“Tapi, bagaimana caranya aku pergi? petugas keamanan itu masih patroli.” Yasmin tidak memindahkan matanya dari sela-sela jendela, mencoba melihat sinar senter yang ada di luar pondok. Namun matanya hanya menangkap gelap samar.
Ia harus berpura-pura tidak tahu dengan apa yang dilihatnya.
Gadis itu berusaha terlihat santai, walau otaknya dipenuhi pertanyaan penasaran tentang kebun cannabis yang berada di luar.
“Terbanglah! Bukankah penduduk kampung di lembah ini kabarnya ada yang bisa terbang. Coba kau belajar sama Guru Madi. Kata orang kampung dia bisa menghilang. Pun bisa berjalan di atas air.”
“Kau emangnya pernah berguru sama Guru Madi?” tanya Yasmin.
“Pernah beberapa kali,” jawab Samuel.
“Pernah beberapa kali? Ilmu apa yang kau pelajari?” tanya Yasmin penasaran.
“Tingkat kekepoanmu tinggi juga, tapi … baiklah, akan kujawab, asal jawabanku tidak membuatmu melompat lalu memelukku.”
“Kau tinggal menjawabnya, tidak perlu berputar-putar, bilang saja kalau kau belum pernah mengenal Guru Madi.”
Guru Madi adalah sosok tokoh yang paling disegani di kampung penduduk lokal kaki Lembah Merapi. Hampir semua murid mengenal Guru Madi, selain disinyalir punya ilmu kanuragan, Guru Madi juga dikenal pandai mengobati orang yang sakit. Benar atau tidak, Yasmin tidak punya niat untuk mengetahuinya.
“Aku pernah belajar pelet bulu jin dari Guru Madi, jadi kau siap-siap saja tiba-tiba jatuh cinta sedalam laut pasifik padaku,” jelas Samuel dengan wajah dibuat semenggoda mungkin. Yasmin terkesiap. Mencoba mengembalikan wajahnya terlihat baik-baik saja.
“Satu lagi, aku juga pernah belajar berjalan di atas air.”
“Kau berhasil, melakukannya?” tanya Yasmin, penasaran. Matanya mengerjap menunggu jawaban.
“Berhasil yang mana satu?”
“Berjalan di atas air?”
“Sudah.”
“Hasilnya?”
“Hanyut. Untung bisa berenang. Kalo tidak, ya, pakai gaya batu dipastikan selamat,” jawab Samuel. Yasmin menggeleng kepalanya, ia pikir perkataan Samuel serius. Ternyata hanya guyonan.
“Selamat, ya kau akan selamat jika berjalan di atas air, selamat sampai alam barzah.” Yasmin mengejek Samuel.
"Aku takut kalau aku mati cepat kau menyesal." Samuel memainkan alisnya.
"Maksudmu?"
"Menyesal karena belum merasakan sensasi beradu keringat denganku," bisik Samuel sengaja mendesah.
Yasmin melotot. Pengen sekali dia menjitak kepala Samuel yang terus saja berpikir m***m.
"Aku gak tau bagaimana kau bisa sampai kuliah di sini. Padahal aku pernah dengar dari beberapa guru orangtuamu jadi TKI."
Samuel tertawa keras. Entah merasa senang atau sedih, mau tidak mau tawanya berakhir mengulum senyuman.
"Iya itu benar. Ibuku TKW di Negara Kamboja. Kau tau tentang Kamboja? ada satu kota yang di sana jika kau memasukinya maka kau tak lagi bisa kembali," ucap Samuel memiringkan senyum.
"Untuk apa aku mengetahuinya? Aku tau tentang orangtuamu karena mau viral di kamarku. Kata orang kau sering terlibat melakukan pelanggaran tapi jarang sekali menjalani hukuman yang seharusnya."
"Ternyata kau banyak tau tentangku," senyum Samuel mengembang. Melirik dalam wajah Yasmin.
Yasmin membuang muka.
"Mamak sama bapak jadi TKI aja belagu," umpat Yasmin dalam hati.
"Walaupun TKI, orangtuaku memberi makanan halal, tidak mencuri apalagi korupsi," ucap Samuel sedikit serius.
Yasmin kembali bingung.
"Kau tau apa yang kupikirkan?"
"Aku bahkan tau kau baru saja memuji mataku yang teduh ketika menatapmu."
Yasmin tiba-tiba ketawa, jawaban Samuel benar. Gadis itu bingung, mengapa Samuel bisa menebak apa yang ada di otaknya. Samuel ikut tertawa.
Keduanya refleks menutup mulut masing-masing takut suara tawa mereka akan terdengar keluar.
"Mengapa kau tertawa?" tanya mereka serentak.
"Aku mengetawaimu," jawab Yasmin.
"Aku juga mengetawaimu," cibir Samuel tidak mau kalah.
Entah berawal darimana, Tiba-tiba saja Samuel mampu mencairkan suasana beku seolah ia telah mengenal Yasmin begitu lama, dan Yasmin merespon keramahan yang ditawarkan pemuda yang empat bulan yang lewat baru saja berusia dua puluh lima tahun itu.
Ketakutan Yasmin kembali memudar. Walaupun ia mewanti-wanti dirinya. Niatnya hanya satu. Mendekati Samuel agar segera lepas dari tempat terlarang itu.
“Tukarlah bajumu, nanti masuk angin, kalo kembung ‘kan gawat, entar kau minta pertangggung jawaban pula.” Samuel melempar baju berkerah berlengan seperempat berwana hijau lumut dan lemparannya mendarat di wajah Yasmin.
“Siapa juga yang mau minta pertanggung jawaban? Dikasih mahar semilyar juga aku gak bakal sudi. Gak nyadar sih, udah pendek, kecil, item, gak ada manis manisnya ....” Yasmin berbicara sendiri dengan pelan, sembari mengambil baju yang menutupi wajahnya.
Lumayan wangi. Bisa buat sehari-hari.
Yasmin membawa pakaian ganti yang diberikan Samuel, masuk ke dalam kamar kecil yang hanya berukuran tiga meter persegi bersekat papan triplek, sekatan triplek berfungsi memisahkan ruang tamu yang berukuran empat meter persegi. Cukup untuk tempat tinggal satu orang.
“Hei, bilang apa tadi?” Samuel menghalangi Yasmin yang hendak memasuki ruangan seukuran kuburan itu.
“Dengar ya? Aku ulang lagi ni, udah pendek, kecil, item gak ada manis manisnya,” sembur Yasmin menunjuk muka Samuel tanpa perasaan.
“Awas kalau sampai kau jatuh cinta ya?” seringai Samuel menatap mata Yasmin tanpa kedip, memiringkan senyumnya, sedikit menaikkan alis sebelah kanan, sengaja menggoda gadis berkulit sawo matang itu.
Kemudian ia berpaling menuju kompor, membiarkan Yasmin masuk ke dalam ruang sempit yang bertuliskan kamar di ujung pintu. Ia pun sibuk memanaskan air.
“Jatuh cinta? mimpi? Banyak manusia tampan, ribuan yang jomblo, masa aku harus naksir cowok hitam mutlak kayak dia. Yang iya-iya saja. Dicuci pakai beklin sekilo juga gak bakal pudar tu arang keling dari mukanya.” Yasmin masih mengoceh, kesal. Disela-sela hinaannya, Yasmin sempat berdoa semoga Samuel tidak mendengar perkataannya.
“Coba ulangi kalimat terakhir, cowok hitam … apa?” tanya Samuel menantang, pemuda itu mendadak balik lagi ke belakang sebab mendengar celotehan Yasmin. Menjentik jarinya ke atas, menyeringai, seram.
“Hitam mutlak kayak .…”
‘Hmmp.’
Belum sempat meneruskan kalimat, mulut Yasmin terbungkam sempurna. Pemuda bernama Samuel Ibrahim itu dengan nekat mengulum penuh bibir Yasmin yang masih hendak mengoceh.
Plak.
“Gila … Kau, setan!” teriak Yasmin marah besar. Sebuah tamparan lima jari mendarat di pipi Samuel. Lelaki itu justru tersenyum, seolah tak merasakan sakit bekas tamparan Yasmin. Ia mengusap pipinya, menatap dalam dengan napas memburu.
Plak ….
Tidak puas sekali, Yasmin mengulang tamparannya kedua kali. Seumur hidup, untuk pertama kali bibirnya ternoda manusia berjenis pria. Tangan Yasmin yang mengudara hendak menampar ditangkap langsung oleh Samuel.
‘Hmmmp.’
Samuel menarik paksa gadis itu. Menekan kuat leher Yasmin mendekat. Lagi-lagi Yasmin tidak berkutik dibuat Samuel.
Kedua kalinya.
“Deal. Dua kali tampar dua kali luber. Sekali lagi kau berani menampar, kau pulang tanpa ini,” gertak Samuel menunjuk ke arah bawah rok panjang coklat Yasmin.
Gadis berparas ayu itu pias ketakutan, merasa oksigen hilang dari muka bumi. Mukanya pucat pasi. Rambut sudah berantakan bentuknya. Matanya melotot gusar. Tangannya naik ke atas, ingin menampar sekali lagi dengan seluruh kekuatan tenaganya. Napas gadis itu naik turun menahan luapan emosi.
“Yang ini bonus,” bisik Samuel, memangkas jarak antara mereka.
Secepat kilat, dengan sengaja menggigit kecil bagian pinggir bibir Yasmin, gadis itu spontan menjerit histeris.
“Ssst … kau mau diarak satu kampung? Jerit aja terus,” ancam Samuel membuat Yasmin semakin murka.
“Dasar kau setan m***m, kau gila!” umpatnya berkali-kali, murka. Menendang harta berharga milik Samuel, Yasmin berlari masuk ke dalam kamar. Mengunci dari dalam.
Samuel tertawa puas melihat perlakuan perempuan yang sudah mengganggu tidurnya dua tahun terakhir ini. Yasmin tidak habis pikir. Baru saja ia menganggap Samuel tidak seperti cerita para gurunya. Sedikit bisa dikatakan baik. Ternyata ia salah besar.
Ya, sejak ia menatap lama wajah pemuda itu dan nama yang disebut penjaga keamanan, Yasmin sepenuhnya sadar, ia sedang bersama pemuda nakal, tiada semester tanpa pelanggaran bagi Samuel.
Baru saja ia tertawa melihat tingkah absurd lelaki itu. Baru saja juga ia merasa orang asing yang bersamanya adalah orang baik. Kelak tengah malam tiba, saat petugas keamanan diserang kantuk berat, Samuel rela mengantarkannya pulang ke asrama putri. Namun, semua pikiran positif yang ia bangun, runtuh seketika.
Klik!
Lampu di kamar kecil itu mati. Sakelar lampu ada di dapur. Yasmin terbelalak. Baru saja ia hendak menukar pakaian. Mendadak semua gelap, Ia baru menyadari tombol lampu berada di luar. Gadis itu mengumpat kebodohannya. Meraba dalam gelap, sesosok tubuh berdiri di sampingnya.
“Au!” jerit Yasmin, kini ia benar-benar ketakutan. Bau keringat yang sangat ia kenal, meski baru beberapa menit membauinya, Yasmin sadar Samuel ada di sampingnya. Apa lagi yang akan dilakukan pemuda itu?
“Allah … tolong hambamu!” Yasmin mendadak ingat Tuhan. Bukankah Tuhan akan selalu hadir di setiap kesulitan hambanya.
“Apa dia berniat memperkosaku, plis Tuhan, beri hambamu keajaiban,” doa Yasmin lirih
"Au!" suara jeritan Yasmin menggema.