Bab 16“Kenapa Rendy belum juga pulang?” tanya Sinta dengan nada kesal. “Aku yakin, pasti dia tidak betah di sini karena ada kamu.” Diana tersenyum getir mendengar kalimat itu. Ia kemudian meletakkan minuman di atas meja dan memilih acuh kembali ke belakang. “Apa kamu b***k?” Diana spontan menoleh sambil memeluk nampan. “Maaf, kakak bilang apa?” Sinta mendecih dan menjulingkan mata. “Pantas saja Rendy marah0marah saat harus menikahi kamu. Kamu bocah bodoh yang menyebalkan.” Diana yang sudah tiga langkah hampir sampai ke dapur, kini berbalik dan mendekat menghampiri Sinta lagi. “Maaf, ya. Aku tidak mengenal anda, jadi lain kali jaga bicaranya!” “Oh, oh, oh, mengerikan sekali. Haha!” Sinta berdiri sambil memasang wajah seolah sedang meledek, kepalanya menggeleng dengan bibir maju lal

