Satu tahun sudah Yasmin menjadi penghuni asrama, dua semester telah dilalui, tidak ada cerita indah yang menarik untuk diingatnya kembali.
Hari ini Dara berambut indah itu akan menghabiskan tiga semester hidup di asrama, Ia pikir akan banyak cerita bahagia yang akan repost ulang saat tua nanti. Cerita tentang masa remaja menuju dewasa yang sebenarnya, pasti begitu indah, kisah-kasih di sekolah, seperti drama Hindustan yang acap ia tonton.
Kampus Nusantara adalah sekolah berasrama moderat, jenjang perguruan tinggi untuk mahasiswa/Sederajat. Fasilitas di kampus Yasmin itu tidak secanggih asrama luar negeri yang pernah menjadi impiannya, kampus-kampus berasrama di sana sangat mahal karena fasilitas super mewah dan keren, sebut saja London, Di London kampus berasrama sangat moderat dengan gaya klasik dan elite. Bahkan negara India sekalipun memiliki kampus berasrama dengan mode masa kini. Tapi, jangan pernah samakan kampus-kampus luar negeri itu dengan kampus Nusantara tempat Yasmin menimb ilmu, walaupun memiliki ribuan mahasiswa dari berbagai daerah. Kampus Nusantara masih terkesan bergaya tradisional tetap ilmu pengetahuan moderat.
“Ibu mau kamu nemani ibu di hari-hari jelang ajal menjemput, Melati.”
Suatu hari Yasmin berbincang dengan ibunya saat mengutarakan maksud ingin menyambung sekolah dengan sistem boarding. Di rumah, sosok Yasmin dipanggil ibunya dengan nama Melati. Melati adalah panggilan masa kecil, panggilan di tengah keluarga dan para tetangga.
“Kalau Melati kuliah dekat dengan ayah, dan bantu ibu bekerja, apa ibu yakin cita-cita Melati tercapai?”
“Tapi, Nak--“ Wanita itu ragu meneruskan ucapannya, paham watak sang anak adalah rajin belajar.
“Melati akan selesaikan sekolah dengan nilai tertinggi, Bu. Yakinlah! Percaya sama Melati. Melati pasti berhasil mendapat beasiswa luar negeri, di sekolah Boarding itu ada kerjasama antar negara, selesai misi sarjana Melati ambil lanjutan ke Jerman, mungkin terdengar konyol bagi kita yang miskin ini. Tapi tidak ada yang mustahil jika ibu yakin, Pak Guru bilang, doa ibu menembus dirgantara, tak ada hijab antara Tuhan dan doa seorang ibu. Nah, yang perlu ibu lakukan adalah mendoakan Melati.”
Mata Mawar berkaca-kaca, Mawar adalah ibu Yasmin. Wanita berusia tiga puluh tujuh tahun itu menangis haru, tak menyangka kalimat demi kalimat gadisnya yang sangat dewasa.
“Anggrek masih di sini, Bu. Bocah kecil itu butuh ibu, meskipun ibunya iblis bermata satu.” Wanita yang telah melahirkan Yasmin itu kembali terharu. Tak ada dendam di mata keduanya, saat membahas anak usia delapan tahun yang kini tinggal di rumah Yasmin.
Anggrek sosok bocah penyemangat Yasmin. Anggrek adik tiri Yasmin. Ibu Anggrek adalah pelakor di rumah tangga Mawar.
"Bu ... ibu!" suara Yasmin yang sedang tidur mengganggu pendengaran Samuel. Lelaki itu bangkit.
Sekarang, di sinilah Yasmin belajar. Nusantara Boarding School sebuah kampus dengan berbagai tingkah polah mahasiwanya. Hari pertama masuk kelas setelah dua minggu merasakan hangatnya rumah sendiri. Yasmin sebenarnya sosok gadis yang betah di rumah. Liburan adalah hal yang paling ia tunggu selama sekolah. Nusantara Boarding College memperbolehkan pulang hanya sekali dalam enam bulan. Jangka libur dua minggu.
“Yasmin, bangun!” Samuel menggoyang-goyang tangan Yasmin. Gadis itu seolah mati suri. Ia begitu lelap tak sadarkan diri. Tapi, mulutnya terbuka, tersenyum dan memanggil manggil 'ibu'. Samuel menebak sang gadis tengah mimpi. Yasmin juga menyebut-nyebut satu nama 'Anggrek'
Pemuda itu tidak mungkin meninggalkan Yasmin yang sedang tidur di kamarnya, sementara ia harus pergi sekolah pagi ini. Kata 'ibu' seolah terekam manis di otak Samuel.
Baiklah, Yasmin! Aku menemukan satu lagi kelemahanmu, Ibu.
Sebelum nanti sekitar jam sepuluh, saat matahari naik sepenggalan Samuel wajib bolos untuk ke kota mengantar orderan barang haramnya.
“Kau tau, Samuel! Di asrama putri mencukupkan mandi hanya dengan satu ember itu biasa,” oceh Yasmin tak sadarkan diri. Sambil menggerutu Ia berdiri lalu berjalan mengerjap-ngerjapkan matanya.
Samuel mengerut kening. Menatap aneh ember yang sedang ia pegang. Mengapa Yasmin dalam keadaan terlelap seolah tahu ia memegang ember?
“Apakah kau punya naluri yang kuat, Nona Judes?” bisik Samuel pelan.
“Kami juga sering sabunan tanpa membasahi badan, tinggal siram untuk membilas kemudian, bahkan biasa makan hanya berteman lauk bakwan goreng, plus kerupuk ubi tanpa cabe, itu semua rutinitas biasa, jangan kau kira aku akan mati hanya karena makan nasi pakai kecap, aku juga bisa makan nasi tanpa apapun.” Mata Samuel membola.
Kejadian tadi malam, ternyata masih melekat di pikiran Yasmin hingga gadis itu membawanya ke alam mimpi. Ada rasa kasihan di hati Samuel. Pikirannya bimbang. Apa ia harus melancarkan rencananya atau ....
Ia menyentuh kening Yasmin, seolah meyakinkan diri, Yasmin sedang tidak bermasalah dengan kesehatannya, Samuel sendiri tidak mengerti mengapa Ia harus peduli.
“Kau sedang bermimpi gadis cantik, calon istriku,” bisik Samuel menjentik hidung Yasmin, tersenyum menikmati wajah polos gadis terlelap itu. Yasmin seketika duduk melorot langsung tidur lagi.
Menikmati sorotan Yasmin dari alam mimpi. Samuel mengulum senyum kecil.
_-
“Kau satu regu dengan Rosi dan Risa, Yas, gi mana? Kudu hati-hati ya. Aku satu regu dengan Neni. Kita terpisah.” Reni kecewa berat membaca catatan yang dibawa Neni.
“Bagi donk jadwalnya!” Seperti biasa, dengan gaya cuek bebek sok akrab, Rosi menarik plastik berisi kacang kulit khas tanah utara itu dari tangan Neni yang terkejut dengan aksinya, hingga catatan kegiatan yang berada di atasnya hampir koyak.
“Jangan panggil namaku Reni kalau aku tidak membalas aksi iseng perusuh itu. Untuk saat ini biarkan duo kembar Risa Rosi merebut plastik berisi kacang oleh-oleh dari mamaku,” ucap Neni penuh dendam. Yasmin sudah selesai menyalin dalam bukunya.
Jam 09.00 waktu Indonesia bagian Barat, mereka semua wajib berkumpul di tengah lapangan asrama, membentuk regu dan mulai mengerjakan kegiatan yang telah dicatat dalam pemberitahuan.
“Kita liat aja nanti.” Reni membisikkan kata-kata ancaman lagi di telinga Yasmin, tapi untuk duo maut, sambil mendengkus kesal melirik Rosi. Yasmin menarik tangan Reni segera berangkat menuju lapangan asrama, tempat berkumpul regu.
Mereka berdua sudah siap dengan buku saku dan peralatan pramuka, baju bebas karena masih latihan. Sedangkan Rosi dan Risa santai saja tidak membawa apapun, keduanya sengaja menjatuhkan bokongnya tepat di samping Yasmin. Sekurun dua semester, dua gadis itu memang selalu iri pada Yasmin yang sering dipuji para guru.
Nama Yasmin bukan hanya sekadar dipuji guru saja, juga sering menjadi bahan perbincangan seantero jagad asrama putri maupun putra, karena saat ini ia masih berstatus mahasiswi berprestasi, gadis itu berhasil menyabet piagam penghargaan sebagai pragawati busana muslimah tingkat provinsi, masih duduk di semester satu, Yasmin mengharumkan nama sekolah mereka di ajang bergengsi Pentas Seni dan , mengalahkan ratusan utusan kampus lainnya.
Sebab prestasi itu, gadis yang memiliki nama panjang Yasmin Haura Masyita dan nama kecil Melati Kusuma menjadi penampik api cemburu di kalangan circle pertemanannya. Risa, orang pertama membencinya tanpa sebab yang jelas.
“Bajumu koyak, kalo miskin jangan sekolah di sini, mending cari pesantren biar jadi anak sholeha, ngajar sambil kuliah, ambil jurusan PAI, bukannya dulu waktu SMP kamu itu mondok. Siapa tau nemu ustadz, eh malah ambil farmasi yang gak ada hubungannya dengan jilbabmu itu."
Risa menarik baju Yasmin yang hanya koyak sedikit, membiarkan terkoyak lebih lebar. Rosi tertawa terbahak.
Risa itu gadis asal Pekanbaru, cewek centil mengaku manis berlagak sok selebritis kolektor cowok yang super kolektif, yang sangat bangga dengan tahi lalat di bawah bibirnya, jarang ketahuan berbuat onar padahal Risa ratu onar, bahkan sering pergi ke kota hanya untuk menemui kekasih hatinya yang sama sekali tidak tampan.
Rosi mahasiswi perempuan yang sangat lihai. Ia tidak pernah tertangkap pacaran, ia tidak pernah dihukum hal apapun, padahal di kampus mereka, dilarang ada hubungan spesial antara laki-laki dan perempuan. Semua wajib fokus belajar dan belajar.
Karena pelanggaran yang dilakukan Risa dan Rosi tidak pernah ketahuan. Risa dan Rosi dua gadis superior bandel. Tapi, ajaibnya mereka tidak pernah terendus berbuat kesalahan.
Meskipun mahasiswi lain mengetahui mereka melakukan pelanggaran. Pasti tidak ada yang berani melaporkan pada mentor maupun Pembina asrama. Sedangkan Reni, mahasiswi asal Lubuk Pakam, bermata lentik bak gadis India, menjadi salah satu sahabat akrab Yasmin.
“Mereka jahat! Ren … tolong aku, pliss!”
"Tenang, Ren! aku akan bantu kamu."
Tiba-tiba Yasmin terisak, Samuel melipat tangannya, kemudian gadis itu mendadak terduduk, bangun.
Refleks ia memegang jaket yang membalut tubuh kecilnya, mata hazel dengan pipi puppy memindai Samuel yang menatap tubuhnya, Yasmin curiga seketika. Sisa Air matanya masih membekas.
“Ah, ternyata aku bermimpi. Sungguh seperti nyata.”
“Kau mimpi,” terang Samuel datar.
“Kau tidak macam-macam, ‘kan? Mengapa tiba-tiba ada di kamar?”
“Ini kamarku, suka-suka aku, donk.”
“Iya aku tau ini kamarmu, tidak bisakah kau membangunkan aku lebih dulu. Baru kemudian masuk?”
“Kau siapa berani memerintah seorang Samuel? seharusnya kau bersyukur masih berstatus perawan sampai sepagi ini."
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah! sekarang hal yang terpenting adalah kau masih ingat dengan janji kita tadi malam?"
"Aku bukan orang yang ingkar janji, tentu saja aku mengingat dengan baik kesepakatan kita, tetapi dengan satu sarat, kau juga harus mengingat janjimu! aku akan memenuhi permintaanmu dengan catatan kau memberitahu padaku jalan menuju asrama putri."
"Hmm, ckk ckk, kau tidak sabaran sekali Yasmin Haura Masyita, dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam, aku yakin bahkan sangat yakin kau tidak akan mau kembali ke asrama, bisa jadi kau bahagia disini bersamaku," ucap Samuel percaya diri, menatap bola mata Yasmin begitu dalam.
Yasmin membelalakkan matanya, bukan karena ucapan terakhir Samuel melainkan penasaran dari mana lelaki itu mengetahui nama aslinya.
"Kau tahu nama asliku dan nama kecilku dari siapa?" tanya Yasmin polos.
"Bahkan aku tahu, kehadiran seorang Rose di tengah keluarga Mawar. Bukankah Rose itu ibu dari adik tirimu, si Anggrek. Ayahmu selingkuh dan membawa seorang anak ke rumah kalian!"
Lagi-lagi mata Yasmin membola.
"Apakah kau seorang penjahat, mafia perampok, maling atau ...."
"Sekarang kau tahu bahwa aku bisa mengetahui lebih dari apa yang kau ketahui, jadi ... lebih baik turuti perintah tanpa banyak bicara."
Yasmin menghela napasnya. "Baiklah, sekarang aku harus apa?"
"Tunggu sebentar, aku pikirkan dulu!" jawab Samuel mengulur waktu.
"Apa kau mau kalau aku menyuruhmu melayaniku sebelum aku masuk kelas?"
"Apa kau bilang? setan kau, Samuel!" bentak Yasmin. Samuel malah terkikik geli mendengar bentakan Yasmin.
"Sekarang aku tau, otakmu tenyata m***m juga, padahal aku tidak menyuruhmu melayaniku di ranjang. Aku hanya minta dilayani untuk membuat segelas teh hangat," ucap Samuel santai.
"Bicaralah yang jelas," balas Yasmin, menahan kesal.
"Sudah sangat jelas, tidak ada kata ambigu pada ucapanku, pikiranmu saja yang m***m melulu."
"Samuel!!" teriak Yasmin menarik benda tajam dari dalam kain lap di atas kompor.
Gantian mata Samuel hendak keluar.
"Keluarkan aku dari sini, atau kau ku bu nu h!" acung Yasmin mengancam dengan berani. Ia merasa Samuel bukan lelaki baik. Pasti salah satu agen mafia penjual wanita.
Mimpi tentang kejadian di asrama sehari sebelum ia tersesat masih terekam jelas. Tapi Yasmin tidak ingin membuang waktu, bersama Samuel bisa-bisa dia mati konyol.
Pikiran buruk Yasmin bermain-main di kepalanya.
Trak.
Sekali hentak, pisau di tangan Yasmin terpental. Secepat kilat Samuel melumpuhkan Yasmin. Dengan aksi memutar ia berhasil meringkus Yasmin bak penjahat. Samuel mendorong tubuh Yasmin memeluknya dari arah belakang. Pisau kecil ia sodorkan tepat di pangkal leher Yasmin.
"Mau mencoba rasanya!"
"Ti-tidak Samuel!" Ampun ...