Samuel gegas mengunci pintu. Menghampiri tempat Yasmin bersembunyi.
“Hampir saja aku kehilangan napas,” ujar Yasmin lega, saat Samuel langsung membuka pintu darurat menyerupai dinding, tempat ia bersembunyi. Sebuah ruang kecil yang menempel di dinding tanpa celah.
“Aku dengan senang hati akan memberimu napas buatan,” balas Samuel tersenyum smirk.
“Kupastikan kau megap-megap.” Yasmin tak mau kalah.
“Wah, aku penasaran bagaimana adegan megap-megap yang kau hasilkan?” goda Samuel bertanya dengan dialek nakal. Yasmin menyesal seketika telah melontarkan kalimat itu.
“Aku takut kau tidak bisa tidur tujuh hari tujuh malam, soalnya kalau aku membuatmu megap-megap yakinlah mandi kembang tujuh rupa tidak akan hilang dari ingatanmu,” balas Yasmin menyeringai, sebal.
“Kau terlalu pede, baru kucium saja kau sudah ketakutan seperti mau di perkosa, apalagi megap yang kau maksud,” cibir Samuel.
“Sekelas Danil yang digilai banyak wanita, namanya menjadi perbincangan hangat para mahasiswi, Rosi dan Risa tergila-gila padanya, bahkan Neni diam-diam menyimpan fotonya, ternyata Danil menyukaiku. Apalagi cuma cowok kayak kau ini.” Yasmin ketawa pelan. Ia teringat ghibah mereka ketika di tempat bersembunyi.
“Kau mendengar percakapan kami?” tanya Samuel, tampak kesal. Yasmin tidak menjawab pertanyaan Samuel, ia justru duduk dengan santai. Tersenyum bangga.
“Hei, kau budek?”
“Emang kenapa kalau aku dengar?” tanya Yasmin balik, cuek. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Samuel sudah mengenalnya sejak lama, bahkan rela memanjat pohon manggis yang berada di belakang Asrama putri hanya untuk mengintip dirinya. Kali ini Yasmin paham apa yang harus ia lakukan.
“Percakapan mana yang kau dengar?” balas Samuel mulai tak nyaman.
“Hmm, aku mendengar temanmu mengatakan, ada seorang mahasiswa bermalam di pohon manggis hanya untuk memata-matai gadis bernama Yasmin di asrama putri, dan ... 0rang itu adalah--” Yasmin memenggal kalimatnya, seolah mempermainkan Samuel. Memutar matanya ke kanan dan kiri. Mata Samuel meredup melihat Yasmin yang berubah menjadi percaya diri, rona wajahnya merona namun mampu ia kendalikan.
“Ka-kau jangan ge-er, Jundi hanya … eh se-sedang memancingku untuk jujur mengatakan kau ada di sini.” Mendadak Samuel merasa panas. Ia menggaruk belakang telinganya yang sama sekali tidak gatal. Malu mengakui pada Yasmin ternyata ia bisa seabsurd itu.
“Maksudmu? Kupingku sedang bermasalah?” tanya Yasmin puas melihat rona wajah Samuel memerah. Entah mengapa ia senang mendengar lelaki itu menyukainya. Apa karena rasa suka itu salah satu alasan ia tidak berbuat apapun pada Yasmin.
Anehnya, gara-gara mengetahui Samuel memiliki rasa padanya, Yasmin melupakan kejadian demi kejadian aneh yang ia temukan dalam diri Samuel.
“Percakapan kami tadi … eh … itu--” Samuel kembali menggaruk bawah telinganya. Yasmin memperhatikan.
“Oh, kau menyuruh aku merasa apa yang kalian bincangkan itu bukan aku?” Yasmin sengaja memutar-mutar percakapan demi kembali melihat wajah lelaki itu semacam terbakar, sungguh pemandangan langka. Berbanding terbalik dengan perangainya yang sering dikatakan bandit. Bahkan m***m tujuh tanjakan.
“Tercipta dari apa otakmu, ha? apa kau tidak bisa membedakan antara kalimat jebakan, ancaman dan ...." Samuel berhenti, terpancing emosi. Ia tidak suka ada yang mengetahui perasaannya. Melihat Yasmin yang tersentak mundur. Samuel tidak melanjutkan kalimatnya.
“Otakku tercipta dari … apa ya?” Yasmin pura-pura berpikir. Samuel ingin semakin murka.
“Sudah aku bilang berapa kali, Yasmin. Jangan memancing aku untuk--“ Samuel mendorong Yasmin mentok ke dinding. Kali ini wajah Yasmin tidak setakut tadi.
“Samuel. Kau salah paham! Ya, ya, awalnya aku pikir itu bukan aku, soalnya di asrama ada anak kelas tiga yang namanya juga Yasmin, aku kira kau naksir dengan Yasmin itu, tapi mukanya jerawatan plus gendut juga. Kami memanggilnya drum karatan yang ternoda.” Serta merta Samuel melepaskan Yasmin dari kungkungannya, ia tertawa sambil menggeleng kepalanya.
Gadis ini benar-benar membuat aku senewen.
“Hey, ternyata kau tak sepolos yang kukira, bisa masuk penjara orang-orang yang hobinya body shamming.” Amarah yang tadi sempat menghampiri Samuel, mendadak menghilang, ia hampir saja menyembur tawa mendengar ejekan yang disebut Yasmin untuk menyebutkan panggilan pada sosok mahasiswi semester satu punya penggalan nama Yasmin juga.
“Aku mengatakan fakta.” Yasmin membela diri.
“Fakta pun menyakitkan, tetap saja kau body shamming, Nona judes. Kalau orangnya dengar, bisa dapat pasal.”
“Sudahlah, aku malas berdebat denganmu, aku mau tidur." Yasmin yang tadi duduk lagi kembali berdiri, Samuel ikut berdiri, gadis itu menggeser Samuel yang sengaja berdiri di depannya, menghalangi.
“Mulai berani rupanya kau, meninggalkan aku tanpa seizinku, hmm, apa karena Danil menyukaimu, lalu kau merasa besar kepala, kau sangat menyukai namamu diperbincangkan, ya?” Samuel menarik Yasmin untuk kembali duduk lesehan bersamanya.
“Dengar ya, Samuel! Sejak SMP banyak orang yang menyukaiku, hanya karena kalian cowok-cowok tak berpemasukan, non gudrekening, non gudfisik, eh aku ge-er gitu, sorry bukan tipe Yasmin.” Gadis itu berdehem sejenak. Seolah keberanian sedang full daya dalam tubuhnya, memangkas jarak di depan Samuel. Tunjuknya menelisik wajah lelaki pemilik senyum mempesona itu.
“Kau tau Samuel? aku tidak pernah memuji diriku sendiri, tapi … guru pesantren tempat aku sekolah dulu, sangat menyukaiku, orangnya tinggi, macho, Persis pemain drama Turki. Aku menggeser kandidat calon yang pemilik sekolah itu tawarkan padanya, pemilik pesantren itu ayah kandungnya. Aku … tidak perlu besar kepala hanya karena namaku kalian perbincangkan, karena itu sudah sering aku alami, waktu lulus SMA saja, anak pejabat melamarku dan berjanji membiyai seluruh pendidikanku sampai strata tiga, tapi aku tidak mau. Aku ingin kuliah tanpa balas budi pada siapapun.” jelas Yasmin merasa di atas angin.
Samuel terdiam, sedetik kemudian pemuda itu meraih telunjuk Yasmin yang mengarah ke wajahnya. Menurunkan tangan Yasmin yang masih mengudara. Matanya menatap begitu dalam ke iris hazel milik Yasmin.
“Tidurlah! esok ada tugas berat untukmu. Ingat kalau kau membantah, aku akan membuat perhitungan yang bisa sangat-sangat merugikanmu.”
“Oh, ya. Kau lupa bahwa Danil menyukaiku, aku sekarang punya benteng bin tameng di sini.”
“Apa kau mau reputasimu yang super itu ambruk dengan citra yang sangat tidak enak didengar? Kau belum mengenalku, Yasmin. Jadilah nona manis yang penurut, aku tidak akan melakukan hal yang akan merugikanmu,” ancam Samuel dengan bisikan tajam.
“Hei, kau kira kau itu dosen killerku? Bebas memberi perintah dan wajib kulaksanakan. Bebas mengancam pula,” sahut Yasmin sudah sangat berani.
“Bukan dosenmu tapi calon suamimu,” bisik Samuel mendekatkan wajahnya, ketawa terkekeh, ia mulai mengerti, ternyata Yasmin tidak menanggapi ucapan Jundi, ia kembali ingin mengerjai gadis itu.
“Kau sudah mulai gila, Samuel.”
“Sedikit. Ini semua karena ada cewek montok dijamin ori berada di kamarku. Apa yang kau pikirkan tentang sepasang lawan jenis berada dalam satu kamar, apa aku harus mendetailkan size semua yang ada padamu? terimakasih telah memberikan pemandangan indah ketika tadi mau ganti baju, aku merasa sedang menonton drama dewasa berbayar di salah satu aplikasi film," bisik Samuel sedikit memainkan irama suaranya, menaikkan alis tersenyum nakal.
Wajah Yasmin merah merona, napasnya seakan tersumbat. Antara malu dan ingin mengumpat, telunjuknya mendekati wajah Samuel.
“Aku mantan sabuk hitam, enam laga anggar pernah aku menangkan, kau pikir aku penyanyi dangdut yang sedang viral? Perempuan yang rela memaafkan, sholeha dan hatinya begitu mulia. Perlu kau tau … a-ku-bu-kan di-ya. Jangan macam-macam, Samuel. Aku rela menurutimu karena tidak ingin nikah dini dengan lelaki yang sama sekali tidak kusukai, bukan karena reputasi.” Yasmin menjentik satu jarinya di kening Samuel.
“Waw, luar biasa. Aku kira kau gadis cupu,” tawa Samuel menyembur.
“Apa kau ingin mencoba gerakan sabuk hitam?” tanya Yasmin pamer.
“Heh, sudahlah! kau terlalu serius menanggapi candaanku.” Samuel geleng kepala, ia sama sekali tidak takut menghadapi Yasmin, tentu saja Samuel juga jago, dia bukan cuma sabuk hitam tapi lebih dari sekadar jagoan karate.
“Baiklah Yasmin, aku beri izin kau tidur dulu, jika esok kau tidak mau mengerjakan tugas yang kuberikan, Ingat saja, aku tidak akan mengembalikanmu ke asrama, simpan segera di memorimu! bersiaplah dengan segala kemungkinan, bisa saja aku mengatakan pada semua orang, Samuel Ibrahim sudah pernah ah-uh-ah dengan gadis bernama Yasmin, kira-kira pemilik pesantren tempat kau sekolah dulu masih menerimamu, gak? hmm, apa anak pejabat saat kau SMA masih memujimu, Apalagi Danil,” balas Samuel tertawa sambil memeragakan sedikit adegan semi erotis.
Mata Yasmin melotot tak terima.
“Sial, kau!” umpat gadis itu menarik bantal dan selimut dari atas karpet, terburu murka ia berjalan menuju kamar sebesar kuburan yang tadi tempatnya berganti pakaian.
“Hei Nona judes, kau tidak bisa seenaknya ngeloyor, sebelum tidur katakan dengan jelas dari bibirmu yang manis itu, kalau aku ini calon suamimu, sebelum aku berubah pikiran, berniat memperko--“
“Ya, aku akan bilang,” potong Yasmin tidak ingin berdebat lebih lama. “Samuel Ibrahim adalah calon suamiku, puas!” bentak Yasmin kesal dibalas ketawa kekeh oleh Samuel.
“Bagus, jadi cewek harus nurut.” Samuel ketawa puas.
Mimpinya selama dua tahun ingin mengencani Yasmin terlampiaskan. Meskipun dengan cara yang berbeda.
"Kalau aku minta yang lain, kau manut juga gak?" tanya Samuel mengedip mata.
"Apa!" mata Yasmin melotot, tentu saja ia paham apa yang dimaksud Samuel.
"Hadiah menjelang tidur."
Samuel mendekat lagi.
"Sudahlah! apa kau berubah jadi zombie kalau tidak menggangguku satu menit saja?"
mmuah.
Samuel mencium kilat bibir Yasmin yang hendak mengumpatnya. Gadis itu terdiam di tempat.
"Kenapa diam? kau minta yang lebih?"