Bukan Orang Baik

1612 Words
"I-iya, maaf!" lagi lagi Yasmin harus mengalah. Samuel menginjak dengan mudah hewan melata berwarna kekuningan sekali injak. Luar biasa. Tubuh Yasmin menegang ketakutan. Petugas piket belum membunyikan bel pertanda tidur. Tentu saja fatal akibatnya jika ketahuan ada perempuan yang meringkuk di dalam kamar saat jam belajar. Mereka memiliki aula khusus untuk mengulang pelajaran saat malam tiba, kamar wajib dikosongkan. Jika ketahuan masih ada yang meringkuk berteman selimut, alamat mendapat hukuman, mengangkat batu lima puluh ember pulang balik dari sungai menuju asrama dan batu kembali dibawa dari asrama menuju sungai. "Kau mau melihat aku menarik kulit ular ini tanpa terputus?" Samuel mengangkat hewan berbisa itu menjulur menghadap Yasmin. Hampir saja pita suaranya tidak bisa kompromi untuk tidak menjerit. Untung Yasmin mampu menahan power lengkingan yang biasa bunyinya selalu ia menangkan di asrama. "Gak lucu,” ejek Yasmin kesal. Ia ingin malam semakin larut dan dengan mudah mencari cara kabur kembali ke asramanya. Namun keinginan terkadang tidak sesuai ekspektasi. “Memang tidak lucu. Oh ya, jangan sok angkuh di kamarku, aku bisa saja memanggil kembali petugas keamaanan dan mengelak bahwa aku tak mengenalmu, padahal memang tidak kenal,” balas Samuel terkikik. Yasmin melotot. Siapa bilang pria muda itu tidak mengenal Yasmin. Ia bahkan sangat mengenalnya. Di arak sekampung? diancam dengan memegang ular, sungguh hal menakutkan bahkan sangat menakutkan bagi Yasmin. Samuel sangat mengerti cara menakuti gadis itu. Memikirkannya saja membuat Yasmin bergidik duluan, Ia pernah mendengar cerita diarak sekampung dari pembinanya. “Jadi … siapa yang ketahuan pacaran, berduaan, apalagi sampai melakukan hal yang kalian inginkan, tapi tidak diinginkan oleh guru dan orangtua kalian, hukumannya adalah diarak, dipertontonkan ke seluruh penduduk kampung ini, kalian akan digiring dari ujung desa ke ujung desa, penduduk bebas melempari, memaki atau menyumpah serapah kalian, sebelum dibawa ke balai lalu dinikahkan, paham sampai di sini!” Yasmin ingat betul ucapan sang pembina, dan perjanjian tertulis yang setiap mahasiswi wajib menandatangani sebelum masuk ke kampus itu, dilarang bertemu lawan jenis dalam bentuk apapun, dilarang pacaran, dilarang segala sesuatu berbau interaksi antara wanita dan pria. Meskipun pertemuan tanpa sengaja. Hukumannya tetap diarak seluruh penduduk kampung juga dipermalukan di hadapan penghuni asrama putra maupun asrama putri, sebelum akhirnya menikah di balai desa. Hal itu menjadi satu ide bagi Samuel untuk mengancam Yasmin, membuat gadis itu benar-benar takluk dengan ancaman Samuel. Daripada meresapi ketakutannya, Yasmin mencoba membawa mata coklat hazel, persis gadis india blasteran melayu, menyusuri isi kamar kecil berdinding beton dengan cat yang mulai pudar dan bau khas lelaki yang baru saja menjadi tempat berlindungnya. “Lumayan bersih.” batin Yasmin mengagumi kamar kecil itu. Meski sedikit bau rokok namun ia menilai, lumayan bersih. Di dalam ruangan lain. Ada dapur berukuran satu kali dua meter disekat tripleks, persis seukuran kuburan. Jika wanita big size ada enam dan duduk di dapur ini, jadilah sarden. Di sudut dapur ada dua buah ember berisi air. Di sebelah ember ada kompor minyak merk jadul. Di atas kompor bertengger periuk kecil. Di balik pintu dapur ada sapu ijuk dan beberapa lidi yang diikat dan lubang seukuran lingkaran botol sirup. Mata gadis itu membulat, rasa takut yang mulai sedikit memudar tadi, muncul kembali melihat lubang seukuran lingkaran. "Semoga tidak ada yang keluar dari sana," doa Yasmin dalam hati, ia mundur tiba-tiba. “Sepertinya sarung yang kau pakai tadi terkontaminasi parfum yang mahal harganya, saking mahalnya gak ada yang jual plus bisa dibeli.” Samuel terkikik, ia menunggu tubuh mungil Yasmin mundur selangkah demi selangkah, akhirnya "buck" Yasmin membentur d**a bidang lelaki bertato ikan tongkol di perutnya itu. Tentu saja Yasmin tidak melihat. Gadis berambut indah itu buru-buru mundur lagi, sikunya sedikit ngilu. “Ma-maksudnya?” Yasmin mengerut kening, pias ketakutan. Otaknya baru saja loading dengan ucapan Samuel barusan. “Parfum pesing, soalnya baumu jadi bau pesing, kau sedang tidak mengompol, kan?” tanya Samuel memiringkan senyum, sengaja mengejek. Pura-pura mengendus tubuh Yasmin. Mata Yasmin melotot tak terima. Ia jadi ikut-ikutan mengendus badannya sendiri, baru menyadari kain sarung yang Samuel berikan untuk menutupi tubuhnya saat menyamar di depan tim keamanan benar-benar berbau pesing. Bahkan bermotif kotak-kotak bertahi lalat alias jerawat hitam menghiasi permukaan sarung itu, bisa jadi belum pernah dicuci kurun waktu berbulan-bulan. “Eh matamu gak usah melotot gitu! Biasa aja kali. “Itu lobang apa?” tanya Yasmin mengalihkan perbincangan. Menunjuk lobang yang membuatnya kaget tadi. Sampai-sampai berakhir lending di d**a Samuel. “Ohhh, liat lobang kayak gitu udah kayak liat lobang ular aja, bukan lobang ular kok, ini namanya toilet darurat. Ini khusus buang air kecil, kalau kau mau berak cukup tampung di dalam plastik, berakmu bisa jadi pupuk kompos.” Samuel menjelaskan sambil ketawa terkikik, menatap wajah Yasmin yang tengah ketakutan. "Astaga jorok amat sih!" rutuk Yasmin, geleng kepala. Ketakutannya kembali memudar. Ada senyum yang ia coba menahan mendengar penjelasan Samuel. Entah mengapa, ia punya firasat laki-laki hitam manis yang ada bersamanya adalah orang baik. Semoga saja! “Samuel!" Seseorang memanggil, sambil mengetuk pintu rahasia yang baru saja ditutup oleh Samuel. Krek! Daun pintu terbuka, seorang laki-laki, bertubuh jangkung, hidungnya kecil, rambut cepak persis tentara, lelaki yang baru saja mengetuk dari luar, langsung melompat masuk, tanpa izin. “Ada info terbaru ... mmm.” Kalimatnya tak berlanjut. Matanya melotot terkejut, tertuju pada perempuan di dalam kamar temannya. Sedetik kemudian matanya kembali normal. “Kau gila ya? bisa ketangkap kau nanti. Udah sanggup ngasih makan anak orang ha? Baru saja aku mau menginfo-kan, kau kenal si Moger yang di kamar Merapi? dia ketangkap bawa anak penduduk sini ke kamarnya dan sekarang lagi di sidang, kemungkinan besok mereka dinikahkan.” Teman yang baru datang itu memberi informasi dengan celotehan berapi-api. “Ssst ... diamlah, Anton! Aku masih waras kok, entar aku ceritain, gak ada unsur kesengajaan dia ada di sini,” jawab Samuel menempel telunjuknya ke bibir Anton, takut suara sang teman terdengar keluar. “Namanya siapa?” tanya Anton. Malah ikut berbisik. “Yasmin,” jawab Samuel memiringkan alisnya pada Yasmin. Kali ini, mata gadis itu bukan hanya melotot, tapi juga hampir keluar, melempar tatapan sinisnya ke arah Samuel. Darimana cowok itu tahu namanya? bukannya dia belum bicara perkenalan sepatah katapun dari pertama kali berjumpa. “Hai, Yasmin, aku Anton. Cowok baik-baik pastinya.” Anton mengulur tangan. “Jangan mencoba menggoda. Dia bukan Rosi apalagi Risa, awas kau macam macam-macam!” Samuel menjitak Anton, langsung disambut cibiran. Untuk kedua kalinya gadis itu melotot lagi. Mendelik ke arah pemuda yang kini bersenggayut di daun pintu. Menarik rokok lintingan dari tepi jendela nako. "Rosi di sebelah," bisik Anton pelan sekali namun masih tertangkap jelas di telinga Yasmin. “Oke, jadi namanya Samuel dan yang baru datang Anton. Mereka bukan hanya mengenalku tapi juga mengenal Rosi dan Risa si kembang asrama.” Yasmin mencoba menerka-nerka siapa si‘teman.’ Apakah pernah kenal sebelumnya? Rasanya tidak pernah. Tapi mengapa ia merasa Familiar dengan suara Anton. “Kalian mengenal Rosi dan Risa?” tanya Yasmin pura-pura baik, bernada lembut, merasa mereka pasti bisa mengeluarkannya dari asrama putra. Mendengar Rosi ada di tempat yang sama, Yasmin sedikit lega, artinya ia tidak sendirian berada di tempat terlarang. “Pergilah ke kamarmu, Nton. Sebelum aku membuat teh hangat spesial yang bisa membuatmu lupa segalanya, info diterima.” Samuel mengusir halus sambil melotot. Memainkan matanya agar Anton segera keluar. Pelototan itu juga mewajibkan Anton untuk tidak menjawab pertanyaan Yasmin. “Ngusir nih, ya … lah aku pergi. Hati-hati dengan dia Yasmin, ada santetnya. Selain punya ilmu hitam si Samuel bisa berubah jadi ular berkepala manusia plus pencari ilmu kebal dengan tumbal gadis perawan.” Anton menunjuk Samuel tanpa dosa yang dengan sigap melempar sarung bau pesing ke arahnya. Lemparan itu sukses membuat Anton yang sudah keluar dari pintu langsung mual. Ia menoleh ke belakang, melempar tatapan tajam pada Samuel yang terkikik geli. Anton melempar balik sarung ke arah Samuel. Tangannya mengudara tak lepas dari pindaian mata Yasmin. Tangan itu?? Mata Yasmin seolah mengenal pergelangan tangan Anton. Apa itu? "Sarung siapa, ni?” tanya Anton curiga. “Nyolong di tempat si Moger,” jawab Samuel ngakak. Ekspresi Anton persis kucing yang hendak muntah. Mau tidak mau Yasmin merasa ingin menahan tawanya, melihat tingkah dua orang yang ada di hadapan. “Oh, iya aku tadi kabur belajar lewat hutan manggis, main slot sketer di kantin Mak Koling, menang bos, pecahlah, cair bongkar ... sst sini kubisikkan angkanya." Anton memberi kode dari jarinya yang Yasmin tidak mengerti. "Eh malah ketemu sama si pendek penjaga gerbang, katanya kau utang sebungkus rokok untuk dia.” Utang rokok? Yasmin mengerjit. “Bilang sama dia dua kali lipat kukasih.” Samuel menyunggingkan senyum miringnya. Yasmin hanya menjadi pendengar budiman, ia tak paham apa yang dibicarakan dua orang tersebut. Ia hanya bisa berdoa. “Semoga saja mereka orang baik,” ucap Yasmin dalam hati, walau hatinya meragu, karena Anton menyebut utang rokok membuat Yasmin kembali berpikir negatif. "Sebentar! slot? bukankah itu judi online? utang rokok? apa artinya penjaga keamanan itu disogok oleh Samuel?" Yasmin menghela napasnya, tampaknya ia harus menarik pendapat tentang. "Orang Baik" Siapa sebenarnya Samuel? * "Bagaimana dengan perempuan itu? apa kau sudah bisa mengirimkannya?" Seseorang bicara dari seberang telepon. "In sya Allah akan segera kukirimkan, tenang saja. Samuel bukan tipe lelaki ingkar janji," ucapnya sambil menghembus asap rokok dari lubang hidung. Rokok terbang berbentuk bola-bola ke udara. "Baiklah. Jika kau macam-macam, ingat! nyawa nenekmu tinggal sepenggal tenggorokan." "Jangan pernah sentuh nenekku! sedikit saja kulitnya terluka, kalian tidak akan menemukan apapun yang kalian cari di kampus ini," ancam Samuel dengan suara bergetar, geram. "Nenekmu aman selagi kau tidak melakukan kelicikan apapun." "Samuel tidak pernah ingkar janji!" "Bisa-bisanya lelaki sepertimu mengucap Insyaallah. Ah ya. Aku lupa, orang sekarang memang suka menjual agama biar tampak baik, Bukan? padahal aslinya pendusta agama." "Kau mau ceramah atau mau perempuan itu!?" Lelaki di seberang tertawa terbahak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD