Saat Psikopat Jatuh Cinta I

1356 Words
Bisakah psikopat jatuh cinta? Jawabannya bisa. Selain aku yang selalu memiliki keinginan untuk menghabisi nyawa wanita-wanita pencinta suami orang lain di luar sana, aku juga bisa memiliki keinginan untuk memiliki. Namun tentunya tak sembarang ingin memiliki, aku inginkan sesuatu karena jelas aku akan mendapatkan sesuatu dari itu. Jika tidak ada untung dan gunanya untuk apa bukan? Aku jelas tak seperti kebanyakan manusia lainnya yang bisa melakukan sesuatu untuk orang lain dengan setulus hatiku, memberi secara cuma-cuma karena kebaikan hati dan simpati mereka. Dan ketahuilah bahwa semua yang kulakukan tak ada yang sia-sia, semua pasti untuk bisa mencapai ingin dan tujuanku. Mulai dari kamuflase, berakting, memanipulasi, hingga memfitnah, akan dengan mudah kulakukan hanya untuk bisa mendapat semua yang kumau. Lalu cinta seperti apa, yang di miliki oleh psikopat sepertiku? Tentunya bukan cinta yang seperti pada umumnya. Tak akan ada yang namanya ketulusan, perjuangan, atau apa pun itu dengan embel-embel drama yang selalu membumbui kisah romance percintaan biasanya. Cintaku haruslah yang bisa memberiku sebuah keuntungan dan aku memiliki banyak syarat untuk itu. Dan Ill lah yang memenuhi syarat dan berhasil menarik hatiku ini. Klinik, Pukul 12.07 “.....” “Dokter...” “Ya?” Ia tak melanjutkan kalimatnya setelah memanggilku, ia malah tersenyum simpul malu-malu di depanku kini. Tangannya bahkan dengan canggungnya menyampaikan rambutnya ke belakang daun telinganya, lalu wajah yang mulai merona tersipu itu di bawanya tertunduk di hadapanku. “Ill... Ada apa?” “Apa gak ada yang keliatan beda dari aku?” Tanyanya, untunglah aku ini bukan laki-laki yang selalu di katai ‘kurang peka’ oleh wanita, aku ini paling pandai membaca emosi padahal aku lahir dengan cacat empati, sehingga akan mudah bagiku untuk memainkan emosi orang lain. Dan sepertinya sudah saatnya bagiku untuk melancarkan satu panah untuk memikat hatinya. Dengan perlahan kini kutangkup wajahnya, lalu kupersempit jarak antara diriku dengannya, terakhir kutatap lekat dan seksama dirinya. “O-ohh... dok- dokter” “Saya tahu apa yang beda, kulit kamu tambah cantik hari ini...” Dan seketika kedua tanganku yang sedang kuletakan di pipinya jadi menghangat, aku cukup tahu kalau itu adalah refleks tubuh seseorang saat malu. “Ah, dokter....” Ucapnya, Wajah Ill sudah jadi benar-benar semerah tomat saat ini. Kucubiti kecil-kecil pipinya yang tampak seperti pau kenyal itu. “Dokter...” “Ehm?” “Aku... aku... boleh aku melakukan treatment lain?” Tanyanya tiba-tiba, “Memangnya ada apa dengan treatment PRP ini? Ini sangat bagus untuk meremajakan kulit kamu? Apa kamu takut dengan efek sampingnya? atau yang lain?” *(PRP atau Platelet-Rich-Plasma adalah treatment perawatan yang menggunakan plasma darah pasien, karena itu sering juga di sebut dengan vampire facial. Treatment ini berguna untuk mengecilkan pori-pori, mengatasi masalah jerawat, dan meremajakan kulit) Entah apa yang mengganggunya tapi jelas kutemukan raut kerguan dari wajahnya saat ini. “Ehm, bukannya... Perempuan bulan lalu yang meninggal itu, dia... dia itu selebgram pertama yang kenalin treatment sekaligus jadi model buat treatment ini ya? Terus katanya hasil pemberitaan Rey kemarin, sample darah itu bisa di salah gunakan penjahat buat mengalihkan kebenaran... kalo plasma darah aku di ambil terus di salah gunakan? terus kalo sampe di pakai penjahat giman-“ “Suttt... kamu ini kebanyakan nonton berita kriminal deh, jadi parnoan gini, lagian masa iya saya kasih sample darah kamu kepenjahat?” Sepertinya Ill terkena parnoan, karena pernyataan pihak kepolisian yang memberitakan soal kemajuan penyelidikan yang kemarin sempat terjadi salah tangkap. Jadi ceritanya mereka menemukan sample s****a darah lainnya yang di temukan di area sekitar TKP yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kematian Bella namun harus sialnya si pemilik darah itu harus terseret begitu saja ke dalam penyelidikan. Entah apa sebenarnya yang di lakukan para penyidik itu, mereka terus berputar-putar, memberitakan kabar yang selalu membuat gempar, padahal di sini pelakunya sedang santai dan melakukan pendekatan dengan istri masa depannya. Dan soal selebgram yang menjadi korban ke-19 ku memang dia adalah si model cantik untuk treatment Vampire facial ini. Dan lucunya setelah kematiannya, orang-orang mengutuknya kalau ia benar-benar menjadi hantu vampire karena produk perawatan yang di iklaninya ini. “Dokter aku... aku akan baik-baik aja kan?” “Kamu