demi menutupi boxer merahnya. Ada pula yang sedang menanak mie instan dalam plastik bersegera mematikan api, ikut berlari ke tengah lapangan asrama, berpura-pura sedang mengulang pelajaran. Tujuannya sama persis seperti pengendara yang melihat polisi razia, tentu saja memberitahukan pengendara yang tidak membawa surat-surat lengkap untuk segera putar arah. Begitu juga dengan pemeriksaan kali ini, pemeriksaan adalah kegiatan rutin mengecek para mahasiswa apakah belajar atau tidak, kegiatan ini dilakukan oleh petugas keamanan yang piket setiap malam, sebagai aktivitas wajib di sebuah kampus ternama berbasis asrama bernama Nusantara. Kampus Nusantara adalah kampus paling unik sejagad raya. Berada tepat di tengah kaki gunung. Di tengah belantara, dengan suhu udara dingin membeku. “Turuti semua perintahku, jangan melawan! kecuali kau mau disantap binatang buas di hutan sana.” Lagi, sosok pemilik bibir sensual mengancam lagi. Yasmin masih diam, ia tak tahu harus menjawab apa, suaranya cekat, menahan rasa ngilu di pergelangan tangannya, akibat celakan pemuda bermata sayu itu. Gemetar dengan bibir hampir mendekati warna hijau memberi signal pada Samuel, gadis itu tak lagi sanggup menahan rasa dingin dengan suhu celcius semakin turun. Beberapa laki-laki lainnya, terlihat berlari membawa beberapa buku sambil menyandang bajunya di bahu. Ada yang bersegera masuk kamar, ada yang pura-pura membaca buku, walaupun buku tersebut terbalik, bahkan ada yang baru saja meloncat dari pohon coklat, membuang sisa puntung rokok yang masih terbakar setengah. Malang sekali jika rokok itu dibeli dengan kasbon alias ngutang di warung dengan menitipkan fee tak seberapa pada pegawai kantin. Atau hasil jualan langsat yang dicuri di belakang asrama. Padahal, mengambil langsat yang pohonnya sudah tinggi menjulang juga butuh perjuangan. Kampus Nusantara memang seunik itu, yang belajar di sana adalah mahasiswa dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, tapi sistem kampus tersebut persis lembaga pesantren. Bedanya di kampus Nusantara berbagai agama bisa masuk di sana. “Kau akan melihat sorot senter di sana berganti dengan derap langkah beberapa orang, derap itu akan menggantikan hening yang tiba-tiba, dan … lebih mencekam suasana, akan tiba sosok dengan penggaris besi panjang, mata setajam elang, saat itu tidak satu orangpun berani membuka suara, satu … dua ….” Samuel menatap wajah Yasmin yang kini bukan saja menghijau, pias ketakutan, Tangannya mencengkram kuat rok basah yang ia kenakan. Namun, malang prediksi Samuel yang berniat hanya menakut-nakuti Yasmin, justru menjadi kenyataan, sekelompok orang tengah berjalan ke arah persembunyian mereka. Sisa hujan di kaki gunung membuat tubuh mungil Yasmin--membeku. “Ha-hac-haccim.” Yasmin tidak kuat lagi menahan bersin. Kepalanya sedikit hoyong. Beberapa kali mencoba menahan tubuhnya agar sempurna berdiri, berkali pula ia hampir roboh di tanah, tanpa sadar tangannya bertumpu takut pada bahu Samuel. Tangan Yasmin gemetar bagai tersengat listrik, riak takut bercampur pucat mewarnai rona wajahnya, bibir yang sedari tadi tampak hijau terlihat persis mayat hidup yang diberi pengawet. Wajah lugu gadis itu membuat pemuda di sampingnya tersenyum usil. Ia sama sekali tidak berniat menolong melainkan ingin mengerjai. Walau punya niat nakal, Samuel tetap menarik kain sarung yang ia taruh di bahunya penangkal dingin, Ia mengulur sarung untuk membersihkan lelehan mukus yang keluar dari hidung Yasmin. Yasmin meraih sarung itu langsung melilitkan ke tubuhnya dengan menggigil. Sambil mengelap hidungnya yang mendadak mampet. "Kasihan!" umpat Samuel dalam hati, mengutuk rasa kasihan yang tiba-tiba mampir tanpa diundang, ide usilnya lenyap mendadak. "Gosok-gosok dikit tanganmu ke tanganku, biar gak dingin kali. Namaku Samuel, sorry ya tadi buat kamu takut. Soalnya aku kira kamu kuntilanak," ucap pemuda itu santai, menatap antara iba dan ingin menggoda. Yasmin melirik sekilas. Rasa lidahnya ingin mengumpat, mencaci plus menyembur ludah juga ke wajah innocent Samuel. Berusaha ia tahan semua.“Dasar tidak konsisten, sebentar baik sebentar membentak.” Yasmin menggerutu kesal. Kedinginan yang bersangatan membuat bibir Yasmin bungkam tak mampu bicara. Kini tidak hanya telapak tangan Samuel yang menempel pada tangan mungilnya. Pemuda itu melihat ada kain sarung yang bertengger, tersangkut pada samping daun jendela di sisi mereka, entah milik siapa, Samuel manariknya dengan satu tarikan, kemudian membalutkan pada bahu Yasmin. Tangannya melingkar merangkul. Pipi mereka hampir saling menempel. Yasmin memilih tidak protes dengan apapun yang dilakukan pemuda itu. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan. “Siapa di situ?” tanya seseorang berteriak dari jarak delapan langkah orang dewasa. Tangan Samuel gerak cepat membalut seluruh tubuh Yasmin tanpa sisa dengan sarung berwarna-warni yang ia ambil dari beberapa jendela. Suara tanya penuh amarah seperti singa yang siap menerkam menyorot senter tepat ke arah wajah lugu gadis itu. Keringat dingin mengucur sukses di setiap pori-pori Yasmin. Manusia yang hanya terlihat bayangannya saja kini benar benar berdiri tegap, tepat seperti siap memangsa, mata coklat Yasmin mengerjap penuh takut. Memilih bungkam dengan wajah bersimbah antara terkena tempias dan bulir keringat, mengumpulkan sisa sisa energi, memberanikan diri menatap berani ke arah si pemilik senter, tanpa suara. “Maaf, Pak. Saya mau buang air kecil, ja-jadi sa-saya minta adek kelas sebelah kamar saya untuk menemani, lewat dari sini ke sungai tak ada lampu, Pak. Mana dia juga kebelet buang air. Maklum, mahasiswa baru.” Samuel berbohong, sambil menertawakan petugas keamanan dalam hatinya. “Kau kutipu lagi.” “Adek kelas? Sejak kapan kamu berbuat baik dengan adek kelas, Samuel?” tanya petugas heran. Lebih tepatnya menertawakan. “Baru seminggu yang lalu, Pak. Dia anak baru, satu kampung dengan saya, bandelnya nauzubillah, Pak. Makanya disuruh ibu tinggal sekamar sama saya, rencana besok dia mau daftar, mahasiwa transferan,” jawab Samuel dengan mimik serius. Menjelaskan dengan mengarang cerita fiktif. “Mengapa wajahnya dibalut sarung begini? Sampai kepalanya juga, bibir adikmu pucat?” Lelaki bertubuh tambun itu mendekati Yasmin, mengerut keningnya, menelisik, curiga. Yasmin persis seperti Mumi. “Sebenarnya adik saya sakit, demam, Pak. Makanya saya suruh balut semua badannya pakai sarung biar gak kedinginan, karena cuaca di kota sangat berbeda dengan di sini. Dia juga kehilangan suaranya karena kedinginan. Enam belas derajat celcius, sementara dia biasa berada di tiga puluh lima derajat.” Samuel beralibi. “Jangan mencoba menipu saya, Samuel!” ucap lelaki bertubuh tinggi tegap itu sedikit marah. Ia mendekati Yasmin. Menempelkan telapak tangannya ke jidat gadis itu. Refleks Yasmin mengelak, tangannya masih setia memegang balutan kain sarung yang melilit seluruh wajahnya, agar tidak terlepas. Ketika petugas keamanan berbadan tegap menghampiri Yasmin, Samuel memberi sesuatu pada petugas satu laginya. “Hujannya sebentar lagi bakal lebat, biarkan dia pergi!” seru petugas berbadan lebih kecil, mengganggu konsentrasi temannya yang hendak mengintrogasi. Samuel tertawa kecil. Kedipan matanya berhasil. “Saya piket malam ini, kalau memang mau ke sungai, pergilah! dan kembali ke sini dalam tiga ratus detik! ini masih jam Inovasi. Ingat! kalau kamu berbohong. Tau sendiri akibatnya,” ucap penjaga keamanan, sarat ancaman mengacung tangan. Melirik tajam pada wajah lugu bercampur takut milik Yasmin. Melihat gemetar dan pucatnya bibir manusia yang ada di depannya, ide usil muncul lagi di pikiran Samuel. Mendengar perkataan petugas yang mulai mempercayai Samuel. Lelaki itu mengedipkan mata pada petugas keamanan berbadan kecil yang sengaja menolongnya. Petugas itu pura-pura tak melihat kedipan mata Samuel. "Aman.” Tarikan alis sedikit naik ke atas dari petugas keamanan berpostur kecil itu, kemudian menggeleng kepala ke arah kanan secepat kilat, memberi kode pada Samuel untuk segera pergi. “Ehem.” Suara deheman halus sebagai kode terakhir, tentu saja Samuel mengerti maksudnya. Esok ia harus menyiapkan sebungkus rokok murahan untuk petugas yang sengaja menolongnya. Ia melirik ke arah Yasmin. Sepertinya gadis itu cukup cerdas menyikapi keadaan. “Hmm, langsat mana lagi yang bakal kucuri untuk membelikannya rokok?” Samuel mengumpat dalam hati. Acung jempol ke arah kiri dari petugas keamanan itu menandakan Samuel harus menyiapkan seorang perempuan untuknya. Sial bukan!!! Mulut monyong lelaki itu melirik Yasmin. Radar lelakinya bisa menebak bahwa mumi yang bersama Samuel adalah perempuan. Kau menginginkan dia, aku juga! awas kau kalau sampai duluan mencicipinya ya!! kedua manusia itu saling menatap dan saling mengerti bahasa tatapan mereka. Malang sekali nasib Yasmin.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook