Kurir Barang Haram

2058 Words
"Ma-maaf!" ucap Yasmin terbata-bata. Samuel melepaskan cengkramannya. Pisau ia buang sembarangan. "Bagus! jadilah gadis manis yang patuh, Yasmin, kecuali kau sangat ingin merasakan sensasi ketajamannya. Betewe, punyaku lebih tajam," bisik Samuel menggoda dengan nada mengerikan. Menunjukkan giginya yang berbaris rapi. Samuel tipe perokok, anehnya bibir lelaki itu tidak hitam, giginya juga tidak seperti warna kebanyakan perokok. Cukup manis. Kulitnya eksotis. Wajah lumayan perfecsionis, sangat tipe Yasmin. Huh. Yasmin menarik napas lega, melirik pakaian yang utuh di badannya. Setidaknya pakaian utuh itu menandakan Samuel hanya hobi gertak di bibir saja. Yasmin mulai sedikit paham dengan karakter nyeleneh dan cara bicara Samuel yang m***m abis. Ia menatap lekat Samuel yang sudah berpakaian rapi. Andai pikirannya manis seperti wajahnya, mungkin aku gak bakal takut ngadepin dia. Senyumnya ... ah sial. ngapain juga aku pikirin. Seolah tadi tidak terjadi apa-apa dengan leher Yasmin, ia menggerak-gerakkan ke kiri kanan. Lelaki yang baru saja menempel pisau di lehernya itu sedang santai menyisir rambut. Ada janggut tipis di sekitaran wajahnya. "Jangan kau pelototin aku lebih dari dua menit, karena durasi jatuh cinta itu 121 detik," ucap Samuel mengulum senyum. Merapikan rambut pendeknya. Dasar kepedean! Yasmin menarik bibirnya ke atas. Tidak berusaha menjawab atau menyela. Celana abu-abu, baju dengan kantong kiri bertuliskan Tim Basket. Rambut yang disisir rapi klimis, Wangi Lux dari parfum murahan menguar menerpa indra penciuman Yasmin. Dia mahasiswa atau anak SMA? “Apa aku tidak salah lihat, kau anak yang rajin masuk kelas?” tanya Yasmin berusaha terlihat normal dan membuang rasa takut. “Tidak usah mengejekku, Yasmin. Kau bisa melihat absen di kelas, apakah aku pembolos atau—“ "Para dosen, mentor bahkan pembina asrama banyak yang membicarakan kenakalanmu, kau mahasiswa yang menempati peringkat teratas penerima hukuman di setiap semester. Ralat. Kau penerima kasus terbanyak tapi selalu berhasil menghindar dari hukuman. Sebenarnya suatu keanehan, apa jangan-jangan kau punya orang dalam yang sengaja ....” “Menerima cap pelanggaran bukan berarti sepenuhnya bersalah, makanya jangan hanya tau teori saja, apa kau pikir para pahlawan tidak sering dihukum? Cut Nyak Dien, Buya Hamka, bahkan sekelas nabi Yusuf saja kena hukuman, dan hukuman mereka tidak main-main. Apa kau pikir mereka bersalah?” Yasmin terdiam, matanya mengerjap, seakan tak percaya, yang barusan bicara adalah Samuel. Maestro pembuat onar. Mendengat penjelasan Samuel, ia sama sekali tidak menyangka, lelaki slengekan itu cerdas memainkan kalimat. Bahkan mengetahui tokoh-tokoh hebat di dunia nyata. “Tidak usah kembali bengong, aku bosan melihatmu jadi gagu, kalau mau memujiku tidak usah malu-malu. Aku menyuruh Anton membelikan bajumu ke kota, balut kepalamu dengan jilbab ala inang-inang pekerja sawah, aku sudah menyiapkan peralatan mandimu, sampai di bantaran sungai kau mandilah. Aku tidak suka perempuan bau ketek," Samuel menjeda kalimatnya. Maju selangkah mendekati Yasmin, "kecuali perempuan itu pernah beradu keringat denganku di ranjang berulang-ulang kali, kalau yang itu, bau keteknya sangat kusukai," bisik Samuel dengan napas mengeluarkan asap. Pagi di bawah kaki gunung dengan derajat Celcius mengecil, udara sangat dingin hingga ketika bicara mengeluarkan asap. Yasmin memegang tengkuknya, merinding. Namun mencoba tidak terpancing dengan kata-kata Samuel. “Apa sifatmu emang seperti ini? suka memerintah orang dan tidak suka dibantah, dan otakmu selalu berpikir tentang seks? aku rasa kau kecanduan filem biru?" Yasmin geleng kepala, membalas ucapan Samuel dengan pelan tanpa emosi. Matanya belum beralih dari wajah pemuda di depannya. "Apa yang kau tau tentang filem itu?" Samuel memangkas jarak antara mereka. "Ti-tidak, tidak ada," jawab Yasmin geleng-geleng. Memutar mutar telapak tangannya di udara. Aku salah ngomong lagi. Sial! “Hmm. Sifat dan sikapku tak bisa kau tebak, Yasmin. Jangan coba-coba menganalisa, yang ada kau jatuh cinta. Secerdas apapun otakmu kata para dosen, kau tidak bisa membacaku, aku memiliki karakter 'kadang'. Apa kau paham dengan karakter 'KA- DA- NG'? Cukup kau ingat! Aku bisa melakukan apa saja jika kau membantahku. Sebab, aku kadang bisa baik, kadang bisa sangat baik, begitu sebaliknya," Samuel menempel jarinya di kening Yasmin. Gadis itu menarik napasnya. Sedikit menegang. "Kadang bisa di luar prediksimu yang menganggap aku tidak sejahat itu padahal aku jauh lebih jahat dari apa yang kau pikirkan." Sang pria berjalan mendekati pintu. “Mengapa kau melakukan ini padaku, Samuel!" Yasmin menghalangi langkah Samuel. "Tidak bisakah kau melepaskan aku saja, aku yakin kalian para mahasiswa mengetahui letak asrama mahasiswi. Aku saja yang selama ini bodoh tak pernah memperhatikan denah peta di depan kantor.” Yasmin memberanikan diri. Langkah Samuel terhenti. Ia mundur kembali mendekat. “Masalahnya tadi sewaktu kau baru bangun, kau sudah sok berani, jadi ... kau melakukan kesalahan, harusnya kau berterimakasih padaku, pagi ini kau masih aman dengan busana yang lengkap.” Yasmin memijit pelipisnya, apa ia harus mengucapkan terimakasih dengan keadaannya yang seperti sandera perang? Andai saja dia seperti Risa dan Rosi yang suka kepo jika di kantor. Tentu saat ini dirinya tidak tersesat meskipun Yasmin sadar. Si pembungkam mulutnya pasti masih berkeliaran. “Oh iya, sudah aku bilang aku bahkan bisa sangat baik. Aku sudah menyiapkan sarapanmu, makanlah!" Samuel menunjuk meja kecil persis meja belajar anak TK. Di atasnya tampak piring yang sudah berisi makanan, "satu lagi yang perlu kau ingat! aku tidak suka perempuan penyakitan, apalagi berurusan dengan asam lambung, gerd dan sejenisnya. So… sarapan yang benar! aku benci menggali kuburan. Dengar!" Yasmin memilih diam, tak lagi bertanya, karena ia paham, Samuel tidak akan menjawab pertanyaannya. Gadis itu berjalan menuju ruang lebih besar di dalam kamar, di atas tikar seperangkat makanan telah tersedia. Berawal dari keinginan hidup mandiri, ingin membekali diri dengan fokus belajar, tidak bercita-cita mengikuti jejak sang ayah. Yasmin sendiri yang meminta pada ibunya untuk melanjutkan pendidikannya dengan sistem boarding. Di Indonesia tidak banyak kampus berasrama. Gadis itu tidak menyangka cita-cita membuat ia terjebak di situasi seperti ini. “Bel berbunyi sekitar sepuluh menit lagi, aku masih punya sedikit waktu. Bisakah kau menceritakan sedikit tentang mengapa kau bisa tersesat sampai ke sini?” Samuel menyendok nasi lalu memberikannya pada Yasmin. Tersenyum manis sekali. Mata gadis itu membola. “Apa kau psikopat, sebentar lembut sebentar kasar, sebentar penuh perhatian, sebentar lagi seperti mafia penculik para perawan.” “Hei, kau mendengarku? Gendang telingamu tidak pecah hanya karena suhu dingin, Yasmin. Mengapa kau menatapku lagi, apa aku harus mengulang kalimat seratus dua puluh satu detik?" “Akan kuceritakan.” Yasmin menghela napasnya, berat. Hari itu …. (Sebelum Yasmin Bertemu Samuel) Rabu pagi dengan sepoi angin pegunungan lembah Sorik Merapi, Gunung aktif pemilik rafflesia raksasa itu menghisap hawa panas di sekitar, hawa dingin menusuk tulang menjadi udara paling dominan. Yasmin baru selesai mandi bersama teman sekamar lainnya, ia menarik tangan Reni untuk melihat jadwal pelajaran yang ditempel di depan kantor asrama putri. "Siapa Dosen yang menjadi penasehat akademik kita, Ren?” tanya Yasmin setelah mereka berhadapan dengan kertas berisi jadwal di dinding kantor bagian tata usaha. Reni belum menjawab pertanyaan Yasmin, gadis itu justru menyenggol sisi bahu temannya sedikit keras, sambil bibirnya ditarik seolah bertanya dengan ekspresi mengejek dua perempuan sombong yang ada di depan cermin besar, siapa lagi kalau bukan Risa dan Rosi. Cermin besar yang sengaja ditaruh pada atas pintu kantor agar seluruh penduduk asrama yang melewati cermin bisa bergaya tanpa antri. “Mak Erot si penyakit ayan, kau tidak perlu takut, semua aman terkendali,” jawab Reni enteng tanpa dosa menyebutkan gelar mentor yang pernah memiliki riwayat syndrom baby blues dengan sebutan penyakit ayan. Yasmin tertawa mendengar sebutan yang Reni sematkan. “Mentor, Dosen ataupun guru, mereka pahlawan tanpa tanda jasa, keramatnya sama dengan ibu kita, tak elok kau ngomong begitu, entar kualat bisa bahaya,” nasehat Yasmin, bijak. “Pada faktanya muka Bu Rohimah itu emang mirip Mak Erot yang terima orderan pelet di koran-koran,” jawab Reni lagi dengan santai sekali. Yasmin hendak membantah, tiba-tiba. “Hai semua, Apa kalian sudah mendengar kabar? hari ini kita akan test level pramuka, akan ada pemilihan dan pemberian pangkat, terendah untuk yang belum pernah siaga dan penggalang, bagi yang sudah pernah ikut Pramuka boleh test jadi penegak. Siapa yang sudah dapat pangkat penegak dia bakal dibawa ke Jakarta. Testnya pasti seru.” Neni, gadis berwajah oriental asal Porsea menenteng kantong plastik berisi kacang bermerk Sihobuk, oleh-oleh khas kampung Toba. Kedatangan Neni menghilangkan sesuatu yang ingin Yasmin tanyakan tentang Rohimah pada Reni. Rohimah menjadi penasehat akademik mereka di semester baru ini. Yasmin harus meminta tandatangan perempuan terkenal killer itu sesegera mungkin. Reni dan Yasmin lupa membaca pengumuman kegiatan Rabu Pramuka yang sudah ditetapkan asrama. Akhirnya Yasmin maupun Reni menyalin jadwal kegiatan har Rabu dari kertas yang ada pada Neni. _- Mereka semua telah berkumpul di belakang asrama menghadap hutan belantara, tepat pada lembah kaki gunung. “Regu Anyelir mulai dari kanan hutan, dan Regu Amuba dimulai dari kiri hutan.” Maysaroh sebagai Pembina Pramuka memberi pengarahan, sehari setelah latihan usai dilaksanakan. Yasmin berada di regu Amuba, mereka masuk dari sisi sebelah kiri hutan. “Jangan lupa perhatikan jejak dengan benar, tujuan akhir kalian adalah hilir sungai, kami menunggu di sungai, kita akan naik ke atas bukit dengan tali. Berhati-hatilah! yang tidak berhasil akan kembali menyebur ke dalam sungai.” “Siap, Kak!” serentak semua anggota mulai ambil star. “Ingat! Tidak ada yang menoleh ke belakang selama proses pencarian jejak, karena hal itu akan membuat kalian ragu-ragu.” “Siap, Kak!” Semua membentuk barisan berbanjar, Maysaroh sang pembuna memulai aba-aba. “Kau akan menemukan kiamatmu, Yasmin.” Risa mengerling matanya pada Rosi. Yasmin berusaha terlihat santai. “Reputasinya sebagai mahasiswi paling dipuji akan segera luntur, berganti jalang paling dihujat.” Rosi menimpali ucapan Risa. Keduanya tertawa. Setelah berjalan sekian menit di dalam hutan. Tiba-tiba mulut Yasmin dibungkam seseorang, ia tertinggal dari Neni cs yang tak melihat ke belakang. ___ “Oh, jadi begitu ceritanya.” Samuel mengangguk-angguk mendengar cerita Yasmin. “Aku hanya mendengar tawa Risa, tapi bukan dia yang membungkam mulutku.” “Mereka sangat amatir, tapi … mengapa kau bisa ada di sekitaran kamarku?” “Awalnya aku berhasil melarikan diri, memang sih sesuatu yang aneh, tempat itu gelap, setelah tidak lagi dibungkam, aku tidak mendengar apapun dan tidak menemukan siapapun, aku berlari tanpa arah dan berhasil menemukan bantaran sungai, aku kembali ke dalam hutan, aku juga menemukan kebun-kebun kopi, tapi semakin aku mencari jalan keluar, aku hanya berkeliling-keliling tak jelas. Berjalan ternyata ke tempat yang sama, aku berjalan lagi eh kebun kopi lagi. Sampai aku melihat ada laki-laki bertopi caping mau lewat, aku mengikutinya, aku pikir itu penduduk kampung. Tepat di belakang pondok-pondok itu laki-laki itu menghilang, aku ingin bersembunyi tapi kau datang membungkam mulutku.” Samuel hampir tertawa terbahak mendengar cerita Yasmin. Tentu saja lelaki bertopi caping itu adalah dia. “Kau sudah selesai sarapan. Silakan lakukan pekerjaanmu!” Samuel menunjuk goni berisi daun kering. “Apa itu?” “Bawa saja, jangan banyak bicara. Aku akan menunjukkan jalan menuju kota dari dalam hutan. Kali ini kau tidak akan tersesat, dan tidak akan ada yang berani membungkam mulutmu." Yasmin membuka goni. Kakinya merekat. Mulutnya menganga. “Kau menyuruh aku menjadi kurir barang haram ini?” Mata Yasmin membola kaget melihat isi goni. “Kau pikir aku menyuruhmu jadi model catwalk?” balas Samuel mencibir. "Samuel, kau!" "Turuti perintahku atau kau kuper--?" "I-iya," Tenanglah, Yasmin! Turuti dia, bukankah dia bilang akan ke kota, artinya lelaki itu mengetahui jalan pintas dari belantara menuju kota. Dari kota aku bisa naik angkutan umum menuju asrama. "Bagus. Aku suka isi otakmu yang sedang berpikir teknik melarikan diri, teknik paling bodoh yang sering dipikirkan para sutradara perfilman, bukan begitu, Yasmin?" Mata gadis itu lagi-lagi membesar. _-IL Denting getar pada layar ponsel Samuel memaksa jarinya menarik gambar telepon hijau ke arah atas. "Apa kau sudah mengirim gadis itu, Samuel?" Suara di seberang tanpa halo apalagi salam. Langsung menanyakan tujuan. "Kau tidak usah ragu dengan Samuel. Aku peringatkan sekali lagi. Lebih dari tujuh menit kalian tidak menjemputnya di tepian jalan raya, kesepakatan kita deal. Aku tidak mau tau gadis itu digondol begu ganjang atau dimakan serigala." "Hahaha. Lima menit saja dia sampai di simpang Desa Tambangan. Bodyguard bos kami sudah berada lebih dulu di sana." "Yakut dan Raihan mengerahkan personil terlatih mencari gadis itu, Jundi tadi malam dibawa suruhan Raihan. Sebentar lagi aku pasti dipanggil. Yakut punya bakat membunuh orang, Raihan punya sifat selicin belut. Kau paham?" "Apa kau sedang mengejek kemampuan bos kami?" "Terserahmu saja, aku sudah peringatkan. Setelah gadis itu berada di radius satu kilometer dari jalan raya, drone milikku akan mengirim rekaman video perjalanannya pada bosmu, bayar sisanya." "Otakmu memang selalu tentang uang, Samuel. Kami pengguna profesional. Tenang saja. Aku segera mengirim sisanya." Telpon terputus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD