GANJA

1494 Words
Setelah kepergian Anton, seorang penelpon menghubungi Samuel. Kesepakatan telah diucapkan. Menghela napas kasar lelaki berpostur tidak terlalu tinggi pada ukuran sejenisnya itu, menghidupkan kompor. Ia sama sekali tidak menghiraukan ada Yasmin di dalam kamarnya. Yasmin sendiri tidak paham dengan apa yang dibicarakan Samuel. Hujan deras baru saja usai, menyisakan rintik jatuh pada pepohonan rimbun di belakang jendela. Matahari masih beberapa jam lagi untuk dapat menampakkan wujudnya, Tenggelam untuk istirahat, esok kembali muncul dengan sinar yang baru. Pondok-pondok kecil milik para petani di kejauhan terlihat semakin kecil di pandang dari jendela nako, berjejer tak beraturan. Pohon karet, durian, langsat, manggis melingkari lapangan hijau terbuka di tengah belantara. “Aku melihat ada cahaya-cahaya kecil tampak di kejauhan. Ada jenjang menuju perbukitan, ada beberapa anak tangga kokoh, ada rumah lumayan besar di ujung sana, bisa buat persinggahan. Aku melihat pondok yang sama ketika mencari jejak apa artinya jalan dari sana bisa menemukan asramaku?” tanya Yasmin dengan suara pelan. “Beberapa meter dari belakang kamar ini, ada sungai beraroma belerang, berwarna kecoklatan, rasanya sepat, kelat terkadang payau. Asli aliran gunung keramat, subuh kau bisa seperti eskrim lumer, saking dingin cuaca. Kecipak khas suara airnya menambah eksotis suasana. Cocok untuk pengantin baru yang hendak honeymoon. Bukankah sungai itu juga mengalir di belakang asramamu? Bahkan mengalir di Kota Panyabungan.” “Maksudmu?” “Masih juga nanya, otakmu terlampau lelet, padahal aku mendengar para guru menyebutmu cerdas, mungkin maksud mereka cerdas mengelabui sampai kau berhasil masuk ke areal terlarang ini.” “Aku serius, tolong jelaskan apa maksud kalimatmu?” Yasmin mengerut keningnya tak paham apa maksud perkataan Samuel. “Kalau di belakang kamarku ada sungai yang sama dengan di belakang asramamu, artinya sungai itu punya hulu yang sama. Tapi sungai itu juga sampai ke kota Panyabungan yang berjarak tiga puluh kilometer dari sini. Apa kau sudah paham maksudku?” “I-iya aku paham, jenjang di atas bukit itu dan rumah yang kulihat sama saat mencari jejak, belum tentu jalan menuju asramaku, begitu maksudmu, ‘kan? Karena yang terlihat sama bisa jadi di tempat lain. Aku pernah membaca peta lokasi secara sekilas di kantor kampus, lokasi jarak antara asrama putri dan asrama putra sekita sepuluh kilometer, apakah peta itu bohong, agar kami para mahasiswi tidak mendatangi asrama putra begitu juga sebaliknya.” “Aha, aku sekarang percaya kau cukup cerdas, Yasmin,” puji Samuel lalu melangkah ke rak yang tersangkut mengambil cangkir. "Sebenarnya asrama putri bisa jadi berjarak cukup dekat, hanya saja hutan belantara di sekitarnya menutupi bangunan. Membuat siapa saja tertipu, seharusnya pemilik yayasan tidak menjadikan ini kampus, gudang bulog lebih cocok kurasa, atau pengumpul barang penadah," jelas Samuel seolah ia ahli sebagai agen penadah. Yasmin merutuk kesal. Samuel tidak menghiraukan analisanya. Lirik merdu azan isya telah beberapa menit lalu berkumandang. Suara-suara syahdu melantunkan ayat suci bersahutan menyambut malam yang semakin pekat. Lengkingan Serigala dari dalam hutan seakan menyahut lantunan, ikut meresapi makna gulita. Yasmin sendiri bingung mau melakukan apa. Ia hanya menatap punggung Samuel di balik kompor, sambil berdiri kedinginan. Samuel menghangatkan diri di depan api kompor yang di atasnya beberapa tumpuk arang hitam dibakar. Mau menyapa, malu rasanya. Mau bertanya, Yasmin bingung memulai darimana. “Sini! Letakkan tanganmu di atas kompor.” Samuel menarik tangan Yasmin, sentuhan lembut itu berhasil membuat darah Yasmin berdesir, namun sang gadis menepis rasa yang kurang ajar mengelabui denyut jantungnya, Ia menurut, meletakkan dua tangan di atas kompor yang apinya sengaja dikecilkan. Suhu udara semakin dingin, tubuh Yasmin menggigil. Bakaran arang di atas kompor setidaknya mengusir rasa dingin. “Sesekali angkat dan balikkan telapak tanganmu. Ulang-ulangi, setidaknya sedikit hangat, bisa ngusir hawa dingin," ucap Samuel. Yasmin menurut. "Kecuali kau pengen kehangatan yang lain. Rela diruda paksa misalnya.” “Apa!” teriakan Yasmin menggema. Gadis itu melotot gusar. Refleks Samuel membungkam mulut Yasmin dengan dua tangannya. “Jangan berisik! hobi banget sih teriak-teriak. Atau kau sudah menyiapkan diri untuk diarak sekampung?” Samuel menarik alisnya. Yasmin mengangguk, bola matanya mengerjap pasrah. Mengalah lebih baik untuk kondisinya saat ini. “Aku bukan orang jahat, jadi gak usah takut. Kalau aku jahat mending aku eksekusi kau sekarang, palingan kau bakal teriak keenakan dan kita dikawinkan. Selesai ‘kan?” Samuel memainkan alisnya lagi, senyum nakal minta pendapat Yasmin. Gadis itu justru melotot, menghirup udara lebih banyak, setelah tangan pemuda itu lepas membungkam mulutnya. Ia menarik napas lega. Samuel tertawa kecil melihat ketakutan Yasmin, lelaki itu kemudian menghidupkan rokok murahannya. Entah sudah berapa batang. Yasmin lupa menghitungnya. Gadis itu tidak banyak bertanya, meski dalam hati kecil ia berpikir, hebat sekali lelaki di kampus ini, sudah dilarang merokok tapi masih bisa menyelundupkan barang larangan itu. Ia berusaha sekuat daya pikir positifnya untuk tidak ketakutan, harus merasa semua baik-baik saja. Yasmin yakin pihak asrama putri akan mencarinya malam ini juga. Tapi ... . “Aku pasti selamat.” Yasmin menyugesti diri sendiri. Sekuat hati melawan rasa takut. "Kau pasti selamat kok, Yasmin!" ucap Samuel tiba-tiba. Astaga, dia cenayang. Yasmin merinding. “Iya, semoga saja kau memang bukan orang jahat,” lirihnya sengaja mendekati Samuel agar kegugupan tidak kentara kelihatan. Duduk jongkok bersebelahan merentangkan tangan di atas kompor. Mencoba mengakrabkan diri. “Apa sekarang kau masih takut? kulihat bibirmu sudah tidak terlalu pucat. Artinya kau sudah tidak ketakutan lagi.” Samuel mencairkan suasana. Biar bagaimanapun ia tidak suka melihat Yasmin ketakutan, ada rasa bersalah setiap Samuel melirik pias wajah gadis itu. Wajah polos Yasmin mengingatkannya pada seseorang, sesosok yang tak akan pernah lagi ia temukan, gadis cantik yang telah pergi selamanya dari hidup Samuel. Sosok yang kemudian mengubah hidupnya jadi seperti sekarang. "Nenek!" Samuel memejam mata. “Tapi kau membuat aku takut tadi, kau membungkam mulutku, aku kira udah kayak di tipi-tipi langsung pingsan kenak obat bius yang kau taruh di telapak tanganmu,” ucap Yasmin terlihat rileks sedikit. Samuel tersenyum, ia berhasil memancing gadis itu untuk banyak bicara. Padahal hatinya sedang tidak baik-baik saja. Yasmin juga heran dengan dirinya sendiri, ia lebih ketakutan menghadapi petugas keamanan daripada menghadapi Samuel. Pemuda itu sedikit mengulum bibir seolah mengejek ketakutan Yasmin