percaya saya kan?” Ia mengangguk, lalu kuberikan senyum termanisku padanya, dengan tujuan agar ia bisa sedikit kubuat tenang dan tak lagi bimbang dengan perawatan yang mengaharuskannya mengambil plasma darahnya. Aku melakukan ini jelas bukan tanpa alasan. Aku membutuhkan Rh yang ada pada darahnya untuk melakukan uji rhesus. Ini penting dan harus kulakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesuburannya. Karena jika sampai terjadi perbeadaan rhesus antara dirinya dengan aku atau calon janin yang akan di kandungnya nanti, maka akan sulit baginya untuk melahirkan calon penerusku. *(Rhesus atau Rh adalah jenis protein yang ada di permukaan sel darah merah, Wanita hamil dengan Rh negative akan membuat antibody pada janin ber-Rh positif, yang nantinya bisa menyerang keselamatan si bayi dalam kandungannya, sampai menyebabkan keguguran, kehamilan ektopik, hingga kematian bayi baru lahir) “Percaya dok...” “Kalau begitu, kita makan siang bersama setelah ini, saya yang traktir kamu” Ucapku ingin memberinya reward atas apa yang sudah mau di lakukannya untukku itu. Biasanya wanita memang senang sekali di beri hadiah seperti yang kulakukan pada Ill saat ini, setelah di mintai harus melakukan sesuatu. Mereka akan merasa kalau apa yang akan atau pun sudah di lakukannya tak mendapatkan tangan kosong dan berakhir sia-sia. “Serius? Waah, dokter baik banget sih...” Ucapnya, Ill memang menyukai momen-momen kecil seperti itu, apalagi yang menyangkut soal makanan ia jelas tak akan bisa menolak. Setelah menyelesaikan sesi konsultasi Ill, yang akhirnya mau juga untuk mengambil satu treatment dariku, kini aku dan Ill tengah beriringan berjalan bersama menuju restoran yang lumayan bisa memanjakan lidahnya. Dalam langkahku sesekali kulirikan mataku padanya, ia masih betah memasang senyum di wajahnya. Tapi rasanya akan terlalu hambar jika hanya berjalan bersama tanpa ada sedikit penyedap yang bisa menggetarkan hatinya. “Awass...” Ucapku sambil kuraih pinggangnya dan kutarik dirinya mendekat ke dalam pelukku. “O-ohh...” Ill kini diam terpaku, menatapku yang tengah merapatkan diri padanya. “Ill, kamu gak papa? Hhh, hampir saja kamu tertabrak sepeda...” Ucapku, padahal sesungguhnya sepeda yang baru saja melintas itu masih berada di jarak yang aman dan kecil kemungkinannya untuk bisa sampai menabrak Ill. Ini hanya trikku saja yang ingin menarik perhatiannya dan membuat sedikit insiden yang bisa membuatnya mengingatku nanti malam sebelum tidurnya. “Terimakasih dokter...” Ucapnya, dengan sedikit getar yang terdengar dari suaranya. “Ehmm...” Ia jadi terlihat canggung sekali saat ini, jelas kubuat ia kaget sudah dan cukup terkejut baru saja karena ulahku itu. Mulai saat ini, akan kupastikan ia akan lebih sering mendapati sikap tiba-tibaku, yang bisa membuat jantungnya berdetak jadi lebih kencang lagi seperti yang satu itu. “Ill...” “Ehm? Ya, ada apa dokter?” “Tidak, aku hanya ingin memanggil namamu...” Ucapku, satu tingkahku yang tak jelas seperti ini, cukup bisa untuk membuatnya bertanya-tanya, apa maksud dari apa yang baru saja kulakukan itu. Dan tujuanku tentu hanya satu, membuatnya jadi selalu memikirkanku. Karena kalau aku sudah selalu berada di pikirannya, akan mudah sekali bagiku untuk menguasai pikiran hingga masuk ke dalam hatinya. Setelah sampai di restoran, kumundurkan satu kursi lalu kupersilahkan untuk Ill duduk lebih dulu. “Terimakasih...” Aku cukup senang mendengar kalimat itu terucap lagi, dan terus terucap dari bibir manisnya. Dan aku pikir semakin banyak kukumpulkan ucapan terimakasih darinya, semakin mudah bagiku untuk bisa memilikinya. Karena kudengar orang yang sering di berikan ucapan terimakasih adalah orang bisa dipercaya dan telah banyak melakukan kebaikan. Dan sepertinya semua orang setuju bahwa orang baik adalah orang yang tahu bersikap dan peduli, yang membuat suasana hati orang lain senang, dan tak segan untuk mengajak orang lain makan enak. Setidaknya aku ingin mendapat predikat pria baik di matanya. Dan begitu buku menu mulai di bukanya, ia tampak kebingungan memilih mana menu yang akan di pesannya. Ill bahkan melirikan matanya padaku, seperti ingin memastikan sesuatu dariku. “Pesan saja samua yang kamu mau, hari ini kira rayakan kamu yang sudah menjadi klien di klinik saya” Ucapku, dan jadilah kini senyum terpampang kembali di wajahnya, menghapus semua raut tak tenang yang semula sempat menghampiri paras cantiknya itu. Aku pikir satu langkahku sudah berhasil kulancarkan dengan mulus padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD