“....”
“Apa klinik anda ini dulu di doakan dan di beri jampe-jampe agar tak kena kutukan?”
Tanya Detektif itu tiba-tiba padaku, aku sampai memiringkan kepalaku entah harus kujawab apa pertanyaan konyolnya itu.
“Shhh, Kapten!!”
“Oh, Maaf dokter Boy, kapten Ryan memang suka bicara asal”
“Tak apa, santai saja, saya dulu memang tak melakukan doa atau ritual apapun untuk klinik ini...”
Balasku pada asisten Detektif Ryan Kim, yang bernama Leo itu.
“Benar bukan, ahhh karena 10 dari korban wanita dalam dua tahun terakhir pernah datang kemari, termasuk wanita simpanan Rey, bukan begitu?”
Jiwa-jiwa memata-matai bak anjing pelacaknya itu sepertinya cukup bekerja dengan baik, hingga bisa mengendus benang yang terhubung antara diriku dengan para korban-korban itu.
“Benar, aku mungkin bisa bangkrut kalau semua klienku menjadi korban pembunuhan tragis itu...”
Balasku padanya,
“Aku ragu anda akan bangkrut... Dokter Boy, bukankah kau bahkan bisa menarik beberapa klien klinikmu ini dari kampus tempatmu mengajar, atau rekan sesame model, bahkan mungkin kolega politik ayahmu-“
“Kapten!!!”
Lagi-lagi detektif Ryan mendapat teguran karena mulutnya yang memang tak memiliki penyaring untuk semua ucapan yang di keluarkannya.
“Apa? Aku hanya ingin mengatakan, profesinya banyak, dia hebat, genius, jadi tak mungkin dia akan bangkrut begitu saja...”
Pembelaan di lakukan oleh Detektif yang memang sepertinya lebih jago berdebat dari menangkap seorang penjahat itu.
“Terimakasih...”
Hanya kuucapkan terimakasih saja sebagai balasnya.
“Dokter Boy, kudengar anda memiliki IQ 160? Benarkah itu?”
Sepertinya Detektif Ryan sudah bekerja keras, sampai-sampai ia terpikir untuk mencari data tentangku dan kini bertanya seperti sedang menyelidiki diriku ini.
“Anda mencari informasi tentang saya?”
Balasku kutatanyakan hal yang seharusnya tak boleh di lakukannya, karena jelas itu melanggar privasi. Dan meskipun aku sedang di mintainya keterangan, seharusnya itu hanya seputar korban dan pelaku, karena di sini aku hanya di mintai keterangan sebagai seorang saksi.
“Ah, Kapten! Udah, ayo kita cuma minta rekam medis sama bukti kalo si Bella itu di bayarin di sini sama Si Rey!”
Sepertinya Leo lebih tak tahan dengan ucapan tak sopan Ryan saat ini di bandingkan diriku.
“Sstt, diem jadi asisten bawel banget sih”
“Oh, bukan begitu dokter, saat kulihat sebuah berita artikel, di sana terpmapang kalau IQ anda berada di atas Albert Einstein, benarkah itu?”
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya, entah apa maksudnya ia mempertanyakan IQ-ku itu.
“Waaah, pantes ajaa... udah jadi professor, padahal masih muda banget”
Detektif Leo sepertinya cukup terkesan padaku, ia sampai ia bereaksi seperti itu.
“Ah, aku hanya sedikit beruntung saja, ada lagi yang ingin kalian tanyakan?”
Sudah saatnya aku menutup percakapanku dengan mereka, aura detektif Ryan cukup menggangguku. Ia sepertinya cukup bisa mencium amis, segar, darah manusia yang ku cekik semalam sampai habis surut tak bersisa.
“Sudah, terimakasih atas waktunya, permisi...”
“Ya...”
“Ah? Apa dokter memiliki hobi melukis atau semacamnya?”
“Ehm?”
“Itu di ruangan itu, kulihat ada satu box tinta di sana?”
“Ah, benar, aku sedang ada penelitian untuk bahaya tattoo pada kulit manusia”
Jelas sekali ini hanya alasanku saja, aku tak memiliki penelitian apapun. Itu adalah tinta tattoo untuk barkode yang kutandai di d**a semua korbanku. Kebetulan tintaku habis, jadi kemarin aku memesan dengan alamat pengiriman ke klinikku ini.
‘Ah, seharusnya paket itu kubawa ke rumah saja...’
Batinku, kukontrol wajahku di hadapannya yang kini tengah lekat memperhatikan diriku. Psikopat sepertiku jarang sekali berada dalam kondisi perasaan tertekan, ataupun panik. Dan setelah kupikirkan ternyata keuntungan tak memiliki perasaan seperi manusia normal lainnya adalah bisa dengan mudahnya mengendalikan emosi dan reaksi diri terhadap suatu keadaan.
“Oh, benar pasti banyak penelitian tentang kulit bukan, karena anda mengurusi kulit-kulit wanita yang ingin tampil cantik”
Balasnya,
Sepertinya aku akan mendapat satu tantangan, dengan harus sedikit lebih berhati-hati padanya. Atau mungkin ini akan menjadi game yang lebih menarik dengan keterlibatan dirinya dalam pembatantaian para pelakor itu.
“Kalau begitu kami permisi...”
***
Pukul 07.23 malam
“Ayah...”
“Ehm, Ill kenapa baru pulang? Kemana dulu?”
“Ke toko buku, aku lagi suka baca novel jadi... taraa aku beli satu, dan ini untuk ayah”
Ucap Ill yang langsung mendapat sambutan dari sang ayah, yang kuperhatikan sudah sedari tadi menunggu kepulangannya itu. Dari jendela kamarku semua bisa jelas kusaksikan, bahkan kini Ill yang sedang menyembunyikan sesuatu di balik jaket yang di tentengnya di tangan kirinya itu.
Sepertinya dia benar-benar sudah tak bisa menahan untuk tak membeli makanan pedas yang tengah di gilai banyak wanita muda seusianya.
“Ck, padahal dia punya GERD, kalau makan pedas pasti nanti asam lambungnya naik...”
Aku tak mengerti kenapa kebanyakan orang, yang padahal sudah tahu dengan pasti kalau memakan makanan pedas itu tak baik untuk kesehatan lambungnya, tapi masih saja di lakukannya.
Aku tak memiliki perasaan spesifik seperti rasa senang terhadap suatu makanan seperti Ill, yang menggilai makanan pedas, dan makanan manis.
Bagiku Americano, coffee tanpa gula tambahan adalah yang terbaik. Rasa pahitnya entah mengapa bisa menimbulkan ketenangan bagiku saat meminumnya. Dan menurut penelitian baru-baru ini, orang yang menyukai makanan atau minuman yang memiliki cita rasa yang pahit, memiliki hubungan dengan kepribadian yang lebih gelap, sisi jahat yang lebih jelas, terutama perilaku yang mengarah kepada tindak sadism dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin pernyataan itu benar-benar memiliki relasi yang tepat, karena psikopat sepertiku juga benar adanya menyukai hal pahit.
Aku tak bisa tinggal diam, tubuh calon istriku akan kesakitan setelah memakan makanan pedas yang memiliki logo produk korea itu. Akan jadi tak lucu sekali kalau tubuhnya jadi lemah dan tak bisa melahirkan anakku nantiya.
Aku langsung membuka kotak penyimpanan obatku, untuk mencari Antasid, penghambat pompa proton, dan antidiare. Katiga obat itu sepertinya akan cukup untuk mengatasi asam lambung Ill.
“Tapi bagaimana aku memberikan ini padanya?”
Karena tentu aku tak bisa tiba-tiba muncul membawa obat ini di hadapannya, aku akan di tanyai kenapa? bagaimana bisa aku tahu soal asam lambungnya? juga bagaimana bisa aku tahu kalau dirinya berniat memakan makanan pedas.
Aku sungguh harus memutar keras otaku untuk hal-hal seperti ini.
Tiba-tiba saja aku teringat soal produk perawatan kulit yang kuterima minggu lalu, kebetulan itu adalah produk yang belum lama ini menggait idolanya sebagai ambassador produknya.
“Zeroid’s... benar di sini di katakan kalau satu member BTS itu menggunakannya”
Ill pasti tak akan menolak yang satu ini, akhirnya kuputuskan untuk membungkus toner balanced, Moisturizer, dan intensive cream, untuk kuberikan pada Ill.
Dan sepertinya aku harus melakukan satu hal penting lainnya.
“Kamera pengintai...”
Aku harus menambah satu lagi kamera pengintai untuk di letakan di kamar Ill. Karena kameraku yang lama tertutup poster yang belum lama ini di pajangnya. Kali ini aku berencana memasukannya ke dalam boneka kecil yang juga akan kuberikan padanya.
Setelah semua siap, aku pun berjalan turun dan kini sudah berdiri di depan rumah Pak George Kim.
“Oh, dokter ada perlu apa malam-malam seperti ini di depan rumah kami?”
Tanyanya ramah,
“Ah, saya kebetulan memiliki ini untuk Ill”
“Wah, Ill akan suka sekali...”
Ayah Ill langsung menerima pemberianku dengan senang hati,
“Ayo kemari masuk dulu dokter...”
“Terimakasih...”
Pak George Kim lantas membukakan pintu rumahnya dengan lebar untuk mempersilahkan aku masuk ke dalam.
“Ill, Illana... Kemarin nak”
Panggilnya pada putri semata wayangnya itu.
“Iya ayah...”
Dan tak lama kemudian nampaklah sosok yang sedari tadi membuatku tak tenang, tengah dengan riangnya berjalan menuruni tangga dari lantai dua rumahnya ini.
“Ill kemari, kamu di beri ini oleh Dokter Boy...”
“Waaaahhh... ini- ini yang di pake Taehyung, waaaah makasih- oh! terimaksih banyak dokter “
Mata yang menyipit bak bulan sabit, senyum manisnya yang benar-benar mempesona, cantik tiada tara, sungguh dia ini benar-benar akan cocok sekali menjadi istri dan ibu dari anakku nanti.
“Saya menunggu kamu datang ke klinik tapi kamu gak datang juga, padahal wajah kamu sisa perlakuan jahat malam itu mungkin bisa meninggalkan bekas luka...”
Ucapku pada Ill, ia nampak tersipu karena perkataanku itu. Padahal biasanya ia tak mudah tersentuh untuk perhatian kecil seperti ini. Karena sebelumnya pernah kusaksikan ada seorang laki-laki yang memberinya sekotak besar coklat, tapi Ill malah mengembalikan itu dan berkata bahwa ia masih bisa membelinya sendiri.
Ketauilah kalau psikopat sepertiku memang terlahir dengan aura menawan yang cukup memikat secara alami. Orang-orang sejenisku memiliki kepandaian untuk menarik hati lawan jenis, yang selalu jadi andalan hebat sebagai seorang psikopat.
“Terimakasih banyak dokter, aku akan pakai ini dengan baik...”
Balasnya, berterimakasih kembali padaku.
“Ah, ayah akan buatkan minuman dan menyiapkan cemilan untuk dokter Boy, kamu temani dulu dokter Boy mengobrol yaa...”
Ucap Pak George, ia memang tipikal orang tua yang mau berepot diri untuk menyambut dengan baik siapapun yang berkunjung ke rumahnya.
“Iya ayah...”
“Dokter, silahkan duduk...”
“Terimakasih...”
Kuperhatikan dirinya, dan ternyata sisa-sisa bumbu dari makanan pedas yang sebelumnya di santapnya itu masih ada ujung di bibirnya.
Tak tahan untuk hanya kubiarkan begitu saja, akhirnya kuusapkan jariku pada bibirnya itu, untuk menghapus noda khas bumbu cabai merah.
“O-oh...”
“Kamu habis makan pedas ya?”
Tanyaku dengan suara yang sengaja kuperlembut,
“Ehm? Ah, iya, padahal kalo ayah tau pasti dia marah...”
Balasnya, sambil mengusapi bibirnya, takut-takut masih ada jejak yang tertinggal di sana.
“Kamu punya gangguan pencernaan?”
Tanyaku, berpura-pura tak mengetahuinya.
“Ehm, GERD dan itu udah parah banget, ahh makanya ayah selalu wanti-wanti sama aku buat jaga makan, tapi aku suka banget makan mie pedes...”
Ungkapnya sambil mengeluarkan suara-suara tawa kecilnya. Ia bersikap malu-malu di hadapanku saat ini, sepertinya perlahan ia mulai menyukai sikap perhatian yang kuberikan padanya.
“Ini... kamu mungkin bisa sakit perut nanti, jadi ambil ini...”
Akhirnya misiku malam ini datang berkunjung ker rumahnya terselesaikan.
“Ah, dokter... tapi ini-“
“Sudah ambil saja, ayahmu sebentar lagi akan kembali, cepat sembunyikan itu...”
Sepertinya ia merasa memang harus menerima obat pemberianku itu, sampai kemudian ia langsung saja memasukan obat pereda untuk asam lambung itu ke dalam saku hoodie-nya sebelum ayahnya kembali dengan membawa minuman juga cemilan untuk menjamuku.
Dan akhirnya malam ini menjadi malam pertamaku melakukan pendekatan pada Ill. Entah ini bisa di katakan satu langkah untuk mengerjar cintaku untuk Ill atau tidak, karena rasanya cukup meragukan sekali seorang psikopat sepertiku bisa jatuh cinta bukan?
Yang kurasakan pada Ill bukanlah sesuatu yang menggebu-gebu, membuat jantung berdegup sangat kencang. Melainkan besarnya keinginan di hatiku untuk memenuhi kebutuhanku, akan pendamping yang bisa melahirkan penerusku.
Perhatianku dan usahaku malam ini baru awal, karena akan kupastikan selanjutnya Ill akan sampai jadi tergila-gila, jatuh cinta padaku.