yang memudar. “Dasar cewek lebay kebanyakan nonton sinetron," ucap Samuel mengolok. Menjentik kening Yasmin, pelan. Jentikan yang mungkin akan menjadi kebiasaannya kemudian. Darah Yasmin berdesir. Jantungnya berdetak lebih cepat. Cuma jentikan di kening kenapa oksigen mendadak ilang? “Judge-mu salah total. Mana bisa nonton di asrama. Kalo pun hari selasa libur dan sabtu malam tipi dihidupkan tapi antrian di depan tipi besar itu mengular panjang, dan aku gak hobi nonton, pun gak hobi antri.” Yasmin berusaha menutupi kegugupannya. “Baguslah, kita satu server.” Samuel berdiri, cuek. Ia kembali ke dalam ruangan, membuka kaca nako sedikit, menebar sesuatu ke bawah jendela, lalu kembali menutupnya. “Apa yang kau buang, kau tidak takut tertangkap tidak belajar?” Yasmin mengikuti langkah kaki Samuel, dan ikut melongok ke bawah jendela nako. Penasaran. Namun, Samuel menutup lebih cepat jendela tersebut. Yasmin pasrah, ia tidak memaksa ingin tahu. “Selain kepo, dan sok perhatian apalagi kelebihanmu, Yasmin?” Yasmin terkesiap mendengar sindiran Samuel. “Sori, aku … eh," Gadis itu baru teringat ia belum bertanya mengapa Samuel mengetahui namanya. "Kau mengenalku, tau namaku darimana? rasanya aku bukan mahasiswi pelaku pelanggaran sampai namaku viral ke asrama putra?" "Bukannya anak direktur sudah mengunci namamu pada setiap orang bahwa setelah kau lulus sidang akhir kau akan menjadi istrinya?" Samuel ketawa mengejek. Yasmin mengerut kening. Anak direktur? gosip murahan darimana sampai Samuel tau dia dijodohkan. Ada yang salah nih! Yasmin hanya membalas omongan Samuel dengan menggaruk kepalanya, pertanda ia tidak mengerti apa maksud Samuel. "aku mau kembali ke asrama, Samuel,” rengek Yasmin melupakan protesnya dengan apa yang Samuel ucapkan tentang dirinya, berharap pemuda itu menunjukkan jalan menuju asrama putri. “Wah, kau mulai berani memanggil namaku, apa kau mulai jatuh cinta?." “Samuel, tidak bisa kah kau serius dikit? Wajahmu menunjukkan kita sebaya, makanya aku berani memanggil namamu," balas Yasmin. Gadis itu sebenarnya masih sangat takut berada di tempat terlarang. Namun ia tidak ingin terlihat lemah di depan laki-laki asing yang belum dikenalnya. “Usaha yang bagus, Yasmin! kau memang gadis pantang menyerah, lagian siapa juga yang nyuruh selamanya kau di sini? Tapi kalau mau boleh juga, Nikah dulu kita, mau?” Samuel menahan tawanya, semata-mata menggoda, pemuda itu hanya ingin melihat wajah merona gadis bermata coklat yang memalingkan wajahnya dan berdiri menempel mata di sela jendela nako. Yasmin pura-pura tidak mendengar. Ia menatap jauh ke depan. Mata Yasmin baru menyadari tumbuhan cannabis sepanjang pandangannya. Meskipun tidak pernah melihat secara langsung, tentu saja gadis itu pernah belajar tentang daun terlarang. Apa ia tidak salah lihat? yang di depan matanya seperti kebun terlarang sejenis daun psikotropika? Bagaimana bisa kebun ini tumbuh subur di sebuah lembaga pendidikan? Jantung Yasmin bergemuruh riuh. Ketakutan kembali hadir. “Ya, jelaslah aku harus kembali ke asrama, masa kembali ke sungai.” Yasmin menahan suaranya agar tetap normal. Tidak menanggapi candaan Samuel. Pikirannya tidak tenang. Tumbuhan Cannabis? Apa-apaan ini? Mengapa ada kebun ganja di belakang kamar Samuel? Siapa sebenarnya pemuda itu? Mafia? Artinya di penelpon yang kudengar tadi? Yasmin mendadak merinding.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD