Hari-hari berlalu arta yang berada di tengah laut merasakan desiran angin yang menusuk, Arta melamun."Bro melamun aja,"Sapa seorang pria menepuk pundaknya, siapa lagi kalau bukan Tama orangnya sahabat yang sampai sekarang selalu setia menemaninya sejak kecil. Tama yang tahu semua masa pahit yang pernah di alami Arta.
"Kau Tam, sudah ganti shift."tanya Arta.
"Sudah, babang lelah rasanya ingin tertidur pulas."canda tama membuat Arta geli dan menoyor kepala
sahabatnya,"apaan sih jijik dengarnya."
"Apa yang kau pikirkan,"tanya tama menaikan alisnya.
"Tidak hanya.."ucap tak selesai."ya sudah lah tidak apa-apa" elaknya.
Tama yang mulai duduk di samping Arta, mengeryit curiga sepertinya dia tahu apa yang di pikirkan.
"Kita kenal sudah lama, jangan bohong aku tahu kau menghindar kenyataan,"
Arta menghela napas panjang,"kau benar, rasanya sulit berbohong dengan kau,"ucapnya.
"Itu kau sudah tahu, coba ceritakan apa,"ucap penuh dengan rasa penasaran.
"Kemarin di wisuda ziya aku bertemu Nathan."ujarnya.
"Kau belum beritahu ziya tentang nathan,"tanya Tama lagi.
Arta menggeleng kepalanya,"tidak.!! Aku belum berani harus memberitahu aib ayahku".
"Bukannya jika kau beritahu ziya semuanya, mungkin ziya mengerti kenapa kau mau dia jauh dari nanthan,"Saran Tama.
"Bagaimana caranya!? Aku sendiri bingung."cercah Arta. Tama yang mengerti sekali perasaan Arta saat ini. "Bagaimana pun Nathan bukan orang lain dalam hidupmu."ujar Tama lalu pergi meninggalkan arta agar merasa lebih tenang.
Guyuran ombak membuat Arta merasa kesedihan jika mengingat tentang ayahnya, tanpa terasa ia meneteskan air mata semakin membuat dirinya rapuh.
Flashback on.
Di suatu malam yang dingin, suatu pertengkaran di rumah yang begitu besar. Sebagai seorang jutawan kaya Genta Santrio Malik yang telah memiliki 2 putra sangat tampan hanya bersembunyi dari dalam kamar melihat apa yang terjadi.
"Ayah siapa perempuan itu, kenapa Ayah lakukan ini kepada ibu."bentak seorang wanita yang tak lain ibu arta.
"Aku mencintai Nina, dia akan menjadi istriku." Bentak Ayah.
"Tidak!! Bukankah dia sudah bersuami,"tangis ibu pecah memukul dada ayah.
Ayah mendorong ibu, Arta yang saat itu berumur sekitar 13 tahun sedangkan adiknya 10 tahun. Walau pun masih anak-anak mengerti betul berbeda dengan adiknya.
"Dia akan menceraikan suaminya,"sahut Ayah tampak tak peduli perasaan ibu.
"Dan kau akan menceraikan ku,"
"Tidak!! Hanya saja aku akan meninggalkanmu,!! Aku akan membawa Arta mau pun nathan, disini pendidikan mereka tidak terjamin."tegas Ayah semakin membuat ibu merintih dalam tangisnya.
"Kau tak bisa membawa Arta maupun Nathan."kata ibu yang sangat marah.
Seorang anak tertua yang sangat iba kepada ibunya memberanikan diri dari kamarnya. "Aku tidak mau ikut Ayah, aku akan terus bersama ibu apa pun terjadi,"
"Tapi nak, disini kau bagaimana sekolahmu?"kata Ayah yang berusaha membuat pengertian.
Arta menarik Nathan keluar betapa Sayang arta kepada adiknya, bahkan ia tak membiarkan ayahnya membawa adiknya. "Nathan juga tinggal bersama kami, lebih baik kau tinggal kan kami!!,"
"Tidak bang, Aku akan temani ayah."ujar nathan.
"Apa yang kau katakan nanthan,"sahut Arta yang terkejut.
"Bang, biarkan aku pergi bersama Ayah. Kau disini saja temani ibu,"lirih nathan.
Arta memandang sinis penuh kemarahan. Melihat ibu tak henti memohon kepada ayah namun Ayah tak peduli, seolah hatinya telah terbuat oleh batu. Ayah menepis tangan ibu Dan menarik tangan nanthan yang di genggam Arta. Air mata terjatuh saat harus berpisah dengan Nathan. "Tolong jangan bawa nathan!! Aku mohon biar nanthan bersamaku,"pinta ibu yang sedikitpun tidak di kubris oleh seorang Genta Santrio malik. Arta berlari mengejar nanthan,"nanthan jangan tinggalkan abang,"lari Arta mengejar Mobil ayahnya.
Nathan mengeluarkan wajah dari jendela Mobil melihat ke Arta, "abang nathan sayang abang, abang jaga ibu dan diri abang. Selamat tinggal abang!!!"teriak nathan seraya menangis.
Arta terjatuh dan menangis kehilangan adiknya. Ibu membawa Arta masuk menenangkannya."ibu kenapa Ayah begitu jahat kepada Kita,"tanya Arta.
"Kenapa dia tega membawa adikku,"tanyanya lagi.
"Kenapa bu!? Kenapa!?,"cercahnya yang sangat rapuh. Ibu yang Tak mampu menjawab semua pertanyaan anaknya. Arta sedang tiduran di pangkuan ibunya. "Ibu arta janji tidak meninggal kan ibu seperti Ayah."
"Anggap saja Ayah telah mati,"ucapnya sembari menangis.
"Jangan berkata seperti itu bagaimana pun dia ayahmu nak,"pinta ibu mengusap lembut rambut Arta.
Flashback off
Arta masih duduk termenung tanpa terasa ia menjatuhkan air matanya, semenjak hari itu arta membenci sosok ayahnya. Setiap kali melihat nathan ia terus mengingat bagaimana pahitnya saat Ayah meninggal ibu dan dirinya demi perempuan itu.
*****
Di rumah sakit ziya yang sudah mulai menjadi seorang dokter bedah jantung sibuk dengan kegiatan barunya. Ziya yang menyempati sela waktu kosong bertemu sahabatnya.
Di restoran seafood yang tak jauh dari rumah sakit.
"Hai,"Sapa ziya yang baru datang.
"Kok telat,"tanya Ines.
Ziya tersenyum,"Ada pasien tadi makanya telat,"
"Ada kau juga Nathan,"tanya ziya.
"Kenapa tidak boleh?hah,"jawab nathan menaikan satu alisnya.
"Besok mau ikut jogging tidak,"tanya Lita.
"Besok Hari minggu ya,"sambung Ines.
"Boleh,"sahut nathan. "Kau tidak ikut!?,"kata Nathan.
"Tidak sepertinya ingin istahat saja,"jawab ziya.
Setelah makanan datang tanpa ziya langsung segera menyantap dengan lahap. Saat sedang menikmati kepiting kesukaannya, tak lama ada seorang pria yang tak lain Ayah sahabatnya Nathan.
"Nathan,"sapa Ayah Nathan.
"Eh Ayah disini juga, Ayah dengan siapa?!,"
"Tadi metting sekalian makan siang bersama klien,"jawab ayah ramah.
"Om apa kabar??,"tanya ziya.
"Ada ziya juga. Baik!!,"jawabnya.
"Kalau begitu om duluan ya masih banyak kerjaan di kantor."pamit Ayah Nathan.
"Hati-hati Ayah,"
Ziya kembali ke rumah sakit di temani Nathan. "Kapan Arta kembali,"tanya Arta.
"Tidak tahu sepertinya seminggu lagi,"jawabnya mendengus kesal.
"Memangnya tidak Ada komunikasi,"tanya lagi Nathan.
Mengeryit dahi ziya,"dilaut Mana Ada signal,"
"Oh ya sudah, aku pulang dulu. Malam harus dinas,"kata Nathan.
Ziya tersenyum,"Terima kasih sudah repot mengantar,"
"Sama-sam nyonya Artaja Malik"canda nathan lalu pergi seraya melambai tangannya.
Ziya termenung melihat Nathan pergi dari kejauhan. Ziya berpikir 'bagaimana nathan tahu mama lengkap arta.'
'ah ya sudahlah' ziya kembali ke ruangannya karena harus mengecek pasien setelahnya. Seperti biasa ziya selalu melihat ponselnya berharap arta memberi kabar.
Malam berlarut ziya melakukan aktivitas seperti biasa, pulang dari rumah sakit langsung pulang ke rumahnya tepat waktu. Ziya memikirkan Arta, ia sangat merindukan kekasihnya. Tak lama ziya beristirahat karena kelelahan.
Ponsel ziya berbunyi, ia mengambil ponsel melihat notif ponselnya. Mata ziya belalakan melihat notif tersebut,
-ARTA SAYANG-
"Sayang bagaimana kabarmu?
Jaga diri baik-baik. Tunggu aku ya.
I Miss you Sayang"
Ziya masih sangat bahagia raut wajah yang tampak senyum tiada henti, Melonjak di atas tempat tidurnya.'akhir Ada kabar juga'. Tidak mau kehilangan kesempatan ziya langsung segera membalas whatapps dari Arta.
"Aku baik Sayang,
Sekarang Aku sudah bekerja di rumah sakit.
Kau jagaa diri, cepatlah pulang.
I Miss you too
I Love you sayang".