Mencari Kehangatan

1581 Words
"Au!" teriak Yasmin mendorong tubuh Samuel. Semenit membungkam mulut Yasmin, tentu saja dengan bibirnya sendiri. Lelaki itu melotot tajam menatap dua bola mata Yasmin, seakan Samuel hendak menelan gadis itu hidup-hidup. Ia melepaskan kain lap bau minyak yang sudah bercampur air liur Yasmin yang tersedak keluar, lehernya tercekat akibat cengkraman tangan kiri Samuel. Dan bungkaman paksa. Uhuk uhuk uhuk Yasmin terbatuk batuk setelah Samuel melepaskan bungkamannya. Wajah Yasmin memerah, menahan amarah sekaligus menahan air matanya, “Oke, aku per-silakan waktu dan tempat untuk kau berteriak, kau tidak punya bukti untuk memfitnahku, gadis bodoh. Tapi karena kau sudah berani mengarang cerita, aku akan beri hukuman kecil untukmu.” Samuel berjalan mendekati Yasmin. Memangkas jarak antara keduanya. “Tidak!” jerit Yasmin pelan. Ia menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Wajah gadis malang itu seputih kapas. Samuel mendorongnya ke dinding. Mentok. Lelaki berusia dewasa itu melingkar mengunci tubuh Yasmin, lalu mengambil sesuatu berfitur canggih dari kantongnya. Ia memutar satu video adegan di layar ponsel. “Kau mau mempermalukan diri sendiri?” tanya Samuel dengan seringainya serius. Layar ponsel menunjukkan atraksi dua manusia saling berciuman mesra. Mata Yasmin terbelalak kaget. Di video itu jelas sekali wajahnya. Anehnya ia tampak seperti tidak menolak. “Masih mau teriak? Pengen viral?” tanya Samuel mengejek. Yasmin menggeleng lemah. Tangan mungil gadis itu ditarik paksa oleh Samuel lagi. “Masih mau teriak? Ayo, aku nungguin teriakanmu yang seksi,” goda Samuel, ketawa. Menjentikkan jari tengahnya ke kening Yasmin. Ia tersenyum melihat kepasrahan gadis itu. Tentu saja yasmin tidak ingin membuat ibunya bersedih. Ia pasrah dan menurut pada Samuel adalah hal terbaik. “Duduk!” perintah Samuel kemudian. Yasmin seperti orang bodoh ia duduk dengan ketakutan. “Bel pertanda tidur sudah sedari tadi berbunyi, kau sampai tidak sadar, dan bisa kupastikan kau tidak mendengarnya.” Yasmin memilih tidak menjawab, ia masih ketakutan. Ancaman Samuel luar biasa. Mana mungkin Yasmin berani mempertaruhkan harga diri orangtuanya. Jika video itu viral , hancurlah semua harapan yang ia bangun untuk membahagiakan ibunya. Semua orang tahu siapa Samuel, mahasiswa paling nakal di antara yang nakal. Ternyata bukan cuma nakal, pemuda itu lebih dari sekadar sebutan nakal. Entah mengapa ia bisa sekolah di Universitas berasrama, populer dan bergengsi. Dua cangkir teh beserta roti tersedia di depan mata Yasmin. Samuel menaruh di depannya sambil lelaki itu ikut mengunyah, cacing-cacing dalam perut gadis itu berceloteh riang. Sedari sore ia belum makan, lebih tepatnya sedari ia masuk ke dalam hutan lalu tersesat dan keluar justu ia nyasar ke areal asrama putra. Mata gadis itu mengambang. Tersirat jelas sudut retinanya yang hendak menangis. Lapar. Tapi ia takut mengambil makanan di depannya. Sedangkan Samuel dengan cuek makan dengan lahap. “Jangan takut! Selagi kau menuruti perintahku. Aku tidak akan mengeluarkan jurus pelet yang bisa melumpuhkan gadis perawan, nih buktinya aku siapin makanmu,” ucap Samuel memiringkan senyumnya. Samuel berdiri menuju dapur kembali sambil membawa sepiring nasi yang masih mengepulkan asap. “Makan pakai kecap kau gak bakal mati, ‘kan? Nanti aku suruh si Anton belikan sesuatu dari pasar kota. Kantin jam segini udah pada tutup.” Mata Samuel menangkap sedih di wajah sendu itu. “Kalau kau tidak makan, aku akan memperko--” “Hah. A-aku makan.” Mendengar penggalan kata Samuel, Yasmin langsung duduk sempurna. Meraih piring dari tangan Samuel lalu mengunyah nasi dengan cepat. Bahkan ia lupa menaruh kecapnya. Samuel terkikik geli melihat tingkah gadis itu. Memakai baju kaos yang sedikit kedodoran, sarung bermerk gajah 'berdiri' masih wangi, menutupi tubuh mungilnya. Rambut Yasmin terekspose dengan ikatan karet gelang. Samuel mendekat. “Kau mau apa lagi?” tanya Yasmin mulai merapat ke dinding, wajahnya semakin ketakutan. Tangan Samuel bergerak mendekati lehernya. “Aku ‘kan udah bilang, jangan takut. Muka kau sekarang udah bisa saingan sama Mbah Kunti di belakang sungai sana saking pucatnya. Kalo gak sama Mbah Kunti kau cocok saingan sama mayat yang belum dimasukkan ke kuburan. Mau liat gak?” Samuel menaruh ponsel ke depan wajah Yasmin. Gadis itu menggeleng. “Pliss … jangan takut-takuti aku lagi.” “Siapa yang mau nakut-nakutin? Aku cuma mau bagusin rambutmu, ge-er banget sih.” Samuel menarik ikatan karet gelang di rambut Yasmin. Gadis itu bernapas lega. Samuel mendadak merasa jantungnya tidak baik-baik saja ketika menyentuh rambut acak-acakan milik gadis itu. “Kalo rambut basah, gak boleh diikat. Entar banyak ternaknya,” nasehat Samuel, sambil menikmati wajah pias Yasmin. Menggerai rambut, seketika Yasmin menahan napasnya untuk ke sekian kali. Suapannya terhenti. Membiarkan Samuel dengan aktivitasnya, merapikan rambutnya yang tertutup hijab dengan awut-awutan. Gadis berambut lurus bak direbonding itu kembali menyuap nasi pelan. Selain karena perutnya lapar. Sungguh ia tidak kuat lagi menahan air matanya sebab ketakutan dengan Samuel. Sedangkan Samuel menetralisir desir darah yang sudah tidak karuan. Keduanya hening sejenak. Merasakan debur ombak di d**a masing-masing. “Eh, emang udah bilang sama aku mau pake sarung ini?" Samuel menunjuk sarung bermerk gajah berdiri yang dipakai Yasmin. Mencairkan suasana yang mendadak serasa sesak. Gadis itu diam saja. "Tau gak sih, itu kado dari pacar aku, biar aku gak kedinginan di sini.” Samuel mulai menggoda lagi dengan pertanyaan tanpa memalingkan wajahnya dari depan Yasmin. Gadis itu mendelik kesal. Namun sekuat hati menahan emosinya. “Truss aku pakai apa? Apa kau nyuruh aku pakai rok basah? Biar masuk angin.” “Gitu donk semangat menjawabnya, jangan ketakutan melulu. Masa sih takut sama cowo guanteng inceran seantero para mahasiswi putri.” “Hah ganteng? inceran? yang iya-iya saja, … belagu!” umpat Yasmin dalam hati. Samuel menangkap kesal wajah itu. Tujuan Samuel memang membuat kesal. Ia tertawa kecil saat usahanya berhasil. “Ya sebenarnya terserah, itu kan urusan kau ... mau pakai rok basah, rok koyak, baju bauk pesing. Emang ane pikirin, siapa banget situ," ledek Samuel lagi--tertawa mencibir. “Apa kau marah karena aku mengatai-ngatai fisikmu? ta--tadi!" Yasmin menatap mata Samuel. "Ka-kamu se-sebenarnya cakep, kok,” ucap Yasmin terbata. Ia mengira Samuel kesal karena ucapannya yang kurang sopan tadi. Berani mengata-ngatai fisik pemuda itu yang tergolong tidak terlalu tinggi dibanding teman-teman seusianya. Kali ini Yasmin berusaha merayu dan menarik ucapannya kembali. Mencoba berdamai dengan keadaan. "Tenang aja. Abis sampe asrama, aku balikin kok. Aku paketin sama kurir. Kucuci bersih pastinya,” ucap Yasmin berusaha negosiasi karena tanpa izin telah mengambil sarung dari dalam lemari mini di kamar Samuel. Berusaha menormalkan suaranya agar tak terlalu terlihat ia tengah ketakutan. Yasmin menyelesaikan makan. Nasi di piringnya kandas. Andai ada pelet atau sesuatu zat di dalam nasi itu, Yasmin tak lagi memikirkan. Masih tanpa izin, perut Yasmin yang masih lapar mencomot roti yang terhidang di piring, melirik pada Samuel yang menahan senyumnya melihat tingkah wanita mungil yang tengah malu-malu kucing. Justru, ia terlihat sangat kelaparan. Ada desir aneh menyelip pada aliran darah pemuda itu, mencoba menahan sesak di dadanya, ia fokus menatap ke dalam bola mata Yasmin. Gadis itu ikut salah tingkah pada tatapan mata milik pemuda yang ada di depan mata. "Bagaimana cara kamu balikinnya, kabur lagi dari asrama?" tanya Samuel bermimik serius. "Aku gak kabur kok. Siapa bilang aku kabur?" Yasmin tak suka dikatakan kabur. Sebab ia merupakan mahasiswi terbaik tanpa pernah berbuat kesalahan. “Kalau gitu--" Samuel memenggal kalimatnya. Yasmin mengangkat wajahnya menatap serius apa yang hendak dikatakan Samuel. Tiba-tiba Samuel mengangkat dagunya, pelan. Kepala Yasmin terdongak. Hanya berjarak satu senti dari wajah Samuel. “Kalian tidak sengaja datang ke asrama ini kan? Kenapa kau bisa tiba-tiba ada di sini, aku yakin kau tau pasti akibat yang akan didapat, dan aku melihatmu keluar dari dalam hutan. Kau juga bersama Rosi si bandit asrama putri. Apa kalian sengaja ke sini ingin mencari kehangatan.” Samuel melepas keras dagu Yasmin, gadis itu hampir terjungkal. "Apa kau bilang?" tanya Yasmin tiba-tiba, berani. "Apa yang kubilang?" Samuel membalikkan kata. "Kau menuduhku mencari kehangatan di sini!" "Siapa yang menuduhmu? kau baper, merasa. Kalau merasa artinya benar! apa kau salah satu mahasiswi di asrama tidak betah dengan aturan! ayam kampus sepertinya gelar yang cocok untuk kalian." "Diam kau!" "Waw, mengagumkan sudah berani melawan rupanya, kau lupa? apa diarak satu kampung sangat menyenangkan??" Wajah Yasmin berubah mengerikan. "Hmm, baiklah! aku akan mengubah namamu menjadi si pencari kehangatan, bagaimana? bagus tidak!" Yasmin mengepal tangannya. Rona di wajah Yasmin tak lagi melambangkan ketenangan. Gadis berambut indah itu mengeram kesal. Sementara Samuel, menyunggingkan senyum miring. "Jangan munafik! wajahmu melambangkan rindu belaian," bisik Samuel lagi. cih. Tanpa sadar ludah Yasmin mendarat di wajah Samuel. Lelaki itu melotot tajam. Mengusap bekas air saliva yang menempel tepat di ujung hidung bangirnya. "Kau!" telunjuk dan jari tengah Samuel mengarah tepat ke dua mata Yasmin. "Jangan sebut namaku Samuel jika kau bisa kembali ke asrama," ucapnya emosi. Mata Yasmin membulat, takut. "Apa yang akan dilakukannya, Tuhan!" Yasmin menyesal tidak bisa menahan emosi. Gadis itu memang selalu sensitif jika menyangkut harga dirinya sebagai wanita. Apalagi dianggap sebagai perempuan murahan. "Ma-maksudmu, apa?" "Kau akan menyesal, Yasmin!" Samuel menarik tubuh mungil gadis itu merapat ke pelukannya. Kepala Yasmin terdongak, berjarak satu jari dari wajah Samuel. Mata mereka saling beradu. Tangan Samuel merapat erat dengan mengunci pinggang Yasmin. "A-apa yang ka-kau inginkan?" tanya Yasmin terbata-bata. "Kau menanyakan apa yang kuinginkan? jawabannya adalah, Kau! Aku menginginkanmu, bagaimana?" "Ti-tidak, ja-jangan, Samuel," ucap Yasmin terbata-bata. "I-ibuku, kau boleh tak kasihan padaku, aku yakin kau juga punya ibu, apa kau tak sayang pada ibumu, kasihanilah ibuku, ia pasti sangat terpukul dengar berita putrinya nantinya." Yasmin mencoba mencuci isi kepala Samuel. Samuel menyentak paksa tangan Yasmin, melepaskan kunci pelukannya. Matanya masih melotot. "Ibu" Mendengar kata ibu tiba-tiba tubuh Samuel mundur ke belakang. Yasmin bingung. Ada apa? Apa kata ibu sesuatu yang melemahkan saraf-saraf Samuel?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD