Tubuh Samuel mundur.
Yasmin mengerjit, heran. Namun tetap diam, ia lebih suka mendengar tuduhan Samuel, daripada melihat Samuel mendadak diam.
Tatapan lelaki itu kosong. Ia mengatakan kalimat mencari kehangatan dengan berbisik pelan sekali, seolah mengejek gadis yang bersamanya sama tingkah polahnya dengan Rosi dan Risa.
Yasmin menghela napasnya, sesak. Sinar matanya ingin melotot tak terima dengan ucapan Samuel. Tapi, melihat Samuel mundur dengar kata ibu, Yasmin yakin ia bisa mempelajari kembali karakter Samuel dan keluar dari tempat terlarang itu dengan mudah.
“Kenapa kau diam? Apa aku benar? Kalau kalian datang dari asrama putri sengaja untuk mencari kehangatan?” goda Samuel tiba-tiba, semakin berani. Rona wajah lelaki itu berubah. Dari kosong kembali normal seolah tak terjadi apa-apa.
“Kurang ajar, tutup mulutmu! Kau pikir aku sepertimu tukang m***m,” hardik Yasmin, kesal.
“Kan tinggal jawab, benar apa gak?”
“Heh, dengar ya, yang otaknya m***m melulu itu kau, enak aja ngatain orang, mending ambil cermin sana, biar tau semesum dan sejelek apa kau itu,” sarkas Yasmin menuding Samuel dengan jari telunjuknya.
Jika nanti Samuel kembali memaksa ia sudah tahu kelemahannya. Menarik ulur dengan mengarang cerita tentang seorang ibu cukup menarik menurut Yasmin.
“Kalau bicara sopan sedikit, Yasmin. Entar kucium lagi lo,” ancam Samuel santai. Terlihat labil. Yasmin melotot gusar.
Sepersekian detik gadis itu terdiam, menarik napas perlahan. Mencoba mengingat sesuatu. Mengapa ia tersesat di kamar Samuel.
Yasmin teringat cerita keramat gunung merapi aktif itu dari para senior. Apakah ada yang menjebaknya? Bukankah para gadis di asrama lebih suka menyembunyikan telinga di balik bantal dari pada mendengar cerita mistis dari lembah pegunungan itu?
“Sebentar! Kau melihat Rosi ada di belakangku ketika aku keluar dari hutan?” tanya Yasmin mulai menghubungkan kisah tersesat dirinya. Samuel mengangguk.
Gadis itu mengerut keningnya, tampak sedang berpikir.
Ia tersesat di hutan belantara tempat latihan Pramuka digelar, hutan itu punya cerita keramat di sekolah mereka, cerita horor tentang penunggu hutan seolah jadi santapan harian. Tapi, tidak menyurutkan Kak Rey dan Maysaroh sebagai Pembina pramuka untuk mundur melatih anak-anak untuk menjadi praja muda karana yang tangguh.
Kampus Nusantara berdiri di antara pegunungan, diapit bukit barisan yang berjejer megah, terkadang menyeramkan bagi para pendaki yang ingin menaklukkan ketinggiannya, meskipun penuh dengan cerita seram, mahasiswa laki-laki merasa belum sempurna pada ilmunya jika belum menaklukkan ketinggiannya.
Berbeda dengan mahasiswi yang berani hanya karena dipaksa mengikuti latihan Pramuka.
“Hei, kau kenapa? Nanya eh malah mingkem lagi. Apa kau dan Rosi cs punya masalah?”
“Di mana mereka sekarang?” tanya Yasmin penasaran. Meskipun tadi ia mendengar Anton mengatakan mereka ada di sebelah.
“Siapa? Rosi atau Risa? Kalau Rosi ada di kamar pacarnya Rosi, namanya Ilman, kalau Risa aku tidak tau,” jawab Samuel santai.
Yasmin menyesali dirinya yang tak pernah mengetahui letak asrama putra, meski satu lokasi dan satu naungan lembaga, asrama putra dan asrama putri berjarak cukup jauh dan dibatasi lembah, sungai dan persawahan.
Asrama putri menaiki empat puluh jenjang ke atas perbukitan, sedangkan asrama putra berada di kaki lembah.
Menaklukkan ketinggian gunung keramat adalah satu dari sekian hayalan Yasmin ketika pertama kali sang ibunda membawanya mendaftar sebagai mahasiswi baru.
Namun, ia belum pernah mencari tahu soal gunung merapi aktif itu untuk memulai petualangannya, justru ia lebih dulu tersesat akibat tidak menemukan jejak pada latihan mencari jejak yang ditaja oleh sekolahnya.
“Hei kau makan pil bengong berapa butir?” Samuel menggoyang tangannya di depan muka Yasmin, gadis itu masih diam, menghubungkan sebab keterkaitan antara keberadaan Risa, Rosi dan dirinya yang tiba-tiba kehilangan jejak tim.
Yasmin mencoba mengingat-ingat, apakah ia punya kesalahan pada Risa atau Rosi? Selama ini ia merasa tidak pernah punya masalah dengan anak asrama lainnya. Meskipun duo wanita yang kini berada satu tempat dengannya itu memiliki riwayat cukup nakal.
Meski terkurung bagai terpenjara, Ia tak pernah usil pada siapapun. Juga tak pernah bertengkar, sebenarnya gadis itulah yang bersikeras meminta pada mamanya, agar mengizinkan tinggal di sekolah berasrama.
Sebuah lembaga pendidikan dengan status ‘disamakan’ artinya sederajat dengan Universitas.
Namanya Universitas Nusantara, terletak di lembah gunung merapi aktif, di tengah hutan belantara, Sudut kecil pelosok desa di provinsi Sumatera Utara.
Kampus Nusantara bukan lembaga pendidikan agama, bukan pula berbasis pondok pesantren, bukan pula seperti kampus pada umumnya, pihak asrama memberi kebebasan berekspersi, berinovasi dan berkreasi bagi mahasiswanya.
Secara pakaian, ada yang berjilbab ada pula yang tidak. Bahkan beberapa non muslim. Lembaga pendidikan itu merupakan sama dengan kampus pada umumnya.
Mahasiswanya datang dari berbagai pelosok negeri, bahkan waktu mendaftar saja Yasmin menempati nomor induk sembilan puluh empat ribu empat puluh tiga, artinya hampir seratus ribu telah menjadi mahasiswa di kampus itu.
“Kau masih bertahan untuk bengong, Yasmin!” Samuel menepuk pundak gadis itu, refleks Yasmin telonjak.
“Buka pintunya, Samuel!” teriak beberapa orang dari luar kamar Samuel. Yasmin terperanjat. Secepat kilat Samuel mendorong Yasmin yang masih terpana ke dalam ruang tertutup di balik tangga. Napas Yasmin seakan ikut berhenti mendengar teriakan dari luar.
“Siapa?” tanya Samuel pura-pura bingung.
Ia melongokkan mukanya sedikit dari jendela nako setelah lebih dulu menyembunyikan semua ornament pakaian basah milik Yasmin. Juga rokok murahan serta beberapa goni yang dengan gerakan cepat bisa ia sembunyikan.
Ia tersenyum miring mendengar gaduh di depan kamarnya.
“Kami mendapat laporan bahwa ada perempuan di dalam kamarmu. Sebelum kami dobrak, buka pintu dengan baik-baik. Satu … dua ….”
Gadis bermata coklat yang rela terhipnotis dengan keindahan alam itu merapatkan tubuhnya dalam persembunyian, pias ketakutan.
Ia belum mampu mewujudkan cita-citanya menaklukkan ketinggian gunung Merapi, pun belum mampu mengabulkan permintaan sang ibunda untuk menjadi seorang apoteker, ya Yasmin mengambil kuliah di Universitas Nusantara jurusan farmasi.
Hingga tiga semester ia lalui, kini, ia justru terperangkap dalam tragedi tersesat.
“Apakah aku akan ketauan lalu dinikahkan?” setakut itu pikirannya.
“Tidak perlu bar-bar apalagi unjuk kekerasan.
Aku baru saja selesai belajar. Baiklah, aku buka pintunya. Sebentar,” balas Samuel berteriak dari dalam. Jantung Yasmin bergemuruh tak karuan
Apakah ia akan diarak satu kampung?
Setelah pintu terbuka, sekitar lima orang siswa senior masuk ke dalam kamar Samuel, mengedarkan pandangan. Tak ada apapun yang mereka temukan.
“Kau yakin mendengar suara perempuan di sini?” tanya Danil menatap lelaki kurus bernama Jundi, Danil ketua kamar Singgalang, Singgalang merupakan nama deretan kamar yang dihuni Samuel.
“Yakin sekali, saat bel tidur berbunyi, aku mendengar suara teriakan perempuan,” ucap Jundi takut-takut, ia melirik wajah Samuel yang memberi tatapan membunuh. Danil Senior paling disegani, ia tidak suka dibohongi. Habislah Jundi setelah ini.
“Jangan-jangan karena kau cemburu dengan Samuel kau menginformasikan berita palsu, aku tidak suka ada penjilat di kamar Singgalang, kau dengar, Jundi?”
“I-iya, ta-tapi,” sahut Jundi menundukkan kepalanya. Melirik-lirik kiri dan kanan, menyapu seluruh ruangan Samuel. Tidak ada tanda-tanda keberadaan lawan jenis di sana.
“Cemburu! Apa maksud, Bang Danil?” tanya Samuel tak mengerti. Danil hanya menyunggingkan senyum miring.
“Itu urusan kalian berdua, semakin kau membenci Samuel, aku semakin penasaran dengan murid bernama Yasmin. Apa dia mirip Cut Meyriska, atau Revalina.”
Wajah Samuel langsung merah, ia tak menyangka Danil ikut penasaran dengan Yasmin. Gadis yang berada di balik dinding mendengar langsung suara ghibah mereka.
“Apa kalian tau? aku sudah Sembilan kali pergi ke asrama putri, dari mulai memperbaiki listrik, jemuran sampai membetulkan pintu kamar mandi mereka, telingaku panas mendengar ghibah massal penghuni asrama surga dunia itu.
Mereka selalu menyebut nama Yasmin, aku penasaran dengan sosok gadis itu, apa yang menarik darinya? Prestasinya hanya pernah menang karate sabuk hijau. Pernah penyabet penghargaan berbagai event selama tiga semester berturut-turut. Kabarnya gadis itu--”
“Bos, kamar Sinabung kedapatan melinting, ketua kamar Sinabung menyuruh kita ke sana,” lapor Joni memenggal kalimat Danil, ia baru saja mendapat kode dari tangan seorang mahasiswa di depan kamar Samuel, Joni yang berdiri tak jauh dari pintu darurat melihat kode itu dan langsung memberitahu Danil.
Tembok itu masih setia menyembunyikan tubuh Yasmin di baliknya. Kalimat Danil tentang Yasmin tidak lagi ia lanjutkan. Sony ketua kamar Sinabung memanggil segera.
Barka dan Malik memeriksa dapur Samuel, membalik lemari sambal mililk Samuel, menyenter setiap celah dinding. Malik berdiri tepat di sisi tangga mini.
Bawah tangga itu sedikit gelap, hanya kamar Samuel yang memiliki tangga tapi tangga itu seolah terputus, tak ada bangunan di atas tangga. Malik memberi kode pada Danil untuk mendekat, Yasmin yang mendengar suara langkah kaki mendekat ke tempat persembunyiannya, ia menahan napas seketika.
Malik menunjuk ke arah dinding, lalu menunjuk lantai, melihat sesuatu yang mencurigakan.
"Apa ini?" Malik memungut sesuatu, "kita menemukan bukti, ada perempuan di kamar Samuel."
Seluruh senior itu mengelilingi tempat yang ditunjuk Malik.
Jundi yang berjalan paling belakang dicekal Samuel.
"Kau disuruh anjing bernama Amrul?" Samuel melepas kasar pergelangan Samuel.
Lelaki itu tersenyum mengerikan.
Aku tau kau sebenarnya bukan mahasiswa. Usiamu saja sudah ...."
"Lihat ini!" suara Danil memanggil mereka berdua. Jundi tidak melanjutkan kalimatnya. Samuel mengepal tangan. Ingin sekali dia memakai orang suruhan itu. Tapi tidak untuk saat ini. Ada hal yang lebih penting yang harus ia selesaikan.
Aku masih buat perhitungan denganmu, Jundi!
Samuel mengirim tatapan tanpa kalimat, namun ia paham Jundi mengerti sorot ancaman dari matanya.
Apakah Yasmin bakal ketahuan?