Atau Kuperkosa!

1332 Words
“Baik, Pak. Izin … kami duluan,” balas Samuel menganggukkan kepalanya. Pergelangan tangan gadis yang sedang menetralisir aliran darah yang mulai menghangat akibat jantung yang berpacu melawan keadaan, ditarik paksa oleh Samuel sebelum petugas keamanan berubah pikiran dan menyuruh Yasmin membuka lilitan kain sarungnya. “Tunggu sebentar!” baru saja keduanya beranjak beberapa meter langkah, suara berat bariton menghentikan langkah mereka. Sinar senter menyorot kaki Yasmin. Tentu saja, jari-jarinya akan menunjukkan bahwa dia seorang wanita. Refleks Yasmin memasukkan jari-jari kakinya ke dalam sarung. Gerakan refleksnya sama sekali tidak membuat curiga pihak keamanan. Samuel merasa perlu waspada. Tanpa menunggu waktu, ia kembali menarik tangan Yasmin, sebisa mungkin remaja itu bersuara normal. "Izin, Pak saya sangat kebelet,” ucap Samuel berpura-pura terburu-buru, memaksa Yasmin ikut bergerak. Dua kakinya ia sengaja rapatkan dan sedikit meliuk seolah kebelet buang air kecil. Tanpa menunggu kalimat lain dari petugas keamanan, Samuel kembali menarik tangan mungil Yasmin bersegera melewati lorong-lorong sempit di antara pematang sawah. “Biarkan saja, ditahan-tahan bisa kenak kencing batu dia, kita juga disalahkan, aku tak mau ganti rugi uang kesehatannya,” bisik si petugas berbadan kecil pada temannya. Petugas keamanan berbadan tambun manggut-manggut. Mereka kembali menyorot senter ke segala penjuru. Samuel dan Yasmin berhasil masuk ke area hutan belantara. Keluar masuk hutan membuat Yasmin bingung mereka tengah berada di mana. Beberapa pondok sawah petani mereka lalui, terus berjalan menyusuri perumahan penduduk lokal yang hanya berjarak ukuran lima meter di setiap sisi menuju ke arah sungai di kaki gunung. Tentu saja mereka tidak menuju sungai itu. Andai hari belum gelap tentu Yasmin melihat dengan jelas asramanya yang berdiri di bantaran sungai berkerikil jernih. Namun Samuel memang sudah merencanakan sang gadis tidak melihat asrama, memastikan tidak akan kembali ke sana selamanya, setidaknya tidak dalam waktu dekat. Senyum licik terbit manis di bibir pemuda itu. Samuel sengaja membawa Yasmin menuju belakang asrama putra, melewati hutan karet, persawahan penduduk, kemudian jalan setapak yang ditumbuhi tumbuhan cannabis alias ganja, tumbuhan terlarang itu tumbuh subur tertutup dengan pohon-pohon randu di sekitarnya. Perkebunan kecil yang luar biasa. Sepanjang jalan Yasmin hanya diam, pertanda gadis itu tidak mengenali tumbuhan di sekitarnya. “Sekarang kita aman, Sayang,” bisik Samuel mendekatkan bibirnya ke telinga Yasmin, mereka berada di jalan setapak menuju kamar Singgalang, kamar paling ujung kampus Nusantara, "kau tak perlu takut, di sini hanya ada kita berdua," ucap Samuel mengedipkan matanya, demi membuat gadis itu memutar badan dan dengan geram mendorong lelaki yang ternyata sangat usil. "Kita? Entah siapa yang dimaksud?" umpat Yasmin, kesal. Tadi dia diam sebab menghindari hukuman. “Jangan bilang kau menganggap aku takut? Kita siapa yang kau maksud?” tanya Yasmin lagi, sarkas. Ia menarik luruh kain sarung yang melilit tubuhnya lalu membuang ke muka Samuel. Tentu saja tadi ia sengaja mengikuti permainan Samuel, Karena sangat tahu konsekuensi yang diterima jika ketahuan dia adalah wanita, berada di asrama putra. Menikah adalah solusi utama.l Mana mungkin. Bisa-bisa ibunya gila jika Yasmin harus menikah dalam waktu dekat. Plus calon suaminya bocah tengil sepanjang sejarah Kampus Nusantara. Untuk itu Yasmin mengikuti skenario Samuel di depan petugas keamanan. Demi menyelamatkan dirinya. Setelah kejadian dilalui, Yasmin akan berpikir keras mencari jalan keluar dari asrama putra menuju asrama putri. Namun, iris coklatnya hanya menangkap pekat malam, bagaimana dia bisa mengetahui jalan ke asramanya. Melihat sekeliling hanya hutan belantara, bulu kuduknya meremang, di mana posisi asrama putri? Mengapa ia bisa tersesat? “Jangan coba-coba marah. Mau di arak sekampung?” Samuel menarik ujung bibirnya, sambil tersenyum jahil. "Diarak sekampung," ulang Yasmin dalam hatinya. Tidak. Ancaman yang berhasil membuat Yasmin bungkam. Gadis itu tidak lagi mencoba melawan. Ia harus berdamai dengan keadaan. Bukankah Samuel hari ini juga menjadi pahlawan baginya? Pahlawan yang entah dari perut bumi mana datangnya. Jika saja Samuel tidak datang, habislah gadis itu menjadi bulan-bulanan seantero penghuni kampung, karena ditemukan berada di lokasi lawan jenis. “Ini ki-kita di-di mana?” tanya Yasmin terbata. Matanya masih berkeliling, namun pandangannya hanya menangkap gelap malam tanpa rembulan. Samuel tidak berniat menjawab pertanyaan Yasmin, ia melepaskan sandal jepitnya, kemudian menutupi kepala Yasmin dengan topi caping yang ia ambil di atas jendela kamar seseorang, ia juga memakainya di kepala. “Untuk apa?” tanya Yasmin ragu. “Kalau senter petugas keamanan itu menyorot kita dari jauh, mereka akan mengira kita penduduk lokal yang sedang menjaga sawah,”jelas Samuel sangat pelan, seolah mereka sedang ada yang mengintai. “Emang ada gitu petani yang kurang kerjaan jagain sawahnya malam-malam?” tanya Yasmin polos. Meski bertolak dengan hatinya, Yasmin menuruti saja apa kata Samuel. “Kau mau diarak satu kampung, dilempari batu atau diam dan menjadi gadis penurut yang manis? hmm,” ujar Samuel menaikkan satu alisnya. Yasmin kembali memilih diam. Hening, mereka melewati tumbuhan randu sebelum mencapai bangunan batu berjendela nako. Pemuda itu mengambil jarum pentol karatan di pojok kusen jendela. Membuka sebuah pintu kecil dengan jarum pentol tersebut, pintu seukuran sepertiga lemari pakaian, terbuka. Pintu kecil itu berada di pojok samping jendela, yang sama sekali tak tampak seperti pintu terbuka. “Masuk,”perintah Samuel pada Yasmin yang masih berdiri ragu, Samuel mengibaskan tangannya ke udara, mendorong tubuh mungil Yasmin masuk ke dalam kamar. Setelah masuk, mata Yasmin langsung memindai seisi kamar, di balik pintu kecil ternyata ada tangga mini dengan tiga buah anak tangga cukup membuat kerepotan dengan harus mengecilkan gerak untuk memasuki kamar itu. “Cepat!” perintah Samuel pada Yasmin. Gadis itu masih menggeleng ragu. Kakinya merekat di tempat. “Ruangan apa ini?” “Jangan banyak tanya, mau diarak satu kampung?” ancam Samuel, melotot. Kalimat tanya sarat ancaman, diarak satu kampung, memang telah menjadi senjata bagi Samuel untuk melumpuhkan Yasmin. Gadis itu tidak punya pilihan. Ia harus menuruti perintah Samuel. Akhirnya Yasmin mengikuti saja perintah pemuda itu. Setelah melewati ruang sempit mereka tiba di pintu ukuran biasa berjenis fiber berlekuk, sepertinya bisa dilipat dan dibawa persis barang portable. Samuel membuka dengan tenang. Mereka masuk ke dalam ruangan yang lebih besar, Yasmin berhasil bernapas lega dan sama sekali tidak menutup rasa curiganya pada orang yang membawanya masuk kedalam sebuah kamar terlarang. Setelah masuk ke dalam kamar, ternyata di dalamnya ada ruangan yang lebih luas lagi, terang dan bersih, terpampang jelas dengan cat hijau pucuk pisang mendominasi pandangan. “Untung kain sarung yang kumaling tadi lebih lebar dari tubuh kecilmu ini, jadi bisa menutupi ukuran standarnya, dan untung lagi ni ... aku bisa menyulapmu dengan cepat, kalau kau tak disulap menjadi laki-laki seperti mumi, truss ketauan ada cewek datang ke asrama putra, kau bisa di arak satu kampung! Lehermu akan digantung kardus bekas dengan tulisan 'cari jodoh' dan dengan senang hati aku menonton pertunjukan arak-arakan itu." Tawa Samuel meledak, secepat mungkin menutup mulutnya kembali kala menyadari tawanya yang cukup keras. Takut suaranya terdengar keluar. "I -- ni tempat apa?" Suara Yasmin bergetar ia melihat sesuatu datang dari lobang dapur. Matanya menangkap beberapa goni berjejer. Apakah Samuel seorang perampok? pikiran Yasin melayang. Karung-karung berisi sesuatu tampak penuh saling bertumpuk. "Au- u-ular!" jerit Yasmin tiba-tiba. Samuel refleks membungkam mulut Yasmin. "Diamlah! atau ku per kosa!" Samuel menghardik. Tentu saja Samuel melihat makhluk melata itu hadir, ia biasa berteman lebih dari binatang berbisa. "Kau tidak takut. Itu bahaya!" ucap Yasmin, pucat. "Lebih berbahaya kalau kau menjerit keenakan ketika ku per ko sa," jawab Samuel santai mendekat arah datang binatang itu. Yasmin menggeleng seram mendengar kalimat Samuel. Tercipta dari apa otak lelaki ini, Setiap kata yang keluar dari mulutnya berbau m***m. Yasmin bergidik. Dalam satu menit pertemuan mereka Samuel sudah dua kali mengucapkan kalimat ancaman akan merebut makhkota yang sangat ia jaga. Apa maksud Samuel? Siapa sebenarnya lelaki itu? apakah mahasiswa atau penyelundup. Ah, apa-apaan pikiranku Yasmin menghalau pikirannya yang mendadak merasa seperti di film-film Hollywood. Seolah ia kini tengah terperangah dalam kamar penjahat. Selagi Samuel mendekati hewan meliuk-liuk itu, Yasmin kembali meminda sekeliling. Tiba-tiba hewan itu melompat serupa terbang. "Ular!" pekik Yasmin ke dua kalinya. Samuel sigap mendorong tubuh mungil Yasmin secepat kilat, agar tidak terkena hewan itu, alhasil tubuh Yasmin mendarat di pelukannya. "Kau montok juga!" ucap Samuel di tengah ketakutan Yasmin. "Setan!" umpat Yasmin menggeram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD