“Apa yang kau lihat, Malik?” tanya Danil penasaran sebelum kakinya sempat melangkah keluar. Keningnya mengerut melihat Malik menemukan sesuatu di lantai kamar Samuel.
“Ada kolor perempuan di sini?” Malik mengangkat celana dalam berwarna pink itu, tentu saja bukan milik Yasmin. Sebab Yasmin masih memakai celananya meskipun sudah basah.
Joni mendekat, menelisik pakaian dalam tersebut, sedikit besar. Rasanya ia tidak percaya itu milik gadis bernama Yasmin. Samuel ikut mendekat ke arah Malik.
“Apa juga aku bilang, aku tidak mungkin salah dengar, Ketua!” Jundi merasa mendapat angin segar. Langsung mengompori Danil yang sudah hendak berlalu dari pintu. Namun, Jundi menahannya.
Samuel justru ketawa keras melihat usaha gigih Jundi untuk menunjukkan kesalahan Samuel, sedangkan Malik menutup telinga saking suara tawa Samuel menggelegar keras. Pemuda itu menggeleng kepalanya, merasa Jundi seperti lenong yang sedang menghibur.
“Ini kolor Uwak Kikil yang punya sawah pas di bantaran sungai, belakang kamarku, besok Bang Malik silakan tanyakan langsung, siapa tau Uwak Kikil yang berusia setengah abad itu mau jadi selingkuhan Bang Malik, siapa tau Bang Malik bisa dapat warisannya yang segudang garam itu,” ucap Samuel ngakak.
“Sopan kau sedikit, Samuel!” bentak Malik kesal, ia merasa tidak lucu dengan ucapan Samuel, lebih kepada penghinaan. Masa ia harus dijodohkan dengan emak paruh baya yang sudah berusia hampir setengah abad.
“Kau lihat saja sizenya, Jundi. Apa kau pikir seorang gadis punya size seperti ini? Jangan-jangan kau menyukai gadis-gadis berbokong size persis emak beranak enam? Bukankah kalian semua hampir pernah melihat Yasmin meskipun sekilas. Masa sih gadis incaran punya b****g kayak emak beranak enam,” Samuel meraih kolor pink lalu melemparkannya dengan sarkas ke arah Jundi.
Lelaki bernama Jundi yang dalam pelajaran harian adalah teman satu kelas Samuel itu menggeram menatap Sang Maestro, Ia merasa terintimidasi.
“Jangan sok memutar balikkan alibi, Samuel. Katakan saja sejujurnya, lagian mana mungkin Wak Kikil datang ke kamarmu, terus darimana bisa ada kolor berwarna pink itu berada di sini? bisa saja kan kau menarik-nariknya sampai molor,” sembur Jundi tak kalah sengit.
Samuel kembali ketawa keras.
“Kau memang ditakdirkan mejadi cowok setengah cewek, Jundi. Aku tadi sengaja memungut kolor tak berdaya ini untuk kubakar, sebagai pengusir nyamuk, setiap magrib belakang kamarku dihuni nyamuk,” jelas Samuel masih ketawa lucu.
Danil menarik napasnya. Ia tahu Samuel pemegang sabuk emas penerima hukuman di setiap semester, tapi kali ini Danil sang ketua yakin seribu persen tidak ada wanita di kamar Samuel, mengingat Samuel pernah mengatakan cinta baginya nomor seribu sekian, ia lebih mengutamakan cuan daripada wanita. Makanya, Danil yakin tidak ada perempuan di kamar itu.
“Kau tidak perlu cari masalah denganku, Jundi,” sarkas Samuel menyunggingkan seringai ke arah Jundi. Jundi mendekati Danil yang mulai percaya keterangan dengan Samuel.
“A-aku yakin … di-dia me-me-nyembu--“
“Cukup, Jundi! harus berapa kali aku menyuruhmu untuk mengorek telinga, sekali lagi kau memberi keterangan palsu. Kupastikan kau tidak terlihat semester akan datang di sekolah ini,” ucap Danil berang. Danil percaya alibi Samuel, karenaa di belakang asrama memang nyamuk selalu banyak, binatang penghisap darah itu mendengung siang malam. Danil kebetulan pernah menjadikan kolornya yang sudah sobek dibakar setengah kainnya lalu dimatikan apinya, meninggalkan asap mengepul untuk menghalau nyamuk nakal.
Yasmin yang bersembunyi merasa lega mendengar ucapan Danil, meski tidak ada satupun dari hayalannya ada di sekolah itu, meski ia belum pernah menikmati kisah cinta ala asrama, ia cukup merasa beruntung masih selamat dari kesesatan hukuman turun temurun di sekolahnya, yaitu menikah paksa.
Para senior itu semua berbalik arah.
“Dengar Jundi! Kali ini kau kumaafkan tapi … sekali lagi kau menyita waktuku hanya karena laporan palsu, hukumanmu memanjat dua puluh satu pohon langsat, sekaligus memetik buahnya, jual sampai habis di pasar kota. Uangnya harus kau serahkan ke bendahara sekolah sebelum magrib tiba.” Danil menghampiri Jundi, dari jarak dekat ia memberikan tatapan setajam cakaran elang.
“I-iya, Pak ketua, saya salah dengar tadi, maafkan aku, Samuel!” Jundi mengulur tangannya pada Samuel. Sedangkan Danil sudah lebih dulu keluar dari kamar setelah menggertak geram pada Jundi.
Barka dan Joni masih penasaran, merasa curiga dengan keadaan kamar Samuel, mereka melongokkan kepala di jendela nako bagian belakang kamar itu, justru kepala mereka tiba-tiba pusing dan mual.
Belakang Kamar Samuel bagian lokasi tanah penduduk kampung. Dibatasi tembok tinggi. Tidak ada mahasiswa yang bisa memanjat tembok setinggi Tujuh meter itu. Kecuali mencari jala memutar dari arah lain.
“Aku yakin si Jundi itu jujur, aku merasa curiga dengan Samuel,” bisik Barka pada Joni. Mereka saling berbisik tepat di depan persembunyian Yasmin.
Mendengar kalimat Barka hati Yasmin yang tadi sudah lega kembali kebat-kebit, jatungnya mulai riuh bergemuruh lagi.
“Kepalaku pusing, kok bisa ya, mual.” Barka memegang kepalanya, Mendadak saja, Barka hampir muntah. Joni iku memijit keningnya, ia pun turut ingin muntah.
“Aku merasa hawa aneh di kamar Samuel, ayo kita pergi!” bisik Joni di telinga Barka, keduanya gegas menyusul Danil yang sudah lebih dulu keluar.
Malik ikut penasaran, melongokkan mukanya di jendela yang sama, ia pikir ada sesuatu di sana, hingga dua temannya terlihat seperti orang sempoyongan, namun matanya hanya menangkap gelap pekat malam, ia melebarkan jendela sedikit, tiba-tiba kepalanya ikut pusing dan perutnya mual. Ia pun mengejar kawan-kawannya yang sudah lebih dulu keluar dari kamar Samuel.
“Jangan cari perkara denganku, Jundi! Kau salah pilih lawan,” bisik Samuel tepat ke telinga Jundi sebelum pemuda itu keluar dari kamarnya menyusul Barka, Joni dan Malik. Jundi pun heran mengapa para seniornya mendadak mempercepat langkah.
“Aku tau tadi kau bersama wanita itu, dia Yasmin ‘kan? Gadis yang sering disebut-sebut guru Zainal sebagai siswi paling cantik di asrama putri. Kupastikan kau akan ketahuan, Samuel,” balas Jundi tak mau kalah. Ia menaruh dua jarinya lurus ke mata Samuel, seolah hendak mengeluarkan isi mata itu. Samuel membalas dengan tatapan sinis.
“Kita lihat saja nanti, apa aku ketahuan atau justru kau yang masuk list buku hitam,” ucap Samuel santai.
“Ya kita liat siapa yang berhasil mendapatkan Yasmin. Dasar munafik! Aku tau kau diam-diam pernah mencari tau tentang wanita itu, Samuel. Bahkan kau bermalam di pohon manggis tepat di belakang asrama putri hanya ingin tau aktivitas gadis bernama Yasmin? Asal kau tau, gadis itu juga ditaksir Pak Yakut, guru silat paling perkasa, hmm. Jangan lupa Jundi, Dia sudah dikunci Pak Raihan pada orangtuanya. Tentu kau tidak lupa siapa Raihan. Saat ini aku justru sangat ingin melihat apa yang terjadi pada Yakut dan Raihan setelah tahu gadis pujaan mereka menghilang.” Jundi menarik bibirnya ke atas.
“Kau pikir aku takut dengan guru silat itu? dan ... kau pikir Raihan tipe seorang Yasmin?”
“Tentu saja orang sepertimu tidak takut apapun di dunia ini, dengan Tuhan saja kau tidak takut, apalagi hanya manusia. Kesombonganmu akan berakhir, Samuel. Kupastikan kau akan minggat dari sekolah ini.” Jundi mencemooh sarkas.
“Hei, kau pikir, kau hebat sekali. Membayar uang kamar yang dipakai lima orang saja kau sudah ngos-ngosan, gak usah mengurusi aku yang mampu membayar satu kamar untuk sendirian,” cibir Samuel mengejek. Jundi memang tinggal dalam kamar yang berisi lima orang. Fasilitas paling murah di Kampus itu.
“Kau akan membayar mahal apa yang barusan kau ucapkan, Samuel!” ancam Jundi murka. Ia benci disebut tak berdaya karena ekonomi yang melarat. Matanya memerah. Napasnya naik turun, sungguh tatapannya penuh dendam menelisik Samuel. Harga dirinya merasa diinjak, ucapan Samuel tentang keuangannya sangat benar, tapi Jundi tidak suka dikatakan miskin. Ia ingin balas dendam pada pemuda di depannya itu.
“Tidak perlu banyak bacot, Jundi, keluar dari kamarku! Mulailah berpikir menulis skenario yang lebih apik, agar kau bisa melaporkan aku. Hmm, aku menunggu skenariomu yang lain,” ucap Samuel menantang, Jundi berlalu angkuh, kemudian ia mengejar langkah kaki seniornya yang sudah melewati lebih dari delapan kamar.
Dari kejauhan Jundi mengangkat tangannya ke udara, lalu menunjuk satu jarinya ke atas, menggoyang-goyang jari tersebut ke arah Samuel yang berdiri di pintu kamarnya. Jundi juga mengirim gambar jempol terbalik, niatnya ingin menjatuhkan mental Samuel.
Namun, lelaki itu justru tertawa terpingkal.
“Kau kurang kerjaan sekali, Jundi. Memilihku menjadi musuh sungguh bukan keputusan yang tepat. Aku takut ibumu meringkuk cekikikan lalu masuk rumah sakit jiwa jika kau kueksekusi sebagai musuhku.” Samuel geleng kepala.
“Kau salah memilih musuh, Jundi! tapi aku suka gayamu."
*
Titt. Ponsel di saku celana Samuel bergetar.
"Halo."
"Apa gadis itu aman?"
"Aman."
"Aku mau dia hidup-hidup, Samuel. Aku tidak sabar menunggu reaksi si buntal itu murka, ketika mainannya direbut orang yang ia anggap tak berdaya."
"Besok pagi kau bisa mencarinya di pinggir kota. Aku akan mengirim gadis itu bersama Anton." Samuel menutup panggilan.
Selarik senyum tersungging di bibirnya yang seksi.
Kau pikir aku bodoh, Yakut! Memberikan perempuan pengganggu otakku berfungsi normal padamu. Tidak akan!