Bab 10

1008 Words

Bab 10Cukup senang ketika sang suami yang dingin memberikan ijin untuk ke luar rumah. Ah, bukan suami sepertinya, tetapi pria dengan kulkas tujuh belas pintu lebih tepatnya. Sekali pun disebut suami, tetap saja seperti dua orang asing. Diana tidak terlalu peduli dengan hal itu asalkan tidak mendapat kekerasan. Diana tidak langsung pergi ke tempat pusat perbelanjaan, melainkan lebih dulu ke sebuah tempat di mana ia biasa pergi ke sana. Sebuah restoran terbuka di dekat danau. Tempatnya yang lesehan akan nyaman untuk tempat santai dan ngobrol. “Hai!” seru Diana sambil melambaikan tangan. Dua orang yang duduk di atas rerumputan menoleh dan ikut melampai dengan antusias. Diana kini ikut duduk di antara mereka. “Apa aku terlambat?” tanya Diana. Puput menggeleng. “Tidak juga, tapi Rani sudah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD