Mendadak sesak buang air kecil menghampirinya, Yasmin ingin menangis, menjerit juga mengumpat dalam satu waktu, gadis itu baru menyadari tidak menemukan tombol lampu. Ia mengutuk kebodohannya. Tiba-tiba Lampu hidup. Yasmin menoleh kiri dan kanan, tidak menemukan siapa-siapa.
“Jadi siapa yang tadi berdiri di sampingku?” Yasmin meraba tengkuknya, Gadis itu bergidik ngeri.
“Apakah di kamar ini ada penunggunya?” Mata Yasmin liar menatap kiri-kanan tiada siapa-siapa.
“Pasti setan m***m itu sedang menakut-nakutiku.” Yasmin melongok mukanya ke luar kamar, ia melihat Samuel berdiri di ambang dapur, lagi-lagi ia menghibur dirinya sendiri.
Kala bulu kuduknya serasa meremang. Ia buru-buru bertukar pakaian. Bajunya yang basah sudah hampir mengering. Bisa-bisa masuk angin. Yasmin menggigil, api kompor tadi, sama sekali tidak membantu mengurangi rasa dingin, gigil di tubuhnya tidak berkurang meskipun sedikit.
Klik.
Lampu tiba-tiba kembali mati. Tidak hanya di kamar tempat ia bertukar pakaian tapi seluruh ruangan. Kali ini Yasmin tidak bisa melihat apapun dalam gelap.
“Astagfirulloh,” ucap gadis itu sedikit berteriak kecil, refleks kembali menutup mulutnya.
Ia kini benar-benar ingin menangis histeris, ketakutan bersangatan. Suara Samuel sama sekali tidak terdengar. Pikiran buruk menghantuinya. Apakah ia tengah dikerjai makhluk tak kasat mata? Mengingat banyak cerita horor diceritakan para senior saat malam tiba. Membuat bulu di tengkuknya berdiri.
“Dimana anak itu?”
Yasmin meraba dinding dalam gelap, tangannya gemetar, berdoa semoga ada tombol yang bisa mengakhiri penderitaannya. Mencuri dengar suara sesuatu di dapur, hasilnya nihil. Tak ada tanda-tanda kehidupan di luar kamar.
“Kemana Samuel?” Jantung Yasmin berdetak tak biasa. Tadinya ia berpikir mencari celah untuk kabur dari kamar kecil itu. Lagi-lagi realita menghempasnya. Ia sedang tidak bermain sinetron.
Apa yang ia hadapi bukan pula seperti film drama korea, ada tangga dalam kamar, atau ada lubang di atas loteng biar dia bisa kabur, misal. Terhempas pada nyata ia berada dalam kamar berbentuk kuburan tanpa jendela, sungguh ia bisa mendadak kehabisan oksigen bila berlama-lama di dalamnya.
Membuka pintu depan kamar Samuel, sama saja mencari kematian. Sedangkan pintu belakangnya harus dibuka dengan memakai jarum pentol, bagaimana cara Yasmin bisa membuka pintu darurat yang sama sekali tidak terlihat seperti pintu?
Andai saja ada pelatihan untuk menjadi maling. Pasti Yasmin tidak akan menyesal mengikuti pelatihan itu. Ia mencoba meraba seluruh permukaan luas dinding kamar, akhirnya ia berhasil menemukan tombol lampu di dinding tripleks. Paling ujung.
“Alhamdulillah,” ucap Yasmin lirih, merasa bersyukur.
Klik.
Ia menekan tombol. Lampu hidup di seluruh ruangan. Matanya menatap langit-langit, takjub. Mengatur napas agar teratur melungsur. Ternyata lampu hidup bukan karena tombol yang ia tekan. Sebab lima detik kemudian lampu kamar itu kembali mati.
“Sial! Aku yakin ini ulah setan m***m itu,” umpatnya antara menahan emosi, berpikir realistis namun bercampur rasa takut.
Yasmin kembali meraba dalam gelap. Menekan berulang-ulang tombol di dinding itu. Namun lampu sama sekali tidak menyala.
“Au!” jerit Yasmin kaget untuk kedua kalinya, ternyata kecoa kecil. Ia mengelus d**a.
Baru menyadari sudah selesai menukar baju namun belum mengganti roknya yang basah. Size M berwarna merah miliknya terekpose dengan jelas.
“Semoga tidak ada yang melihat,” doanya dalam hati. Melirik lemari kecil sebesar dirinya, tepat di samping pintu.
Tanpa izin dengan si empunya Yasmin langsung membuka lemari itu dengan tangan gemetar. Sarung bermerk‘gajah berdiri’ berwarna coklat berada di posisi atas. Yasmin langsung memakainya. Menanggalkan rok panjang pramuka yang sudah basah kuyup, sore tadi ia pakai ketika tugas mencari jejak. Sebelum akhirnya tersesat.
“Hai, sudah selesai?” Makhluk ajaib seolah tanpa dosa mendadak muncul di samping Yasmin.
Wajah gadis itu pias menahan malu, merah merona seketika, rasanya ia ingin jadi doraemon saja, bisa mengilang dengan pintu ajaib, paling tidak terbang dengan baling-baling bambu.
“Aku harus berbaik-baik dengan dia, agar aku bisa keluar dari sini. Semoga.” Yasmin memasang senyum pura-puranya. Berharap Samuel berbaik hati dan tidak mengganggunya lagi.
“Kenapa? Lagi berdoa bisa selamat sampai asrama putri?” Samuel menaikkan alis kanannya.
“Eh, bu-bukan, eh i-iya.” Yasmin menggaruk kepalanya bingung. Ia heran mengapa Samuel selalu mengetahui isi hatinya.
“Apa yang Anton bilang itu benar? kamu punya ilmu hitam? Kok tau apa yang baru aku pikirkan?” tanya Yasmin dengan polos. Ternyata polos dan bego beda tipis.
“Sedikit benar. Cuma ilmu pelet yang bisa buat cewek klepek klepek hilang ingatan,” jawab Samuel acuh.
“Hah. Serius? Pliss jangan pelet aku!” pinta Yasmin memohon sambil melilitkan sarungnya agar terikat dengan kuat. Jangan sampai lepas di depan setan m***m yang ada di depannya.
“Kamu cantik juga,” puji Samuel menatap pakaian Yasmin dari ujung rambut sampai ujung kepala, sambil melempar kerlingan nakal. Mulut Yasmin baru saja hendak menyumpah, Samuel tiba-tiba mendorongnya keluar kamar.
Yasmin yang ketakutan kembali berlari ke kamar. Mengunci kamar itu dengan mengikat bekas roknya yang basah ke besi penghubung.
Klik!
Lampu kembali dimatikan. Cepat-cepat Yasmin bersembunyi di antara lemari dan tumpukan pakaian. Namun kecepatannya kalah jauh dengan dua tangan yang kini melingkar di perutnya.
“Plis, a-aku ma-masih mau sekolah, ja-jangan per-ko-sa aku!” pintanya memohon dengan tangan gemetar dan suara yang menggigil ketakutan.
Mata Yasmin tertutup dengan tangan memeluk lututnya.
Wangi parfum murahan menguar dengan kurang ajar. Tubuh Yasmin serasa disentrum ribuan volt listrik. Sentuhan lembut di area pipinya membungkam ketakutannya sendiri.
“Yang mau perkosa kau itu siapa? Ge-er banget sih! Gak level juga sama cewek kucel kayak gini, masih mending selingkuh sama tante girang.” Samuel tergelak mendengar kalimat ketakutan dari bibir Yasmin. Ia melepaskan tangannya dengan santai dari perut Yasmin. Mundur dengan cuek. Sementara Yasmin hampir kehilangan separuh napasnya.
“Hah. Fix kau aneh. Ta-tapi, kok kau bisa mendadak ada di kamar, bu-bukannya kamarnya aku kunci. A-artinya be-benar ka-kamu punya ilmu hitam.” Terbata Yasmin bertanya. Tawa Samuel tertahan, ia menyunggingkan senyum mengejek.
“Dasar cewek begok, lugu sama begok akut itu beda dikit. Tu … coba kau liat!” perintah Samuel mengalihkan mata Yasmin ke arah yang ditunjuk.
Betapa bodohnya dia.
Astaga ....
Ternyata pintu kamar itu bolong di samping, bisa dibuka dari luar. Dengan memasukkan tangan ke dalam bolongan lalu menarik kunci atau apa saja yang menghalangi pintu. Seperti yang dilakukan Yasmin barusan, ia pikir hanya dirinya yang bisa mengunci dari dalam, ternyata Samuel lebih mengenali kamarnya sendiri. Rok basahnya kini tergeletak di lantai karena ditarik oleh Samuel dari lubang bolongan di dinding.
“Bagaimana? Apa aku harus menunjukkan ilmu hitam juga. Paling tidak kata Guru Madi gadis perawan itu bisa menambah ilmu kebal?”
“Hah, ja-jadi kau beneran punya ilmu yang bisa berubah, manusia asli menjadi ular berkepala manusia?”
Samuel mengangguk santai. Ia benar-benar sukses membuat gadis itu ketakutan. Wajah Yasmin pucat pasi. Ia berusaha mengumpulkan segala keberaniannya. Berpikir keras cara melawan Samuel. Tiba-tiba mata Yasmin melotot tajam. Menemukan satu ide.
“Hei, pria m***m. Keluarkan aku dari sini! atau aku akan menjerit dan bilang ke bagian keamanan kalau kamu sudah membawaku kabur, dan memberi obat tidur hingga aku sampai ke kamarmu, aku tau namamu terkenal sebagai pembuat onar, aku yakin pihak keamanan pasti percaya padaku.” Yasmin mengarang cerita, giliran Samuel merona. Sedikit kaget dengan keberanian Yasmin. Sedetik kemudian Samuel tertawa terbahak.
“Kau punya pikiran begitu. Wah … ternyata kau gadis yang cukup cerdas, cocok jadi pengarang novel berjilid-jilid, imajinasimu cukup menarik, tipe Samuel sekali,” ejek Samuel tanpa dosa.
“Aku serius, aku akan menjerit sekarang!” Yasmin berdiri, berkacak pinggang, mulai mengambil ancang-ancang untuk menjerit.
"Jangan teriak!" Samuel membungkam mulut Yasmin dengan kain lap bekas pengelap kompor.
Gadis itu meronta.
"Lepaskan!"
"Kau mau kujadikan kelinci percobaan!?"
"Siapa kau sebenarnya, Samuel?"
"Pengumpul ilmu dengan meniduri gadis perawan."
"Plis ... ja-jangan lakukan itu padaku. Percuma kau memperkosaku ka-karena a-aku ti-tidak perawan lagi."
"Oh ya, apa kau kira aku akan menambah deretan point' rukun iman dengan percaya padamu?"
"Apa maumu sebenarnya, Samuel?" Disela napasnya yang ngos-ngosan. Yasmin masih terus berusaha untuk tidak terlihat ketakutan.
"Kau mau tau apa mauku, singkat saja, simpel pakai banget. Cukup kau tidak melakukan hal aneh. Berpikir kabur, misalnya." Samuel mengucapkan itu sambil mengelus pipi Yasmin.
"Atau berencana teriak!"
"Ba-baiklah, a-aku ti-tidak akan teriak."
"Bagus, artinya kau sudah legowo untuk berserah diri."
"Maksudmu?"
"Kau masih bertanya apa maksudku?" Samuel kembali memangkas jarak antara mereka. Melingkari tangannya ke pinggang Yasmin. Lalu ....